
Alesse merebahkan diri di kamarnya, ia merasa sangat lelah karena banyak bergerak hari itu. Hendra tiba-tiba menengok ke pintu kamarnya.
"Gawat! Sepertinya beberapa detik yang lalu ia melihat Probe masuk ke dalam kamar! Pasti sangat aneh melihat anaknya masuk ke kamar dua kali tanpa keluar," pikir Alesse, ia baru saja membaca pikiran ayahnya.
"Ada apa ayah?" tanyanya agar Hendra tidak curiga. "Bukan apa-apa, ayah merasa ada dua Alesse masuk ke dalam kamar secara beriringan," ujar Hendra sambil menggaruk-garuk kepala kemudian pergi.
"Huh! Hampir saja!" Alesse menghela nafas lega. "Bukankah sudah kuperingatkan tadi? Kau terlalu tergesa-gesa!" ujar Jawara. "Aku sudah lelah tahu! Aku ingin segera berbaring!" keluh Alesse.
"Apakah besok kau akan pergi ke sana lagi?" tanya jawara. "Tidak, besok adalah waktunya menginterogasi Sandy! Bukankah kau bilang kalau cara kerja tubuhnya sama dengan gadis antah berantah itu? Ada kemungkinan ia juga tahu sesuatu tentang antah berantah itu," ujar Alesse.
Akhirnya keesokan harinya Alesse mengajak Sandy ke perpustakaan setelah jam sekolah selesai. Ia sengaja memilih tempat yang hening agar Sandy tidak terlalu enerjik saat menjawab pertanyaannya.
"Kenapa kau membawaku ke sini, Alesse?" tanya Sandy keheranan. "Sandy, kau tahu tentang retakan Abyss kan?" tanya Alesse.
"Tahu, ada beberapa di negara kita juga. Bukankah salah satunya ada di sekitar sini?" tanya Sandy.
"Memang, tapi apakah kau tahu apa yang ada di balik retakan Abyss itu? Menurutmu apa yang ada di dalamnya? Kenapa makhluk-makhluk aneh itu bermunculan dari dalamnya?" tanya Alesse. Ia semakin menyudutkan Sandy.
"Kenapa tiba-tiba menanyakan itu padaku?" Sandy keheranan. "Bukan apa-apa, aku hanya berpikir bahwa kau mungkin berasal dari sana juga," ujar Alesse.
"Da.... dari mana dia tahu? Apakah ia pernah melihatku berubah? Kapan? Padahal aku selalu bersembunyi saat berubah," pikir Sandy. Akhirnya Alesse pun tahu jawabannya. Apalagi setelah melihat wajah Sandy semakin pucat.
"Jadi kau benar-benar berasal dari sana?" tanya Alesse memastikan. "Ti.... tidak! Aku tidak tahu sama sekali!" Sandy membantah.
"Sst! Jangan keras-keras! Ini di perpustakaan!" Alesse mengingatkan. "Aku tidak berasal dari sana! Aku hanyalah manusia biasa!" Sandy terus mengelak.
"Tidak, kau bukan manusia biasa! Kau adalah Elementalist, Sandy! Sepertinya banyak sesuatu yang kau sembunyikan! Bisa beritahu aku?" desak Alesse. Ia semakin menyudutkan Sandy.
Tiba-tiba wajah Sandy berubah pucat, ia terus memegangi kepalanya lalu bertekuk lutut di hadapan Alesse.
"Sandy? Sandy! Kau baik-baik saja?" tanya Alesse. Sandy tidak menjawab, ia terus mengatupkan rahangnya sambil meringis. Air liur pun terus menetes darinya.
"Sandy! Ada apa ini?" tanya Alesse panik. Tiba-tiba sebuah tonjolan muncul di kepalanya Sandy, itu adalah sepasang tanduk. Benda itu terus tumbuh membesar di kepalanya.
Aura gelap pun muncul, sedangkan nafas Sandy mulai terdengar berat. Tubuhnya perlahan ikut membesar saat tanduk itu tumbuh. Jahitan di bajunya sedikit demi sedikit lepas, membuatnya robek.
__ADS_1
Alesse merasa tidak asing dengan perubahan bentuk tubuh Sandy. Kebanyakan orang menyebutnya sebagai iblis. Sandy telah berubah menjadi iblis.
"Alesse! Pergilah! Jangan dekat-dekat! Kau bisa celaka!" ujar Sandy. "Kau gila? Tidak di sini! Kau bisa dibunuh jika orang-orang tahu!" ujar Alesse. Ia pun langsung mengambil tongkat yang ada di punggungnya.
"Jawara, jadilah jubah tak kasat mata!" ujar Alesse. Tongkat di tangannya pun berubah menjadi kain besar. Ia langsung menutup tubuh Sandy dengan kain itu lalu menuntunnya keluar. Ia langsung membawa Sandy masuk ke dalam Levy, kendaraan kubusnya yang tak kasat mata.
"Alesse! Aku tidak bisa menahannya lagi!" ujar Sandy, tubuh anak itu semakin besar dan tinggi. Akhirnya Alesse membelenggunya di pojok ruangan.
Tidak lama kemudian Sandy meraung keras, aura gelap yang ia munculkan semakin pekat. Ia juga berusaha melepaskan diri dari belenggu itu hingga darah bercucuran deras di lehernya.
"Jawara, kau bawa kotak medis?" tanya Alesse. "Tentu saja, di loker nomor tiga," ujar Jawara. Alesse pun menghampiri lemari yang ada di ruangan kubus itu dan mengambil sebuah suntikan. Ia pun membius Sandy yang terus mengamuk itu.
Akhirnya beberapa menit kemudian, Sandy kembali tenang. Alesse terus menatapnya penasaran. "Tubuhnya langsung membesar seperti pria dewasa, aneh sekali!" ujar Alesse.
"Sepertinya tubuhnya mulai mengecil kembali!" ujar Jawara. Akhirnya Alesse pun melepaskan belenggu itu.
"Hmm! Jadi iblis-iblis yang sering muncul dari retakan Abyss pun sebenarnya manusia? Kasihan sekali karena mereka harus terbantai saat membuat kerusakan di masyarakat. Padahal mereka melakukan itu bukan karena ingin," ujar Alesse.
Sandy pun terbangun setelah sejam lamanya. "Loh? Ternyata ia bangun lebih cepat!" Alesse terkesan. "Padahal bius itu harusnya cukup untuk menidurkan seekor gajah dalam lima jam," ujar Jawara.
Sandy tampak ragu-ragu. "Apakah kau tidak takut denganku?" tanyanya. "Loh? Takut kenapa?" tanya Alesse keheranan.
"Aku berubah jadi iblis loh! Jika terlambat, mungkin perpustakaan itu akan hancur, kau mungkin terbunuh juga," ujar Sandy.
"Tenang saja! Aku tidak takut dengan hal baru meskipun berbahaya karena hal itu membuatku semakin penasaran," ujar Alesse sambil tersenyum mengerikan.
"Dih, jangan bilang kau hendak membedah tubuhku!" Sandy langsung merinding. "Tenang saja, karena kau adalah temanku, jadi aku abaikan," ujar Alesse.
"Hih! Berarti bila bukan temanmu, kau akan membedahku?" tanya Sandy. "Mungkin saja," ujar Alesse. Sandy pun merasa lega karena Alesse tidak takut padanya.
"Sebaiknya kau beritahu yang lain, sebelum mereka benar-benar takut padamu. Lebih baik mereka tahu lebih cepat. Kupikir mereka tidak akan terlalu membencimu. Berbeda denganku, jika mereka tahu rahasiaku, mungkin mereka akan menjauhiku. Kau mungkin akan berharap aku mati," ujar Alesse. "Yeah, lagian siapa yang mau pikiran mereka sehari-hari bisa dibaca oleh seseorang," pikir Alesse dalam hati.
"Kejam sekali! Aku tidak mungkin membencimu! Apalagi berharap kau mati!" ujar Sandy. "Itu karena kau tidak tahu apa rahasiaku," ujar Alesse sambil tersenyum.
"Kenapa Alesse? Apakah kau juga terkutuk sepertiku? Apakah kau berubah menjadi sesuatu seperti monster dan sebagainya?" tanya Sandy penasaran.
__ADS_1
"Bukan hal yang seperti itu," ujar Alesse. "Heh? Lalu apa? Apakah karena kau jenius? Karena kau bisa menciptakan bom nuklir kapan saja? Begitu kah? Kalau itu tenang saja! Kami tahu kok kau tidak akan melakukan hal itu," ujar Sandy sambil menepuk bahu Alesse.
"Kalau dipikir-pikir, sepertinya kau lebih kecil dariku," ujar Alesse. "Enak saja! Lihat saja nanti! Aku akan tumbuh menjadi seorang pria yang gagah! Kau tunggu saja!" ujar Sandy.
Alesse pun menjadi teringat dengan rupa Sandy saat berubah iblis. "Aku tidak tertarik kok, aku tidak penasaran. Kupikir saat dewasa nanti rupamu tidak buruk juga. Mungkin sama seperti Alex, besar dan kekar," ujar Alesse.
"Benarkan? Sudah kuduga kau juga setuju denganku! Tapi kenapa orang-orang tidak percaya?" tanya Sandy keheranan.
"Karena yang kau katakan padanya hanyalah khayalan belaka," ujar Alesse sambil menjentikkan jarinya ke dahi Sandy lalu tertawa.
Sandy pun mengerti yang dimaksud Sanay dengan kepribadian ganda Alesse. Ia juga merasakan ada yang aneh darinya.
Saat itu, Alesse juga mendengar isi pikiran Sandy terhadapnya. Wajahnya langsung berubah datar.
"Sepertinya aku tahu rahasiamu itu, dan kami tidak membencinya kok! Kami bisa terus bersamamu sampai kapanpun! Karena kita adalah teman!" ujar Sandy.
Alesse hanya bisa tersenyum. "Teman yah? Jadi seperti ini yang namanya teman? Apakah Alex juga memiliki orang seperti ini di sisinya? Pastinya punya! Dia berbeda denganku, ia memiliki kepribadian yang tetap dan polos," pikir Alesse.
Ia pun akhirnya membolehkan Sandy pulang. Sandy terus melambaikan tangan selagi Levy, kubus melayang itu pergi menjauh darinya. Alesse hanya menatap anak itu dari jendela Levy tanpa membalas lambaiannya.
"Sepertinya suasana hatinya benar-benar baik! Lihatlah! Ia sangat riang dengan tingkah polosnya yang kekanak-kanakan," ujar Alesse.
"Kebanyakan manusia memang seperti itu, kecuali kau," ujar Jawara. "Jangan mengomporiku," ujar Alesse. "Maaf! Selanjutnya kita hendak pergi ke mana?" tanya Jawara.
"Tentu saja! Antah berantah!" seru Alesse. Levy pun meluncur dengan cepat ke bukit Balai Hitam dan berhenti di atas sungai.
Alesse langsung turun dan memeriksa retakan Abyss yang ada di dasar sungai itu. "Tidak ada!" ujar Alesse dengan wajah pucat.
"Apanya yang tidak ada?" tanya Jawara. "Retakan Abyss itu.... tidak ada! Sudah hilang!" ujar Alesse.
"Loh, kenapa bisa hilang?" tanya Jawara. "Entahlah! Harusnya ada di sini!" ujar Alesse gelisah sambil memeriksa ke sekitar.
"Benar-benar tidak ada!" ujarnya kecewa. Akhirnya ia mencoba pergi ke bukit, tempat pembatas polisi itu dipasang. Ia juga tidak menemukan retakan Abyss di sana.
Akhirnya Alesse mencoba memeriksa ponselnya dan melihat peta dari buku kusam. Titik hitam pada peta itu sudah lenyap.
__ADS_1
"Sudah tidak ada lagi! Mereka semua benar-benar lenyap! Tidak ada titik hitam lagi!" ujar Alesse kecewa. Ia langsung bertekuk lutut di tanah.