
Pagi-pagi sekali Hanan terkejut mendengan kabar jika Bibi Ami di bawa ke rumah sakit. Keduanya lantas bergegas langsung menuju ke rumah sakit. Tidak menunggu lama. Hingga lupa, jika seharusnya mereka tidak datang bersama-sama.
''Bagaimana keadaan Bibi?" Tanya Zahwa terlihat gopoh. Nafasnya masih tersengal-sengal karena berlarian di koridor rumah sakit.
''Sedang di tangani dokter.'' Jawab Wardah.
''Bagaimana kejadiannya?" Tanya Hanan kemudian.
''Tidak ada apa-apam Semua wajar sebelumnya. Obatnya pun di minum tepat waktu.Tapi, jam setengah tiga tadi tiba-tiba beliau siuman dan merintih kesakitan. Paman langsung membangunkan Bang hafiz dan langsung menelpon rumah sakit. Aku yang di rumah baru di hubungi setelah subuh. Kondisi Bibi pun sudah di rumah sakit.'' Terang Wardah. Dia terlihat cemas, namun ada perasaan bersalah juga kepada Bibi.
Setelah perbincangannya dengan Hafiz dia sadar. Jika beberapa hari ini ia memang sedang lari dari kenyataan. Dia tiba-tiba merasa lelah berada di rumah tersebut. Namun, dia pun tak bisa meninggalkan mereka. Karena mereka satu-satunya keluarga yang menyayangi dirinya.
Setelah kepergian orang tuanya. Paman Sam dan Bibi Ami yang merawat dirinya. Mereka bukan saudara, hanya tetangga biasa. Tapi kasih sayang dan rasa peduli yang mereka miliki melebihi dari saudara-saudara lainya.
Paman dan Bibi nya tidak ada yang ingin menanggung hidupnya. Mereka beralasan, jika hidup mereka sudah sulit dan tidak mau menambah kesulitan lagi dengan menampung dirinya. Sudah bertahun-tahun pula, mereka tidak memberikan kabar dan menelantarkan dirinya sebatang kara.
''Sabar, pasti Bibi baik-baik saja. Kamu sudah berusaha merawatnya dengan baik.' Kata Zahwa dengan menepuk bahu Wardah memberikan ketabahan.
''Terimakasih.'' Kata Wardah.
Kini dia malu sendiri. Perempuan yang sempat di anggapnya menghancurkan hidupnya malah bersimpati kepada dirinya. Memberikan ketenangan di saat dirinya gelisah dengan kesalahannya. Dia pun tak sedikit memperlihatkan rasa tidak sukanya kepada dirinya.
Mungkin jika wanita lain, akan sangat sensitif jika harus bertemu dengan perempuan yang dulunya ingin di jodohkan dengan suaminya. Bahkan mungkin akan terang-terangan mengatakan bahwa dirinya adalah istrinya.
Tapi tidak, dia rela terluka demi membuat keluarga suaminya bahagia. Dia pun rela di hina dan di tuduh macam-macam demi dia yang terang-terangan tidak menyukai kehadirannya.
Dokter keluar dari ruang pemeriksaan. Beliau menemui mereka semua.
''Kondisinya kritis. Pasien mengalami gagal jantung. Satu saja kejutan yang beliau alami akan mengakibatkan kefatalan. Sebaiknya untuk sekarang ini biarkan pasien istirahat dengan tenang.'' Pesan dokter tersebut.
__ADS_1
''Gagal jantung.'' Kata Zahwa lirih dia tak kalah terkejutnya seperti yang lainya. Apa yang di takutkan terjadi.
"Apa tidak ada cara yang bisa menyembuhkan dok ? Transplantasi jantung misalnya?" tanya Zahwa.
"Bisa saja itu di lakukan. asal bisa mendapatkan pendonor yang cocok. Tapi itu akan memakan waktu untuk mencarinya. Namun kendala yang paling utama adalah usia pasien yang sudah tua . Kemungkinan berhasil sangat kecil," Jawab dokter terebut.
"Ya Alloh..Apakah tidak ada alternatif lain?'' Zahwa masih belum menyerah.
Dokter itu dengan menyesal menggelengkan kepala.
"Untuk bertahan hidup satu bulan inipun akan sangat sulit," jawab dokter.
Hal tersebut sontak membuat semu keluarga tergulai lamas. Paman sam duduk terdiam, pandanganya kosong menunduk melihat ke bawah. Dia sama sekali tidak terkejut mendengar uraian dokter tersebut. Seakan dia tahu keadaan sebenarnya istrinya.
"Aku sudah mengatakan pada bibimu, jika hanan dan zahwa sudah menikah." kata paman tiba-tiba
Membuat semua orang melihat ke arahnya.
"Saat itu aku melihat mu memeriksa isi laporan kesehatan bibimu? Kau membacanya, karena itulah saat itu kamu mengaku sebagai sekretarisnya hanan. Bukan istrinya. Kamu tahu, jika satu hal saja yang akan mengejutkan dirinya akan membuatnya terkena serangam jantung
Dan itu akan mempercepat kematiannya.' Terang paman sam.
Zahwa mengingat hari itu. Dia tidak sengaja tersandung meja saat akan pergi ke kamar Bibi Ami. Dan tanpa sengaja dia melihat laporan tersebut. Ia tidak faham betul apa isinya. Akhirnya dia berinsiatif memotret laporan tersebut dan mengirinya pada very.
Dan saat yang tepat pula, very membalas chat nya dan mengatakan bahwa hasil laporan tersebut menunjukkan jika pasien tersebut menderita penyakit jantung stadium 4 dan bisa di mungkinkan bisa gagal jantung jika tidak mendapatkan perawatan yang intensife. Makan pun harus di jaga, terutama suasana hatinya. Sebisa mungkin jangam ada kabar yang membuatnya terkejut. Itu akan memicu jantungnya berdetak lebih cepat dan membuat kerja jantung yang saat itu dalam kondisi lemah semakin melemah.
"Saat itu aku tidak memiliki cara apapun lagi. Maaf jika aku membuat bibi seperti ini." Kata zahwa lemas. Dia merasa bersalah, kondosi bibi Ami seperti ini gara-gara kehadiranya.
''Ktu bukan salahmu, kamu sudah melakukan yang sebaik mungkin." Sahut seseorang dari arah lain datang menghampiri mereka.
__ADS_1
''Very? Kamu di sini?'' Tanya Hanan terkejut.
''Mau bagaimana lagi, aku sedang bertugas membimbing adik-adik kelas ku yang cantik-cantik di rumah sakit kota ini. Tapi istrimu, dia selalu menggangguku dengan banyak pertanyaan. Aku tidak tahu bagaimana kau bisa hidup dengan wanita yang cerewet seperti itu.'' Lontar very dengan sedikit berbisik. Hanan langsung melihat istrinya yang sudah melototinya.
''Jangan mengajak ku bercanda di situasi seperti ini." Elak Hanan.
''Ok. Aku hanya bercanda.'' Kata Very dengan mengatupkan kedua tangannya.
Hafiz, paman Sam dan Wardah masih tidak mengenal siapa yang baru saja datang. Dengan gaya nya yang cool Very memperkenalkan dirinya.
''Aku very. Dokter keluarga dari tuan Hanan. Salam kenal.'' Salam Very dengan senyum manisnya .
Dengan ragu mereka menyalami very. Sama saat pertama kali Zahwa bertemu dengan Very, mereka cukup tidak percaya bahwa orang di depannya adalah dokter profesional.
''Kendalanya, rumah sakit ini kurang dalam penanganan. Alat-alat medis masih minim. Jika bisa sebaiknya pasien di bawa ke rumah sakit ibu kota. Tapi, sekali lagi. Itu akan berbahaya juga, karena kondisi pasien yang sangat kritis. Takut akan terjadi masalah saat perjalanan nantinya." Terang Very.
''Satu-satunya jalan adalah membawa peralatan medis untuk di bawa kesini. Itu akan aku bantu, tapi selebihnya akan ada beberapa persyaratan yang harus di tandatangani terlebih dahulu.'' Tambah Very.
''Aku akan membantuku, tapi kembali lagi. Kami hanya dokter bukan Tuhan yang bisa memastikan kapan manusia akan meninggal. Kata hanya hanya bisa berusaha sebaik mungkin.'' Timpal very lagi. Saat berbicara seperti itu dia terlihat seperti dokter sungguhan.
Setelah itu very menemui dokter yang menangani Bibi Ami. Ada beberapa yang harus mereka diskusikan. Sementara itu, keluarga lainya hanya bisa menunggu. Bibi Ami pun belum siuman.
''Sejak kapan kamu tahu very ada di sini?" tanya Hanan. Tidak menyangka, ternyata istrinya selama ini berhubungan baik dengan very.
''Dia aktif di sosial media. Tidak hanya Instragam aja, tapi juga Wa. Setiap hari dia bisa meng- upload story' wa sampai status itu menjadi titik - titik semut. Begitulah pria, jika terlalu over dia akan melebihi dari seorang wanita. Tapi sebaliknya, jika dia acuh. Untuk melihat status istrinya saja tidak akan memiliki waktu. Apalagi orang lain.'' jawab Zahwa menjelaskan.
"Intinya, aku tahu dia ada di Sukabumi dari story' wa-nya." Lanjut Zahwa lagi sebelum suaminya mengintrogasi lagi.
Hanan diam. Tidak mempersalahkan lagi. Bahkan dia bersyukur, Very akan membantu menangani situasi ini. Setidaknya dia bisa di andalkan.
__ADS_1
Dia melihat wajah istrinya yang letih. Dia masih tidak pernah menyangka jika istri bertindak lebih cepat daripada yang seharusnya. Dia bahkan tidak memikirkan resiko untuk dirinya.
Dia berbohong untuk kebaikan orang banyak. Mendapatkan banyak bantahan, meskipun begitu dia tetap menyembunyikan kenyataan. Jika saat kebenaran itu terungkap begitu saja, akan ada nyawa yang menjadi taruhannya. Pun akan banyak hati yang kehilangan nantinya.