Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Amerika


__ADS_3

"Hei dude! Tubuhmu semakin besar saja, mau coba berlatih denganku?" tanya Ray. "Aku tidak mungkin bisa menang melawan Elementalist pengendali enam elemental sekaligus," ujar Alex.


"Wah, caramu bicara sudah lancar yah, kau sudah tampak dewasa dan keren! Aku suka pria yang seperti itu," ujar Ray sambil menyolek dada Alex.


"Sst! Dia ini tidak waras! Bukankah dari dulu sudah kubilang? Jangan dekat-dekat! Kau tahu julukannya apa di Guardian?" tanya Tesla.


"Apa memangnya?" tanya Alex penasaran. "Alpha mata keranjang," ujar Tesla. "Kenapa ia dijuluki seperti itu?" tanya Alex. "Karena ia suka menggoda orang yang memiliki rupa bagus tanpa pandang bulu! Entah pria atau wanita, semua ia goda!" ujar Tesla.


"Dih! Benarkah?" Alex langsung merinding. "Hei! Hei! Kenap kalian saling berbisik? Gimana jika aku hanya menggunakan satu elemental saja? Sama sepertimu, pengendalian Alam! Maukah kau berlatih denganku? Kita cukup bertarung saja hingga salah satu di antara kita menyerah!" ujar Ray.


"Maaf sekali mengganggu pembicaraan ini, Alex adalah milikku! Sebaiknya kau jangan macam-macam!" ujar Tesla menengahi mereka berdua, ia langsung menarik lengan Alex, mengajaknya pergi menjauh dari Ray.


"Hei! Apa maksudmu? Sejak kapan aku milikmu? Aku bukan milik siapapun!" ujar Alex. "Sudahlah diam saja! Yang penting kau jangan sampai terpancing dengan kakakku itu," ujar Tesla.


"Loh? Kenapa?" Alex keheranan. "Aku jadi susah mengobrol denganmu jika kau berurusan dengannya!" jawab Tesla kesal. "Oh, begitu? Ba... baiklah!" Akhirnya Alex menurutinya. Tesla membawanya ke atap lalu bersandar di pagar pembatas sambil melihat pemandangan kota sore itu.


"Bagaimana perasaanmu setelah beberapa bulan di sini? Sudah mulai terbiasa?" tanya Tesla. "Sudah, ini semua berkatmu, aku tidak tahu harus berbuat apa menghadapi orang-orang itu. Apalagi para wanita yang terus menatapku dari kejauhan, mereka sangat menggangguku," ujar Alex.


"Yeah, mau bagaimana lagi, kita adalah teman! Jadi aku membantumu," ujar Tesla. "Jadi karena kita teman yah?" Alex langsung tersenyum sambil menatap langit.


"Kenapa memangnya?" tanya Tesla penasaran karena Alex tersenyum. "Seperti kakakku, ia membantuku tanpa alasan khusus, ia hanya bilang bahwa ia adalah kakakku jadi wajar untuk membantu," jawab Alex.


"Sebenarnya kakakmu seperti apa sih? Kenapa kau membandingkannya denganku?" Tesla penasaran. "Kakakku itu.... jenius, mungkin. Pokoknya tidak bisa ditebak orangnya. Terkadang kesal, tertawa. Terkadang kedua-duanya di saat yang bersamaan. Aku bahkan tidak tahu cara membantunya, seolah tidak ada yang menyusahkan baginya. Ia tidak pernah terlihat bermasalah di hadapanku," ujar Alex.


"Heh? Beda jauh lah! Aku tidak mungkin sama dengan kakakmu! Aku ini feminim, tidak seperti sifat kakakmu yang kau sebutkan tadi. Sepertinya ia orang yang keras," ujar Tesla.


"Seperti ini kau sebut keras?" tanya Alex sambil menunjukkan foto Alesse, ia mendapatkan foto itu ketika kebetulan melihat Alesse tersenyum.


"Ini kakakmu? Perempuan? Aneh sekali caramu memfoto kakakmu ini! Jangan-jangan kau mengambil gambarnya diam-diam? Mencurigakan!" ujar Tesla sambil menatap Alex dengan ekspresi miris.


"Bukan! Aku memang diam-diam mengambil gambar. Melihatnya tersenyum adalah hal yang langka. Ayah dan ibuku mungkin hanya sekali atau dua kali saja pernah melihatnya tersenyum seperti ini. Lalu... dia ini laki-laki," ujar Alex.


"Eh? Laki-laki? Sekecil ini? Lalu jarang tersenyum? Wajah semanis ini adalah kakak laki-lakimu? Tapi bukannya aku tertarik dengannya yah! Wajahnya sangat mulus dan manis seperti seorang gadis," ujar Tesla.


"Orang-orang juga berpikir begitu, bahkan di sekolah kami dulu, aku dianggap sebagai kakaknya," ujar Alex.


"Tentu saja! Tapi jika dilihat dari kepribadiannya, mungkin akan terlihat jelas siapa yang adik dan siapa yang kakak! Karena kau cengeng sekali!" ujar Tesla tertawa.


"Aku tidak cengeng!" Alex membantah. "Ya ya ya! Terserah kau," ujar Tesla. Alex hanya bisa memalingkan wajahnya karena malu.

__ADS_1


Setelah langit tampak akan redup, mereka pun kembali ke asrama. Alex masih mencoba melatih beberapa otot tubuhnya sebelum matahari benar-benar tenggelam, ia merasa perlu berusaha lebih keras agar dapat menyaingi kakaknya yang ia bangga-banggakan itu.


"Kau terlalu serius, apakah ada yang memicumu melakukan hal itu?" Suara seorang pria terdengar, membuat Alex terkejut.


"Ray? Kenap kau ada di kamarku?" Alex langsung menutupi tubuhnya dengan handuk. "Kenap kau sangat waspada sekali? Tenang saja, aku tidak berbuat yang aneh-aneh kok," ujar Ray kemudian duduk di kursi.


"Jadi, untuk apa kau berlatih keras seperti tadi? Apa yang Tesla katakan padamu?" tanya Ray.


"Bukan apa-apa kok, aku hanya teringat dengan kakakku yang jenius dan selalu membantuku. Karena otakku ini tidak terlalu encer, kupikir aku bisa menyamainya dengan melatih ototku, setidaknya aku bisa melindunginya jika ia dalam bahaya," ujar Alex.


"Heh? Begitu yah? Kakak yang menarik! Jika kau berpikiran untuk melindunginya, berarti ia bukan Elementalist? Apakah dia seorang wanita? berapa usianya?" tanya Ray.


"Tidak, dia laki-laki," ujar Alex. "Oh, laki-laki? Aku tidak tertarik dengan pria yang lemah," ujar Ray kecewa.


"Jadi? Apakah kau menerima tantanganku? Malam ini kita bisa berlatih! Kau bisa belajar beberapa hal tentang bertarung dariku," ujar Ray.


"Baiklah, jika ini bisa membuatku semakin kuat, akan kulakukan!" ujar Alex. Akhirnya mereka pun pergi ke tanah lapang, di saat penghuni asrama lainnya sedang asyik bersenang-senang menjelajahi kota.


"Mari kita lakukan! Kita bisa mulai dengan ini!" Ray membuka bajunya, seketika bulu lebat muncul dari seluruh tubuhnya. Badannya juga bertambah besar sedangkan rahang mulutnya semakin memanjang ke depan. Ia sempurna menjadi manusia setengah serigala.


"Manusia serigala? Werewolf?" Alex terkejut. "Bukan! Manusia serigala ada sendiri, bentuknya tidak seperti ini! Werewolf lebih mengerikan! Sedangkan aku..... bukankah aku semakin gagah dengan wajah ini?" tanya Ray sambil tersenyum.


"Entahlah, bukan aku yang bisa menentukan hal itu," ujar Alex sambil pasang kuda-kuda. "Loh? Kau tidak berubah?" tanya Ray keheranan.


"Hmm! Sepertinya darah manusia setengah binatangmu lebih mendominasi. Apakah kau lahir dalam keadaan setengah binatang juga?" tanya Ray.


"Yeah begitulah," ujar Alex. "Kalau begitu jika kau berubah sewaktu-waktu, itu tidak dapat dihindari. Tapi aku bisa membuatmu berubah menjadi setengah binatang dengan kesadaranmu sendiri, kau bahkan bisa kembali normal dengan keinginanmu sendiri saat itu juga. Tapi tidak untuk perubahan yang terjadi secara tidak sengaja, kau tidak bisa kembali menjadi manusia sesukamu jika perubahan itu terjadi dengan sendirinya," ujar Ray.


"Tidak masalah! Setidaknya aku bisa memanfaatkan kemampuanku dengan baik bukan hanya waktu-waktu tertentu saja! Ajari aku!" seru Alex.


"Baiklah! Sepertinya ini akan menjadi malam yang panjang," ujar Ray sambil tersenyum. "Jadi sangat aneh ketika mendengar perkataan itu darimu," ujar Alex.


"Ehm, kau masih ingat seperti apa sensasinya saat berubah kan?" tanya Ray. "Masih, awalnya terasa sangat pegal di seluruh tubuh, lalu perasaan hangat yang tiba-tiba muncul karena bulu-bulu lebat itu tiba-tiba keluar.


"Nah, bayangkan saja perasaan itu, seolah-olah benar-benar terjadi," ujar Ray. "Bayangkan seperti apa?" tanya Alex, secara tidak sadar, tiba-tiba tubuhnya mulai terasa pegal.


"Nah! Seperti itu!" ujar Ray. "Cih! Seharusnya kau bilang kalau sesederhana ini!" ujar Alex panik, ia segera melepaskan bajunya sebelum robek.


"Pemandangan erotis macam apa ini? Kau melepas baju tanpa ragu. Jantan sekali," ujar Ray. "Bajuku bisa robek! Lebih aneh lagi jika aku pulang dengan baju tidak layak pakai! Lagian kau juga melepaskan bajumu tadi!" ujar Alex kesal. Pembicaraan Ray selalu mengarah ke hal-hal yang vulgar. Alex pun tertawa.

__ADS_1


"Sepertinya kau masih belum dewasa juga yah!" ujar Ray. "Apaan?" tanya Alex keheranan. "Kau tahu? Sebenarnya Tesla sangat menyukaimu! Pria bodoh mana yang tidak menyadari hal itu? Hanya kau!" ujar Ray.


"Tesla? Menyukaiku?" Wajah Alex langsung memerah. "Masih tidak sadar juga? Kalau begitu aku akan menyadarkanmu! Dengan pukulan tentunya," ujar Ray tersenyum. Ia tidak sabar ingin memulai pertandingan ini.


Akhirnya Alex pun berwaspada, ia langsung mengambil sikap kuda-kuda dengan kepalan tangan di depan wajahnya.


"Sudah siap?" tanya Ray. "Sudah!" ujar Alex serius. Akhirnya Ray mulai menghentakkan kakinya ke tanah. Saat itu juga ia langsung terlempar maju ke arah Alex dengan kepalan tangannya.


Alex terkejut bukan main, pria itu mengayunkan tinju ke arah wajahnya dengan sempurna. Akhirnya Alex pun menghindar.


"Heh? Dihindari? Membosankan sekali!" ujar Ray. "Hanya orang bodoh yang menerima hal itu!" ujar Alex kesal.


"Tentu saja tidak! Kau tahu kenapa regenerasi Elementalist Alam berkali-kali lebih cepat dari pada manusia biasa? Jika kau menghindari serangan maka kemampuan regenerasi itu tidak berguna," ujar Ray.


"Lalu apa yang harus kulakukan?" tanya Alex. "Menahan rasa sakit yang teramat sangat dengan lapang dada! Setelah itu berikan serangan yang setimpal pada lawan," ujar Ray sambil menyeringai lebar.


Ia langsung menyerang tepat saat Alex lengah. Kali ini ia mencengkeram wajah Alex lalu membantingnya ke tanah. Wajah Alex langsung berdarah seketika.


"Bagaimana? Sudah paham?" tanya Ray. Alex mencoba bangkit, namun Ray membenturkan wajah Alex ke tanah sekali lagi.


"Aduh! Sayang sekali wajah tampanmu remuk di tempat yang rendah! Apakah kau terima? Jika tidak, lakukan sesuatu!" ujar Ray tegas.


Alex berusaha untuk berdiri, namun tetap tidak bisa. Pada akhirnya Ray terus membanting wajahnya hingga belasan kali.


Alex benar-benar tidak tahan dengan rasa sakit itu. Kepalanya pusing disertai ngilu yang ditimbulkan karena membentur tanah keras. Ia sempat lemas dan pasrah.


"Loh? Cuma segini?" Ray tampak kecewa, sekali lagi ia membanting wajah Alex hingga beberapa giginya lepas.


"Buset! Orang gila macam apa dia ini? Sakit sekali! Gigiku rontok! Aku tidak bisa berbuat apapun! Aku sudah kehilangan kekuatanku!" ujar Alex dalam hati.


Meskipun begitu, Ray tetap membenturkannya ke tanah, bahkan hingga Alex kesulitan bernafas. "Kalau seperti ini aku akan terus tersiksa! Aku mungkin akan mati karena tidak bisa bernafas!" Pikiran Alex kembali jernih. Ia tahu tidak bisa diam saja saat pria itu terus membenturkan wajahnya.


"Ayo coba pikirkan! Apa yang akan dilakukan Alesse di saat seperti ini?" Alex mencoba menahan rasa sakit sembari berpikir.


"Ini mustahil! Aku terus merasakan sakit meskipun mencoba berpikir! Pikiranku sangat terganggu!" pikirnya dengan kesal.


Saat itulah rasa sakitnya tiba-tiba menghilang. "Loh? Ada apa ini? Aku tidak merasakan sakit lagi! Tapi rasanya seluruh tubuhku pegal! Eh, ini bukan pegal! Ini seperti kesemutan! Tapi mungkin situasi ini bisa membuatku berpikir lebih baik!" seru Alex dalam hati.


Akhirnya ia menemukan cara agar kepalanya terlepas dari cengkeraman Ray. Ia pun mengayunkan tangannya yang masih bisa bergerak secara acak, tujuannya adalah mencengkeram apa yang ada di depannya. Ia hendak menyeret kaki Ray, sayangnya ia tidak dapat melakukan itu karena Ray tiba-tiba melompat menjauh.

__ADS_1


"Kau cabul? Apa yang coba kau raih?" tanya Ray sambil menutupi selangkangannya. "Aku tidak secabul itu! Nah waktunya memberikan serangan yang setimpal pada lawan, seperti katamu!" ujar Alex sambil tersenyum.


"Heh? Menakutkan sekali! Kau menyimpan dendam?" Ray tampak berekspresi pucat. "Bersiap-siaplah, Alpha mata keranjang," ujar Alex. Saking kesalnya ia sampai menyebutkan julukan Ray. Ia pun langsung berlari ke arah Ray layaknya harimau yang hendak menerkam mangsa.


__ADS_2