
"Apakah kalian sudah siap?" tanya Kaa. "Tunggu dulu! Kita harus mengikat satu sama lainnya dengan tali!" ujar Salsha. "Untuk apa?" tanya Kaa keheranan.
"Kita mungkin akan terpisah saat berada di sana," ujar Sandy. "Tidak kok, tidak perlu mengikat dengan tali, lima langkah di depan sana, kalian akan langsung berada di Abyss," ujar Kaa.
"Heh? Benarkah? Apakah kita tidak akan terpencar?" tanya Salsha khawatir. "Tenang saja! Mari ikuti aku!" ujar Kaa sambil menuntun mereka untuk melangkah ke depan.
Tepat setelah lima langkah berlalu, langit siang sudah menjadi redup. "Kenapa di sini gelap sekali? Sepertinya setiap kita pergi ke sini, selalu malam hari," ujar Sanay.
"Di sini memang tidak ada matahari. Aku sudah mengamati dalam setahun terakhir dan membandingkannya dengan bumi, ternyata Abyss bukanlah dunia lain, melainkan bumi itu sendiri," ujar Kaa.
"Apa maksudmu? Jadi tempat ini masih di bumi? Di bagian mana? Di bawah tanah kah? Apakah itu alasannya tidak ada matahari di sini?" tanya Sandy penasaran.
"Bukan seperti itu, Abyss ini adalah dimensi lain dari bumi, ibarat kata seperti seseorang yang sedang bercermin, bumi adalah orang itu, sedangkan Abyss adalah bayangan yang ada di cermin itu," ujar Kaa.
"Hmm! Jika memang seperti itu perumpamaannya, seharusnya tanah di sini sama saja seperti di bumi, ada gedung-gedung tinggi di balik bukit dan pohon yang rindang! Seharusnya begitu!" ujar Salsha.
"Memang, sekarang Abyss dan bumi tampak berbeda jauh, tapi dulu, saat Abyss pertama kali muncul, ia terlihat sama persis seperti bumi. Sayangnya di Abyss tidak ada matahari, itu karena ia hanya meniru bentuk bumi saja, tidak sampai ke luar angkasa sana. Itulah alasan mengapa Abyss menjadi berbeda dengan bumi sekarang," ujar Kaa.
"Jadi tidak adanya matahari membuatnya berbeda jauh sekarang? Memangnya apa hubungannya?" tanya Sandy.
"Tentu saja ada hubungannya! Perubahan suhu, perubahan lapisan tanah juga dipengaruhi oleh matahari!" ujar Salsha.
"Benar sekali! Dulu Abyss tidak bisa ditinggali karena sangat dingin, namun sebuah keajaiban pun terjadi. Kalian tahu kenapa langit tampak redup? Bukan gelap gulita, namun berwarna ungu gelap. Menurut kalian kenapa?" tanya Kaa.
"Entahlah, mana kutahu," ujar Sanay. "Sebenarnya Abyss ini juga memancarkan cahaya, meskipun tidak terlalu terang, itulah yang membuat suasana redup seperti ini, selain itu Abyss juga menghasilkan suhu yang stabil di permukaan, membuat makhluk hidup bisa tinggal di atasnya," ujar Kaa.
__ADS_1
"Sepertinya banyak fenomena alam yang luar biasa di sini! Jika orang-orang tahu ini, mungkin mereka akan melakukan ekspedisi besar-besaran. Apalagi lingkungan di sekitar sini sangat mendukung, tidak seperti Antartika yang hingga sekarang belum tereksplorasi sepenuhnya," ujar Salsha
"Yang jelas, mari kita pergi mencari anak bernama Alesse ini," ujar Kaa.
Belum sampai mereka melangkahkan kaki, mereka sudah dihadapkan dengan para iblis mengerikan. "Ini benar-benar bermasalah! Kita baru sampai di sini dan langsung disambut oleh mereka," ujar Salsha, ia langsung bersembunyi di balik punggung Sandy.
"Jangan seperti itu, Salsha! Aku kesulitan bergerak!" ujar Sandy. Salsha terlalu takut untuk melepaskan tangannya dari baju Sandy.
"Tenang saja! Biar aku yang menghadapi mereka!" ujar Kaa. Seketika sayap megah muncul dari punggungnya, membuat anak-anak lainnya terpana.
"Aku juga ikut membantu!" ujar Probe, lengannya berubah menjadi gergaji mesin, ia siap menebas siapa saja yang ada di hadapannya.
"Meskipun bukan makhluk hidup, ternyata kau memiliki semangat yang tinggi juga," ujar Kaa, ia langsung melesat di udara dengan kepakan sayapnya. Seketika itu bulu-bulu dari sayapnya berguguran.
"Probe! Sebaiknya kau lindungi mereka bertiga dengan tubuh besimu! Ini akan sedikit berbahaya!" ujar Kaa. Ia mengulurkan tangan kanannya ke depan, membuat bulu-bulu yang berguguran itu tertahan di udara.
Semua hal yang ada di permukaan tanah itu pun hancur berantakan karena bulu-bulu itu. Bahkan pakaian yang Probe kenakan menjadi koyak hingga menembus kulitnya ketika melindungi ketiga anak lainnya.
Dalam beberapa detik, semua iblis yang ada di hadapan mereka sudah mati karena bulu-bulu yang menyayat tubuh mereka.
"Luar biasa sekali! Kau bisa membantai mereka semua dalam sekejap! Dalam peperangan mungkin kau bisa menang!" ujar Sandy.
"Dunia tanpa perang seperti tempat kalian tidak akan mengerti. Para iblis ini berbeda dengan manusia, mereka tidak berakal, tentu saja titik buta mereka adalah bagian atas, mereka tidak akan menghindar. Berbeda dengan manusia yang bisa menyerang balik ke atas, jika aku terbang seperti tadi, itu akan membuat mereka semakin mudah untuk membunuhku," ujar Kaa.
"Benar sekali, aku tidak berpikir sampai ke situ," ujar Salsha. "Hmm! Sepertinya banyak bulu sayapku yang rontok! Aku tidak akan bisa terbang untuk sementara ini," ujar Kaa.
__ADS_1
"Wah, ternyata untuk mengeluarkan jurus pamungkas itu juga perlu pengorbanan yah? Tidak bisa dibayangkan!" ujar Sanay.
"Yang jelas, tubuhku sudah berantakan seperti ini, apa yang harus kulakukan?" tanya Probe, menyela pembicaraan mereka berempat.
"Hmm! Kalau begini, kita tidak bisa mengelabui keluarga Alesse lagi! Sepertinya Kaa harus tinggal lebih lama jika Alesse tak kunjung datang!" ujar Sanay.
Kaa tampak prihatin saat menatap mayat-mayat Iblis yang berserakan itu, Sandy pun menghampirinya. "Ada apa kawan? Kenapa kau tiba-tiba murung begitu?" tanya Sandy.
"Kau tahu? Kebanyakan dari mereka sebenarnya adalah manusia, sama sepertimu, sama seperti kita berdua. Hari ini banyak sekali berubah menjadi iblis! Kalau terus seperti ini, manusia iblis akan punah, ini sesuai dengan rencana Warden!" ujar Kaa.
"Bukankah Raya Stephen bisa mencegahnya? Ia adalah Dark Warden, ia pasti bisa melawan Warden!" ujar Salsha ikut menimpali.
"Benar sekali, harapan kami berdua dan manusia iblis lainnya hanya ada pada serigala jantan itu," ujar Kaa, ia terlihat putus asa, mengingat kepribadian Ray yang sangat bobrok.
"To.... tolong! Beri aku daging!" tiba-tiba suara berat menggema di telinga mereka, membuat mereka terdiam sejenak lalu menghadap ke satu arah.
Tampak seorang pria dengan jalan sempoyongan mendekati mereka. "Nak, tolong aku! Aku..... butuh... daging!" ujar pria itu semakin keras. Salsha langsung ketakutan dan bersembunyi di balik punggung Sandy karena mulut pria itu dipenuhi darah.
Pria itu sempat menggigit mayat iblis dan menelannya, namun ia kembali memuntahkannya.
"Tolonglah! Aku tidak bisa memakan ini! Aku perlu daging segar selain iblis! Mungkin pria besar itu bisa berbagi sedikit daging dari tubuhnya!" ujar pria itu semakin lancar, meskipun setengah badannya terlihat seperti Iblis, ia masih memiliki kesadaran.
"Kau sudah gila kah?" bentak Salsha, ia tidak terima saat pria itu menunjuk Sandy untuk mengambil dagingnya. Setelah dibentak, pria itu langsung berteriak keras dengan suara serak, matanya semakin memerah seolah murka. Saat itulah Probe mengeluarkan gergaji mesinnya,ia hendak menebas leher pria itu.
"Jangan!" teriak salah seorang anak. Ia bergegas meluncur dengan sepatu rodanya lalu menancapkan beberapa suntikan di bagian tubuh pria itu, sebelum pria itu dapat meraih bajunya dengan cakarnya, ia langsung berputar dengan gesit seolah menggulung kain yang terurai di udara, gerakannya benar-benar fantastis, seperti penari balet.
__ADS_1
"Jawara, belenggu pria itu!" teriak anak itu. Mendengar nama yang disebutkan anak itu, Salsha, Sandy, dan Sanay terkejut. "Alesse?" ujar mereka serentak.