
"Sepertinya kami datang terlambat," ujar Kaa. Atlas tercengang dengan kehadiran mereka semua.
"I... ini tidak terlambat! Sungguh tidak bisa dipercaya! Kalian langsung kembali hanya dalam waktu tiga hari! Normalnya itu akan menghabiskan waktu setengah bulan!" ujar Atlas.
"Setengah bulan? Aku tidak mendengar hal itu! Kaa hanya mengatakan bahwa kami akan sampai dengan berjalan selama dua setengah hari," ujar Sandy.
"Kalian mempercayainya? Dua setengah hari itu perjalanan bagi ras Vey, mereka tidak berjalan, mereka terbang dengan sayap mereka," ujar Atlas. Kaa hanya bisa menggaruk-garuk kepala.
"Untung saja Alesse sempat sadar sebelum setengah bulan berlalu," ujar Salsha.
"Keadaan semakin darurat, ayah! Aliansi Gordon dan Mehy mungkin akan singgah di dunia ini juga!" ujar Atlas.
"Mungkin kita bisa menghambatnya terlebih dahulu," ujar Kaa. "Bagaimana caranya?" tanya Atlas. "Tentu saja dengan memporak-porandakannya!" ujar Kaa.
"Porak-poranda omong kosong! Kami hampir mati di serbu para pengendali air gila di benteng aneh tiga hari yang lalu," ujar Salsha.
"Benar sekali! Alesse hampir mati membeku," ujar Sanay. "Saat itu aku tidak siap! Mereka melempar jaring besi ke arahku! Membuatku tidak bisa terbang," ujar Kaa.
"Kemungkinan Aliansi Gordon dan Mehy memiliki senjata seperti itu juga, ayah! Mereka adalah persatuan paling besar dari pengikut Warden," ujar Atlas.
"Mungkin sebaiknya kita mengintai tempat itu dulu, jangan gegabah seperti kemarin, menyerang dari depan seperti orang gila," ujar Alesse.
"Memangnya kita akan dapat apa dengan mengintai mereka?" tanya Atlas keheranan. "Tentu saja banyak hal! Kita bisa tahu peradaban yang mereka miliki, senjata apa saja yang mereka gunakan, bahkan keadaan mayoritas orang yang menjadi pengikut Warden itu sendiri. Dengan informasi-informasi yang dianggap sepele ini, sebenarnya kita bisa menghancurkan persatuan mereka," ujar Alesse dengan percaya diri.
"Memangnya bisa seperti itu hanya dengan informasi saja?" tanya Atlas. "Tentu saja, kukira hal seperti ini sudah lumrah di dunia yang selalu terjadi peperangan, kenapa kau tidak tahu?" tanya Alesse keheranan.
"Dia tidak pernah mengalami perang selama hidupnya, Alesse. Ia selalu kubawa ke tempat yang damai," ujar Kaa.
"Hmm! Ternyata memang seperti yang dirumorkan! Pihak manapun yang didukung oleh Chron selalu lebih unggul, bahkan merasa damai sampai tidak tahu dasar-dasar peperangan," ujar Alesse.
"Kedengarannya.... itu bukan keunggulan deh, Alesse," ujar Sandy. "Nah, ini adalah salah satu informasi! Jika kita tahu pihak musuh didukung oleh Chron, sebenarnya mereka menambahkan celah pada diri mereka sendiri. Seperti anak burung yang selalu di manja, selalu diberikan makan hingga tumbuh dewasa sedangkan ia tetap berada di sarangnya, ia tidak akan bisa terbang," ujar Alesse.
__ADS_1
"Aku jadi lebih bersemangat daripada biasanya! Sepertinya yang kau katakan itu sangat meyakinkan," seru Kaa.
"Haruskah kita pergi sekarang? Lebih cepat lebih baik bukan?" ujar Alesse. "Benar sekali! Baiklah, aku akan mulai membuka gerbang," ujar Kaa.
Ia pun mulai menggerakkan kedua tangannya, menyapu hembusan angin hingga membentuk pusaran. Angin itu menjadi sangat kencang dan menyedot benda-benda ringan ke dalamnya. Benda-benda itu seketika lenyap ditelan olehnya.
"Dih? Seriusan? Benarkah ini gerbang yang aman? Kulihat beberapa batu langsung lenyap saat tersedot ke dalamnya," ujar Sandy merinding.
"Tentu saja aman," ujar Kaa kemudian masuk ke dalam pusaran angin itu tanpa ragu. Alesse pun langsung mengikutinya, begitu juga Sanay. Mau tidak mau Sandy dan Salsha juga masuk ke dalamnya. Sayangnya Jawara tidak bisa melakukan itu. Tubuh logamnya menembus pasaran angin.
"Loh? Ada apa lagi?" tanya Kaa keheranan. "Jawara tak kunjung masuk," ujar Sandy. "Ini sudah terlalu lama, kita harus ke ujung sana sebelum gerbang ini lenyap," ujar Kaa.
Akhirnya mereka pun berlari meninggalkan Jawara. Sebelum mereka menyadarinya, kabut putih di sekeliling mereka mulai memudar, mereka sudah berada di daratan lain.
"Wah, di sini lebih hangat dari pada tempat tadi," ujar Sandy. "Bukan hangat lagi ini! Panas dan tandus!" ujar Salsha.
"Medan yang sempurna untuk berperang! Nggak perlu bersihkan mayat kalau sudah tempur di sini, mayat-mayat itu yang akan menjadi pupuk lalu menyuburkan kembali tanah di sekitar," ujar Alesse.
"Yeah, aktivitas radiasi yang disebabkan oleh senjata-senjata perang memang sangat mencemari lingkungan, benar-benar merugikan," ujar Sanay.
"Saat kalian membicarakan perang begini, sepertinya kita memang sedang berada di medan perang! Aku melihat posisi kita berada di antara dua markas pasukan dengan bendera yang berbeda," ujar Kaa.
"Duh, sebaiknya kita pergi dari sini," ujar Sanay. "Bukankah mencegah mereka berperang lebih baik?" tanya Sandy.
"Menurutku sih tidak perlu ikut campur, biarkan saja," ujar Kaa. "Kenapa bisa begitu? Alesse? Kau setuju untuk menghentikan perang kan?" tanya Sandy.
"Tidak kok, aku lebih memilih duduk diam mengamati peperangan ini," ujar Alesse. "Kenapa begitu, Alesse? Kenapa kau membiarkan perpecahan ini terjadi?" tanya Sandy dengan wajah kecewa.
"Kita punya tujuan lain, Sandy! Memantau pergerakan Aliansi Gordon dan Mehy! Bukan sibuk bermain pahlawan kedamaian di sini," ujar Alesse.
"Aku tidak mengerti! Kau tidak akan melihat hal yang menarik dari memerhatikan peperangan ini! Kau hanya akan melihat pemandangan yang mengerikan!" ujar Sandy.
__ADS_1
"Mau mendesakku seperti apapun caranya, mustahil untuk menghentikan mereka, Sandy! Kita hanya beberapa orang di sini! Bisa apa? Lagian kita juga tidak tahu permasalahan apa yang menuntun mereka ke peperangan ini," ujar Alesse.
"Tetap saja Alesse! Alasan apa saja itu, kalau sampai perang begini mereka hanya mati konyol!" ujar Sandy.
"Itu salah mereka sendiri karena mengadakan perang, masalah mati konyol atau tidaknya, itu sudah mereka terima dengan lapang dada. Peperangan dengan penjajahan adalah dua hal yang berbeda! Aku mungkin akan berusaha menghentikan penjajahan, tapi peperangan..... aku tidak ingin memeras otak dan tenagaku untuk orang yang membuat keputusan bodoh seperti mereka," ujar Alesse dengan ekspresi dinginnya.
"Aku setuju dengan Alesse," ujar Kaa, Sandy hanya tampak murung. "Kita lihat saja apa yang mereka lakukan, kita bisa menontonnya dari Levy, itu bisa menjadi informasi tentang teknologi dan senjata yang mereka miliki saat ini," ujar Alesse.
"Kalau Sanay dan Salsha tidak berani lihat, sebaiknya kalian berbalik badan saja, begitu pula Sandy," ujar Kaa.
Akhirnya Alesse pun mengeluarkan tongkat dari punggungnya, ia langsung merubah tongkat itu menjadi Levy.
"Praktis sekali benda pusakamu ini, benar-benar memudahkan perjalanan kita," ujar Kaa.
"Pusaka?" Alesse keheranan. "Sepertinya kau tidak tahu hal itu, aku juga baru menyadarinya kemarin, saat Aqua menunjukkan padaku busur es miliknya. Terdapat lambang khusus pada benda-benda pusaka, contohnya di tongkat milikmu itu, ada lambang Elementalist petir. Lalu sepatu yang kau pakai juga memiliki lambang Elementalist air," ujar Kaa.
"Wah! Benar sekali! Ada yang terukir di sepatu ini! Tapi aku tidak pernah mendapatkan penjelasan mengenai lambang-lambang ini dari Jawara," ujar Alesse. "Mungkin dia juga tidak mengetahuinya," ujar Kaa.
Akhirnya peperangan pun terjadi, Alesse semakin tertarik dengan pola strategi dari salah satu pihak. "Hmm! Menarik sekali! Sepertinya ahli strategi salah satu pihak sudah menguasai segala jenis medan perang, ia benar-benar memanfaatkan lokasi dengan baik," ujar Alesse.
Gerak gerik pasukan itu terlihat sangat teratur bahkan dapat menyerang secara bergiliran. "Benar-benar kompak dan serentak! Ini seperti militer modern. Strategi yang digunakan juga hasil adaptasi dari berbagai kerajaan! Aku pernah mempelajari ini di ilmu sejarah," ujar Alesse, orang-orang lainnya tidak mengerti apa yang sedang ia katakan.
"Lihatlah, peperangan pun berakhir dalam waktu 90 menit, ini benar-benar singkat, bahkan korban jiwanya tidak terlalu banyak. Pihak yang menang berhasil menawan banyak pasukan musuh. Mereka benar-benar untung besar," ujar Alesse, ia pun turun dari Levy.
"Kenapa kau turun? Mau apa kau?" tanya Sandy. "Kita harus dapat berbagai informasi! Bukankah tujuan kita adalah mengalahkan aliansi Gordon dan Mehy? Kita juga harus tahu strategi perang," ujar Alesse.
Akhirnya ia pun mencoba menghampiri markas pihak yang menang, ia merubah paksa Levy menjadi tongkat kembali, membuat orang-orang yang berada di dalamnya langsung terjatuh ke tanah.
"Duh! Harusnya kau bilang dulu kalau mau ambil tongkatmu! Jangan asal rubah begini! Kalau terlalu tinggi, kami bisa patah tulang!" ujar Salsha.
"Nyatanya kalian baik-baik saja," ujar Alesse dengan ekspresi datarnya kemudian melangkah santai ke markas.
__ADS_1