Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Menggantikan Alesse


__ADS_3

Setelah berbincang-bincang, akhirnya Kaa mengikuti mereka berempat ke gubuk. Seketika langit redup pun berubah terang benderang.


"Dingin sekali!" ujar Kaa. "Tentu saja! Kita berada di tengah-tengah aliran sungai," ujar Sandy.


"Mana mungkin ia sadar, lihat! Kakinya bahkan melayang di udara," ujar Sanay. "Aku tidak terlalu suka menapakkan kakiku di tanah, itu membuat kulit kakiku semakin tebal," ujar Kaa.


"Aneh sekali! Bukankah itu wajar? Kita setiap hari berjalan dengan kaki. Bila perlu, gunakan alas kaki agar tidak cepat menebal," ujar Salsha.


"Yeah, bagi kalian mungkin biasa, tapi bagi ras Vey ini tidaklah biasa. Kami biasa terbang dengan sayap kami ketika bepergian," ujar Kaa.


"Sebaiknya jangan kau lakukan itu di sini, atau orang-orang akan memburumu dan menjualmu ke kebun binatang," ujar Sanay.


"Kebun binatang itu apa?" tanya Kaa. "Bukan apa-apa, aku malas menjelaskannya. Pokoknya untuk hari ini, kau hanya perlu diam di dalam kamar Alesse! Jangan melakukan hal-hal yang mencurigakan! Jangan gunakan pengendalianmu!" ujar Sanay. Kaa hanya mengangguk dengan wajah polosnya.


Akhirnya ia pun masuk ke dalam rumah lewat pintu depan, sedangkan Probe menyelinap lewat jendela kamar.


"Oh? Alesse! Akhirnya kau pulang juga! Jarang-jarang melihatmu di luar kamar selain saat bersekolah," ujar Alex.


Kaa memandangi tubuh Alex dari atas hingga ke bawah. "Apa yang dilakukan ras manusia setengah binatang di sini?" tanya Kaa keheranan.


"Kejam sekali! Kenapa kau menyebutku begitu?" tanya Alex sambil merangkul bahu Kaa karena gemas. Badannya yang kecil membuatnya ingin melemparnya.


Kaa kebingungan, ia pun masuk ke dalam kamar yang salah. "Bau apa ini? Aneh sekali! Aku jadi teringat Raya Stephen! Ataukah ini ciri manusia setengah binatang?" Kaa keheranan.


"Kenapa sejak tadi kau menyebutku setengah binatang? Biasa saja lah! Namaku Alex, bukan manusia binatang!" ujar Alex.


Kaa mengabaikannya, ia pun masuk ke dalam kamar Alesse lalu terdiam sejenak. "Kamar yang bagus! Walaupun yang tadi terlihat sangat luar biasa, yang satu ini benar-benar hebat! Bagaimana caranya ia menata benda-benda hingga tampak sejajar?" Kaa penasaran sambil menyentuh salah satu barang, saat itu juga beberapa barang lainnya terjatuh berserakan.


"Aduh! Bagaimana ini? Aku tidak tahu apa yang terjadi!" ujar Kaa panik sambil memungut kembali barang-barang yang berserakan itu.


Alex pun masuk ke dalam kamar, membantunya memungut barang-barang itu dan meletakkannya kembali di meja.


"Oh, terima kasih," ujar Kaa. Alex pun berubah heran. "Aneh sekali! Biasanya kau akan marah jika aku mengintip kamarmu, sekarang bahkan masuk ke dalam saja kau tidak marah sama sekali," ujar Alex.

__ADS_1


"Hmm! Kalau begitu, apakah aku harus marah sekarang? Bolehkah?" tanya Kaa. "Tidak! Tidak! Tidak perlu, aku akan segera keluar sekarang," ujar Alex kemudian pergi terburu-buru.


"Aneh sekali anak itu! Sepertinya Si Alesse ini memiliki kepribadian yang buruk!" Kaa menyimpulkan. Ia pun membaringkan diri di kasur.


"Empuk sekali! Kira-kira kapan terakhir kali terbaring di kasur ini? sepuluh? atau dua puluh tahun yang lalu? Di Nova bahkan tidak memiliki udara sesegar ini," ujar Kaa kemudian tertidur lelap.


Keesokan harinya, Kaa pun terbangun keheranan. "Apa ini? Empuk sekali! Lembut juga seperti bulu kucing! Tapi kenapa benda ini terus bergerak?" Kaa keheranan, ia tidak sadar sudah berada di atas dada Alex.


"Sepertinya kebiasaan lamamu muncul lagi," ujar Alex sebal. Kaa pun mencoba mengingat-ingat kejadian semalam. Setelah pergi ke kamar mandi, ia masuk ke dalam kamar yang salah dan langsung terbaring di atas dada Alex.


"Sepertinya aku sedang tidak waras tadi malam," ujar Kaa kemudian menjauh dari Alex. "Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Alex. "Kau pikir wajar kah pria tidur di atas pria seperti itu?" tanya Kaa.


"Memangnya selama ini kau anggap aku pria? Kau hanya menganggapku sebagai kasur," ujar Alex. "Heh? Begitu kah? Anak bernama Alesse ini memang berkepribadian buruk!" ujar Kaa dengan suara pelan.


Mereka berdua pun langsung persiapan berangkat sekolah. "Alesse! Kenapa kau lama sekali?" tanya Alex keheranan.


Kaa kebingungan harus mengambil buku apa. Ia tidak mengerti sama sekali apa yang sedang ia lakukan sekarang. Alex pun masuk ke dalam kamar.


Ia pun langsung mengambilkan buku mata pelajaran yang ada di rak itu dan memasukkannya ke dalam tas Alesse.


"Ayo berangkat! Aku akan menggendongmu," ujar Alex. Tanpa berpikir panjang, Kaa langsung naik ke atas punggung Alex.


"Dua hari ini kau benar-benar aneh! Apakah kepalamu terbentur sesuatu?" tanya Alex. "Tidak, kepalaku baik-baik saja," ujar Kaa.


"Tidak tahu cara memakai sabuk, tidak bisa memakai dasi, tidak tahu jadwal pelajaran hari ini, dan bahkan mau naik ke atas punggungku. Kau benar-benar berubah dengan cepat! Apakah karena terlalu banyak pikiran di kepalamu hingga menjadi gila seperti ini?" tanya Alex.


"Tidak, aku baik-baik saja, tidak gila," ujar Kaa. Akhirnya mereka berdua sampai di depan gerbang sekolah.


"Ya ampun! Kau lupa memakai sepatu? Pantas saja kau naik ke punggungku tanpa pikir panjang!" Alex menepuk dahi. Ia bingung harus berbuat apa. Lima menit lagi bel berbunyi, namun Alex tidak tahu harus bagaimana.


"Meskipun aku lari, tidak akan sempat kembali ke sini dalam lima menit!" ujar Alex. Kaa pun mencoba berpikir. "Baiklah, kau masuk duluan saja," ujar Kaa.


"Loh? Kau gimana? Mau ambil sepatu? Naik angkot pun tidak akan secepat itu!" ujar Alex. "Sudahlah, masuk saja," ujar Kaa.

__ADS_1


Akhirnya Alex pun langsung masuk ke dalam kelas. Kaa pun mencoba pergi ke gang sepi. Saat itulah ia menggunakan pengendaliannya. Ia pun melangkahkan kakinya ke depan, seketika tubuhnya meluncur dengan cepat karena angin yang terus mendorong telapak kakinya.


Ia pun sampai di rumah dalam puluhan detik. Setelah mengambil sepatu, ia meluncur kembali ke sekolah.


Sesampainya di sana, ia kebingungan. Ia tidak tahu kelas mana yang harus ia masuki. Sandy, Salsha, dan Sanay yang melihatnya tak beralas kaki pun langsung menghampirinya.


"Kenapa kau membawa sepatu tapi tidak memakainya?" tanya Sanay keheranan. "Maaf, aku tidak tahu cara memakainya, ini terlalu sempit," ujar Kaa. Akhirnya Sandy pun memakaikan sepatu itu padanya.


"Hei! Apa yang kalian bertiga lakukan?" Alex muncul dengan wajah harimau yang sedang murka.


"Alesse, bukankah kubilang untuk hati-hati? Jangan dekat-dekat mereka! Kau bisa dirundung terus-menerus jika begini!" ujar Alex kemudian menarik lengan Kaa dengan kasar. Kaa pun terkejut seketika, ia belum siap ditarik seperti itu hingga kepalanya tersentak.


"Aduh!" ujarnya secara spontan. "Kenapa? Apakah itu sakit? Bagian mana? Maaf, aku terlalu kuat menarik lenganmu! Apakah ada yang terluka? Perlukah kita ke UKS?" tanya Alex dengan wajah khawatir.


Sandy, Salsha, dan Sanay menyaksikan hal itu. "Sepertinya memberitahu Alex bahwa Alesse menghilang bukanlah hal yang tepat," ujar Salsha.


"Benar sekali! Orang pertama yang akan kehilangan adalah dia. Ia sangat over protektif terhadap kakaknya sendiri," ujar Sandy.


"Nah, sudah kubilang kan? Ini akan menjadi rumit jika kita melaporkannya. Aku tahu tindakan kita ini kurang dewasa, tapi mau gimana lagi?" ujar Sanay. Akhirnya mereka pun masuk ke dalam kelas untuk mengikuti pelajaran.


Setelah pulang sekolah, mereka berempat kembali berkumpul. Kaa tampak panik saat baru sampai di depan sekolah.


"Ada apa Kaa? Kau terlihat seperti baru dikejar-kejar pencuri," ujar Sanay. "Si Probe! Dia tidak bergerak sama sekali! Bahkan setelah kutampar beberapa kali, ia tetap tidak bergerak!" ujar Kaa.


"Dia kan robot, sekarang mungkin sedang tidak aktif karena perannya sudah digantikan olehmu," ujar Sanay.


Akhirnya Kaa pun bisa duduk dengan tenang. "Aku tidak mengerti watak anak yang bernama Alesse ini! Bukankah terbalik? Kupikir Alesse adalah adiknya dan Alex adalah kakaknya," ujar Kaa.


"Memang terlihat seperti itu jika kau yang menghadapi Alex, ia terlalu banyak mengintimidasi. Jika ia berhadapan dengan Alesse yang asli, kita bisa lihat langsung siapa yang menjadi adik dan siapa yang menjadi kakak," ujar Sanay.


"Bahkan di mata Alesse pun kami bertiga hanyalah anak kecil yang suka bermain di sekitarnya. Ia tidak pernah terbawa suasana meskipun terkadang kami melakukan hal konyol, tertawa, atau bahkan membuatnya marah. Ekspresinya lebih banyak datar, dan kadang bersikap mengalah," ujar Sandy.


"Hmm? Begitu kah? Aku jadi semakin ingin bertemu dengan anak itu," ujar Kaa. "Kami juga berharap ia segera kembali ke sini, bergabung dengan kami lagi," ujar Salsha.

__ADS_1


__ADS_2