Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Levy versi baru


__ADS_3

"Tempat ini terlalu mirip dengan Bumi!" seru Salsha. "Benar! Kayaknya ini memang bumi!" ujar Sandy.


"Bukan! Meskipun peradaban di sini hampir sama dengan Bumi, aku tidak menemukan kecocokan gelombang sinyal di sini dengan gelombang sinyal yang dipakai di Bumi," ujar Sanay.


"Ini memang bukan di bumi. Kalau diibaratkan, ini mungkin terlihat seperti Bumi dua puluh tahun yang akan datang," ujar Alesse.


"Dua puluh tahun? bilangan yang jelek sekali! Kenapa tidak setengah abad atau satu abad?" tanya Salsha.


"Seharusnya kau lebih tahu, semakin lama, perkembangan peradaban menjadi sangat pesat. Dua puluh tahun sudah cukup untuk membuat banyak perubahan," ujar Alesse sambil menunjuk ke arah langit.


"Langit itu...... apakah itu mendung? Sebentar lagi hujan? Tapi masih terlihat terang benderang begini," ujar Salsha keheranan.


"Itu bukan mendung, warna langit di sini memang seperti itu. Efek rumah kaca yang berlebihan sudah merusak lapisan atmosfer hingga warnanya berubah," ujar Alesse.


"Mengerikan sekali! Kukira semakin besarnya peradaban, akan ada solusi untuk menyelesaikan masalah efek rumah kaca," ujar Salsha.


"Nah! Keadaan sekarang ini justru sesuai dengan perkataanmu! Mereka hanya menanggulangi masalah efek rumah kaca, bukan mencegahnya. Mereka hanya bertindak setelah bencana yang mereka takutkan benar-benar terjadi," ujar Alesse.


"Benar-benar mengerikan! Kira-kira dunia-dunia ini bisa pulih menjadi segar kembali atau tidak ya?" tanya Sanay.


"Tentu saja bisa!" ujar salah seorang gadis yang tiba-tiba sudah ada di antara mereka. Sandy sempat terpana melihat rambut biru gadis itu, ia bahkan tersenyum lebar.


"Ngapain senyum-senyum?" tanya Salsha pada Sandy dengan wajah kesal. "Eh? Bukan apa-apa kok," ujar Sandy mencoba menyadarkan diri.


"Kau siapa?" tanya Alesse keheranan. "Bukankah seharusnya kau menyadari sesuatu?" tanya gadis itu sambil membelai wajah Alesse.


"Hei! Orang asing jangan sentuh-sentuh!" tegur Sanay. "Benar sekali, kalau ada Probe di sini, mungkin wajahmu sudah terbenam di tanah," ujar Alesse.


Gadis itu sempat tertawa, Sandy menjadi tak berkedip saat melihatnya. "Ya ampun! Kalian kok bisa sama persis! Sama-sama dinginnya!" ujar gadis itu.


"Apa maksudmu? Dengan siapa?" tanya Alesse. "Dengan siapa lagi?" tanya Gadis itu sambil menempelkan wajahnya pada Alesse.

__ADS_1


"Buset! Kalian berdua benar-benar mirip!" seru Sandy. "Kau selalu bersemangat saat melihat gadis lain! Begitu kah?" Salsha semakin kesal dengan tingkah Sandy.


Sanay juga kesal karena gadis itu menyentuh Alesse seenaknya. "Hentikanlah! Melihatmu seperti itu benar-benar menjijikkan! Apa yang kau pikirkan sampai menyentuh Alesse seenak jidat? Kalau itu pria lain bisa bahaya!" tegur Sanay.


"Oh, jadi dia benar-benar laki-laki?" tanya gadis itu. "Kau pikir aku perempuan?" tanya Alesse.


"Yeah setidaknya kupikir begitu, lihatlah betapa anggunnya dirimu!" ujar gadis itu lalu tiba-tiba menghilang.


"Siapa itu? Mengerikan sekali! Seperti hantu!" ujar Sanay. "Sudahlah! Abaikan saja! Mari kita pergi ke markasku! Seharusnya hari ini sudah jadi," ujar Alesse.


Akhirnya mereka pergi menggunakan Levy menuju ke tempat yang di tentukan, selagi berada dalam perjalanan, mereka dapat melihat perkotaan-perkotaan yang kusam, sangat jarang ada tumbuhan di sekitarnya.


Beberapa danau dan sungai tampak hitam karena polusi pembuangan limbah. "Tempat ini..... benar-benar menyedihkan! Apakah bumi dua puluh tahun kedepan akan sekarat seperti ini?" tanya Salsha.


"Mungkin iya, mungkin tidak, masih ada harapan untuk mencegah terjadinya kerusakan seperti itu, bumi kita masih hijau," ujar Alesse.


Akhirnya setelah lama mereka berbincang, mereka pun sampai di sebuah pabrik terbengkalai.


"Sepertinya kau tahu banyak tentang sinyal-sinyal ini! Aku tidak mengerti seperti apa mekanisme pengendalian listrik," ujar Salsha.


"Aku juga heran dengan pengendali air yang bisa menyembuhkan luka. Bukankah sudah impas? Pengendalian kita masing-masing bisa menjadi misteri bagi kita," ujar Sanay.


"Tidak juga, bagi Warden dan Dark Warden, semua pengendalian itu tampak biasa baginya," ujar Kaa.


"Aku tidak membicarakan orang lain, aku membicarakan kita," ujar Sanay. "Oh, maaf! Sepertinya aku salah paham," ujar Kaa.


"Daripada banyak bicara tidak jelas, aku ingin memperkenalkan karya baruku! Ini tanpa menggunakan tongkatku! Aku membuatnya dengan bahan-bahan manual yang ada di planet ini," ujar Alesse.


"Hai, aku Levy," ujar sebuah kubus raksasa yang tiba-tiba muncul di samping Alesse. "Dih, mengagetkan saja! Bukankah ini benda yang selalu kita naiki? Apanya yang perlu diperkenalkan? Perkenalan karena sekarang dia bisa bicara?" tanya Sandy.


"Bukan, unit ini berbeda dengan unit yang pernah kalian naiki, namun semua data dari Levy sudah di pindahkan ke unit ini. Setidaknya aku bisa mengingat semua perjalananku dengan kalian semua," ujar kubus itu.

__ADS_1


"Tapi ini sangat aneh! Kau berbicara, tapi kami tidak tahu bagian mana mulutmu," ujar Salsha. "Baiklah, aku akan memenuhi permintaanmu," ujar kubus itu kemudian menunjukkan layar monitor, terdapat sebuah emoticon di dalamnya.


"Bagaimana dengan ini? Apakah sudah sesuai dengan keinginanmu?" tanya kubus itu lewat emoticon yang mulai menggerakkan mulutnya.


"Wah! Imut sekali!" seru Sanay. "Apanya yang imut? Itu cuma emoticon biasa yang kau gunakan untuk balas pesan seseorang," ujar Sandy. Salsha semakin kesal dengan responnya, ia pun menyikut perutnya.


"Bisa kau hentikan itu? Perutku sakit tahu!" keluh Sandy. "Makanya jangan bicara seenak jidat!" ujar Salsha. "Memangnya mulutku ini milik siapa? Kenapa kau yang ngatur?" tanya Sandy kesal. "Milikku! semuanya dari ujung kepala sampai ujung kaki!" ujar Salsha.


Perkataannya membuat suasana menjadi semakin senyap, bahkan Alesse tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun. "Baiklah, hentikan pertengkaran kalian saat ini, aku hendak mengulangi perkenalanku. Sekali lagi, namaku Levy, salam kenal! Semoga kita bisa menikmati berbagai perjalanan kita bersama," ujar Levy.


"Kau terdengar seperti pemandu wisata saja," ujar Sanay. "Bila demikian, aku merasa sangat terhormat sekali, aku bisa memberikan beberapa trip dan spot bagus untuk kalian semua untuk perjalanan ini," ujar Levy.


"Sudahlah! Kau terlalu bersemangat," ujar Alesse. "Baiklah, aku akan diam," ujar Levy kemudian menutup kembali monitornya.


"Loh? Kenapa mati? Kami masih ingin banyak bicara loh!" ujar Sanay. "Benar sekali! Kubus itu lebih baik daripada Probe atau Jawara, mereka sangat datar dan rasional," ujar Salsha.


"Mau gimana lagi? Probe dan Jawara kubuat berdasarkan kecerdasan AI tercanggih yang ada di bumi, tidak bisa dibandingkan dengan peradaban di sini," ujar Alesse.


"Tapi Probe dan Jawara lebih lancar saat berbicara, menurutku mereka lebih emosional daripada kubus itu," ujar Sandy. "Itu karena Jawara dan Probe sudah sering berinteraksi dengan kalian, sedangkan Levy belum pernah," ujar Alesse.


"Teman-teman, sepertinya keberadaanku benar-benar tipis sekali di sini. Aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan," ujar Kaa.


"Oh, kalau mau bicara silahkan!" ujar Sanay. "Untuk gadis yang tiba-tiba muncul tadi....." ujar Kaa. "Kenapa?" tanya Sandy penasaran, lagi-lagi Salsha menyikut perutnya.


"Sebenarnya aku mengenal gadis itu," ujar Kaa. "Wah! Benarkah? Siapa dia adikmu? Wajahnya mirip denganmu loh! Mirip dengan Alesse juga!" seru Sanay.


"Bukan, dia pernah muncul dua puluh tahun yang lalu, atau mungkin lebih. Aku tidak terlalu ingat," ujar Kaa.


"Hah? Dua puluh tahun yang lalu? Itu tidak mungkin! Ia masih tampak muda dan cantik loh!" ujar Sandy. Salsha hendak memukuli Sandy. "Te... tenang, Salsha! Dia tidak secantik dirimu kok! Ayolah! Tersenyum dong! Biar lebih cantik!" ujar Sandy mencoba menenangkan.


"Sebenarnya aku juga heran karena gadis itu tidak berubah sama sekali saat terakhir aku melihatnya. Namanya Alice, ia adalah orang yang membantuku membuat pemukiman penduduk di dasar laut. Lebih tepatnya itu adalah idenya, ia bahkan merancang semuanya, aku hanya menyuruh Ray mengerjakan itu," ujar Kaa.

__ADS_1


"Wah! Benarkah? Itu teknologi yang sangat brilian sekali!" seru Alesse tertarik. "Sayangnya ia selalu menghilang begitu saja, aku tidak menyangka setelah dua puluh tahun lamanya bisa melihatnya lagi, dan ia tidak berubah sama sekali," ujar Kaa.


__ADS_2