
Alesse merancang sesuatu di dalam kamarnya. Ia mencoba membuat tiruan dari robot Jawara dengan desain yang ia buat sendiri.
"Apakah yakin akan membuat benda ini? Kenap kau tidak mencoba membuatnya dengan merubah bentukku saja?" tanya Jawara.
"Itu sangat tidak memuaskan! Aku mencoba membuat robot ini dengan logam lain. Bukan dengan partikel milikmu," ujar Alesse.
"Aneh sekali! Padahal kau bisa membuatnya lebih mudah jika menggunakanku," ujar Jawara. "Aku tetap akan menggunakanmu! Jangan bersedih hati! Aku hanya ingin membuat robot dengan komponen yang kucari sendiri," ujar Alesse.
"Paketannya sudah datang, aku akan mengambilnya," ujar Jawara. Ia pun menerima sebuah kotak dari kurir lalu masuk kembali ke kamar.
"Nah, akhirnya bagian terakhir dari robot ini akan segera dipasang!" seru Alesse. Ia pun mencoba membuka kotak paketan itu, namun ia hanya melihat balok plastik.
"Sepertinya ini barang imitasi, benda itu akan hancur jika dipasang pada robot yang beratnya hampir setengah ton ini. Kau bahkan sampai membuat rubanah agar tidak diketahui oleh orang tuamu betapa bisingnya suara yang ditimbulkan ketika menempa lempengan logam itu," ujar Jawara.
Alesse masih tampak kesal dengan balok plastik itu. "Setelah sekian lama berjalan dengan lancar, pada akhirnya muncul juga hal menyebalkan seperti ini! kita tunda sampai besok saja! Aku akan meminta Sanay untuk mencari orang itu dan memberinya pelajaran," ujar Alesse kesal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Esok harinya Alesse mendapati bangku di sampingnya sedang diduduki oleh Sandy. "Kau ini kenapa? Bukankah kau punya tempat duduk sendiri?" tanya Alesse.
"Bukan apa-apa, sekarang kita adalah teman! S lagi Alex tidak ada, aku duduk di sini" ujar Sandy dengan kesan memaksa. "Terserah kau dah!" Alesse mengabaikannya. Ia pun menunjukkan balok plastik pada Sanay.
"Ya ampun! Mainan apa ini? Jelek sekali!" ujar Sanay. "Sudah kuduga kau juga menganggapnya begitu," ujar Alesse. "Dari raut wajahmu, sepertinya kau baru saja mendapatkan barang palsu," ujar Sanay.
Salsha tampak tertarik dengan pembicaraan mereka berdua. Ia pun akhirnya menghampiri. "Bisa kau temukan di mana tempat tinggal orang yang memberikan barang ini?" tanya Alesse.
"Mudah saja, asalkan kau pernah berkontak dengannya lewat media sosial manapun," ujar Sanay.
"Kalian sedang membicarakan apa?" tanya Sandy yang tiba-tiba datang merangkul Alesse. "Sandy, ternyata tubuhmu kecil juga! Semakin menyebalkan," ujar Salsha.
"Peduli apa kau?" ujar Sandy sambil menjulurkan lidah. Ia sangat pandai membuat orang kesal.
"Setelah pulang sekolah, bisakah kau mampir ke rumahku?" pinta Alesse. "Baiklah, aku akan menantikannya," ujar Sanay. Ia terlihat sangat senang karena Alesse mengajaknya ke rumahnya.
Akhirnya setelah pulang sekolah, Sanay pun datang bersama dengan Sandy dan Salsha. "Kenapa ramai sekali? Aku tidak ingat mengadakan pesta di rumahku loh!" ujar Alesse agak kesal.
"Sudahlah! Karena kau sudah tahu rahasia mereka, setidaknya biarkan mereka tahu sedikit tentangmu," ujar Sanay.
"Baiklah! Baiklah!" ujar Alesse kesal, ia pun mengajak mereka bertiga ke dalam kamarnya. "Wah! Tidak kusangka kau mengajak kami ke kamar, kira-kira apa jadinya jika aku dan Salsha tidak ikut ke sini?" tanya Sandy dengan wajah menyebalkan.
"Tidak seperti yang kau pikirkan, aku bukanlah orang yang tertarik melakukan hal seperti itu," ujar Alesse, ia tampak sabar meskipun perkataan Sandy sangat mengesalkan. Ia menarik tuas yang ada di rak bukunya. Seketika lantai kamar berubah menjadi bidang miring yang mengarah ke bawah tanah.
"Whoa! Hebat! Hebat! Apa ini? Ruang rahasia? Kenapa bisa ada di rumahmu? apakah ada harta karun di bawah sana?" Sandy tampak terkesan.
"Harta Karun jidatmu!" ujar Alesse, ia pun mengajak mereka turun ke bawah dan menemukan sebuah robot yang belum dirakit dengan sempurna.
"Benda apa itu, Alesse? Kenapa sangat menyeramkan?" tanya Salsha. "Itu robot, ia belum selesai karena mendadak aku terkena penipuan," ujar Alesse.
"Oh, Alesse! Akhirnya kau datang juga!" ujar Jawara yang tiba-tiba keluar dari sebuah pintu. Sandy dan Salsha terkejut secara serentak. "Alesse! Kau ada dua? Siapa ini? Kembaranmu?" tanya Salsha terkejut.
"Bukan, aku adalah unit yang dibuat menyerupai Administrator. Tentu saja atas persetujuannya juga," ujar Jawara.
__ADS_1
"Persetujuan palamu! Kau memindai dan meniruku tanpa permisi dulu" ujar Alesse. "Wah, ternyata kau juga bisa berbicara kasar begini, Alesse! Tak terduga sekali!" ujar Sandy.
"Tentu saja, hal itu juga termasuk tugas besar bagiku untuk mempelajarinya. Subjek bernama Irawan mengatakan bahwa Alesse memiliki enam kepribadian," ujar Jawara.
"Perlukah kau sebut hal itu juga? Semakin lama semakin menyebalkan saja!" ujar Alesse. Iapun langsung mengubah bentuk Jawara menjadi sebuah komputer.
"Whoa! Apa-apaan itu? Sihir?" tanya Sandy terkesan. "Bukan! Kenapa kau menghebohkan sihir? Bukankah yang tampak seperti penyihir itu kalian bertiga?" Alesse keheranan.
"Kesannya menjadi sangat buruk sekali kalau disebut sebagai penyihir," ujar Salsha. "Benar sekali! Aku juga berpikir begitu," ujar Sandy.
"Baiklah! Saatnya beraksi!" ujar Sanay semangat. Ia menunjukkan kilatan listrik dari kedua tangannya lalu mulai mengetik sesuatu di komputer itu.
"Hmm! Agak sulit! Ia menggunakan IP yang tidak terdaftar di negara kita. Baiklah kita mulai Brute Force dan pindai aktivitas dari tiga hari yang lalu," ujar Sanay. Tidak ada yang paham apa yang sedang ia katakan.
"Nah, ketemu! Sayangnya itu dari luar pulau. Provinsi paling utara," ujar Sanay. "Gila, itu terlalu jauh! Kau mau berbuat apa Alesse?" tanya Salsha.
"Kalian mau piknik? Mari ikut aku!" ujar Alesse kemudian mengajak mereka keluar dari rumah. Ia membawa ketiga temannya ke tanah lapang yang luas.
"Kenapa kau mengajak kami ke sini?" tanya Salsha keheranan. Alesse pun memberi sebuah isyarat. Seketika Jawara langsung berubah menjadi pesawat jet.
"Kita akan berlibur selama beberapa jam di luar pulau," ujar Alesse. "Eh Alesse! Bukankah ini terlalu mencolok? Orang-orang bisa melihatnya loh! Pesawat jet di tengah lapangan desa seperti ini," ujar Sanay.
"Tenang saja, orang-orang tidak akan melihat," ujar Alesse. Seketika itu pesawat jet berubah transparan.
"Wah! Ada benda seperti ini? Aku tidak percaya! Gimana caranya membuat benda ini tembus pandang? Seperti bunglon saja!" ujar Sandy penasaran.
"Tidak, ini tidak seperti bunglon! Bunglon hanya menyamarkan diri dengan berubah warna, ia tidak benar-benar tembus pandang. Sedangkan pesawat ini, ia membelokkan cahaya dari segala arah," ujar Alesse.
"Ya sudahlah, itu tidak terlalu penting untuk orang seperti kalian! Sebaiknya kita segera masuk ke dalam," ujar Alesse.
Akhirnya mereka pun masuk ke dalam, namun wajah mereka berubah kecewa. "Lah, apaan? kukira akan naik pesawat jet sungguhan. Ini seperti ruangan biasa!" ujar Sandy.
"Justru lebih nyaman seperti ini! Pesawat jet asli sangat sempit dan tidak bisa membuat kita bergerak bebas," ujar Alesse.
"Lah! Kalau benda seperti ini mana bisa terbang!" ujar Sandy kecewa. "Bisa kok, sekarang kita sedang terbang," ujar Alesse sambil memetik jari. Seketika lantai yang mereka pijak berubah tembus pandang. Sandy pun langsung berteriak ketakutan.
"Tenang saja, kalian tidak akan jatuh kok," ujar Alesse. "Wah! Indah sekali!" ujar Sanay sambil mengambil foto.
"Yakin kau biarkan anak itu mengambil foto seenaknya?" tanya Sandy. "Biarkan saja, kalaupun ia pamerkan di sosial media, orang-orang mungkin menganggapnya editan," ujar Alesse.
"Yah, ini terlalu cepat Alesse! Kita tidak bisa mengambil banyak gambar!" keluh Sanay. "Tujuanku adalah memberi pelajaran si penipu itu dan mengambil kembali uangku!" ujar Alesse.
"Jika kau punya benda seperti ini, seharusnya uang yang ia ambil tidak seberapa kan?" tanya Sandy.
"Tentu saja itu jumlah yang banyak! Aku benci membuang-buang uang! Apalagi karena hal konyol itu! Aku akan pastikan ia menderita dengan hal konyol juga!" ujar Alesse kesal, ia langsung tersenyum setelah berhenti di atap sebuah rumah.
"Kenapa Alesse?" tanya Salsha keheranan. "Akhirnya ketemu juga! Rumahnya tampak mewah, sepertinya ia penipu profesional!" ujar Alesse.
Beberapa saat kemudian seseorang keluar dari rumah mengenakan jas abu-abu sambil membawa tas.
"Hih! Dari penampilannya sudah jelas kalau dia penipu!" ujar Alesse geram. "Benarkah begitu? Barangkali ia kerja kantoran loh," ujar Sandy.
__ADS_1
"Mari kita lihat, apakah ia pergi ke kantor atau mengetuk pintu setiap rumah untuk menipu orang," ujar Sanay.
Akhirnya mereka turun di gang sempit, ketika tidak ada orang di sekitar. Mereka pun diam-diam mengikuti pria berjas abu-abu itu.
"Kalau dilihat-lihat, bukankah ia tampan?" tanya Salsha. "Cih! Wajah tampan seperti itu memang sempurna untuk penipu! Kau pikir orang-orang akan terperdaya ketika ditipu oleh orang buruk rupa? Tidak mungkinlah!" ujar Sandy.
"Tidak sopan! Contohnya Raya Stephen, meskipun ia tampan, tapi ia bukan penipu!" ujar Salsha.
"Tidak usah jauh-jauh, pakai nama Raya Stephen segala! Kakak Alesse pun juga tampan," ujar Sandy.
"Alex bukanlah kakak Alesse, melainkan adiknya," ujar Sanay. "Eh? Serius? Mana mungkin!" ujar Sandy dan Salsha serentak.
"Apa-apaan dengan reaksi kalian berdua ini? Iya, aku ini dua tahun lebih tua dari kalian! Kalian terkejut?" tanya Alesse.
"Jadi kakaknya yang awet muda sedangkan adiknya cepat tua? Pantas saja melihat pertumbuhan Alex yang tidak wajar itu membuatku merinding. Terkadang aku takut karena ada om-om di kelas kita," ujar Salsha.
"Oh jadi karena berwajah tua, kau tidak suka dengan Alex? Bukankah Raya Stephen lebih tua darinya?" tanya Sandy keheranan.
"Raya Stephen wajar memiliki wajah setua itu di usianya, sedangkan Alex..... Aku tidak bisa membayangkan seperti apa dia saat lulus SMA," ujar Salsha.
"Sudahlah bicaranya! Kalian membuatku kehilangan pria tadi!" ujar Alesse. "Meskipun begitu, Alesse akan tetap seperti ini ketika lulus SMA!" seru Sanay sambil memeluknya dari belakang.
"Eh?" Sandy dan Salsha terkejut saat Sanay memeluk Alesse tanpa pikir panjang. "Kau ini seperti ayahku saja! Badanmu berat tahu!" keluh Alesse.
"Sepertinya mereka biasa-biasa saja dalam situasi seperti itu," ujar Salsha sambil menggelengkan kepala. "Aku juga sependapat," ujar Sandy.
Mereka pun terus menguntit pria itu hingga ke sebuah gedung besar. "Kau salah besar Sanay! Dia tidak mengetuk pintu rumah orang-orang! Ia pergi ke kantor untuk bekerja! Sudah kuduga!" ujar Sandy.
"Nyalinya besar sekali! Lihatlah! Wajahnya penuh percaya diri sekali!" ujar Alesse sambil menunjukkan layar tablet.
"Tampan sekali, tapi senyumannya tampak jahat!" ujar Salsha. "Cih! Tampan dari mananya?" tanya Sandy. "Anak kecil diam!" ujar Salsha singkat dengan wajah sebalnya.
"Gimana kau bisa menunjukkan wajahnya di sini?" tanya Sandy. "Tentu saja aku menerbangkan drone tak kasat mata," ujar Alesse.
"Ayo kita periksa ke dalam!" seru Sanay. Drone yang Alesse terbangkan pun mengikuti pria itu. Tiba-tiba seorang wanita datang menghampiri pria itu.
"Hei, gimana pekerjaanmu kemarin? Apakah kau berhasil menipu orang yang memesan generator itu?" tanya wanita itu.
"Tentu saja! Aku sudah melakukan seperti langkah-langkah yang kau berikan," ujar pria itu. "Bodoh sekali! Kenapa ia memesan secara anonim segala? Jika kita menipunya, ia tidak akan bisa menuntut hal itu!" ujar wanita itu sambil tertawa.
"Whoa, drone itu dilengkapi dengan perekam suara juga? Kita bahkan bisa mendengar suara wanita itu dengan jelas," ujar Salsha. "Dih! Wajahmu menyeramkan sekali Alesse!" ujar Sandy.
"Ketemu! Akhirnya dalang aslinya ketemu! Akan kubuat kau hancur berkeping-keping!" ujar Alesse sambil tersenyum jahat.
"Dia wanita loh, kau harus hati-hati," ujar Sandy. "Memangnya aku peduli? Siapapun orangnya, entah anak kecil atau orang tua, wanita atau pria, jika ia mencoba mengakaliku, aku akan menghancurkan mereka!" ujar Alesse.
"Anak kecil juga? Bukankah terlalu kejam?" tanya Salsha. "Ya, anak kecil! Memangnya kenapa?" tanya Alesse dengan wajah menyeramkan.
"Anak kecil kan tidak tahu apa-apa," ujar Sandy agak takut untuk membantah Alesse. "Bukankah sudah kubilang? Jika ia mencoba mengakaliku, aku tetap memberinya pelajaran. Jika ia bisa mengakaliku, ia berarti bukan anak kecil biasa," ujar Alesse.
"Oh, jadi begitu maksudmu? Syukurlah," ujar Sandy kembali tenang. Sanay juga tidak menyangka bisa melihat wajah menyeramkan Alesse.
__ADS_1