Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Gord si pemimpin perang


__ADS_3

Alesse dan Kaa pun sampai di gerbang kerajaan. Setelah prajurit memberikan tanda pengenal pada penjaga, akhirnya kereta kuda itu masuk ke dalam kerajaan.


"Wah! Ini tampak sangat makmur sekali! Aku tidak menyangka bisa melihat kota yang tersusun dengan rapi!" ujar Kaa.


"Seharusnya yang seperti ini belum bisa dilakukan dengan peradaban yang belum maju. Sepertinya pemerintahan di sini lumayan bagus," ujar Alesse. Mereka tidak lagi memikirkan nasib mereka karena terus dikejutkan berbagai hal luar biasa di kerajaan itu.


Akhirnya mereka berhenti di sudut benteng, terdapat jalan menuju ruang bawah tanah di sana.


Beberapa prajurit pun datang dari dalam lalu menggiring Alesse dan Kaa menuju ke sel tahanan yang ada di ruang bawah tanah. Mereka mengunci keduanya di dalam.


"Gelap sekali! Hanya ada cahaya obor di sini," ujar Kaa. "Lebih baik masuk ke dalam Levy, di sini sangat bau! Meskipun bangunan sudah tersusun rapi, kenyataannya sistem sanitasi di sini masih sangat buruk! Ini mengingatkanku pada sejarah Eropa di abad pertengahan yang masih membuang kotoran seenak jidat ke halaman rumah mereka," ujar Alesse.


"Memang sih, aku sempat terkesan dengan duniamu yang memiliki tempat buang air yang sangat bersih, bahkan menggunakan air secara berlebihan," ujar Kaa.


"Hmm! Sepertinya di sini memang kesulitan untuk mendistribusikan air! Apalagi untuk bangunan bertingkat, mereka pasti kesusahan membawa air ke atas sana," ujar Alesse.


"Kalau tempatnya para bangsawan tidak demikian, mereka memiliki beberapa pelayan yang akan membawakan air ke atas," ujar Kaa.


"Aku merasa kasihan dengan pelayan itu," ujar Alesse. Mereka berdua pun asyik berbincang-bincang mengenai perbandingan peradaban di Bumi dengan peradaban di beberapa dunia lainnya.


Tak lama kemudian Gord pun datang ke sel tahanan mereka. "Yo, kerajaanmu ini lumayan bagus juga," ujar Kaa. "Tentu saja karena aku panglima perang di sini! Kerajaanku akan terus makmur dan aman selama aku berada di sini," ujar Gord.


"Sayangnya kerajaanmu bau kotoran," ujar Alesse. "Itu karena rakyat jelata yang tinggal di sini," ujar Gord.


"Benar-benar membosankan!" ujar Alesse sambil menatap cahaya obor yang redup. "Lebih membosankan wajahmu! Kenapa wajahmu selalu datar begitu? Seperti orang yang sedang mengantuk," ujar Kaa.


"Hmm?" Alesse mengusap-usap wajahnya, ia tidak mendapati sesuatu yang salah dari wajahnya.


"Daripada begini terus lebih baik aku memainkan sesuatu," ujar Alesse. Ia pun merubah tongkatnya menjadi sebuah piano di sudut ruangan.


"Be... benda apa itu? Kenapa tiba-tiba muncul dari punggungmu?" Gord terkejut. "Aku malas menjawab pertanyaanmu! Bisakah kau diam saja?" tanya Alesse, akhirnya Gord pun menutup mulut.

__ADS_1


"Benda apa ini, Alesse?" tanya Kaa. "Sst!" ujar Alesse sambil memberikan isyarat dengan jari telunjuknya, ia pun mulai memejamkan mata.


Saat itulah jemarinya mulai menari-nari di atas kunci piano. Hal itu menciptakan nada yang sangat tenang, membuat Kaa dan Gord tertegun.


Suara piano itu terus menggema di lorong bawah tanah. Beberapa tahanan yang tertidur langsung terbangun dengan penasaran, mereka mencoba memeriksa apa yang sedang mereka dengarkan ini.


Alesse terus memainkan piano itu hingga penampilannya tiba-tiba berubah, jubah biru Aqua sudah melekat pada tubuhnya sedangkan warna mata dan rambutnya menjadi biru, perubahan ini tidak seperti biasanya ada sesuatu yang membuat Kaa merasa ganjal.


Alesse pun mengakhiri permainan pianonya sedangkan Kaa terus menatapnya keheranan. "Ada apa?" tanya Alesse. "Rambutmu..... bukankah itu tampak biru transparan? Walaupun lehermu dan kepalamu tetap tidak terlihat, rambutmu tampak seperti warna laut," ujar Kaa.


"Apaan? di belakang leherku memang ada kristal yang tumbuh, tapi bukan berarti semua bagian rambutku transparan!" ujar Alesse.


"Sihir apa itu tadi? Kenapa penampilanmu bisa berubah seperti itu?" tanya Gord keheranan, ia bahkan sampai tidak mengedipkan mata saat menatap Alesse.


"Tubuh Aqua memang sangat merepotkan! Bisa mengundang bahaya," ujar Alesse kemudian menutup kepalanya dengan jubah biru.


"Yeah, dengan penampilan seperti, orang tidak akan ragu mengatakan bahwa kau seorang gadis," ujar Kaa.


"Aku tidak bisa menyangkalnya. Asal kau tahu saja, pemilik tubuh ini bahkan dijuluki sebagai 'Gadis Berjubah Biru' Padahal dia juga anak laki-laki," ujar Alesse.


"Yeah, begitulah," ujar Alesse. "Aku penasaran! Sebenarnya kenapa kau bisa meniru bentuk tubuh Aqua? Lalu Aqua yang asli di mana? Kau pernah bertemu dengannya di mana?" tanya Kaa.


"Tempat tinggal Aqua ada di Atlane, sekarang anak itu mungkin bisa dianggap... sudah mati mungkin," ujar Alesse.


"Loh? Mati? Kenapa ia bisa mati?" tanya Kaa. "Aku masih belum yakin dia sudah mati atau belum, yang jelas hantunya sering bergentayangan di alam bawah sadarku," ujar Alesse.


"Kau sudah selesai bicara? Kau bahkan belum memberikan jawaban atas pertanyaanku," ujar Gord sambil memegang jeruji besi yang ada di hadapannya. Kaa sempat menelan ludah saat melihat jeruji besi yang digenggam Gord menjadi pipih.


"Maaf saja, aku malas menjawab pertanyaan yang sebenarnya aku juga tidak tahu jawabannya. Kau tidak bisa memaksaku untuk menjawabnya," ujar Alesse.


"Ba... baiklah, kalau begitu kalian boleh keluar sekarang," ujar Gord. "Hmm!" Alesse langsung menatap pria itu dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Hei, badan bongsor. Apakah kau punya wewenang penuh untuk mengurusi keamanan kerajaan? Apakah sel tahanan ini termasuk wewenangmu?" tanya Alesse.


"Untuk apa kau menanyakan hal itu?" tanya Geni keheranan. "Ini hanya sebuah jebakan untuk mendapatkan informasi," ujar Alesse.


"Tentu saja aku memiliki wewenang penuh di sini! Semua hal terkait keamanan, pertahanan, dan peperangan hanya aku yang mengatur, bahkan raja sekali pun tidak bisa ikut campur! Ia hanya bisa mengajukan permintaan dan usulan. Setelah kusetujui, barulah usulan dan permintaan itu mulai dijalankan," ujar Gord.


"Oh? Begitu? Terima kasih atas informasinya," ujar Alesse sambil tersenyum ramah. Hal itu membuat Gord langsung terdiam.


Kaa dan Alesse pun langsung pergi keluar dari ruang bawah tanah itu dan mendapati bau yang sangat menjijikkan.


"Ya ampun! Apakah separah ini baunya tadi?" Kaa kewalahan sampai menutup hidungnya. "Ini seperti bau peternakan!" ujar Alesse, ia pun merubah tongkatnya menjadi masker.


"Hei, kau tidak bisa membagi dua benda itu?" tanya Kaa. "Tentu saja tidak, ini hanya bisa dipakai olehku," ujar Alesse.


Setelah agak jauh dari ruang bawah tanah, Alesse kembali menatap Gord yang masih berbincang-bincang dengan para prajurit.


"Hei, Alesse! Apa yang sebenarnya kau tanyakan tadi?" Kaa penasaran. "Pria itu berbohong. Awalnya kupikir dia adalah tokoh utama dan penguasa di sini, tapi sepertinya ada seseorang lagi yang mengendalikan dirinya sari belakang," ujar Alesse.


"Eh? Benarkah? Memangnya ada kemampuan mengerikan seperti itu?" tanya Kaa. "Mengendalikan seseorang tidak harus dengan kemampuan supernatural tertentu. Kau hanya perlu menghancurkan mental lawanmu untuk mengendalikannya," ujar Alesse.


Tak lama kemudian Kaa merinding. "Ada apa?" tanya Alesse keheranan. "Entah kenapa..... rasanya ada yang mengawasi kita sejak keluar dari ruang bawah tanah," ujar Kaa.


"Hmm? Mengawasi kita yah? Kau tahu dimana tepatnya orang itu mengawasi kita?" tanya Alesse. "Entahlah, aku merasa seperti diawasi dari segala arah," ujar Kaa.


"Apa-apaan itu? Segala arah? Termasuk atas dan bawah?" tanya Alesse. "Yeah, atas dan bawah juga. Sepertinya Gord juga sedang diawasi, bahkan pengawasan ini justru tertuju padanya, kita kebetulan berada di jangkauan pengawasan itu," ujar Kaa.


"Hmm! Aneh sekali! Aku tidak bisa membayangkannya seperti apa," ujar Alesse. Setelah mereka berdua berjalan ke pemukiman penduduk, akhirnya mereka bertemu dengan tiga anak lainnya.


Sanay yang biasanya langsung menghampiri Alesse kali ini terdiam di tempat. "Ada apa Sanay?" tanya Alesse keheranan. "Wah! Ternyata benar-benar Alesse!" seru Sanay sambil memeluk Alesse erat-erat.


"Sanay, sebaiknya hentikan kebiasaanmu itu, aku tidak nyaman menyaksikannya," ujar Sandy.

__ADS_1


"Kenapa? Kau iri karena aku bisa memeluk Alesse?" tanya Sanay. Mendengar pertanyaan itu Salsha langsung menatap Sandy dengan tatapan sinis.


"Eh? Tidak! Tidak! Bukan itu maksudku. Argh, gimana menjelaskannya yah..... Ehm, aku bahkan tidak pernah dipeluk oleh Salsha," ujar Sandy tiba-tiba. Seketika Salsha langsung berwajah merah. "Heh? Kok kau membicarakan hal itu sih? Bikin malu tahu!" ujar Salsha sambil menginjak kaki Sandy. "Aduh! Aduh! Ampun! Maaf, aku cuma bercanda," ujar Sandy.


__ADS_2