Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Alesse lenyap II


__ADS_3

Aqua mendapati dirinya berada di kasur. Lingkungan di sekitarnya tidak lagi berwarna biru pucat. Kali ini warnanya beragam dan lebih cerah.


Sayangnya ia tidak peduli dengan hal itu, apalagi karena tidak ada Baraq yang mengusiknya, ia bisa menikmati pemandangan bulan dari jendela.


"Alesse? Kau belum tidur?" tanya Hendra. Aqua tidak menjawab, ia terus memerhatikan bulan. "Apa yang sedang kau lihat, Alesse?" tanya Hendra penasaran, ia pun mencoba menghampiri jendela.


"Kau tidak bosan terus menatap hal itu?" tanya Hendra. "Ini sudah cukup bagiku dibandingkan dasar laut yang gelap gulita," jawab Aqua.


"Kenapa kau membandingkannya dengan dasar laut? Apakah kau baik-baik saja?" tanya Hendra sekali lagi. "Aku tidak tahu siapa kau. Biar kuberitahu....... aku bukanlah Alesse, " ujar Aqua.


Hendra pun terdiam, ia tidak memyangka kalau anak itu menyadari bahwa dirinya bukanlah Alesse.


"Se.... sejak kapan kau tahu hal itu?" tanya Hendra. "Sejak awal, sejak aku masuk ke dalam tubuh ini tanpa alasan yang jelas," ujar Aqua.


"Be... berarti kau sudah tahu siapa dirimu sebenarnya? Kenapa kau tampak diam saja? Kau tidak mengatakan apapun pada kami?" tanya Hendra.


"Tentu saja aku tahu siapa diriku, aku adalah Aqua. Lagian apa pentingnya aku memberitahumu siapa diriku? Keberadaanku sendiri tidak cukup berarti bagi seseorang," ujar Aqua.


"Eh?" Hendra tampak tidak mengerti apa yang anak itu bicarakan. Ia mencoba berpikir sejenak, namun pikirannya dengan yang anak itu katakan sangat jauh berbeda, ia merasa dirinya salah paham.


"Tu... tunggu dulu! Jadi kau bukan Alesse Jawara? Namamu Aqua? Apakah aku benar," tanya Hendra. "Ya. Sebaiknya jangan mengutarakan pertanyaan yang sama berulang. Aku malas menjawabnya, " ujar Aqua.


"Be... begini, Aqua! Kau tahu siapa dirimu sebenarnya?" tanya Hendra. Aqua pun langsung berbalik badan dan menunjukkan mata birunya yang tajam. Sayangnya ia tidak bisa kesal, ia hanya bisa menatap tajam Hendra karena tidak mengindahkan perkataannya.

__ADS_1


"Kukira sudah kubilang untuk tidak menanyakan hal yang sama. Aku adalah Aqua, itu saja," ujar Aqua kemudian kembali menatap bulan.


"Oh? Be... begitukah? Kalau begitu aku akan pergi. Maaf sudah mengganggumu," ujar Hendra kemudian keluar kamar sambil menutup pintu. Ia pun menghela nafas lega. Ia sempat berkeringat dingin dan pucat karena menduga hal yang paling buruk yang akan terjadi.


"Ada apa, sayang?" tanya Andin. "Kupikir Alesse sudah tahu semuanya," ujar Hendra. "Apa? Kok bisa? Dari mana ia tahu? Siapa yang memberitahunya?" Andin melontarkan banyak pertanyaan karena sangat terkejut.


"Bu... bukan begitu, sayang! Aku tadi panik karena sempat menduga bahwa Alesse telah mengetahui jati dirinya!" ujar Hendra. "Jadi itu cuma dugaanmu saja? Apa yang membuatmu berpikir begitu?" tanya Andin.


"Aku tidak tahu seperti apa menjelaskannya karena aku hampir saja memberitahukannya tentang jati dirinya!" ujar Hendra. "Apakah kau sudah gila? Habislah kita jika ia mengetahuinya!" ujar Andin.


"Tidak seperti itu, sayang! Dia tiba-tiba saja mengaku bahwa dirinya bukanlah Alesse! Tentu saja aku terkejut dan melontarkan banyak pertanyaan yang menyangkut jati dirinya, namun ia hanya mengatakan bahwa dirinya bukan Alesse, melainkan Aqua," ujar Hendra.


"Aqua? Siapa itu? Kenapa dia mengaku dirinya adalah Aqua?" tanya Andin keheranan. "Entahlah, aku masih merasakan serangan panik, aku mau berbaring sebentar," ujar Hendra.


Andin merasa tidak tenang karena perkataan suaminya. Akhirnya ia pun mencoba memastikannya sendiri dan membuka pintu kamar Alesse.


"Benar sekali! Ini terlalu tiba-tiba, biasanya Alesse memanggilku ibu daripada menyebutku dengan sebutan 'kau'," ujar Andin.


"Aku memang bukanlah Alesse, bukan anak yang memiliki jiwa lebih muda daripada tubuhnya juga," ujar Aqua. "Kau tahu tentang jiwa baru yang ada di dalam tubuh Alesse?" tanya Andin terkejut.


"Tentu saja, karena aku pun termasuk pendatang, dalam artian aku juga salah satu jiwa yang bersemayam dalam tubuh itu," ujar Aqua.


"Sudah kuduga! Apakah ada jiwa lain selain dirimu?" tanya Andin. "Aku tidak terlalu yakin, aku tidak pernah peduli berapa orang yang bersemayam dalam tubuh ini. Mungkin sama seperti jumlah perubahan yang dialami tubuh ini. Kudengar ia terus berubah mengikuti bentuk jiwa yang merasukinya," ujar Aqua.

__ADS_1


"Kalau ada jiwa lain selain dirimu, sejauh ini berapa yang sudah kau temui?" tanya Andin. "Mungkin dua. Seorang anak bangsawan yang tampak arogan dan jiwa baru itu sendiri," ujar Aqua.


"Berarti kalian berdua pernah saling berbicara?" tanya Andin. "Tentu saja. Mau kuabaikan pun, keberadaan jiwa baru itu sangat lemah. Mungkin ia akan benar-benar menghilang jika aku mengabaikannya," ujar Aqua.


"Jadi..... seberapa banyak yang diketahui jiwa baru itu tentang dirinya?" tanya Andin semakin penasaran.


"Tidak tahu. Anak itu hampir sama denganku, ia tidak terlalu tertarik dengan dirinya sendiri. Asalkan ia tidak terusik, kupikir ia tidak akan mencari tahu," ujar Aqua. Andin terdiam, ia mencurigai Aqua tentang sesuatu.


"Kenapa kau terlihat menyadari kalau aku berharap anak itu tidak tahu apa-apa?" tanya Andin. "Aku sudah tahu kok siapa sebenarnya jiwa baru yang bersemayam dalam tubuh ini," ujar Aqua.


"Cukup! Sebaiknya kau tidak pernah memberitahu anak itu tentang jati dirinya," ujar Andin.


"Aku tidak keberatan kok. Tapi....." Aqua menatap Andin dengan tajam, tak lama kemudian matanya tiba-tiba mulai berubah warna jingga.


"Tapi, kalau saja ada orang yang berani mengusik tubuh ini. Membuat keberadaanku terancam, aku tidak akan segan-segan menjadi musuhnya. Singkatnya, kami semua akan menjadi musuh kalian jika berniat memusnahkan tubuh ini," kecam Aqua. Seketika penampilannya berubah menjadi serba jingga.


"Eh? Loh? Aku mengambil alih tubuh ini?" Anak itu tampak kebingungan sendiri. "Ada apa, Aqua?" tanya Andin.


"Hmm? Aku bukan Aqua, loh! Namaku Baraq," ujar anak itu. "Kau pasti salah satu jiwa lainnya! Aku tidka terlalu memercayai anak biru tadi. Apa pendapatmu tentang jiwa baru itu?" tanya Andin.


"Jiwa baru? Jiwa baru yang mana? Oh? Maksudmu Alesse? Kejam sekali kau bahkan tidak memanggilnya dengan nama! Apakah karena dia bukan jiwa asli dari tubuh anakmu ini? Kau pikir ia bersemayam dalam tubuh ini karena keinginannya sendiri?" tanya Baraq. Andin merasa tertampar dengan pertanyaan itu.


"Aku melihatnya bagai buih yang terombang-ambing dalam lautan. Ia bahkan tidak tahu harus menganggap kalian siapa. Tapi bukankah kalian terlalu kejam? Alasan konyol macam apa yang membuat kalian tidak menganggapnya sebagai anak kalian? Meskipun dia pendatang, tapi dalam ingatannya terus menganggap kalian ibu dan ayah! Kalian ingin beralasan kalau anak kalian hanyalah cangkangnya saja sedangkan isinya adalah palsu? Alesse yang kukenal sangat benci memercayai hal itu! Ia lebih memercayai ilmu pengetahuan daripada magis! Ia tidak ingin percaya kalau dirinya palsu!" ujar Baraq penuh emosional, rambutnya dipenuhi kilatan listrik.

__ADS_1


"Jadi...... apakah itu yang dikatakan Alesse padamu?" tanya Andin. "Bahkan tanpa ia mengatakannya pun aku sudah mengetahui perasaannya. Keberadaannya tidak diinginkan oleh kalian dan sekarang entah dia berada di mana. Mungkin kalian tidak akan pernah melihat Alesse yang akan memanggil kalian ayah dan ibu lagi," ujar Baraq. Karena suasana hatinya tampak buruk, ia langsung pergi keluar untuk mencari udara segar.


Hendra yang sembari tadi mendengarkan pembicaraan mereka pun langsung terdiam, ia juga merasa sangat bersalah atas apa yang dirasakan Alesse.


__ADS_2