Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Bad Mood


__ADS_3

Alesse sibuk mengutak-atik beberapa bagian mesin. Kamarnya saat ini tampak seperti sebuah bengkel. Andin dan Hendra bahkan sampai terheran-heran karena kamarnya tetap bersih meskipun berkali-kali mengeluarkan asap hitam hingga berbau minyak dan gas.


Alex mengintip di daun pintu. Kesehariannya di rumah tampak membosankan karena ia tidak memiliki teman.


"Kenapa kau hanya berdiri si situ? Hidupmu senggang sekali sepertinya," ujar Alesse. Ia tidak menoleh sedikitpun. Hanya dengan pantulan bayangan dari logam yang mengkilap, ia bisa tahu Alex sedang berada di belakangnya.


"Apakah setiap hari selalu begini, Alesse?" tanya Alex, ia sendiri sampai jenuh memerhatikan Alesse.


"Memangnya harus seperti apa? Kau juga setiap hari selalu pergi ke lapangan, lalu kembali dengan keringat di sekujur tubuh dan bau badan. Aku tidak mungkin tahan melakukan hal seperti itu," ujar Alesse.


"Setidaknya keluarlah dan dapatkan sinar matahari," ujar Alex. Saat itu pun Alesse menarik tuas yang ada di mejanya. Seketika cermin besar muncul keluar jendela dan mengarah ke wajah Alex hingga membuatnya merasa silau.


"Aku sangat cukup mendapatkan sinar matahari," ujar Alesse. "Bergeraklah! Kurasa hanya mendapatkan sinar matahari sangat tidak cukup," ujar Alex, ia hanya ingin Alesse menemaninya ke lapangan.


"Huh, jika yang kau lihat ini bukan bergerak, lalu apa yang sedang kulakukan? tidur? Kau tidak lihat gimana aku memperbaiki benda rongsokan ini?" tanya Alesse kesal.


"Ba.. baiklah! Aku tidak akan mengganggumu lagi! Ya ampun. temperamenmu sangat buruk sekali! Kenapa suasana hatimu sangat cepat sekali berubah?" tanya Alex.


"Cari jawabannya sendiri! Aku sibuk! Kalau tidak, tanyakan saja teman-temanmu di Amerika," ujar Alesse.


"Gimana caranya aku bertanya, sedangkan aku berada di sini? Aku bahkan tidak tahu kapan mereka akan memeriksa ponsel mereka," ujar Alex. "Tepat sekali! Aku tidak butuh tanggapanmu! Jika kau tahu maksud perkataanku, kenapa tidak kau jalankan saja? Pergilah ke Amerika dan temuilah teman-temanmu!" ujar Alesse, rasa kesalnya semakin menjadi-jadi.


"Kenapa kau bicara begitu, Alesse? Ini kesempatan dia untuk beristirahat di rumah loh! Sudah lama ia tidak pulang ke rumah," ujar Andin.

__ADS_1


"Kalau dia benar-benar ingin berada di rumah, setidaknya singkirkan rasa bosannya itu! Wajahnya sangat mengganggu! Apakah dia bodoh? Tidak ada satu hal yang bisa ia lakukan untuk mengatasi kebosanannya? Apakah harus orang lain yang menghibur dia? Kenapa tidak ibu dan ayah saja yang jadi badut untuknya? Mungkin saja ia akan membayar mahal untuk kalian berdua," ujar Alesse, emosinya terlalu meluap-luap karena saat ini tubuhnya menyerupai tubuh Baraq.


"Alesse terlalu menjiwai sifat Baraq, benar-benar membuatku takut!" ujar Gord. "Apakah anak itu sangat mengerikan? Kenapa pria gagah perkasa sepertimu takut dengan anak kecil?" tanya Rasya.


"Dia bukan hanya sekedar anak kecil, dia adalah anak yang sangat kesepian karena satu hal yang dimilikinya, ia tidak menerima siapapun yang mengecewakannya," ujar Gord. "Hal apa yang membuatnya begitu?" tanya Geni penasaran.


"Tubuhnya dikelilingi kilatan petir yang terkadang tak kasat mata. Setiap ia menyentuh seseorang, orang itu akan gosong seperti tersambar petir, bahkan untuk kondisi lebih ringannya, orang yang berkontak dengannya akan jatuh tersungkur tak sadarkan diri. Ia benar-benar menjadi petaka saat berada di keramaian. Itulah mengapa ia selalu menyendiri di tengah-tengah aula kerajaan yang luas," ujar Gord.


"Kalian membicarakan orang yang tidak ada di hadapan kalian, itu pasti sangat menyenangkan," ujar Alesse dengan mulutnya.


"Hei, Alesse! Sepertinya kau lupa menutup mulutmu! Jika begini keluargamu juga mendengarnya! Kau akan dikira sedang berbicara sendiri layaknya orang gila!" Geni mengingatkan.


"Apa yang kau bicarakan, Alesse? Siapa yang membicarakanmu di belakang?" tanya Andin. "Tuh, kan! Mereka mendengarmu," ujar Geni.


"Sejak kapan dia menjadi begitu sensitif?" tanya Andin keheranan. "Bukankah dia sudah mengingatkan untuk tidak membicarakannya? Sudahlah, dari dulu dia memang begitu," ujar Hendra.


Alex tampak khawatir karena kedua orang tuanya merasa tidak nyaman dengan keberadaan Alesse. Ia takut kalau keduanya tidak menyayangi Alesse lagi.


"I.... ini bukan salah Alesse, kok! Ini salahku karena mengganggu aktivitasnya saat bosan, lain kali aku akan pergi ke tempat lain," ujar Alex.


Andin dan Hendra pun tertawa. "Wah! Sepertinya anak ayah yang satu ini sudah menjadi pria dewasa!" seru Hendra. "Mau dilihat dari manapun juga ini jelas bukan salahmu, tidak usah dipikirkan, " ujar Andin. Upaya Alex untuk meredakan rasa kebencian orang tuanya terhadap Alesse pun gagal, mereka justru malah memihak dirinya. "Kami senang kok jika kau berada di rumah," ujar Hendra. sambil merangkul bahu lebar anaknya itu.


Alesse dapat mendengarkan perkataan mereka dari jauh dan itu membuat aliran listrik terus keluar dari daun telinganya yang panas. Pada akhirnya arus listrik itu menyalur ke mesin yang sudah susah payah ia perbaiki dan itu kembali rusak.

__ADS_1


Nafas Alesse tampak berubah menjadi cepat seolah ia tidak bisa menahannya lagi. Ia pikir kapalanya akan meledak saat itu juga.


Akhirnya ia berlari ke kasur dan menutupi telinganya dengan bantal. "Pasti rasanya sangat tersiksa berada dalam tubuh itu," ujar Geni, ia merasa iba dengan apa yang terjadi pada Alesse.


"Itu hanya sekejap saja, kau tidak bisa membayangkan apa yang dirasakan oleh Baraq setiap harinya," ujar Gord.


"Sepertinya semua pengendali petir mengalami hal serupa," ujar Rasya. "Dan keberadaan mereka sangatlah jarang, kebanyakan usia mereka termakan oleh pengendalian mereka sendiri karena tidak dapat mengontrol emosi. Syukurlah aku pengendali api, bukan listrik. Meskipun hampir sama, kenyataannya kami sangat berbeda, bahkan tidak berkaitan satu sama lain," ujar Geni.


Tak lama setelah Alesse merasa tenang, tubuhnya berubah lagi. Kali ini rambutnya berubah warna menjadi putih.


"Aku belum terbiasa dengan yang satu ini," ujar Gord, ia merasa ngeri melihat mata ungu kemerahan dengan rambut putih berkilau seperti perak. "Jangan salah! Ini adalah maha karya!" seru Rasya.


Alesse tidak terlalu peduli dengan pembicaraan mereka, ekspresinya saat ini tampak sangat menyedihkan. Ia pun menarik tuas di sisi meja belajarnya sehingga tangga menuju rubanah terlihat. Ia pun turun ke bawah untuk melanjutkan aktivitasnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sisi lain Aqhva tampan mengawasi keberadaan Alesse dengan kemampuan Chron yang ia tiru. "Wanita itu benar-benar sangat berguna! Tidak kusangka dengan meniru kemampuannya, aku bisa mengetahui semua Chron yang berkumpul di istana itu!" serunya dengan tertawa karena terkesan.


"Baiklah, mungkin sudah saatnya menyalakan api untuk pertunjukan. Kuharap ia lebih tangguh daripada pendahulunya," ujar Aqhva kemudian memastikan lokasi Alesse secara detail dengan berbagai kemampuan dari banyak Chron.


"Luar biasa! Jika aku menyusup ke istana Grand Order sejak dulu, mungkin hidupku selama ribuan tahun ini akan sangat menarik! Sayang sekali aku harus menikmati ini di usia senjaku," ujarnya kemudian berubah menjadi Kaa dan mulai membuka gerbang ke antar dunia.


"Aku datang! Semoga kau bahagia karena bertemu denganku, bonekaku yang baru!" serunya kemudian masuk ke dalam pusaran angin itu.

__ADS_1


Setelah beberapa menit berada dalam antah berantah, ia pun akhirnya sampai ke tempat Alesse, anak itu tampak sedang sibuk mengutak-atik mesin di bawah cahaya remang-remang, seperti seorang gelandangan.


__ADS_2