
"Sanay! jangan terperdaya olehnya! Dialah yang membekukan Alesse! Tidak mungkin dia menyelamatkannya!" ujar Kaa.
"Yang benar adalah mereka memperdayamu. Sejak kapan manusia iblis bekerja sama dengan manusia biasa? Setelah mencapai apa yang mereka inginkan, mereka tidak akan peduli padamu lagi, seperti mereka yang tidak peduli pada anak malang yang membeku ini," ujar pria itu.
"Jangan dengarkan dia Sanay! Dia menipumu!" ujar Sandy. "Kau pasti akan lebih tahu siapa yang menipu siapa, mereka hanya hendak menyelamatkan manusia iblis yang suka membuat petaka, mereka tidak peduli dengan manusia biasa yang lemah seperti kita," ujar pria itu.
Sanay benar-benar dilema, yang ada dipikirannya adalah bagaimana caranya agar Alesse bisa diselamatkan, ia tidak peduli harus mengkhianati teman-temannya dan lain sebagainya demi menyelamatkan Alesse.
"Ayolah, kau bisa mengeluarkan petir untuk melumpuhkan mereka. Kalau pun mereka dibiarkan hidup, pada akhirnya mereka menjadi binatang-binatang buas yang merusak dunia ini," ujar pria itu.
"Jangan Sanay! Jangan lakukan itu! Percayalah pada kami!" ujar Salsha ikut membujuk.
Sanay benar-benar bingung harus berbuat apa. Saat itulah bongkahan es yang membungkus tubuh Alesse tiba-tiba mengeluarkan cahaya menyilaukan selama beberapa detik.
Setelah redup kembali, penampilan Alesse sudah berubah. Ia tidak lagi mengenakan Hoodie merah, melainkan jubah biru milik Aqua, bahkan mata dan rambutnya ikut berubah menjadi biru.
Saat itu, tongkat baseball yang ada di tangannya berubah menjadi busur es. Bongkahan es yang membungkus tubuhnya pun langsung pecah, ia berdiri tegak sambil memegang busurnya.
"Mu... mustahil! Bagaimana kau bisa hidup setelah terkurung dalam es?" tanya pria itu tidak percaya.
Alesse tidak menjawab, ia tetap berekspresi datar lalu mulai memposisikan dirinya sambil menarik tali busur, ia hendak membidik pria yang ada di hadapannya itu.
Sayangnya pria itu langsung mengendalikan air untuk menyerangnya, ia sempat menghindar, namun kaki kanannya hampir terpeleset.
"Sia-sia saja! Kau tidak akan bisa menyerangku di tempat seperti ini," ujar pria itu.
"Benarkah?" tanya Alesse dengan wajah datarnya. Ia mengaktifkan sepatu hokinya dan mulai menjaga keseimbangan.
"Sepatu apa itu? Kenapa ada pisau di bawahnya?" pria itu sempat keheranan. Alesse langsung meluncur dengan cepat menjauhi pria itu. Ia mencari sudut yang tepat untuk membidiknya.
__ADS_1
"Tidak akan kubiarkan!" ujar pria itu sambil meluncurkan beberapa es runcing ke arah Alesse.
Alesse dapat menghindarinya dengan mudah, gerakannya yang gesit disertai tubuhnya yang lentur membuat es runcing itu melesat ke udara kosong.
"Mustahil! Gerakan apa itu? Memangnya manusia bisa melakukan seperti itu?" Pria itu benar-benar tercengang.
"Tentu saja bisa, sebagian dari kami menyebutnya sebagai gerakan balet, namun gerakan ini juga bisa dijadikan sebagai seni beladiri," ujar Salsha sambil beranjak dari posisi jatuhnya dengan percaya diri.
"Hei, kalian semua! Kenapa diam saja? Cepat serang anak-anak kecil ini!" ujar pria itu kesal. Pada akhirnya mereka fokus menyerang Alesse.
Jawara mendeteksi mekanisme berbahaya yang muncul dari busur es yang dipegang Alesse. Ia segera melepaskan diri dari bongkahan es meskipun lengan kanannya sudah tidak berfungsi.
Ia langsung melesat dengan cepat, membawa Kaa, Sandy, Salsha, dan Sanay di punggungnya lalu pergi menjauh.
"Kalian semua sudah tamat," ujar Alesse tersenyum, membuat orang-orang yang melihatnya seketika terpana.
Anak panah itu langsung melesat ke arah pria tadi. Pria itu langsung bergeser untuk menghindar.
"Sia-sia bidikanmu nak!" ujar pria itu. "Yang kulakukan tidak pernah sia-sia," ujar Alesse dengan wajah datarnya, seketika wajah pria itu memucat. Ia pun sadar kalau setengah badannya sudah tertelan es yang terus tumbuh membesar seperti tanaman dalam waktu singkat.
Alesse segera naik ke atas benteng dan menyaksikan bagaimana bunga es raksasa itu menelan semua orang yang ada di bawah.
"Wah! Kau benar-benar luar biasa, Alesse! Kupikir kau akan mati!" seru Geni. "Kau siapa?" tanya Alesse dengan wajah datarnya.
"Ayolah! Jangan marah padaku! Aku benar-benar tidak tahu cara menyelamatkanmu dari es itu. Jangan pura-pura tidak mengenalku!" ujar Geni.
"Aku tidak berpura-pura, pertanyaanku serius. Kau siapa?" tanya Alesse sekali lagi. "Kau berbicara dengan siapa?" tanya Sandy keheranan.
Alesse pun menunjuk Geni, namun bagi orang lain ia hanya menunjuk udara kosong. "Siapa? Siapa yang kau ajak ngobrol?" tanya Salsha.
__ADS_1
"Remaja berambut merah ini, yang ada di hadapanku persis," ujar Alesse. "Tidak ada siapa-siapa di hadapanmu!" ujar Sanay.
"Loh? Kalian tidak bisa melihatnya?" tanya Alesse sambil menunjuk perut Geni, jemarinya langsung menembus perut Geni. Meskipun tidak terkejut, ia sedikit membuka matanya, membuat tatapan dinginnya lenyap.
"Ada Alesse? Kenapa kau terlihat seperti melihat hantu saja?" tanya Kaa. "Apanya yang melihat hantu? Ekspresinya tetap datar dan membosankan seperti itu kok," ujar Sandy.
"Sepertinya kalian tidak bisa melihatnya! Lalu, namaku bukan Alesse, namaku Aqua," ujar Alesse.
Teman-temannya langsung memasang wajah pucat, terutama Sanay. "Kau kenapa sih, Alesse? Tingkahmu aneh sekali!" ujar Salsha.
"Sepertinya gangguan kepribadiannya menjadi semakin parah!" ujar Sanay sambil menepuk dahi, ia pun menuntun Alesse.
"Sudahlah, Alesse! Tenang saja! Kau akan baik-baik saja bersama kami. Mari kita kembali ke Levy," ujar Sanay.
"Levy? Levy itu apa?" tanya Alesse keheranan. "Kau kenapa sih, Alesse? Aku tahu kau hampir mati membeku, tapi jangan bercanda!" ujar Salsha semakin kesal.
"Sudah kubilang, namaku bukan Alesse, namaku Aqua," ujar Alesse. "Baiklah, Aqua atau apalah itu, bisakah kau munculkan Levy? Kita semua harus pulang dan melaporkan ini pada Atlas! Kita juga harus mengungsikan orang-orang yang dikurung di sini," ujar Sandy.
"Aku tidak tahu apa itu Levy," ujar Alesse. "Sudahlah kita pulang dengan berjalan kaki saja! mungkin butuh waktu dua setengah hari," ujar Kaa.
Pada akhirnya mereka semua berjalan kaki sambil menggerutu. "Apa-apaan ini? Jalan kaki selama dua setengah hari? Kalian bercanda?" keluh Salsha.
"Mau gimana lagi? Sepertinya otak Alesse sedang bermasalah," ujar Sanay ikut kesal. "Sepertinya ia tidak peduli dengan percakapan kalian, lihatlah wajah datarnya," ujar Sandy sambil menunjuk wajah Alesse.
"Argh! Aku tidak ingin melihatnya!" ujar Salsha kesal. "Jangan diambil hati, Alesse. Banyak gadis yang tidak tahu berterima kasih,anggap saja ini cobaan untuk pria seperti kita," ujar Sandy.
"Cih!" Salsha langsung mencibir. "Aku tidak peduli dengan perkataan mereka, aku bukan Alesse," ujar Alesse.
"Kalau kau bukan Alesse, lalu di mna Alesse berada?" tanya Sandy. "Di alam bawah sadar," jawab Alesse. Mereka semua terdiam, mereka pun mulai menyadari kalau yang sedang mereka ajak bicara itu bukanlah Alesse, melainkan Aqua.
__ADS_1