Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Biru


__ADS_3

Alesse menatap ke luar jendela kamarnya. Ia tiba-tiba ingin melakukan hal itu karena memikirkan Aqua yang selalu menatap jendela setiap kali ia berada di alam bawah sadar.


"Apa yang istimewa dari menatap pemandangan kosong ini?" tanyanya keheranan. "Kau sedang berbicara dengan siapa?" tanya Geni.


"Tidak usah dipikirkan, aku hanya berbicara sendiri," ujar Alesse. Ia kembali menyimak pemandangan dari balik jendela kamarnya.


Hari itu masih petang, warna langit masih tampak biru tua seperti laut. Berjam-jam menatap langit itu, Alesse tidak sadar tubuhnya perlahan berubah menjadi serba biru. Ia sepenuhnya menyerupai Aqua.


Tidak seperti sebelumnya, Alesse merasakan ingatan yang berangsur-angsur masuk ke dalam kepalanya, dan itu dapat ia terima dengan baik tidak seperti sebelumnya.


Namun semakin banyak ingatan yang masuk ke dalam kepalanya, ia merasa seolah-olah tubuhnya tenggelam dalam lautan.


Meskipun begitu, ia tampak pasrah membiarkan ingatan itu menguasai dirinya. Ia tidak peduli meskipun lupa akan jati dirinya.


Semakin lama semakin hening dan hampa. Biasanya ada suara bisikan atau perbincangan antara Rasya dan Geni, namun saat ini ia tidak bisa melihat dan mendengar keduanya.


Ia merasakan ada yang kurang dalam hidupnya, biasanya ada seseorang yang tiba-tiba memeluknya dari belakang, atau seseorang yang hanya sekedar banyak bertanya padanya, namun saat ini ia sendirian.


"Alesse? Alesse!" seseorang tiba-tiba menepuk bahunya. Alesse pun menoleh ke belakang dan mendapati Alex sedang tersenyum padanya.


"Siapa?" tanya Alesse. "Kau bercanda? Ini aku! Adikmu!" seru Alex. Alesse tampak terdiam sejenak karena setengah sadar.


"Oh, Alex... aku ingat," ujar Alesse, ia hendak kembali menatap jendela. "Ada apa? kenapa kau terus menatap jendela?" tanya Alex penasaran.


"Entahlah, aku juga tidak tahu. Secara tiba-tiba aku terduduk di sini dan enggan beranjak," jawab Alesse.


"Ibu bilang kalau kau sudah menatap jendela itu seharian. Apakah kau sedang menungguku?" tanya Alex.


"Tidak juga," ujar Alesse, ia pun berhenti menatap jendela lalu pergi ke ruang makan. Seharian ini juga ia belum memakan apapun sehingga merasa lapar.


"Alesse, sebaiknya kau lepaskan penutup kepalamu saat makan," ujar Alex sambil menyingkap mantel biru yang lusuh itu.


Seketika rambut biru Alesse terurai bersamaan dengan lepasnya penutup kepalanya itu.


Alex terkejut bukan main, ia tidak menyangka rambut Alesse sangat panjang melebihi bahu. Selain itu parasnya tampak berbeda dari biasanya.


Alex hanya bisa menelan ludah karena hampir mengira yang ada di hadapannya adalah seorang gadis.

__ADS_1


"A.... apakah bibirmu selalu semerah itu?" tanya Alex tiba-tiba, ia menyesal karena menannyakan hal itu dan berkali-kali menampar mulutnya sendiri.


Alesse tak terlalu peduli dengan pertanyaannya. Semua ingatan Aqua yang memenuhi kepalanya membuatnya merasa wajar jika ada seseorang yang menganggapnya sebagai perempuan.


"Ma... maaf, Alesse! Aku tidak bermaksud menanyakan itu. Apakah itu adalah trend masa kini?" tanya Alex. "Tidak masalah, lalu..... ini bukanlah trend. Aku juga tidak menginginkannya," ujar Alesse.


Setelah selesai makan, ia pun beranjak dari kursinya tanpa sepatah katapun seperti biasanya. Ia kembali ke kamarnya untuk menatap jendela.


Saat itulah Alex mencoba mengetuk pintu kamar. Ia berharap Alesse mengizinkannya masuk untuk mengobrol.


"Masuk saja, tidak ada yang istimewa dari kamarku," ujar Alesse. "Aku.... aku ingin bercerita tentang hidupku di Amerika. duduklah, Alesse!" pinta Alex.


Alesse pun berbalik badan lalu menatap adiknya itu agak lama, membuat Alex merasa tidak nyaman.


"Ada apa, Alesse? Apakah aku salah? Atau aku seharusnya tidak duduk di sini?" tanya Alex kemudian segera beranjak dari tempat duduknya.


"Tidak ada yang salah kok, duduklah! Kau benar-benar luar biasa," ujar Alesse.


"Luar biasa? Maksudnya?" tanya Alex penasaran. "Bahkan kedua orang tuamu sudah menyerah untuk mendekatiku, tapi kau masih gigih untuk menceritakan banyak hal padaku. Padahal selama ini aku tidak pernah menceritakan apapun tentang hidupku padamu," ujar Alesse.


"Itu tidak benar, kok! Nyatanya barusan kau bercerita padaku. Kalau yang kau katakan itu bukan cerita, lalu apa?" tanya Alex sambil tersenyum ramah.


"A..... apakah itu pujian?" tanya Alex. "Tentu saja. Sepertinya baru kali ini kau mendengar pujian dari kakakmu. Hidupmu penuh dengan keragaman warna, sayang sekali karena memiliki kakak dengan hidup yang berwarna biru nan suram ini," ujar Alesse.


"Ada apa dengan cara bicaramu, Alesse? Kau terdengar seperti orang zaman dahulu saja pakai perumpamaan yang sulit," ujar Alex keheranan.


"Mungkin saja perkataanmu benar adanya," ujar Alesse. "Apakah kau adalah salah satu kepribadian Alesse yang lainnya?" tanya Alex. Alesse pun terdiam. "Dari mana kau tahu tentang kepribadian lain yang ada di tubuhku?" tanya Alesse.


"Bukankah kau sudah menunjukkan itu sejak lama sekali? Kenapa kau balik bertanya?" tanya alex keheranan.


"Benarkah? Entah kenapa aku lupa tentang hal itu," ujar Alesse. Ia pun akhirnya menjauh dari jendela dan duduk di depan meja belajarnya.


"Dari mana asalnya piano itu?" tanya Alex. Ia baru menyadarinya saat Alesse duduk di situ. Ia tidak menyangka Alesse punya ketertarikan pada musik.


"Aku membuatnya," jawab Alesse. "Kau? Membuat alat musik? Kau membuat ini sendirian?" tanya Alex tidak percaya.


"Memangnya siapa lagi yang bisa kumintai bantuan untuk membuatnya? Diamlah dahulu," ujar Alesse.

__ADS_1


Ia pun mulai meletakkan jari-jarinya di atas papan kunci, membiarkannya menari sepuas mereka.


Nada-nada yang damai dan lembut pun keluar darinya, membuat Alex merasa tenang, padahal sebelumnya ia merasa tegang karena suasana dingin yang Alesse buat.


Musik yang tenang dan terasa kesepian itu menggema di seluruh bagian rumah karena pintu kamarnya terbuka.


Hendra dan Andin pun penasaran, mereka segera memeriksa dari mana asalnya musik yang menenangkan itu. Saat itulah mereka melihat dua bersaudara itu sedang berada dalam satu ruangan.


Salah satunya memainkan piano sedangkan yang lainnya tampak menikmatinya. Hendra dan Andin pun merasa tenang melihat pemandangan itu. Mereka tidak menyangka kedua anak mereka masih bisa akrab meskipun Alesse sangat tertutup.


Karena tidak ingin mengganggu keduanya, mereka pun segera pergi menjauh.


Tak lama kemudian Alesse menyelesaikan musiknya, membuat Alex segera beranjak untuk memujinya.


"Benar-benar luar biasa! Dari mana kau mempelajari lagu itu? Siapa yang membuatnya?" tanya Alex. "Aku yang membuatnya," jawab Alesse singkat.


"Whoa! Benarkah? Ini benar-benar hebat! Apa yang membuatmu terinspirasi hingga tercipta lagu ini? Ada lagu rujukan lainnya?" tanya Alex.


"Tidak ada, aku hanya asal memainkannya setelah berjam-jam menatap jendela. Aku mencoba menggambarkan perasaanku saat menatap langit dari jendela. Hidupku begitu suram hingga semuanya terasa berwarna biru," ujar Alesse.


"Tu... tunggu dulu! Warna matamu juga biru! Apa ini? Kau memakai lensa kontak? Mungkin saja itu yang membuat penglihatanmu jadi biru! Sebaiknya lepaskan saja," ujar Alex.


"Tidak masalah, aku yang ingin merasakan ini lebih lama," ujar Alesse. "Jadi, jika kau yang membuat lagu itu, apakah kau sudah menamainya?" tanya Alex.


"Nama? Untuk apa? Aku tidak berniat mempublikasinya, bahkan mungkin ini terakhir kali aku memainkannya," ujar Alesse.


"Ayolah, setidaknya berilah sebuah nama pada karya yang luar biasa ini! Siapa tahu kau akan memainkannya lagi untuk kekasihmu, anak-anakmu, atau cucumu di masa depan," ujar Alex.


"Masa depan? Hidupmu pasti cerah sekali sampai membicarakan masa depan. Baiklah, kuberi nama..... Aqua saja," ujar Alesse.


"Aqua? Kenapa?" tanya Alex. "Seperti danau yang tenang dan kesepian serta warna biru dari airnya. Kurasa sudah cukup untuk menjadikannya sebagai alasan. Aku tidak pandai memberikan nama," ujar Alesse.


"Kukira kau akan memberikannya nama dengan namamu sendiri seperti Alesse atau Jawara. Kudengar para ilmuwan juga menamakan sesuatu yang mereka temukan dengan nama mereka," ujar Alex.


"Yeah, Aqua saja. Kupikir itu juga sesuai dengan apa yang kau dengar," ujar Alesse. Sebenarnya ia kepikiran dengan Aqua sehingga menjadikannya sebagai nama untuk lagunya itu.


"Hmm, Aqua ya? Semoga saja aku dapat mendengarkannya lagi. Kupikir itu akan sangat luar biasa mendebarkan," ujar Alex. "Kenapa? Kupkir ini hanyalah lagu yang suram dan membosankan," ujar Alesse.

__ADS_1


"Kata siapa? Itu sangat menenangkan hati! Lalu, karena kau tampak akan jarang memainkannya, kupikir aku tidak akan bosan jika mendengar lagu itu lagi," ujar Alex.


__ADS_2