
Alex merasa tidak nyaman dengan tubuhnya yang kian membesar tidak wajar. Padahal sebagai orang asal Asia Tenggara, seharusnya ia memiliki tinggi badan di bawah rata-rata orang Amerika.
Kenyataannya hal itu tidak berlaku baginya, ia saat ini memiliki tinggi badan melebihi dua meter dan tidak tahu kapan akan berhenti tumbuh.
"Bu, kira-kira apa yang salah denganku?" tanya Alex murung dalam teleponnya. "Apanya yang salah? Kau baik-baik saja kan di sana?" tanya Andin.
"Aku baik-baik saja, tapi tubuhku tidak. Ini terus membesar sampai aku tidak tahu kapan akan berhenti," ujar Alex cemas.
"Apanya yang terus membesar nak? Bisa dijelaskan?" tanya Hendra, ia tiba-tiba ikut menimbrung di telepon.
"Argh! Aku sedang tidak bercanda, ayah!" ujar Alex kesal. Hendra pun tertawa. "Santai saja, semakin besar, semakin menarik kok," ujar Hendra.
"Ayah membuatku semakin malu saja!" ujar Alex. Sekali lagi Hendra tertawa. Setelah telepon selesai, Hendra segera pergi ke kamar Alesse. Pagi ini anak itu belum keluar kamar dan itu membuatnya khawatir.
"Alesse! Kau sudah bangun?" tanya Hendra sambil mengetuk pintu. Ia pun terkejut karena pintu kamar Alesse terbuka.
"Hmm? Tidak seperti biasanya!" ujarnya sambil membuka pintu kamar, ia pun masuk ke dalam selagi ada kesempatan untuk memasukinya. Saat itulah Alesse langsung bangun.
"Ayah, siapa suruh buka pintu kamarku? Siapa suruh masuk ke dalam?" tanya Alesse yang tampak baru saja terbangun dari tidurnya. Suara beratnya membuat wajah Hendra tampak pucat.
"Eh? Ada apa, ayah?" tanya Alesse keheranan, Hendra masih menatapnya dengan wajah aneh.
Alesse pun menoleh ke arah cermin untuk memastikan apa yang aneh dari dirinya. Ia pun terkejut karena saat ini tubuhnya berubah menyerupai tubuh Gord.
"Kau siapa?" tanya Hendra dengan wajah pucat, ia hendak keluar dari kamar, namun Alesse segera beranjak dari tempat tidurnya. Ia langsung menutup pintu dengan gesit sebelum Hendra sempat keluar untuk memanggil Andin.
"Sst! Jangan beritahu ibu!" ujar Alesse sambil membungkam mulut Hendra. Pria itu tampak ketakutan karena tangan besar Alesse menutupi setengah wajahnya, ia pikir kepalanya akan remuk jika anak itu mencengkeram wajahnya kuat-kuat.
Hendra hanya bisa menelan ludah dengan mata berkaca-kaca karena ketakutan. Alesse pun segera melepaskan tangannya.
Hendra langsung menghela nafas lega, ia langsung menatap Alesse agak lama, ia tahu kalau sosok berbadan besar itu adalah anaknya karena pakaian yang ia kenakan.
"Benarkah kau Alesse?" tanya Hendra agak ragu. Karena Hendra sudah tenang, akhirnya Alesse pergi ke lemari untuk mencari baju yang seukuran dengan tubuhnya yang saat ini, namun ia tidak mendapati satupun baju yang sesuai.
"Aneh sekali! Kenapa hanya bajumu yang robek? Celanamu tampak cukup muat untuk kakimu," ujar Hendra.
"Oh, ini? Aku juga tidak tahu kenapa begini, yang jelas celana ini terus melekat padaku, celana ini muncul bersamaan dengan perubahan bentuk tubuhku juga," ujar Alesse sambil mencoba membuka celana itu.
"Eh! Stop! Tidak perlu membukanya di depan ayah," ujar Hendra sambil memalingkan wajah. "Ayah kenapa? Apa salahnya aku membuka bajuku?" tanya Alesse keheranan.
Hendra menatap Alesse dari atas hingga bawah sekali lagi. "Tidak mungkin, kau tidak mungkin Alesse! Aku tidak setuju jika tubuh mengerikan ini adalah dirimu," ujar Hendra.
__ADS_1
"Huh, perubahan seperti ini juga bukan kemauanku," ujar Alesse. Tak lama kemudian suara Andin terdengar.
"Gawat! Itu ibumu! Aku harus gimana?" tanya Hendra panik. "Keluarlah! Jangan beritahu apapun padanya! Cukup ayah saja yang pernah melihat tubuh mengerikan ini," ujar Alesse kemudian mendorong Hendra kuat-kuat hingga keluar kamar.
Pria itu tidak siap, Alesse mendorong punggungnya terlalu kuat hingga ia terlempar keluar kamar.
"Kau kenapa? Gimana caranya kau masuk ke sana?" tanya Andin keheranan, seharusnya tidak ada seorang pun yang boleh masuk ke kamar Alesse, namun Hendra baru saja keluar dari sana.
"Ehm, bukan apa-apa kok! Kami hanya berbincang-bincang ringan. Tentu saja, sebagai sesama pria... ehm, kau tahu kan? Dia sudah mulai dewasa," ujar Hendra.
Alesse terdengar mendobrak dinding dengan keras, ia memang tidak setuju dengan alasan yang disebutkan Hendra.
"Hmm! Mencurigakan sekali! Alesse tidak mungkin mau membicarakan hal seperti itu pada orang lain. Dia lebih memilih cari tahu sendiri! Dia tidak seperti Alex yang dengan polosnya terus bertanya pada kita meskipun pertanyaan itu adalah privasinya," ujar Andin. Karena curiga dengan gerak-gerik Hendra, akhirnya ia menghampiri kamar Alesse, namun suaminya itu mencegatnya.
"Ada apa sebenarnya? Alesse, kau baik-baik saja di sana kan?" tanya Andin. Alesse tidak bisa menjawab, suaranya yang sekarang masih terdengar kasar dan berat seperti pria dewasa.
Sayangnya diamnya itu membuat Andin semakin curiga. "Alesse? Kenapa diam saja?" tanya Andin sekali lagi, ia bahkan mengetuk pintu kamarnya. Semakin lama Alesse tidak menjawab Andin semakin cemas.
"Hei, Hendra! Kenapa anakmu tidak menjawab?" tanya Andin khawatir, ia pun menggedor-gedor pintu kamar. Hendra sendiri tidak bisa menjelaskannya.
Akhirnya Alesse pun keluar dari kamar, tubuhnya sudah kembali seperti semula, namun warna rambut dan matanya tampak biru gelap.
"Oh, itu..... aku baru bangun tidur," ujar Alesse. Ekspresi dingin dan datarnya membuatnya terlihat seperti orang yang masih mengantuk, akhirnya Andin mempercayainya. Sayangnya itu menimbulkan pertanyaan baru untuknya pada Hendra.
"Jadi, kenapa kau bisa keluar dari sana? Kau bilang habis berbincang-bincang dengan Alesse loh," ujar Andin curiga pada Hendra.
"Bincang-bincang? Ada-ada saja! Aku juga baru bangun tidur saat ibu mengetuk pintu," ujar Alesse sambil menatap Hendra penuh benci. Pernyataannya membuat Hendra semakin tersudutkan.
"Argh! Baiklah-baiklah! Aku tidak melakukan apa-apa, hanya masuk ke kamar Alesse diam-diam," ujar Hendra.
Alesse pun mulai berjalan ke dapur sambil menyingkap penutup kepalanya. Saat itu Andin tertegun karena paras Alesse tidak tampak seperti laki-laki.
"Nak, ternyata wajahmu sangat feminim yah," ujar Andin. Hendra hendak menahan tawa, ia sudah melihat sisi lain dari Alesse yang bisa berubah wujud menjadi pria kekar.
Selagi Andin menyiapkan makanan, Hendra menjadikan kesempatan itu untuk bertanya. "Jadi, kau juga pengendali alam seperti Alex? Tadi ayah melihatmu bisa berubah-ubah wajah dan tubuh! Sejak kapan kau bisa melakukan itu?" tanya Hendra penasaran.
"Ini sudah sejak lama. Saat warna rambut dan mataku mulai berubah-ubah, itulah awal mulanya. Aku tidak tahu akan menjadi separah ini. Kalau bukan karena baju yang aku pakai tadi, mungkin ayah tidak akan mengenaliku," ujar Alesse.
"Wah! Hebat sekali! Aku tidak percaya kedua anakku pengendali Alam!" seru Hendra. "Ini bukan sesuatu yang bisa kukendalikan. Itu terjadi diluar kehendakku! Aku juga tidak ingin memiliki bentuk tubuh yang terlalu besar dan kekar, sangat kaku untuk bergerak! Aku bukan pengendali Alam," ujar Alesse.
"Alex juga begitu! Dia berubah-ubah wujud bukan karena kehendaknya. Gejalamu sama seperti dirinya," ujar Hendra.
__ADS_1
"Ini berbeda! Dia berubah wujud menjadi hewan buas, sedangkan aku malah berubah menjadi orang yang berbeda, ini tidak masuk akal! Mungkin saja kepribadianku akan ikut berubah," ujar Alesse.
"Benar sekali, kau ingat kalau kau mencoba untuk membuka celana di hadapanku? Itu tidak seperti dirimu yang penuh privasi, kau selalu menutup badanmu, kau tidak ingin terlihat di hadapan orang meski hanya telanjang dada," ujar Hendra.
"Hmm! Benar sekali, aku merasa biasa saja saat berubah wujud menjadi pria mengerikan itu," ujar Alesse.
"Siapa yang kau sebut mengerikan?" tanya Gord yang tiba-tiba muncul, saat itu juga Geni terlihat sedang tertawa di atas meja makan.
"Kalian muncul lagi di sini? Kukira sudah menghilang setelah aku kembali ke bumi," ujar Alesse.
"Hei! Mana mungkin! Kami akan terus bergentayangan di kepalamu. Hanya kau yang bisa melihat kami. Bahkan pria bodoh ini tidak sadar kalau wajahnya sedang kubuat mainan," ujar Geni sambil memegang wajah Hendra, namun tertembus begitu saja karena ia hanya sekedar ilusi.
"Aku tahu kalau kau bukan manusia, tapi bisakah kau lebih beradab sedikit? Meskipun kau sebut pria itu bodoh, dia itu ayahku loh," ujar Alesse.
"Wah, akhirnya suasana di sini menjadi semakin serius! Kau sedang marah? Kalau begitu cobalah pukul aku! Ayo! Pukul aku kalau bisa!" ujar Geni menggoda. Raut wajah Alesse langsung berubah murka.
"Alesse kau kenapa?" tanya Hendra keheranan, namun anak itu tidak mendengarkan karena Geni sedang menjahilinya.
Saat itulah warna rambut Alesse tiba-tiba berubah jingga keemasan, pakaian Yangon kenakan juga ikut berubah menjadi pakaian bangsawan.
"Cosplay apalagi ini? Kenapa pakaianmu selalu berubah menjadi pakaian yang kuno? Memangnya ini abad pertengahan?" tanya Hendra keheranan.
Sebelum Andin kembali dari dapur, Alesse langsung berlari ke kamar untuk bercermin. Kali ini ia berubah wujud menjadi Baraq.
"Hmm! Sepertinya tubuh yang satu itu adalah yang paling jarang muncul," ujar Geni. "Itu tubuh tuan Baraq," ujar Gord.
"Lagian kenapa kau menyebutnya tuan? Sekarang dia bukan tuanmu lagi dan kau juga sudah tidak bertemu dengannya," ujar Geni.
"Dia masih berada di alam bawah sadarku, bersama Aqua," ujar Alesse. "Aqua yah? Aku jadi penasaran seperti apa anak itu. Aku pernah bertemu dengannya sekali, namun saat itu aku tidak terlalu memerhatikan karena kupikir ia adalah kau," ujar Geni.
"Kira-kira, apakah ada hal yang bisa membuat kami bertemu lagi? Aku penasaran seperti apa keadaan tuan Baraq sekarang," ujar Gord.
"Dia pasti baik-baik saja sambil menikmati kejenuhan dalam ruangan yang tak bisa ia tinggalkan," ujar Geni.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Gord penasaran. "Sebelum merasakan kebebasan ini, alam sadar yang kurasakan adalah sebuah ruangan yang memiliki barier tembus pandang yang tidak bisa dilalui. Kau terjebak di dalam sana dengan kejenuhan," ujar Geni.
"Aneh sekali, kenapa aku tidak mengalami hal itu?" tanya Gord. "Hmm, benar sekali! Kenapa Gord tidak melalui proses kejenuhan itu? Dia langsung bebas dari alam bawah sadar," ujar Geni keheranan.
"Mungkin dia terlalu bodoh untuk masuk ke alam bawah sadar seseorang," ujar Alesse. "Kesimpulanmu kejam sekali! Sari semua hal yang ada kenapa kau menyebutku bodoh?" tanya Gord dengan wajah terpuruk.
"Biasanya orang menyalahi takdir karena kemauan diri sendiri, bahkan ia menyadari hal itu, tapi kau terus mengikuti buku takdirmu hingga tak sadar kalau kau sendiri sudah menyalahi takdir yang dituliskan didalamnya," ujar Alesse.
__ADS_1