
Pagi ini Gord terbangun di tempat tidur, ia tidak memiliki baju yang muat untuk dikenakan. Akhirnya ia keluar dari kamar dengan selimutnya.
"Pe.... permisi, apakah ada pakaian yang muat untukku di sini?" tanya Gord. "Oh? Tu.... tunggu sebentar! Biar kucari," ujar Hendra, ia tampak gugup karena berhadapan dengan orang asing di rumahnya sendiri.
Setelah mendapatkan pakaian yang pas di badannya, Gord pun pergi ke dapur untuk sarapan bersama keluarga itu. Tentu saja suasananya terasa sangat canggung karena ia tidak mengenali keduanya.
"Permisi, apakah aku boleh tahu siapa namamu?" tanya Hendra. Gord pun terkejut, ia tidak menyangka kalau sepasang suami istri itu sudah menyadari kalau dirinya bukanlah Alesse.
Antara rasa tidak nyaman, terkejut, dan malu, ia pun menjatuhkan sendok dan garpu yang ia pegang. "Ma.... maaf. Namaku Gord, a.... aku tidak bermaksud..... itu.... aku belum memakan ini, sungguh," ujar Gord gagap, ia langsung mengembalikan lauk-lauk yang baru saja ia ambil lalu beranjak dari kursinya. Hendra dan Andin pun akhirnya menyadari bahwa keberadaan Alesse bukanlah kepalsuan.
"Tidak perlu dikembalikan. Makanlah! Ambillah sesukamu, kau pasti lapar kan?" tanya Hendra, ia menyuguhkan lauk itu kembali.
Sayangnya Gord menjadi tampak tidak berselera, ia tidak menyangka kalau sepasang suami istri itu menyadari kalau dirinya adalah orang asing.
Pada akhirnya Gord hanya mengambil sedikit makanan karena merasa tidak nyaman. Hendra dan Andin tak berkutik, jika mereka menawarkan lebih, kemungkinan Gord akan menolak untuk makan bersama mereka.
Setelah selesai makan, Gord beranjak dari kursinya lalu berterima kasih. Benar-benar suasana yang tidak biasa. Hendra menyesal karena menanyakan nama padanya.
"Ehm... kedepannya aku akan makan di kamar saja. Ka.... kalau kalian keberatan...... aku akan mencari sendiri. Aku akan berburu di hutan," ujar Gord.
Andin dan Hendra tidak habis pikir dengan apa yang baru saja pria itu katakan. "Berburu? Kenapa berburu?" tanya Andin. "Karena aku tidak punya uang. Aku hanya bisa makan dengan berburu binatang buas," ujar Gord.
Akhirnya Andin dan Hendra mengerti betapa primitifnya pikiran pria itu. "Tidak perlu! Kau boleh makan di sini setiap hari," ujar Andin. "Tapi, bolehkah aku makan di kamar saja? Kurasa aku memang tidak pantas duduk di sini. Aku tidak berselera makan," ujar Gord.
"Baiklah jika itu maumu. Buat dirimu nyaman saja," ujar Hendra. Sekali lagi Gord berterima kasih, ia bahkan membungkukkan badan sebelum berbaalik badan meninggalkan mereka.
"Gord," Hendra mencoba memanggil. Pria itu pun menoleh. "Apakah kau berbicara dengan jiwa lainnya?" tanya Hendra.
__ADS_1
"Ya, tapi tidak semua. Hanya ada dua orang yang bisa kuajak berbicara sedangkan dua lainnya tidak, " jawab Gord.
"Kalau begitu, bisa kau rahasiakan ini dari mereka? Kupikir lebih baik mereka tidak tahu kalau kami menyadari tentang keberadaan kalian," ujar Hendra.
"Baiklah," ujar Gord sambil tersenyum ramah kemudian kembali ke kamar.
"Bukankah ia terlihat seperti Alex? Mungkinkah Alex akan menjadi seperti itu ketika ia dewasa kelak?" tanya Andin. "Tatapan teduhnya...... ia bahkan mengingatkanku pada ayahku sendiri," ujar Hendra.
Setelah masuk ke dalam kamar, Gord tidak tahu harus berbuat apa. Sebuah kamar yang kosong, itu tidak sesuai dengan kepribadiannya yang suka berkelana dan berperang.
Akhirnya ia memutuskan untuk pergi keluar rumah. "Kau hendak pergi ke mana?" tanya Hendra. "Aku akan pergi berburu untuk membantu kalian menyiapkan makanan," ujarnya. Hendra pun tertawa.
"Kau tidak perlu melakukan hal itu! Kami sudah punya cukup makanan kok! Lagian di sini tidak ada hutan. Hutan liar masih sangat jauh di selatan," ujar Hendra.
"Meskipun begitu aku tidak ingin membebani kalian berdua. Seorang pria harus bisa mencari makanan sendiri," ujar Gord. Hendra tidak bisa mencegahnya lagi setelah ia mengungkit-ungkit soal harga diri seorang pria.
Mendengar perkataan itu membuat Hendra semakin sedih. "Alesse, sebenarnya kau berada di mana?" tanya Hendra khawatir.
Hingga siang tiba, Gord tak kunjung pulang ke rumah. Andin baru saja menyelesaikan masakannya, namun ia tidak mendapati Gord di kamar.
"Kemana pria itu pergi?" tanya Andin. "Dia bilang hendak berburu. Aku tidak bisa mencegahnya," ujar Hendra. "Apa? Berburu? Kenapa kau membiarkannya melakukan hal bodoh itu? Apa yang hendak diburu di tempat seperti ini? Gadis-gadis muda SMA? Kau bercanda?" tanya Andin kesal.
"Aku tidak bisa mencegahnya, sayang! Ia tampak begitu bertekad. Setidaknya biarlah itu menjadi alasan agar ia mau tetap berada di sini. Jika ia mendapatkan tempat tinggal dan makanan secara cuma-cuma, ia akan kabur dari sini," ujar Hendra.
"Masa bodoh ia hendak kabur atau tidak! Bila itu terjadi, kita hanya perlu mengikatnya atau mengurungnya! Gimana kalau dia benar-benar pergi ke hutan dan saat itu Alesse kembali ke dalam tubuhnya? Apa yang akan kau lakukan?" tanya Andin.
"Tenanglah, sayang! Kita tunggu sebentar lagi! Kumohon! Berikanlah dia kesempatan sekali ini saja!" ujar Hendra.
__ADS_1
Pada akhirnya mereka berdua menunggu pria itu hingga senja tiba, namun batang hidungnya masih belum terlihat.
"Sudah kuduga tidak akan berhasil! Aku akan menelpon polisi untuk melaporkan orang hilang," ujar Andin. "Ja... jangan! Tunggulah sebentar lagi!" bujuk Hendra.
Akhirnya Gord pun datang dengan pakaian yang sudah compang-camping. Ia datang sambil mengangkat seekor sapi liar dan ayam hutan.
Andin benar-benar tercengang melihatnya sedangkan Hendra hanya bisa tertawa sambil menggelengkan kepala karena tidak percaya kalau Gord benar-benar membawa hewan hasil buruan.
"Sa... sapi ini terlalu besar! Gimana caranya kita akan menyimpan semua dagingnya? Lagian aku belum pernah membedah sapi utuh seperti ini!" ujar Andin. "Aku juga tidak pernah menyembelih sapi." Hendra menimpali.
"Tenang saja, aku yang akan membedahnya," ujar Gord, ia mengambil tongkat petir yang ada di punggungnya. Tongkat itu seketika berubah menjadi pisau besar.
"Whoa? Gimana caranya benda itu berubah menjadi pisau? Lagian muncul dari mana benda itu?" tanya Hendra. "Ini? Aku tidak terlalu paham, tapi Alesse sering menggunakannya. Ia mengatakan kalau ini adalah teknologi mutakhir, tapi aku sendiri tidak tahu apa maksudnya itu," ujar Gord, ia hendak menebas leher sapi itu untuk mengeluarkan darahnya.
"Jangan di sini!" bisakah kau membawanya ke lapangan saja? Itu akan menimbulkan bau yang busuk!" ujar Andin.
"Benar juga. Aku selalu melakukan hal ini saat berkemah. Tidak mungkin dilakukan di tempat tinggal tetap ya," ujar Gord kemudian mengangkat sapi itu ke punggungnya.
"Tenaga yang tidak masuk akal! Gimana caranya sapi sebesar itu bisa dia angkat sendirian?" tanya Hendra keheranan. "Dia memang mirip Alex, mengangkat beban tanpa memikirkan seberapa berat yang akan dipikulnya," ujar Andin.
Setelah Gord selesai membedah dan memotong bagian-bagian dari sapi itu, Hendra pun mencucinya. Sebagian ia simpan di freezer dan sebagian lainnya ia bagikan ke tetangga.
"Akhirnya malam ini kita makan daging yang berlebihan," ujar Andin, sayangnya Gord tanpa ragu untuk memgambil tumpukan daging itu.
"Kau serius akan memakan sebegitu banyaknya?" tanya hendra. "Memang sebesar ini yang aku makan sehari-hari," ujar Gord.
Setelah selesai makan, ia pun masuk ke dalam kamar dan berbaring dengan puas. Setelah seharian yang melelahkan, ia pun bisa menikmati waktu tidurnya.
__ADS_1
"Tidur setelah berburu memang yang terbaik," ujarnya kemudian mulai mendengkur.