
Alesse bangun dari tidurnya, langit masih redup saat itu, namun ia langsung pergi ke rubanah untuk memulai aktivitasnya.
Saat ini ia sudah bisa memonitor apa saja yang terjadi di sekeliling kamarnya setelah beberapa hari memasang kamera dan alarm.
Sesekali ia memeriksa kondisi persendian pada tubuh Probe dan melakukan ceklist pada tablet yang selalu ia bawa.
Alarm pun berbunyi, tampaknya Alex sudah berada di depan kamarnya dan mengetuk pintu.
Ia pun segera keluar dari rubanah sebelum adiknya itu menyadarinya.
"Alesse? kau di dalam? Apakah kau masih tidur?" tanya Alex.
Alesse pun membuka pintu tanpa menjawab pertanyaannya. "Ada apa?" tanya Alesse, ia tidak sempat membersihkan debu dan noda minyak yang ada di bajunya.
"Apa saja yang kau lakukan di dalam sampai kotor begini? Kenapa kau tampak baru saja keluar dari bengkel?" tanya Alex.
"Tidak ada yang istimewa, apa yang kau inginkan sampai pagi-pagi ke kamarku?" tanya Alesse.
"Hari ini tampak sangat menyegarkan! Sebelum liburan berakhir, bukankah sebaiknya kita berolahraga? Latihan kita sebelumnya belum pernah terselesaikan bukan? Kita masih seri," ujar Alex.
"Bukankah sudah jelas kalau kau adalah pemenangnya?" tanya Alesse. "Eh? Apa maksudmu? Kenapa bisa begitu? Salah satu dari kita belum ada yang tumbang, belum ada yang mengatakan menyerah," ujar Alex.
"Baiklah, jika kukatakan sekarang aku menyerah, apakah kau akan berhenti menggangguku?" tanya Alesse. "Bukan seperti itu yang kuinginkan! Aku juga sempat berpikir kalau perbandingan kita sangatlah jauh, tapi latihan sebelumnya benar-benar tak terduga! Kau dapat dengan mudahnya melukaiku berkali-kali, namun seranganku tidak ada yang pernah berhasil mengenaimu," ujar Alex.
"Tentu saja karena kau sengaja melakukannya kan? Jika kau serius ingin menyerangku, aku bisa terluka parah," ujar Alesse.
"Sungguh, aku tidak ada niatan seperti itu. Aku berlatih dengan sungguh-sungguh karena percaya kau dapat menghindari semuanya," ujar Alex.
"Benarkah? Jika benar begitu, akan kuberitahu satu hal yang berharga," ujar Alesse. "Apa itu?" tanya Alex.
"Menjadi pintar tidak selamanya membuat kita lebih unggul dari orang lain. Apalagi dengan tubuh besarmu itu. Jika kau tidak banyak perhitungan, kau bisa menyerangku dan melukaiku hingga tumbang. Tapi kau terlalu perhitungan, seolah ada kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi jika kau menyerangku dengan gegabah. Kau tahu kenapa hewan liar memiliki tenaga yang besar meskipun ukuran tubuhnya tak jauh beda dengan kita? Jika mereka menyerang, mereka akan terus melakukan itu dengan agresif, tanpa rasa ragu," ujar Alesse.
"Jadi, maksudmu jika aku ragu-ragu, aku tidak akan bertambah kuat?" tanya Alex. "Memangnya kau ingin menjadi sekuat apa? Keserakahan juga sebuah kelemahan," ujar Alesse.
Pada akhirnya Alex terdiam seribu bahasa, ia tidak bisa mengelak perkataannya. Alesse pun menghela nafas kesal.
"Hanya karena satu kalimat saja nyalimu langsung menciut begitu, gimana caranya menjadi kuat?" Alesse menepuk dahi, pada akhirnya ia pun menuruti permintaan Alex untuk berlatih di lapangan.
"Sepertinya mereka berdua selalu melakukan itu setiap Alex pulang ke rumah," ujar Hendra. "Entah kenapa aku jadi sangat penasaran sekarang," ujar Andin. "Benar sekali, sekarang kita tahu identitas Alesse sebenarnya. Pertandingan seperti ini menjadi sulit diprediksi lagi. Tidak seperti dulu, dahulu kita menganggap Alesse tidak mungkin menang melawan Alex," ujar Hendra.
Di sisi lain Alex sudah siap dengan kuda-kudanya yang kokoh. Uap tampak bermunculan dari tubuhnya, membuat pakaiannya basah kuyup karena keringat.
__ADS_1
"Padahal belum berbuat apa-apa, kenapa tubuhmu sudah basah kuyup dengan keringat?" tanya Alesse.
"Aku sengaja membuat tubuhku berkeringat, dengan begini aku tidak perlu lagi ragu mengotori pakaianku. Bukankah kau yang mengatakannya sendiri bahwa keraguan dapat membuat kita semakin lemah?" tanya Alex.
"Begitukah caramu menafsirkan perkataanku? Baiklah, terserah kau saja," ujar Alesse. Ia pun langsung berlari ke arah Alex dengan cepat, ia menghunuskan tongkatnya dari punggung.
"Dari mana benda itu berasal? Aku tidak melihat Alesse membawa itu sebelumnya," ujar Hendra terkejut. "Bahkan larinya menjadi sangat cepat! Eh..... tunggu! Ia tidak berlari! Ia seperti.... meluncur! Gimana caranya?" Andin juga terkejut.
Hendra menggunakan pengendalian alamnya untuk membuat matanya menjadi semakin tajam hingga dapat melihat jarak jauh.
"Itu..... sepatu roda!" ujar Hendra. "Mustahil! Tidak mungkin sepatu roda bisa meluncur di rerumputan!" ujar Andin.
Hendra pun masuk ke dalam rumah, tak lama kemudian ia kembali keluar dengan sebuah kamera.
"Dari mana kau mendapatkan benda itu?" tanya Andin. "Tenanglah, ini adalah saat-saat terbaik," ujar Hendra, ia mengambil gambar dari kedua anaknya yang sedang berlatih.
"Coba lihat hasilnya! Apakah itu bagus?" tanya Andin. Ia dan Hendra mencoba melihat gambar-gambar itu dengan seksama.
"Pose Alesse tampak sangat bagus sekali, sangat anggun sekali! Aku tidak tahu kalau tubuhnya sangat lentur. Seperti penari balet," ujar Andin.
"Alex juga tampak sangat gagah dan tegas. Lihatlah otot-otot kekar ini, bikin iri saja," ujar Hendra.
Akhirnya Hendra mengarahkan kameranya pada momen itu. Akhirnya ia mendapatkan gambar terbaik, saat Alesse dan Alex saling melancarkan serangan di udara.
Awalnya Hendra dan Andin sangat menikmati pertunjukan yang kedua anak itu perlihatkan, namun semakin lama Andin semakin resah.
"Hei, apakah mereka baik-baik saja? Kupikir pertarungan mereka menjadi semakin serius," ujar Andin.
"Benar sekali, jika dilanjutkan mereka bisa terluka," ujar Hendra.
Pertarungan Alex dan Alesse menjadi semakin berbahaya, mereka tampak tak segan-segan untuk melukai satu sama lain.
Meskipun begitu Alesse selalu bisa menghindar, sedangkan Alex terus mendapatkan luka bertubi-tubi dari serangan Alesse.
Kaki ini Alex mengeluarkan cakarnya, ia berhasil memberikan segaris luka pada lengan Alesse.
"Hei! Aku tidak punya kemampuan regenarasi cepat sepertimu!" ujar Alesse. "Terlihat curang sekali karena hanya aku yang tidak boleh melukaimu," ujar Alex.
"Begitukah yang kau pikirkan? Kau ingin bertanding serius?" tanya Alesse, ia tiba-tiba menyeringai lebar seolah dipenuhi semangat.
"Ada apa dengan Alesse? Kenapa dia menjadi antusias dengan latihan ini?" tanya Gord keheranan.
__ADS_1
"Kupikir aku tahu jawabannya! Geni tidak ada di sini," ujar Rasya. "Apakah ia sedang merasuki Alesse sekarang? Di saat seperti ini?" Gord tampak panik.
Di sisi lain tubuh Alesse tiba-tiba berubah, rambutnya menjadi merah. Sinar matahari membuat semua warna merah yang ada di tubuhnya menjadi lebih terang.
"Terima kasih karena sudah membuatku semakin bersemangat! Baiklah, akan kuladeni ini dengan serius!" seru Alesse. Tongkatnya tiba-tiba berubah menjadi dua cakram yang membara.
"Seranglah aku semaumu, itupun kalau kau bisa," ujarnya sekali lagi. "Itu juga membuatku semakin bersemangat! Sepertinya aku tidak perlu ragu-ragu untuk melukaimu," ujar Alex, kali ini tubuhnya menjadi semakin besar.
Akhirnya mereka berdua saling baku hantam, membuat lapangan itu porak-poranda. Suara nyaring terdengar ke berbagai arah karena benturan antara cakram yang digunakan Alesse dengan cakar tajam milik Alex.
"Hendra! Sebaiknya hentikan mereka berdua!" ujar Andin. "Mereka akan mengetahui kalau aku elementalist jika melakukannya!" ujar Hendra.
"Itu bukanlah hal yang seharusnya kau pikirkan sekarang! Kau hanya perlu menengahi keduanya tanpa menggunakan pengendalianmu," ujar Andin.
"Kalau seperti itu aku bisa mati!" ujar Hendra. Andin tampak khawatir karena suara gemuruh yang kedua anaknya ciptakan semakin menjadi-jadi.
"Argh! Apa boleh buat!" ujar Hendra nekat, ia berlari ke arah mereka berdua. Sayangnya gerakan Alesse dan Alex terlalu cepat, membuat Hendra kesulitan mendekati mereka.
"Merepotkan saja!" ujar Hendra kesal, ia membenamkan jemarinya ke tanah dan menunggu momen yang tepat ketika kedua anaknya menginjak hamparan tanah.
Saat itu terjadi, ia menggunakan pengendaliannya untuk merubah rumput-rumput lapangan menjadi tanaman merambat yang menjerat kedua.
"Hei! Beginikah cara bermainmu? Licik sekali menanam jebakan di tempat latihan. Cerdik juga kau. Aku sangat terkesan," ujar Alesse.
"Itu bukan ulahku! Lihatlah! Aku juga ikut terjerat!" ujar Alex, ia bahkan kesulitan melepaskan tanaman rambat itu karena terus tumbuh melilit tubuhnya meskipun berkali-kali ia tebas.
"Kalian berdua! Hentikanlah! Apakah kalian tidak sadar dengan apa yang kalian lakukan?" tanya Hendra kesal, ia benar-benar menyesal telah menunjukkan pengendaliannya.
"Ayah?" Respon Alesse dan Alex serentak dipenuhi tanda tanya. "Kenapa kalian memerhatikan ayah? Lihatlah ulah kalian dulu! Kalian tidak merasa ada yang salah?" tanya Hendra.
Akhirnya Alesse dan Alex melirik ke arah lapangan. Mereka terkejut bukan main, hamparan tanah itu tampak hancur berantakan seperti baru saja tertimpa meteor.
"Aku yakin itu semua ulah Alex," ujar Alesse, tubuhnya sudah kembali seperti semula. "Hei! Kenapa hanya aku?" tanya Alex. "Tentu saja! Aku tidak punya kekuatan sebesar itu untuk membuat tanah menjadi seperti kawah-kawah di bulan," ujar Alesse.
"Hei! Tetap saja..... kenapa hanya aku yang disalahkan?" tanya Alex tidak terima. "Baiklah, kalau kau tidak mau salah sendirian, maka pelaku berikutnya adalah....." Alesse menunjuk ke arah Hendra.
"Eh? Ke... kenapa ayah?" Hendra kebingungan, padahal ia hanya berniat melerai kedua anak itu. "Benar sekali! Jika ada seseorang yang harus disalahkan, kau adalah orang yang tepat! Bukankah sudah kubilang? Jangan gunakan pengendalianmu!" ujar Andin sambil menjewer telinga Hendra.
"Lihatlah tanah-tanah itu merekah karena ulahmu!" lanjutnya dengan kesal lalu membawanya ke dalam rumah.
Alesse dan Alex hanya saling tatap dengan wajah keheranan lalu ikut masuk ke dalam rumah juga.
__ADS_1