Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Tekanan mental


__ADS_3

Alesse tidak bisa tidur semalaman, wajahnya benar-benar pucat karena kesal dan rasa kantuknya.


"Bisakah kalian berhenti membuat kegaduhan?" tanya Alesse. "Tapi pria ini tidak mau berhenti mengikutiku! Ia sudah seperti ini sejak pertama kali di sini!" keluh Gord. Alesse tidak tahu harus berbuat apa.


Tak lama kemudian Saxon pun datang menghampirinya dari belakang lalu menepuk pundaknya. "Argh! Apalagi?" tanya Alesse kesal.


"Ma... maaf sepertinya kau sedang kelelahan," ujar Saxon. "Benar sekali! Segera kembalikan aku ke rumahku!" ujar Alesse.


"Tapi kelasnya....."


"Tidak ada tapi-tapi! Aku tidak butuh kelas kalian!" ujar Alesse. Akhirnya Saxon pun mengajak Alesse ke sebuah tempat, ia membawanya ke ruang bawah tanah dan menemukan sebuah mayat yang dibaringkan di sebuah peti. Daripada disebut mayat, itu lebih tampak seperti mumi yang sudah lama diawetkan.


"Kenapa ada mumi di sini?" tanya Alesse. "Ini adalah tubuh Chron yang memikiki kemampuan untuk membuka gerbang antar dunia. Kami menggunakan tubuhnya sebagai katalis," jawab Saxon.


"Keji sekali yang kalian lakukan ini," ujar Alesse. "Tidak ada kata keji untuk membunuh manusia iblis. Mereka adalah makhluk yang hina dan harus diberantas," ujar Saxon. Alesse tidak berkomentar tentang hal itu karena ia juga akan kembali ke rumahnya dengan katalis dari mumi itu.


"Ini sudah dimulai. Kau akan segera kembali ke rumahmu jika berdiri di lingkaran itu," ujar Saxon. "Baiklah, ini akan berhasil kan? Jika gagal dan tubuhku terpecah belah ke segala tempat, aku akan menghantuimu sampai kau mati," ujar Alesse. "Te... tenang saja. Tidak perlu mengatakan hal yang menyeramkan," ujar Saxon.


Akhirnya cahaya pun mulai mengitari tubuh Alesse. "Baiklah, Alesse! Ingatlah bahwa kau adalah Warden! Kau harus waspada pada siapapun! Kau harus waspada pada Chron, apalagi Dark Warden. Kau juga harus waspada dengan orang di sekitarmu, apalagi yang paling dekat, Seperti ibu dan ayahmu!" ujar Saxon.


Tak lama kemudian, Alesse sudah berada di kamarnya. Ia mendapati plafon baru dan suasana baru. "Sepertinya Alex sudah dewasa," ujar Alesse.


"Benar-benar tidak bisa dipercaya! Gimana caranya ia mengeluarkan benih sebanyak itu? Benarkah dia manusia?" tanya Geni.


"Wah! Tempat apa ini? Sangat luar biasa sekali!" seru Rasya, ia membuat pertanyaan Geni terabaikan begitu saja. Karena Geni menunjukkan diri, akhirnya Rasya menghampirinya.


Sama seperti yang ia lakukan pada Gord, ia meraba-raba sekujur tubuh Geni. "Ish! Kau mau apa?" tanya Geni. "Kau..... kurang menarik," ujarnya. "Wah! A... apa katamu? Kurang menarik? Kenapa kau bisa mengatakan segalanya semudah itu? Kau tidak tahu siapa aku? Aku adalah atlet paling terkenal di duniaku!" ujar Geni.


"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan," ujar Rasya. "Wah! Baru kali ini aku merasa sangat kesal! Alesse, beritahu dia siap aku sebenarnya!" pinta Geni.

__ADS_1


"Ogah! Aku tidak mau meladeni suara berisik kalian! Aku mau tidur!" ujar Alesse kemudian membaringkan diri di kasurnya.


Tak lama kemudian Alex pun masuk ke dalam kamar. "Sejak kapan dia berada di sini setelah seharian menghilang?" tanya Alex keheranan. Ia pun langsung tidur di sampingnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya, Alex merasa sesuatu yang berat menimpa tubuhnya. Ia pun mencoba membuka mata dan mendapati pria berambut hijau gelap berada di atas dadanya, ia adalah Rasya.


Ia langsung terperanjat dan menyingkir dari tempat tidur. "Loh? Kenapa aku ada di lantai?" Rasya tampak kebingungan, ia tidak menyangka tidur dengan seorang pria yang sedang bertelanjang dada.


"Si... siapa kau? Kenapa kau berada di kamarku? Seharusnya yang tidur di sini adalah Alesse!" ujar Alex.


"Hmm? Alesse? Oh! Sepertinya tadi malam ia merasa muak karena kau mendengkur terlalu keras. Suara dengkuranmu seperti kucing. Itu terus berlanjut tanpa henti dan membuat Alesse terganggu. Saat itulah aku tiba-tiba bisa mengendalikan tubuhnya. Bukankah ini luar biasa? Ngomong-ngomong.... aku tidak keberatan jika kau mendengkur seperti kucing, menurutku itu adalah hal yang sangat menarik darimu," ujar Rasya sambil membelai wajah Alex.


Karena takut, Alex langsung berlari keluar kamar dan menutup pintunya. "Hei, ayolah! Tidurlah lebih lama lagi! Kenapa kau keluar?" tanya Rasya. "Se.... sebaiknya kau jangan keluar dari kamar ini! Kau akan membuat orang-orang ketakutan," ujar Alex sambil terus menahan gagang pintu kamar.


Tak lama kemudian suara berat dari Rasya sudah tidak terdengar lagi. Karena penasaran, Alex mencoba membuka pintu kamar untuk memastikan pria itu tidak ada di dalam.


"Ada apa ini, Alex? Kenapa kau membanting pintu? Kenapa wajahmu memerah juga?" tanya Andin.


"Bu.. bukan apa-apa bu," ujar Alex, ia segera menutupi tubuhnya dengan Gorden, ia malu bertelanjang dada di depan ibunya.


Tak lama kemudian Alesse keluar dari kamarnya, ia menatap Alex penuh keheranan. "Kenapa kau membungkus dirimu dengan Gorden?" tanya Alesse.


"A..... Alesse! Apakah ada seorang pria di dalam kamarmu?" tanya Alex. "Pertanyaan macam apa itu? Kalau aku bukan seorang pria lalu kau anggap aku ini apa?" tanya Alesse.


"Bu... bukan begitu! Maksudku... apakah ada pria berbadan besar di dalam? Itu benar-benar mengerikan!" ujar Alex.


"Apa yang sedang kau bicarakan? Seingatku di rumah ini hanya kau satu-satunya pria berbadan besar," ujar Tesla. Andin pun menatap Hendra dengan tatapan tajam. Sayangnya Hendra hanya menggeleng kepala seolah tidak tahu apapun.

__ADS_1


"Pria berbadan besar? Mungkin kau baru saja melihat dirimu sendiri di hadapan sebuah cermin," ujar Alesse.


"Bu.. bukan! Itu jelas bukan! Warna rambutnya hijau! Awalnya kupikir itu daun! Ternyata rambut! Ia juga mengenakan pakaian hijau tua seperti tentara!" ujar Alex.


"Kau pasti sedang mengada-ada," ujar Alesse kemudian masuk ke dalam kamar lalu menutup pintunya.


"Aish! Rasya, dasar kurang ajar! Apa saja yang kau lakukan padanya? Kau sudah gila?" tanya Alesse. Wajahnya tampak begitu gelisah.


"Wah, ini pertama kalinya," ujar Geni. "Yeah, pertama kalinya," ujar Gord. "Pertama kali apa?" tanya Rasya.


"Aku baru lihat wajah Alesse bisa menjadi gelisah," ujar Geni. "Aish! Kalian pikir ini tontonan? Yang benar saja! Aku bukan robot yang akan terus berekspresi datar saat berada di keadaan ini!" ujar Alesse.


"Ah, sayang sekali! Sepertinya akan jadi kali terakhir kita melihat ekspresinya yang seperti itu. Andai aku bisa mengabadikannya pada kamera," ujar Geni.


"Kenapa bisa jadi yang terakhir kali?" tanya Rasya. "Selain rasa kesal, ia akan mulai terbiasa dengan apa yang menimpanya. Mungkin besok ia akan berekspresi datar kembali dan tidak peduli lagi meskipun kau menggoda Alex, atau bahkan ayahnya," ujar Geni.


Alesse pun menatap mereka bertiga. "Benar sekali. Mereka akan menganggap maklum hal itu karena yang berada di hadapan mereka bukanlah aku, melainkan pria gila homo menjijikkan," ujar Alesse, ia mengakhiri perkataannya dengan beberapa umpatan lalu keluar dari kamar.


"Wah, suasana hatinya berubah dalam sekejap," ujar Rasya terkesan. "Tentu saja. Jika tidak, ia akan berkali-kali dirasuki oleh kita, atau bahkan jati dirinya akan hilang sepenuhnya," ujar Geni. Ia merasa iba karena harus melihat Alesse berjuang sendirian menghadapi mentalnya.


"Kasihan sekali, ia tidak bisa menceritakan hal itu pada orang-orang sekitarnya. Mereka tidak akan paham apa yang sedang ia rasakan sekarang," ujar Rasya. Melihat Alesse, membuatnya teringat dengan masa lalunya.


"Ia sangat hebat bisa menghadapi itu semua sendirian selama ini. Yang membuatku heran adalah keberadaan jiwanya tidak sebanding dengan tubuh yang ia pikul. Jiwanya seperti anak kecil yang baru lahir beberapa tahun lalu. Benar-benar mencurigakan," ujar Geni.


"Bagaimana kau tahu hal seperti itu?" tanya Rasya. "Kami para Elementalist yang mengendalikan energi seperti api dan listrik, bisa mendeteksi kehidupan seseorang. Bisa terasa seperti kobaran api. Jika melihat Alesse saat ini, mungkin ibarat gelas yang belum terisi penuh oleh air," ujar Geni.


"Perumpamaanmu aneh sekali! Kau bilang itu seperti kobaran api, tapi kau mengibaratkannya dengan air dalam gelas? Tidak ada yang berhubungan sama sekali," ujar Rasya.


"Argh! Memangnya kau bisa mengukur api dalam gelas? Apakah kobaran api itu mengisi seluruh gelas atau bahkan tidak sampai setengahnya? Atau api itu meluap hingga tumpah dari gelas itu sendiri? Jadilah bodoh seperti Gord saja, tidak usah banyak tanya!" ujar Geni kesal.

__ADS_1


"Hei! Kenapa bawa-bawa aku?" tanya Gord. "Tenanglah, ia hanya iri karena tidak semenarik dirimu," ujar Rasya sambil memijat-mijat lengan kekar Gord. Gord pun langsung menjaga jarak darinya.


__ADS_2