Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Dongeng dari Sang Pertapa


__ADS_3

Alesse masih dipenuhi tanda tanya, ia tidak mengerti apa yang gadis itu bicarakan. Akhirnya ia pun memasukkan sapu tangan itu ke dalam saku lalu kembali ke dalam Levy.


"Apakah kau akan menurutinya? Gadis itu tampak sangat mencurigakan," ujar Geni. Pada akhirnya Alesse terus berjalan lurus sesuai yang dikatakan Alice.


Sayangnya berjam-jam telah berlalu, namun ia tidak menemukan apapun. "Sudah kubilang, Alesse! Gadis itu terlalu mencurigakan!" ujar Geni.


Tak lama kemudian Levy melewati hutan. Perhatian Alesse tertuju pada seorang kakek tua yang berjalan sendirian di tengah hutan rindang.


"Tunggu, Alesse! Itu.... itu adalah... sang Pertapa!" seru Geni. "Pria tua itu?" tanya Alesse, ia pun mencoba untuk turun ke bawah sedangkan Geni tampak kegirangan karena bisa melihat wajah kakek tua itu lagi.


"Kutarik semua ucapanku tadi! Gadis itu..... dia benar-benar hebat! Bagaimana caranya dia tahu kalau kita sedang mencari Sang Pertapa? Aku sangat terkesan!" seru Geni.


Alesse pun keluar dari Levy dan menghampiri kakek tua itu, namun ia tidak mengeluarkan sepatah katapun, ia hanya menatapnya.


"Katakan sesuatu!" ujar Geni, sayangnya Alesse mengabaikannya dan hanya diam. Kakek tua itu pun tersenyum kemudian menghampiri Alesse.


"Sudah lama sekali, akhirnya kita bertemu lagi," ujar kakek tua itu. "Siapa?" tanya Alesse. Kakek tua itu tetap tersenyum meskipun Alesse membalasnya dengan sikap dingin.


"Sesekali dengarlah nasehat orang-orang padamu, kupikir tidak semuanya buruk," ujar kakek tua itu kemudian melemparkan tongkatnya ke belakang. Tongkat itu tepat mengenai seekor ular yang sembari tadi mengendap-3ndap hendak memangsa.


Darah ular itu pun memancar hingga membasahi pipi Alesse. Seolah sudah tahu apa yang ada di saku Alesse, kakek itu mengambil sapu tangan yang ada di dalamnya lalu mulai mengelap darah yang mengotori wajah Alesse.


Caranya mengusap pipi Alesse sama persis seperti yang dilakukan Alice saat memberikan Alesse sebuah isyarat.


"Jadi, kakek adalah Sang Pertapa?" tanya Alesse, ia mulai berbicara. "Begitulah, ada yang kau ingin tanyakan? Aku juga bisa mengajarimu beberapa hal dan memberikan nasehat bagus," ujar kakek tua itu.


Alesse hanya diam seolah tidak ada informasi yang ia butuhkan lagi dari kakek tua itu. Alesse pun berbalik badan untuk meninggalkannya.


Sayangnya kakek tua itu melihat Alesse sebagai seseorang yang dahulu pernah ditemuinya, sosok asing yang membuatnya nostalgia.


Sebelum akhirnya Alesse semakin jauh, ia pun berlari dan memeluknya erat-erat. "Kakek? Ada apa ini?" tanya Alesse keheranan.

__ADS_1


"Maafkan aku nak! Maafkan orang tua ini yang tidak bisa mengajarimu hal-hal baik, maafkan kakek karena telah membuatmu menjadi orang yang paling jahat di dunia!" ujar kakek itu penuh penyesalan.


Alesse keheranan dengan sikapnya, ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan memilih diam saja hingga kakek itu tenang. Sayangnya tubuh berotot kakek tua itu membuatnya sesak.


"Kakek! Pelukanmu terlalu kencang! Aku bisa mati kehabisan nafas," ujar Alesse. "Ma.... maaf, aku terbawa suasana," ujar kakek itu kemudian mengusap air matanya.


"Sepertinya banyak cerita sedih yang menimpa kakek ini. Aku merasa kasihan," ujar Geni merasa iba.


Sayangnya Alesse tidak terlalu menanggapinya, ia masih berekspresi datar seperti biasanya. "Ehm, kau tidak penasaran kenapa aku tiba-tiba memelukmu?" tanya kakek tua itu. Alesse menggelengkan kepala dengan ekspresi datarnya, membuat kakek tua itu terpuruk.


"Alesse, setidaknya tunjukkan rasa simpatimu!" tegur Geni. Sayangnya Alesse tidak menggubrisnya, ia masih berekspresi datar seperti biasanya.


"Kau ini..... sungguh berbeda dengan para Warden yang pernah kutemui. Kupikir aku bisa merubah sudut pandang orang-orang terhadap Warden! Jadi, maukah kau...... bekerjasama denganku? Aku yakin kau bisa menutupi semua kesalahan yang dibuat oleh pendahulumu, " ujar kakek tua itu.


Alis Alesse mulai naik, kini ia memiliki hal yang ingin ia tanyakan. "Jadi, apa maksudmu tentang pendahulu ini? Bisakah kau jelaskan lebih rinci?" tanya Alesse.


"Menurutku tidak di tempat seperti ini juga," ujar kakek tua itu. Ia merasakan firasat buruk setelah melihat mata Alesse begitu membara dengan rasa penasaran.


"Ba... baiklah! Ini adalah sebuah cerita dari belasan abad yang lalu. Kalian mungkin menyebutnya dongeng, namun bagiku itu baru saja terjadi kemarin," ujar kakek tua itu. Ia ragu kalau Alesse akan memercayai perkataannya.


"Ceritakan saja apa yang terjadi, kenapa kau jadi tampak bodoh begitu? Masalah aku percaya atau tidaknya itu tidak penting," ujar Alesse.


"Be.... benar sekali, itu tidak penting yah. Aku hanya perlu bercerita seperti orang bodoh," ujar kakek tua itu agak kesal karena dikatakan sebagai orang bodoh.


Ia pun melanjutkan kisahnya secara detail seolah ia benar-benar mengalaminya.


Setelah bercerita panjang lebar, kakek tua itu tampak penasaran dengan pendapat Alesse. Setelah mendengarkan ceritanya ia tampak tertegun sejenak.


"Apa pendapatmu setelah mendengar cerita tadi?" tanya kakek tua itu. "Sederhana, Dark Warden itu bodoh, sedangkan Warden hanya berpikir secara rasional. Kupikir tidak ada yang salah dengan tujuannya," jawab Alesse.


"Benarkah menurutmu begitu?" tanya kakek tua itu. "Kau hanya menanyakan sebuah pendapat, kau tidak berhak menilai itu benar atau salah. Lagi pula kau menceritakannya secara subjektif, tampaknya lebih memihak Dark Warden," ujar Alesse.

__ADS_1


"Dari semua Warden yang pernah kumintai pendapat, kenapa jawaban mereka selalu sama? Apakah ini yang dimaksud ingatan reinkarnasi?" tanya kakek tua itu.


"Aku tidak percaya dengan fantasi itu, aku benar-benar berpendapat dengan pemikiranku sendiri," ujar Alesse. Kakek tua itu tampak murung dan kecewa.


"Apakah kau akan mengambil jalan yang sama seperti para pendahulumu? Kau akan berpihak pada Mehyi? Seperti pendapat yang baru saja kau utarakan itu," tanya kakek tua itu.


"Pendapat tidak harus menjadikanmu berpihak pada salah satu kubu saja. Lagian aku tidak benar-benar memercayai perkataanmu. Biar kucari sendiri kebenaran yang ada, aku lebih suka mencari informasi secara menyeluruh daripada mendengarkan perkataan kakek tua renta, barang kali dia sudah pikun.... bukankah itu bermasalah?" tanya Alesse.


"Tidak sopan! Aku tidak tua renta! Kau tidak lihat tubuhku ini?" tanya kakek tua itu sambil bertelanjang dada dan memamerkan ototnya.


"Aku lebih tidak percaya pada manusia berotak otot," ujar Alesse dengan ekspresi datarnya. Kakek tua itu pun tertawa. "Kau punya selera humor yang bisa membuat orang lain kesal ya, terlepas dari wajah datarmu itu," ujarnya.


"Sepertinya tidak ada hal lagi yang perlu kudengarkan, aku akan pergi," ujar Alesse sambil berbalik badan.


Kakek tua itu merasa risau, sudah berkali-kali ia menyaksikan kepergian Warden setelah mendengarkan ceritanya. Ia selalu berharap mereka membuat keputusan yang berbeda dari pendahulu mereka. Kali ini pun ia tampak penuh harap.


"Tunggu!" ujar kakek tua itu sambil menahan lengan Alesse. "Apalagi yang ingin kau bicarakan?" tanya Alesse, ia keheranan karena pria tua itu terus menahan lengannya.


Kakek tua itu tiba-tiba berlutut di hadapannya. Membuat Alesse keheranan, sayangnya ia tetap berekspresi datar karena tidak terlalu peduli dengan apa yang dilakukan kakek itu.


Kakek tua itu hanya bisa menatap ekspresi dingin Alesse, itu membuat matanya berkaca-kaca. "Kumohon, hidupku tidak lama lagi akan berakhir, bisakah.... bisakah kau membuat keputusan yang berbeda? Bisakah kau berpihak pada Meith kali ini? Aku takut tidak bisa menyampaikan cerita ini untuk Warden berikutnya, jadi.... kumohon..... tolong hentikan kekacauan di dunia ini, aku sudah lelah mengalaminya hari demi hari, tahun demi tahun hingga berabad-abad lamanya," ujar kakek tua itu. Ia berharap Alesse akan luluh setelah melihatnya bersimpuh dan terus memohon.


Sayangnya wajah Alesse tak berubah sedikit pun. "Aku tidak bisa menuruti perkataanmu. Bukankah kau sendiri yang bilang kalau aku adalah Warden? Kenapa aku harus berpihak pada Meith? Bukankah dia adalah Dark Warden?" tanya Alesse.


Kakek tua itu tampaknya sudah menduga dengan jawaban yang diberikan Alesse, namun tetap saja hal itu membuatnya terpuruk karena ia menyisipkan beribu harapan padanya. Ia pun tak bisa berkata-kata lagi.


"Tapi aku akan mengusahakan permintaanmu. Kekacauan yang terjadi di dunia ini? Aku mungkin bisa memperbaikinya, namun tidak dengan memihak Dark Warden. Akan kulakukan dengan caraku sendiri," ujar Alesse.


Seketika kakek tua itu terkejut dengan perkataannya, ia merasa seolah cahaya segar baru saja menyirami tubuhnya, membuat harapannya yang telah layu mulai segar kembali. Akhirnya Alesse pun pergi meninggalkannya.


Kakek tua itu hanya bisa melambaikan tangan kemudian kembali ke dalam gua. "Apakah aku akan melihat akhir yang berbeda kali ini? Semoga usiaku masih cukup untuk menyaksikannya juga," ujarnya sambil menatap langit-langit gua yang gelap, ia pun menyadari ada sebuah lubang kecil yang membuat cahaya masuk ke dalam gua itu meskipun sangat tipis.

__ADS_1


__ADS_2