Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Sang Pertapa


__ADS_3

"Dasar penduduk desa sialan! Kalian semua berhutang padaku!" ujarnya sambil tertawa terbahak-bahak. Seseorang tampak keheranan melihat anak dengan tubuh yang tampak hangus karena tersambar petir itu.


Akhirnya salah seorang mencoba untuk membidiknya dengan anak panah. Sayangnya Baraq langsung menunjuk anak panah itu dengan cepat sehingga kilatan petir muncul dari langit lalu menyambar ke dirinya, selang sepersekian detik petir itu muncul kembali dari jari telunjuknya dan menyambar ke arah anak panah itu melesat.


Sayangnya sambaran petir itu terus melesat hingga menyambar orang yang barusan membidiknya. Seketika orang-orang tampak pucat mereka lari tunggang langgang, namun Baraq baru saja menyelubungi area sekitar dengan sambaran petir.


"Orang-orang ini.... lemah sekali! Pantas saja mereka hendak menyerang sebuah desa dengan ribuan pasukan. Konyol sekali!" ujar Baraq.


Pada akhirnya hanya tersisa satu orang, ia tampak memegang pedang dengan wajah ketakutan.


"Kasihan sekali pria polos sepertimu ikut medan perang seperti ini. Hidupmu sangat malang sekali," ujar baraq dengan tatapan dinginnya. Wajahnya yang menghitam membuatnya tampak lebih menyeramkan.


"Kau..... sudah berapa lama kau ikut berperang? Apakah ini hari pertamamu melakukan ekspansi? Kalau begitu, kembalilah dan katakan pada rajamu untuk menciptakan militer yang berkualitas. Bukan yang semena-mena dan tidak bermoral," ujar Baraq, ia pun mengabaikan prajurit itu lalu berbalik badan.


Pria itu masih tampak ketakutan, ia diliputi rasa ragu antara kabur atau menyerang balik. Merasa Baraq hanyalah seorang anak kecil dan tidak ada sekutu yang bersamanya, akhirnya pria itu memutuskan untuk menghunuskan pedang dan menebas anak itu.


Sayangnya sebelum hal itu terjadi, Baraq langsung menusuk perutnya dengan pedang. "Kau pikir ketika hendak menyerang orang lain, kau boleh membiarkan celahmu terbuka? Hanya karena aku anak kecil kau bergerak senaif itu? Sepertinya aku tahu persis militer macam apa kalian ini," ujar Baraq.


"A... apa maksudmu? memangnya kau tahu apa dari kami?" tanya pria itu yang tampak kesusahan bernafas.


"Mudah saja! Pertama, kalian itu bodoh, namun berlagak pintar. Padahal sudah kuberi kesempatan untuk kabur, namun kau memilih menyerang? Pemikiran konyolmu membuatmu mati sia-sia. Kalau bodoh, jadilah bodoh saja! Tidak usah merasa dirimu mendapatkan pencerahan dan tiba-tiba menjadi pintar dalam sekejap! Tidak ada yang seperti itu. Pintar butuh perjuangan, butuh pembelajaran. Yang kau lakukan itu sangatlah gegabah," ujar Baraq, ia tampak hendak menyiksa pria itu lebih lama lagi sehingga ia menusukkan pedangnya lebih dalam untuk menahan aliran darah.


"Yang kedua, kalian itu tidak bermoral. Sudah menikah, namun karena alasan birahi kalian menjadikan wanita sebagai alat? Kalian tidak ingat kalau ibu kalian seorang wanita? Apakah sebagian dari kalian tidak ada yang memiliki saudara ataupun anak perempuan? Atau kalian juga menggunakan mereka sebagai alat pemuas birahi kalian?" tanya Baraq. Perkataannya selalu membuat seseorang bungkam.


"Aku terlalu malas menyebutkan semua sifat kalian untuk seseorang yang sebentar lagi akan mati. Merasa terhormatlah karena aku memberikan beberapa ceramah yang berharga untukmu. Semoga kau tidak hidup di antara orang-orang itu lagi," ujar Baraq. Pria itu masih merintih kesakitan.


"Kau merasa tidak adil dengan perlakuan ini padamu? Merasa tidak adil karena ini hari pertamamu melakukan ekspansi? Maka biar kuberitahu. Keburukan yang dilakukan seseorang tidak hanya berimbas pada dirinya sendiri, itu pasti akan berimbas dengan siapapun yang ada di sekitarnya. Asal kau tahu saja, 'siapapun' yang kumaksud bukan hanya sekedar manusia. Jadi.... apakah kau mengerti jika keburukan manusia itu selalu menjadikan dunia ini rusak?" tanya Baraq, sayangnya pria itu sudah tak bernyawa.

__ADS_1


"Loh? Sangat tidak sabaran sekali! Apakah telinganya panas karena mendengar ceramahku?" tanyanya keheranan, ia pun melanjutkan perjalanannya.


Tak lama kemudian ia mendapati rombongan orang-orang yang menatapnya penuh keheranan. Tentu saja karena ia tampak gosong meskipun pakaiannya sudah kembali seperti semula.


"Wahai anak muda! Apakah kau baik-baik saja? Apakah kau barusaja berjalan dari arah sana?" tanya salah seorang sambil menunjuk arah Baraq berasal.


Baraq pun mengangguk membuat orang-orang semakin keheranan. "Bu... bukankah terdapat banyak pasukan yang pergi ke arah sana? Kau tidak melihat mereka? Atau jangan-jangan, ini perbuatan mereka? Kau tampak terluka parah! Mari bersihkan lukamu terlebih dahulu," ujar orang itu kemudian menuntun Baraq menuju ke sungai. Ia pun menyuruh Baraq membaringkan diri sedangkan ia mulai meneteskan air sedikit demi sedikit agar Baraq tampak tidak kesakitan.


Akan tetapi yang terjadi adalah luka Baraq semakin mengecil dan menghilang, bahkan kulit gosongnya menjadi cerah kembali.


Meski begitu perubahannya semakin membuat orang itu merinding. Pakaian Baraq tiba-tiba berubah warna biru, begitu pula dengan rambut dan matanya.


Kali ini yang mengambil alih adalah Aqua, ia menengok ke sana kemari dan menatap orang itu dengan ekspresi datarnya.


"A... apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa pakaianmu berubah? Kenapa kau sembuh dalam sekejap?" tanya orang itu terkejut.


"Aku? Aku... kemana?" Wajah Aqua tampak pucat seolah tidak ada semangat untuk hidup. Akhirnya orang itu merangkul bahunya. "Kau bisa tanyakan itu pada Sang Pertapa agung! Mungkin kau bisa menemukan kembali tujuan hidupmu," ujar orang itu.


Entah kenapa mendengar saran dari pria itu membuat Aqua tampak tergugah. "Sang Pertapa..... di mana?" tanya Aqua. "Dia sedang mengembara, ia tidak tinggal di suatu tempat untuk waktu yang lama, jadi aku tidak tahu keberadaannya. Kau mungkin bisa menanyakan hal itu di ibukota! Dia sangat terkenal di berbagai dunia!" seru pria itu. Aqua kembali menjadi malas.


"Heh? Seputus asa itukah dirimu nak?" tanya pria itu. "Aku pergi," ujar Aqua singkat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kalian tahu siapa Sang Pertapa agung ini?" tanya Geni. "Aku tidak tahu, tapi orang-orang terus membicarakannya," ujar Gord.


"Sepertinya ia adalah orang berkarisma! Sosok seperti apakah yang terkenal di kalangan orang-orang itu?" Rasya berangan-angan.

__ADS_1


"Orang ini benar-benar tidak bisa diajak berbicara," ujar Gord kesal. "Baraq dan Aqua tidak bisa diajak berdiskusi! Akhir-akhir ini mereka mengabaikan pesan kita!" ujar Geni kesal. "Kupikir Aqua dari awal memang tidak pernah menjawab pesanmu kan? Menyerahlah, kau tampak seperti orang bodoh yang ingin berbicara dengan batu," ujar Gord.


"Sebenarnya ada satu pertanyaan yang sangat mengganjal bagiku!" ujar Gord sambil terus menatap Rasya. "Ada apa? Wajahku tampan? Kau naksir padaku?" tanya Rasya sambil tersenyum.


"Bukan itu! Ngomong-ngomong, bagaimana caranya kau mendapatkan tanaman merambat yang amat sangat kuat itu?" tanya Gord.


"Aku menumbuhkannya," ujar Gord singkat. "Menumbuhkannya? Apa maksudmu?" tanya Gord. "Kenapa kau balik bertanya? Kau tidak pernah melihat Elementalist alam menggunakan kekuatannya? Kami bisa memanipulasi pertumbuhan lalu mengendalikannya," jawab Rasya.


"Tu.... tunggu dulu! Kau bisa menggunakan pengendalianmu? Bahkan saat berada di tubuh Alesse?" tanya Gord.


"Whoa! Sejak kapan kau bisa melakukannya?" tanya Geni terkesan. "Entahlah, aku tidak menyadari kapan pertama kali menggunakannya," ujar Rasya.


"Lain kali aku juga harus mencobanya!" seru Geni. "Kau yakin hal itu bisa dilakukan?" tanya Gord. "Kalau Rasya bisa, kenapa aku tidak? Sepertinya sejak Alesse pergi keadaan kita menjadi berubah rumit, setidaknya aku ingin pengendalianku kembali," ujar Geni, ia tidak sabar mengambil alih tubuh Alesse untuk mencoba pengendaliannya.


"Sebaiknya kita kembali ke topik awal lagi. Mungkin lebih baik kita mencari tahu keberadaan sang Pertapa ini. Mungkin ia bisa menjawab beberapa hal yang tidak masuk akal," ujar Gord.


"Orang gila mana yang mau meladeni pertanyaan orang lain dengan begitu antusias. Kupikir ia tidak akan mengerti apa yang kau bicarakan. Orang normal akan segera menyebutmu gila," ujar Geni.


"Apa salahnya mencoba. Kebanyakan orang hebat terlihat di luar nalar," ujar Gord. "Sama seperti aku kan? Di luar nalar.... ungkapan yang bagus sekali," ujar Rasya. "Aku tidak membicarakanmu! Lagian, kenapa kau selalu bersikap menyebalkan? Apakah kau seorang wanita bar yang suka menggoda pria mabuk? Jangan lakukan itu padaku! Menjijikkan!" ujar Gord. Rasya pun terdiam, hal itu membuat Gord merasa bersalah, ia pikir perkataannya terlalu berlebihan.


"Ra.. Rasya.... Maksudku...." Gord bingung hendak mengatakan apa, ia tidak bisa menelan kembali apa yang ia ucapkan.


"Jadi... maksudmu... kau menyebutku seperti wanita bar? Dari mana kau menilai hal itu? Apakah karena wajahku cantik di matamu?" tanya Rasya, ia malah tampak semakin bersemangat.


"Rasya! Kenapa kau selalu menggodaku seperti ini? Kenapa hanya aku? Kenapa tidak dengan Geni?" tanya Gord.


"Responmu saat digoda memang begitu menarik baginya sehingga ia suka menggodamu. Andai saja kau bersikap seperti Aqua atau Baraq, mungkin ia tidak akan mendekatimu," ujar Geni.

__ADS_1


Gord tidak bisa menerapkan apa yang Geni sarankan. Mendiamkan seseorang apalagi bersikap begitu dingin bukanlah keahliannya. Selama ini di medan perang yang ia lakukan hanyalah berteriak, tertawa, memberi semangat, serta merangkul orang-orang yang ada di sekitarnya agar tak patah semangat. Bahkan untuk mengabaikan keisengan Rasya pun ia tidak mampu melakukannya.


__ADS_2