
Air baru saja tumpah dari ember, namun secara mengejutkan kembali lagi ke tempat semula. Saat itulah Hendra memergoki istrinya sedang mengendalikan air.
"Oh, sayang! Kau baru bangun?" tanya Andin. Hendra tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sambil mengucek mata, ia pun menghampiri Andin.
"Sebaiknya kau tidak menggunakan pengendalian di dalam rumah. Bukankah aku sudah memperingatkan?" tanya Hendra.
"Anak-anak masih tidur, kupikir tidak ada masalah dengan itu," ujar Andin. "Kau pikir hal itu tidak akan bermasalah? Kau yakin? Lalu gimana dengan Alesse?" tanya Hendra, amarahnya mulai muncul, bahkan tiba-tiba bulu lebat muncul di sekujur tubuhnya.
"Hei! Kendalikan dirimu!" ujar Andin. "Aku sedang memperingatkanmu, sayang! Jangan sampai anak-anak menyadarinya! Terutama Alesse!" ujar Hendra.
"Dia bukan Alesse," ujar Andin murung. Hendra merasa bersalah karena menyebutkan nama itu sekali lagi. Akhirnya ia pun memeluknya untuk mencoba menenangkannya.
"Aku tahu ini pasti sangat berat bagimu, setidaknya ia masih menjaga tubuh Alesse tetap hidup," ujar Hendra. "Justru karena itu! Aku hampir saja menganggapnya sebagai Alesse! Aku hampir melupakan Alesse, aku hampir melupakan anakku sendiri," ujar Andin.
"Tenanglah, sayang! Ini bukan saatnya kita bersedih! Jangan sampai anak itu menyadari ada yang aneh dengan sikap kita berdua," ujar Hendra sambil melepas baju. Andin pun memeluknya dengan erat, ia mencoba menenangkan diri pada dada Hendra yang dipenuhi bulu harimau itu.
"Kenapa kita diberi tanggung jawab yang sangat besar setelah Alesse mati? Kenapa kita harus menjadi pengawas untuk anak itu?" keluh Andin.
"Kita tidak boleh membiarkannya hidup di lingkungan yang penuh kebencian, sayang. Jangan sampai ia tumbuh dan membuat kerusakan saat ia sudah dewasa," ujar Hendra.
"Aku bahkan sudah takut saat ia melarang kita masuk ke dalam kamarnya. Apa yang sebenarnya ia sembunyikan di dalam kamar itu? Aku sangat takut saat ia memergoki kita masuk ke dalam kamarnya, aku takut ia akan mengamuk dan membuat kekacauan. Aku takut anak itu menyadari sesuatu tentang kita berdua," ujar Andin.
"Kupikir ia belum sampai segitunya. Ia tampak tidak tertarik dengan kita berdua," ujar Hendra. "Atau mungkin..... ia sudah tahu kalau dia bukanlah Alesse Jawara? Banyak hal aneh yang menimpa dirinya, bahkan ia bisa berubah wujud menjadi orang lain, kupikir ia sudah menyadari sesuatu. Apalagi ia pernah bisa mendengar semua isi pikiran kita," ujar Andin.
"Itu..... Benar-benar masa yang paling melelahkan! Aku tidak tahu sampai kapan harus mengelabuinya," ujar Hendra.
"Kenapa ia bisa memiliki kemampuan seperti itu? Dan kenapa tiba-tiba kemampuan itu hilang?" tanya Andin.
"Sebenarnya itu adalah kemampuan anak kita, Andin! Itu adalah kemampuan Alesse, mungkin karena sekarang ia buknlah Alesse lagi, kemampuan itu mulai memudar," ujar Hendra.
__ADS_1
"Semoga saja ia tidak tumbuh menjadi sosok yang mengerikan seperti pendahulunya," ujar Andin. "Makanya, kita harus membuat ia hidup di tempat yang baik, jangan sampai sejarah sebelumnya terulang kembali," ujar Hendra.
"Bukankah kau yang membuatnya semakin buruk? Kenapa kau selalu menjahilinya? Apa yang akan terjadi bila ia benar-benar kesal?" tanya Andin.
"Justru biarkan dia tetap seperti itu, sayang! Biarkan dia tahu seperti apa rasanya kesal dan batasan-batasannya," ujar Hendra.
"Kau memperlakukannya seperti anakmu sendiri. Sangat natural sekali," ujar Andin. Hendra pun terdiam. "Memang kenyataannya tubuh itu adalah milik anak kita, sayang! Entah siapa yang ada di dalamnya, tubuh itu tetap anak kita. Toh ingatannya masih tetap ada meskipun samar-samar," ujar Hendra.
"Namun ia tetap berbeda dengan Alesse yang kukenal. Ia sangat misterius, Alesse yang dahulu sangatlah blak-blakan, ia tidak pernah bisa menyembunyikan isi hatinya," ujar Andin.
"Mungkin itu efek dari kemampuan membaca pikiran orang lain miliknya. Ia tidak menyadari kalau dirinya punya kemampuan itu, lalu ia berpikir bahwa mengutarakan semua isi hatinya adalah hal yang wajar," ujar Hendra.
Tak lama kemudian pintu dapur terbuka, hal itu membuat Andin terkejut, ia segera menutupi tubuh Hendra dengan taplak meja.
"Oh, Tesla? Ada apa?" tanya Andin. "Hm, maaf bu. aku masih belum terbiasa dengan waktu di sini? Apakah masih ada makanan?" tanya Tesla.
"Wah! Memasak? Boleh aku bantu?" tanya Tesla, ia tampak tertarik dengan masakan Indonesia.
"Boleh, tapi ini lebih rumit dari pada masakan tempatmu loh," ujar Andin sambil tersenyum ramah.
"Oh, iya! Tadi itu siapa?" tanya Tesla, ia heran dengan Hendra yang tiba-tiba pergi sambil menutupi tubuhnya menggunakan taplak meja.
"Oh, itu suamiku. Ia memang agak aneh orangnya, abaikan saja!" ujar Andin. "Kupikir Alex tidak terlalu aneh tingkah lakunya," ujar Tesla. "Dia pasti mirip denganku. Ngomong-ngomong, seberapa dekat kalian berdua? Aku tidak menyangka Alex akan membawa seseorang pulang ke sini," ujar Andin.
Tesla pun tertawa, pada akhirnya ia menceritakan semua hal tentang Alex di Amerika. Andin sendiri tidak menyangka kalau sifat anaknya begitu menarik hingga Tesla terus menempel padanya.
Tak lama kemudian Alesse pun datang dengan ekspressi datarnya. Ia mengambil beberapa sendok garam lalu kembali ke kamarnya.
"Kenapa Alesse lebih kecil dari Alex? Kudengar ia adalah kakak Alex. Tapi terlihat kebalikannya, " ujar Tesla. "Oh, itu.... ada sesuatu. Mungkin kapan-kapan kau bisa tanya Alex saja," ujar Andin.
__ADS_1
Setelah masakan itu jadi, Tesla tampak puas dengan hasil kerja kerasnya, ia langsung berlari ke kamar Alesse.
"Alex? Alex! Apakah kau di dalam?" tanya Tesla. Pintu pun terbuka sedangkan Alex tampak dipenuhi tanda tanya.
"Ada apa Tesla? Apa ini? Kok tampak bersemangat sekali! Aku merasakan firasat yang buruk," ujar Alex. "Aku baru saja selesai membuat makanan! Ayo kita makan bersama!" seru Tesla.
"Kau? Memasak? Tunggu dulu! Memangnya ini jam makan? Kenapa kau tiba-tiba memasak di jam segini?" tanya Alex keheranan.
"Ayolah! Tidak usah banyak tanya!" ujar Tesla, akhirnya Alex keluar dari kamar. Tesla pun tidak sengaja melihat isi dari kamar itu. Tampak sangat rapi dan kosong, bahkan ia tidak mendapati Alesse di sana.
"Bukankah kakakmu masuk ke kamar tadi? Kenapa tidak ada orang lagi di dalam?" tanya Tesla.
"Kupikir juga ia berada di dalam, ternyata tidak ada," jawab Alex, akhirnya mereka berdua mengabaikan kejanggalan itu dan pergi ke dapur.
Tesla terkejut saat tahu masakan yang ia buat sedang dicicipi oleh Hendra, ia tidak bisa marah karena pria itu adalah ayah Alex, ia mencoba menahannya namun aliran listrik membuat sebagian rambutnya mengembang ke atas.
"Eh? Tesla?" Alex juga terkejut saat mendapati gadis itu terus mengeluarkan aliran listrik di kepalanya.
Andin pun langsung menepis tangan Hendra yang tampak menikmati makanan itu. "Apa yang kau lakukan? Itu punya Tesla!" tegur Andin. "Eh? Benarkah? Ma... maaf aku tidak tahu. Rasanya sama saja," ujar Hendra.
"Heh? Benarkah?" Alex yang awalnya tidak terlalu tertarik pun akhirnya mencoba makanan itu tanpa ragu. "Wah! Benar sekali! Ini benar-benar enak!" ujar Alex, akhirnya Tesla pun bisa kembali tenang, ia justru merasa lega karena Alex berani mencicipi makanannya tanpa ragu.
Di sisi lain Andin langsung menyeret Hendra ke dalam kamar. "Gadis itu..... mengerikan sekali," ujar Hendra. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika ia tersengat listrik yang dihasilkan oleh gadis itu.
"Kenapa kau bodoh sekali? Apa yang ada di kepalamu sampai tanpa ragu memakannya?" tanya Andin. "Kupikir itu kau yang membuat," ujar Hendra.
"Sadarlah! Kita baru makan beberapa jam yang lalu! Jangan bikin aku malu di depan gadis itu! Kau ingin ia memandang keluarga Alex sangatlah buruk?" tanya Andin.
"Hmm, tapi ia benar-benar mengerikan. Aku tidak percaya Alex bisa menjinakkan gadis mengerikan seperti itu. Bahkan gadis itu lebih mengerikan daripada dirimu," ujar Hendra. "Apa?" Andin tampak benar-benar kesal, bahkan suaranya sampai terdengar hingga ke seluruh ruangan rumah. "Sst! Sadarlah! Jangan marah-marah! Gadis Bule itu masih di sini!" ujar Hendra.
__ADS_1