Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Dalang di balik pembantaian


__ADS_3

Setelah duduk di suatu ruangan yang terkesan kaku dan polos, mereka pun bisa menjernihkan pikiran.


"Tempat ini bagus sekali!" ujar Kaa, ia tak bisa berhenti menghirup udara di sekitarnya. "Ini adalah aroma terapi, bisa menenangkan pikiran kalian," ujar Zwan sambil menyuguhkan minuman pada mereka.


"Jadi, ada perlu apa kalian datang ke sini?" tanya Zwan. "Kami hendak mencari benda pusaka yang dahulu pernah dicari oleh Dark Warden," jawab Kaa.


"Benda pusaka?" raut wajah Zwan tiba-tiba berubah. "Ada apa? Kau tahu sesuatu?" tanya Kaa.


"Dari mana kau tahu tentang hal itu?" tanya Zwan. "Tentu saja dari Dark Warden, Ray," ujar Kaa.


"Ma... maksudmu dia masoh hidup?" tanya Zwan penasaran. Orang-orang pun tidak mengerti kenapa Zwan tiba-tiba tertarik dengan hal itu.


"Tentu saja, setelah kembali dari tempat ini, akulah yang mengasuhnya. Saat itu dia adalah pemuda yang keras kepala," ujar Kaa.


Mata Zwan tampak berkaca-kaca. "Syukurlah! Syukurlah dia baik-baik saja!" ujarnya terharu. "A... ada apa ini? Kenapa kau menangis?" tanya Kaa keheranan.


"Itu semua salahku. Semuanya bermula dariku ketika dua orang pemuda datang untuk mencari benda pusaka yang dimaksud. Padahal suamiku sudah melarang mereka, namun aku malah memberikan sebuah petunjuk pada mereka," ujar Zwan.


"Tunggu dulu! Kenapa suamimu melarang?" tanya Kaa penasaran. "Kami seharusnya tidak berurusan dengan orang dari bumi luar, kami juga seharusnya tidak peduli dengan konflik di bumi lainnya. Tapi aku tidak bisa mengabaikan niat baik dari kedua pemuda polos itu sehingga aku menunjukkan tempatnya, namun itu adalah tempat yang berbahaya," ujar Zwan.


"Jadi itulah mengapa Ray kembali sedangkan temannya tidak?" tanya Sandy. "Yeah, karena aku terlambat menyadarinya. Ia sudah tertelan lubang hitam," ujar Kaa.


"Lalu, gimana dengan benda pusaka itu?" tanya Sandy penasaran. "Kalian sudah terlambat. Benda itu terakhir terlihat saat dua pemuda itu pergi ke sana. Tentu saja itu sudah dua puluh tahun yang lalu. Karena itu adalah tempat pembuangan, menurutku benda itu sudah hancur sepenuhnya," ujar Zwan.


Tak lama kemudian suara sirine muncul, membuat orang-orang sekitar menjadi tidak tenang. "Ada apa ini?" tanya Kaa.


"Sepertinya sebuah kabut tebal terhisap ke dalam gerbang antar bumi dan mulai menyebar," ujar Zwan sambil menunjukkan sebuah asap yang tiba-tiba muncul entah dari mana.


"Itu adalah Miasma! Itu sangat berbahaya!" ujar Kaa panik. "Miasma? Bukankah hal itu hanya mitos belaka?" tanya Zwan. "Tentu saja bukan! Siapapun yang menghirup udara di kabut itu akan mati!" ujarnya panik.


"Kita bisa tenang di sini, semua bakteri akan mati dengan sendirinya karena paparan sinar matahari," ujar Zwan, ia pun mulai mengganti layar.


"Meskipun begitu.... ini benar-benar mengerikan! Kenapa bisa ada orang yang membiarkan tumpukan mayat seperti itu?" tanya Zwan. "Kau juga tahu tentang tumpukan mayat itu?" tanya Kaa penasaran.

__ADS_1


"Tentu saja! Kami juga harus memantau semua keadaan yang ada di bumi lainnya. Tapi jangan salah paham, kami tidak peduli dengan konflik dan aktivitas manusia di luar sana," ujar Zwan.


"Itu benar-benar mengerikan! Jika terus berlanjut, semua manusia di bumi lain akan, punah!" ujar Kaa.


"Kalau begitu, kenapa kalian tidak bunuh saja pelakunya? mecegah lebih baik daripada mengobati kan?" tanya Zwan.


"Kami tidak tahu siapa pelakunya, " ujar Kaa dengan wajah murung. "Kami tahu siapa pelakunya loh," ujar Zwan, seketika orang-orang tampak penasaran.


"Siapa? Siapa pelakunya?" tanya Sandy penasaran. "Bukan berarti kami peduli dengan aktivitas manusia dari bumi lain. tapi kemunculan orang ini terlalu mengusik kami sehingga kami mencaritahu alatar belakang dan identitasnya," ujar Zwan. Ia pun menggeser layar dan menunjukkan sebuah data dan foto.


"Alesse Jawara. Itulah nama yang kami ketahui. Ia hidup bersama kedua orang tuanya dan satu orang kakak yang sekarang sedang berada di Amerika," ujar Zwan.


Sanay yang mendengar hal itu pun langsung tumbang, ia tidak pernah berharap Alesse benar-benar pelaku dari pembantaian itu.


"Sanay, kau baik-baik saja?" tanya Salsha panik. "Sudah kuduga! Ternyata dia memang pelakunya!" ujar Sandy kesal. Bahkan Kaa yang biasanya bersikap tenang pun terkejut bukan main.


"Kau tidak salah kan?" tanya Kaa untuk memastikan sekali lagi Akhirnya Zwan pun menunjukkan gambar-gambar Alesse yang sedang menyeret-nyeret mayat itu menjadi sebuah tumpukan. Melihat hal itu Sanay langsung pingsan.


Sandy pun merasa geram hingga kedua tanduknya tiba-tiba muncul. Suara nafasnya pun terdengar sangat berat dan keras, membuat Salsha ketakutan.


Salsha mencoba untuk menyadarkan Sanay. "Sanay? Sanay! Kau baik-baik saja?" tanya Salsha setelah Sanay mencoba membuka mata.


"Aku.... baik-baik saja," jawab Sanay, ia langsung mencoba berdiri tegap. Saat itulah kilatan listrik terus bermunculan di sekitar tubuhnya.


"Sanay? Ada apa ini? Tenanglah!" ujar Salsha panik. Sanay tidak mendengarkan, ia langsung meretas pintu yang ada di depannya agar segera terbuka. Setelah terbuka, ia pun langsung keluar dari ruangan.


"Akhirnya ketemu juga! Ternyata kalian bersembunyi di sini, para elementalist!" seru salah seorang anak yang tampak melayang di udara.


"Alesse! Apa maksud dari semua ini? Kenapa kau melakukan hal yang sangat keji?" tanya Sandy. "Sederhana saja. Aku tidak ingin dunia ini diisi oleh orang-orang seperti kalian yang melanggar hukum alam! Tak akan kubiarkan hal supranatural mencemari dunia ini!" ujar anak itu.


"Yang kau lakukan sangat berlebihan! Seharusnya kau terima saja kenyataan ini! Jangan melewati batas hanya karena kau bukan elementalist!" ujar Sandy.


"Konyol sekali! Kau pikir aku butuh kemampuan seperti kalian?" tanya anak itu.

__ADS_1


Saat itulah Sanay langsung melesat di udara, ia hendak melayangkan pukulan penuh kilatan listrik ke arah anak itu.


Sayangnya ia langsung dikejutkan dengan seorang gadis berambut biru, wajahnya sangat mirip dengan Alesse sehingga ia tercengang.


Saat itulah gadis itu menendangnya hingga terhempas ke tanah. "Sanay! Kau baik-baik saja?" Sandy segera menghampirinya.


Sanay berhasil selamat karena ia sempat memanipulasi gravitasi dengan tangan kanannya, namun hal itu membuatnya patah tulang.


"Alice? Ke... kenapa kau di sini?" tanya Kaa, ia tampak mengenal gadis berambut biru itu.


"Oh, aku...... sebenarnya aku ada sedikit urusan dengan anak ini," jawab gadis itu. "Apa maksudmu? Kau membela anak itu? Kenapa?" Kaa tampak kecewa.


"Kau mengenal mereka?" tanya anak itu pada gadis di sebelahnya. "Tidak! Sebaiknya segera kita selesaikan saja," ujar gadis itu.


Anak itu pun mengeluarkan semacam pisau dari balik bajunya, ia bersiap melesat ke bawah untuk menebas orang-orang.


"Pisau itu! Awas! Itu sangat berbahaya!" ujar Sandy, ia mencoba melindungi Salsha karena anak itu mengincarnya.


Pada akhirnya punggung Sandy terluka dan terus mengeluarkan darah. Salsha tampak terkejut bukan main, ia tidak menyangka wajahnya akan bersimbah darah lagi.


"Ma... maaf Salsha. Padahal aku sudah berjanji tidak akan membuatmu mengalami hal seperti ini lagi," ujar Sandy sambil mencoba membersihkan noda darahnya dari wajah Salsha, namun karena banyak darah yang terus keluar, ia kehilangan keseimbangan dan jatuh ke tanah.


"Sandy? Sandy! Sadarlah!" teriak Salsha, ia mencoba memeriksa luka pada punggung Sandy dan itu tidak beregenerasi dengan cepat.


"Air! Siapapun! Tolonglah! Bawakan air! Berikanlah kami air!" teriak Salsha sambil terus menangis.


Akhirnya seseorang berlari sambil membawakan air kepadanya. Salsha mencoba memulihkan luka di punggung Sandy. Sayangnya kemampuan menyembuhkan miliknya tidak bekerja.


"Ayolah! Kenapa ini terjadi? Kenapa tidak berfungsi?" Salsha tampak bingung harus berbuat apa.


"Kasihan sekali. Aku akan segera menebas kalian juga, dengan begitu kalian tidak perlu bersedih lagi," ujar anak itu.


"Hentikanlah! Kenapa kau melakukan ini?" tanya Zwan. "Sebaiknya kau diam saja. Beruntunglah karena aku membiarkan ras kalian hidup. Kalian adalah satu-satunya bukti nyata bahwa dunia tanpa elementalist adalah dunia yang terbaik!" ujar anak itu, kali ini ia hendak menebas leher Kaa.

__ADS_1


Sayangnya saat itu Kaa sudah pasrah, ia tidak tahu harus berbuat apalagi setelah mengetahui kenyataan pahit itu.


"Selamat tinggal, Kaa," ujar gadis yang ada di belakang anak itu. Kaa pun memejamkan mata, ia tidak ingin melihat hal tragis yang akan menimpanya. "Ternyata.... aku juga takut pada kematian," ujarnya dalam hati.


__ADS_2