Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Liburan telah berakhir


__ADS_3

Alesse membuka pintu kamarnya, ia tampak sudah siap dengan seragam sekolah. "Hmm! Ibu pikir anak pintar akan berpakaian rapih ketika berangkat sekolah. Kenapa kau tampak berantakan begini? Masukkan bajumu! Pakai dengan benar! Lalu rambut ini....." Andin mencoba merapihkan penampilan Alesse.


Hasilnya pun tampak sangat aneh, Alesse merasa tidak nyaman dengan penampilan itu. "Heh? Tubuhmu ternyata lebih kecil dari dugaanku! Kupikir pakaian itu terlalu besar, membuatmu tampak seperti anak yang kurang gizi," ujar Geni sambil tertawa.


"Benar sekali, aku tidak menyukai ini!" ujar Alesse, ia kembali mengeluarkan bajunya dan sedikit mengacak rambutnya. Sayangnya Andin tidak memperbolehkannya berangkat sebelum merapihkan kembali penampilannya.


"Merepotkan sekali!" keluh Alesse kemudian kembali ke kamar. Ia hendak berangkat sekolah melalui jendela.


"Mungkin sebaiknya gunakan tubuhku saja. Besar dan tingginya sangat ideal untuk seragam sekolahmu," ujar Geni. "Kalau begitu baiklah, kupinjam sebentar tubuhmu," ujar Alesse.


Seketika tubuh Geni pun melebur lalu merasuki tubuh Alesse. Saat itulah tubuh Alesse berubah sedikit melebar, warna rambutnya pun ikut berubah.


Selain penampilannya, ada satu hal lagi yang berubah dari dirinya, yaitu ekspresi wajahnya. Saat ini ia tampak dipenuhi semangat untuk berangkat sekolah. Ini semua adalah efek karena Geni merasukinya.


"Ouh! Aku masih belum terbiasa dengan hal ini! Seharusnya aku membiarkan Aqua saja yang merasukiku, tapi tubuhnya bahkan lebih kecil dariku," ujar Alesse.


Kali ini ia hanya perlu mewarnai rambutnya menjadi hitam. Ia bisa menyembunyikan segala hal berwarna merah di tubuhnya dengan baik.


Setelah berpakaian rapi, ia pun keluar dari kamar. membuat Andin terkagum-kagum dengan penampilannya.


"Benar sekali! Seharusnya seperti ini anak ibu! Rapih dan bersih!" seru Andin. "Heh? Tumben sekali kau tampak tampan hari ini, Alesse! Ayah sampai tidak mengenali wajah menggemaskanmu lagi," ujar Hendra, ia tampak tidak terlalu senang dengan hal itu.


"Aku berangkat sekarang," ujar Alesse kemudian berlari keluar rumah. "Kenapa dia tampak semangat sekali? Tidak seperti biasanya!" ujar Hendra. "Bukankah bagus seperti itu? Aku sangat prihatin karena ia selalu berjalan pelan layaknya zombie untuk berangkat sekolah sebelumnya," ujar Andin.


"Bukankah zombie itu perumpamaan yang berlebihan? Kau bisa gunakan kata yang lain untuk menggambarkannya," ujar Hendra.


"Apapun itu.... Yang jelas aku merasa senang bila Alesse berangkat dengan semangat seperti itu setiap hari," ujar Andin.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Alesse pun sampai di dalam kelas, ia langsung mengambil bangku paling depan. Padahal sebelumnya ia selalu mencari kesempatan untuk duduk di tempat yang tidak diperhatikan oleh guru.


Tidak seperti hari biasanya yang dipenuhi rasa bosan, Alesse mengeluarkan alat tulis dan buku-bukunya dengan antusias meskipun pelajaran belum dimulai.


"Alesse?" Sanay tampak keheranan melihat tingkah laku Alesse yang sangat asing baginya.

__ADS_1


"Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa mengeluarkan semua bukumu?" tanya Sandy kemudian.


Alesse tidak sadar kalau dirinya baru saja mengosongkan tasnya. "Waduh, sepertinya aku terlalu bersemangat," ujar Alesse kemudian memasukkan kembali beberapa buku yang tidak dipakai.


"Hari ini kau tampak aneh sekali! Tidak seperti biasanya," ujar Salsha. "Benar sekali! Lihat cara berpakaianmu! Rapih sekali seperti siswa baru! Benar-benar membuatku tertawa! Konyol sekali!" ujar Sandy kemudian tertawa.


"Menurutku bagus seperti ini. Kau lebih cocok berpenampilan rapih, Alesse!" ujar Sanay. "Yeah, benar sekali! Konyol dari mananya? Seharusnya kau juga memperhatikan penampilanmu, Sandy! Ada apa dengan seragammu ini? Bukankah ini terlalu kecil? Kau tidak punya uang untuk beli yang baru?" tanya Salsha kesal. Perkataannya terlalu menusuk telinga Sandy, membuatnya terpuruk seketika.


Lagi-lagi Salsha terus memerhatikannya, kali ini ia menatap lama wajah Sandy dengan ekspresi cemberutnya. "A... apa lagi, Salsha? kenapa kau menatapku begitu?" tanya Sandy merasa tidak nyaman.


"Jenggot dan kumismu....... kenapa kau membiarkannya panjang berantakan seperti kulit rambutan?" tanya Salsha.


"Hei, ini adalah bukti nyata kalau aku adalah seorang pria!" ujar Sandy. "Omong kosong! Lalu, Alesse.... apakah dia bukan seorang pria? Lihatlah! Wajahnya putih bersih. Kau ini siswa SMA atau duda beranak?" tanya Salsha kesal.


"Salsha, menurutku kau terlalu berlebihan. Kenapa hari ini suasana hatimu buruk? Apa yang sedang terjadi?" tanya Sanay. Salsha tidak menjawab, ia langsung duduk di bangkunya sambil menghela nafas kesal.


Sanay memberi isyarat pada Sandy agar menenangkan Salsha. Sandy pun dengan ragu-ragu menghampiri Salsha dan menenangkannya.


"Aku baru sadar kalau mereka berdua seakrab itu," ujar Alesse. "Ternyata memang Alesse yang biasanya. Kupikir hari ini kau mulai berubah hingga pakaianmu menjadi serba rapi," ujar Sanay.


"Kau berharap begitu?" tanya Alesse. "Tidak juga, seperti apapun kau sekarang atau ke depannya, kau tetaplah Alesse!" ujar Sanay kemudian duduk di samping Alesse.


Karena tidak berhasil mendapatkan perhatian dari Alesse, Sanay pun langsung memegang tangannya yang kebetulan masih berada di atas meja.


"Kenapa, Sanay?" tanya Alesse. "Kalau seseorang mengatakan suka padaku dan mengajakku berpacaran, sebaiknya seperti apa responku?" tanya Sanay.


Alesse mengedipkan mata beberapa kali sambil berpikir. "Apa-apaan itu? Sepertinya aku melihat sesuatu yang baru dari wajahmu," ujar Sanay, ia tidak menyangka Alesse akan bersikap konyol seperti itu.


"Aku hanya bingung saja. Kenapa kau menanyakan hal itu padaku? Bukankah hal seperti itu sebaiknya kau pikirkan sendiri? Kukira kau adalah orang yang bebas, tidak terpengaruh perkataan orang lain. Tumben sekali meminta saran dariku," ujar Alesse.


Sanay terdiam sejenak, ia tampak enggan membicarakannya lebih jauh. "Ehm, Ngomong-ngomong kau tidak penasaraan apa saja yang kami lakukan saat kau tidak ada?" tanya Sanay, ia tiba-tiba mengganti topik.


Alesse pun tidak terlalu peduli dengan sikap anehnya, ia tetap mendengarkan pertanyaan Sanay.


"Aku juga punya pertanyaan untukmu, kau tidak penasaran kenapa aku tiba-tiba berpisah dari kalian?" tanya Alesse.

__ADS_1


"Tentu saja penasaran! Tapi Kaa meminta kami untuk tidak membahas hal itu, lalu..... Atlas tiba-tiba bersikap dingin padaku dan Salsha, ia hanya ingin berbicara dengan Sandy," ujar Sanay.


"Begitukah? Sepertinya hal itu juga tidak perlu diungkit-ungkit lagi," ujar Alesse. "Jadi..... apakah kita akan pergi ke bumi lainnya saat liburan berikutnya?" tanya Sanay, ia tampak sangat bersemangat seolah ia berperan sebagai agen khusus yang menyamar menjadi seorang siswa SMA.


"Kau tidak melupakan dunia aslimu kan? Kenapa kau sangat terobsesi dengan bumi lainnya? Padahal baru hari pertama berangkat sekolah tapi yang kau bahas malah liburan berikutnya," tegur Alesse. Sanay hanya bisa tertawa sambil menggaruk-garuk kepala.


Tak lama setelah pelajaran dimulai, istirahat pertama pun tiba. Sandy langsung menghampiri tempat duduk Alesse.


"Alesse, bisa ikut aku sebentar?" pinta Sandy, wajahnya tampak serius. "Tumben sekali kau memintaku untuk berbicara empat mata," ujar Alesse.


"Sikapmu sangat berbeda hari ini dan terasa sangat bersahabat. Kapan lagi aku bisa mengajakmu berbicara seperti ini kalau bukan sekarang? Aku tidak bisa menghadapi Alesse yang terus menunjukkan ekspresi dinginnya," ujar Sandy.


"Kau ini..... seperti membicarakan orang lain saja. Tenang saja, kau bisa berbicara dengan santai," ujar Alesse kemudian beranjak dari kursinya.


Sandy tidak menyangka bahwa Alesse benar-benar menurutinya. Padahal ia pikir anak itu akan melontarkan banyak pertanyaan yang menyulitkannya.


Akhirnya mereka berdua sampai di atap sekolah. Awalnya Sandy hanya menatap langit, ia ingin Alesse benar-benar fokus padanya karena sembari tadi anak itu memerhatikan hal lain di sekelilingnya.


"Biasanya di saat seperti ini seseorang akan menghisap rokok sambil menatap pemandangan di bawah sana. Maaf karena aku tidak membawa apapun," ujar Sandy.


"Tidak usah sungkan-sungkan, lagian aku bukan perokok," ujar Alesse. "Benar sekali, Alesse yang aku kenal tidak butuh hal seperti itu ketika stress atau gelisah," ujar Sandy.


"Kenapa kau sangat bertele-tele? Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Alesse. "Ehm, begini.... Alesse.... apakah kau seorang Warden? Apakah yang dikatakan oleh Atlas itu benar?" tanya Sandy.


"Kalau memang benar, apa yang akan kau lakukan?" tanya Alesse. "Jika memang benar, lalu kenapa selama ini kau tidak pernah menggunakan pengendalianmu? Bahkan di saat kau hampir sekarat," tanya Sandy. Alesse terdiam sejenak. Tiba-tiba Geni terlempar keluar dari tubuhnya.


Saat itu tubuh Alesse kembali seperti semula, namun Sandy tidak menyadarinya karena tidak jauh berbeda dari sebelumnya. Alesse pun menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan matanya, ia pun kembali membuka mata dan menghembuskan nafasnya, saat itu ekspresi datarnya yang khas sudah kembali melekat di wajahnya.


"Karena saat itu aku memang tidak bisa mengendalikan apa-apa," jawab Alesse.


"Berarti.... sekarang kau bisa mengendalikan apapun yang kau mau? Air? Api? Bahkan Angin?" tanya Sandy penasaran. Alesse melirik ke arah genangan air yang ada di atap, ia mencoba mengayunkan tangannya agar genangan itu bergerak sesuai keinginannya, namun tidak ada yang terjadi.


"Seperti yang kau lihat, mau aku bergerak seperti orang bodoh pun, air itu tidak akan pernah bergerak sesuai kehendakku," ujar Alesse.


"Jadi.... maksudmu kau tidak bisa mengendalikan air? Kau bukan elementalist? Lalu kenapa Atlas mengatakan bahwa kau Warden? Barusan kau juga mengakuinya kan? Bukankah Warden adalah elementalist yang bisa mengendalikan semua elemen?" tanya Sandy.

__ADS_1


"Aku tidak bilang kalau aku bukanlah elementalist, tapi hal seperti ini rumit untuk dijelaskan. Kau akan mengerti, suatu saat nanti," ujar Alesse sambil memegang bahu Sandy kemudian mulai melangkah untuk pergi.


"Oh iya, aku memang tidak terlalu bergantung pada hal magis seperti itu. Jika bisa diselesaikan dengan sains, aku lebih memilih menggunakan sains. Mungkin itu juga alasan aku tidak bisa mengendalikan apapun untuk sekarang ini," ujar Alesse kemudian meninggalkan Sandy sendirian di atap.


__ADS_2