
"Mas Surya ketawa, pasti ngejek," sewot bik asih. Dia cemberut.
"Bukan begitu, Bik. Sueerr," bantah Surya dengan menahan tawanya agar tidak membuat bik asih tersinggung. Jari telunjuk dan jari tengah nya di bentuk " V " untuk menambah keyakinan bik asih.
"Lawong saya itu bodoh mas, gak cantik. Mana mau dia sama saya. Saya tahu diri. Lagi pula banyak cewek cantik yang juga sama dia,'' ujar bik asih melanjutkan cerita. Surya hanya manggut-manggut.
"Tapi, Bik. Kalau orang jatuh cinta itu kadang dia tidak bisa memandang cantik, jelek atau pintar bik,' Komentar Surya.
"Kata siapa to, Mas. Sebelum orang itu jatuh cinta. Pasti dia akan tertarik dulu kan mas," Bantah bik asih
Surya sejenak memikirkan kata bik asih. Menyetujui hal seperti itu.
"Mas juga kalau suka sama orang gak mungkin langsung suka , pasti merhatiin dulu orang nya seperti apa. Iya to?" Tambah bik asih.
Surya tersenyum dan mengangguk.
"Terus bagaimana, Bik. Orang yang bibi suka dulu itu tidak suka karena bibi bodoh, jelek dan gak pinter? Bagaimana bibi bisa tahu?" tanya Surya
Bibi sewot karena tanpa sadar Surya mengakui kalau dirinya bodoh, jelek dan tidak pintar. Tapi melihat majikannya seakan ingin mengetahui kisah selanjutnya, dia mengabaikannya.
"Temanku yang bilang, Mas. Katanya dia itu suka sama anak yang pintar. Berarti kan dia tidak suka dengan bibi," jelas bik asih .
"Berarti, secara tidak langsung bibi merasa di tolak. Sakit hati dong Bik," ujar Surya
Bik asih menggelengkan kepala.
"Tidak, Mas. Sebelum aku menyukainya, dia itu teman yang baik. Kita sering bermain bersama, menghabiskan waktu saat liburan sekolah bersama juga. Rumah kita tetanggaan, Mas mungkin karena sering dia anggap bersama terus mangkanya teman-tenan lain menganggap kita saling suka,"
"Dari pada mementingkan rasa cinta mas, karena itu aku masih remaja. Aku lebih senang hanya bermain dengan dia mas, bersepeda sore atau hanya sekedar jalan-jalan keliling desa. Berangkat sekolah bersama, dan kadang kita balapan cepat-cepatan sampai di sekolah. Saat hari minggu kita dan teman lainya kadang juga berenang di pemandian di dekat rumah kami. Mungkin semua itu terlihat sederhana mas. Tapi bagi saya,asal bersamanya saya sudah bahagia," Cerita bik asih. Dia mengenang masa lalunya. Ada guratan kesedihan rasa bahagia di wajahnya.
"Mungkin saja dia juga menyukaimu, Bik? Jika tidak suka kenapa dia tetap ingin bermain bersama. Aku sebagai cowok jika ada gadis yang menyukaiku pasti akan risih jika harus bersama dengan dirinya. Ujung-ujungnya pasti cari perhatian," Kata Surya
"Walah mas, saya kan sudah bilang. Kita itu sebenarnya teman. Teman dari kecil, dia sudah anggap seperti itu. Karena itu dia tidak risih saat teman-teman menjodoh-jodohkan dengan saya," balas bik asih
"Tapi bik, apa dia pernah menanyakan soal perasaan bibi yang sebenarnya?" tanya Surya
"Pernah mas, tapi aku juga kurang yakin. Saat itu saat jam kosong, teman-teman yang lain gaduh. Biasa lah namanya juga anak sekolah. Tiba-tiba dia melempar kertas yang entah sampai sekarang saya juga tidak tahu. Karena teman-teman yang lain juga sedang lempar - lempar an kertas aku tidak tahu mana kertas miliknya,"
"Saat itu, sepulang sekolah dia terlihat marah karena saya tidak bisa menangkap dan menemukan kertas itu. Dia sibuk mencari satu kertas miliknya, saat semua teman lainnya sudah pulang. Padahal banyak sekali kertas yang berserakan. Aku ingin ikut membantu mencarinya, tetapi dia melarang saya mas. Itu pertama kalinya saya melihat dia sangat marah kepada saya," Cerita bik asih
Surya masih setia mendengarkannya. Tidak di sangka dengan umurnya yang sudah separuh baya .ingatan tentang masa muda dan cerita cintanya masih begitu jelas.
"Lalu bik? Apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Surya , dia juga terlihat penasaran dengan cerita bik asih.
Bik asih menghela nafas.
"Minum dulu, Mas. tenggorokan saya kering," ujar bik asih seraya meminum kopi yang dia buat sendiri tadi.
Surya melengos dan membuang nafas dengan sedikit tertawa dia mengganggap bik asih itu lucu.
Akhirnya Surya juga ikut meminum secangkir kopi miliknya.
"Sudah malam mas, nanti mas begadang gara-gara mendengar kan cerita saya," kata bik asih. Sedikit sungkan karena membuat majikanya itu begadang.
"Tidak apa-apa bik, saya belum mengantuk. Dan lagi besok masih malas ke kantor," kata Surya.
"Walah mas, jangan gitu. Nanti kalau malas, rejekinya di patok orang. Jodohnya di jauhkan mau?" ujar bik asih, sekali lagi membuat Surya tertawa.
"Memangnya orang itu ayam, Bik. Kok di patok. Jodoh saya juga sudah di jauhkan dari saya kok," ujar Surya membalas lelucon bik asih.
"Non Zahwa?
"Eh, maksudnya bik ?" tanya Surya kaget. Mendengar nama Zahwa di sebut. Apa jangan-jangan bik asih tahu tentang dirinya dan Zahwa.
"Itu mas, non Zahwa kelihatan sedang mencari sesuatu. Saya tak kesana dulu," ujar bik asih. Surya mengikuti arah pandang bik asih menengok dan Zahwa terlihat dari kaca jendela luar paviliun itu. Dia turun dari tangga menuju dapur.
Beberapa saat, bik asih sudah ada bersama dia. Surya masih memperhatikan mereka. Terlihat mereka sedang berbincang - bincang.
Selang beberapa saat kemudian Zahwa kembali ke lantai atas dengan air minum di teko kaca.
Pemandangan yang indah, menurut Surya. Zahwa menggunakan piyama abu muda, tergerai indah menutupi tubuhnya. Ada tali di pinggangnya, tapi dibiarkan terlepas. Kerudung coklat, masih menutupi aurat kepalanya,hanya sedikit terbuka di bagian dagu karena dia hanya menyelempangkan kerudung itu.
Wajah manis nya dengan sedikit menahan kantuk, dengan sedikit kerutan di dahinya. Entah mengapa, dia terlihat mempesona di saat seperti itu.
"Astaghfirullah," ucap Surya. Setelah tersadar dari bayangan Zahwa.
Tidak sepantasnya dia melihat dengan hasrat seperti itu.
Surya melangkah masuk kedalam rumah. Kepala terasa pening dan mungkin hanya akan membaik jika di bawa tidur.
__ADS_1
"Saya tidur dulu bik," kata Surya ketika berpapasan dengan bik asih.
Setelah Surya masuk kamar, bik asih kembali ke paviliun. Mengambil 2 cangkir kopi yang sebagian sudah habis. Kembali ke dapur, setelah itu beliau juga pergi ke kamarnya.
******
Flash back
Zahwa terbangun saat adzan magrib berkumandang. Dia seperti orang linglung sesaat setelah dia bangun. Badannya bukanya terasa baik, tetapi malah berasa remuk semua.
Dalam hal ke stabil tubuh, Zahwa termasuk rentang. Dia keluar sebentar dan terkena terik matahari saja sudah bisa membuatnya harus tidur lama untuk memulihkan tenaganya.
Tapi hari ini dia sampai tidak terasa sudah keluar hampir seharian dengan Bella. Lagi mereka mengelilingi kampus tanpa mereka sadari saat mengobrol tadi.
"Sudah bangun?" Suara Hanan yang pertama kali yang Zahwa dengar.
"Aku ketiduran?" Zahwa masih lunglai dan hampir jatuh karena tidak sengaja menabrak meja sofa di depan kamar tidur mereka. Membuat kesadaran pulih. Dia merintih kesakitan.
Hanan terkekeh kecil melihat Zahwa. Zahwa cemberut, bukanya menolong tapi dia malah tertawa.
"Sorry," kata Hanan. Dia tahu Zahwa tersinggung dengan tawanya.
"Tolongin, Kek" sewot Zahwa.
"Gak jadi jatuh kan? Kenapa harus di tolong ?" Ujar Hanan cuek.
Zahwa menyesal. Seharusnya dia tahu bahwa akan di jawab seperti itu. Dengan kesal dia masuk ke kamar mandi dan menyegarkan badannya.
Hanan masih menunggu. Dia sudah memakai baju Koko dan sarung. Menggelar dua sajadah. Untuknya dan Zahwa.
Zahwa terlalu lama di kamar mandi.Niat nya untuk mengajak nya berjama'ah di masjid gagal. Karena baru saja iqomah sudah terdengar, menandakan bahwa sholat sudah di mulai.
"Zahwa! Cepat sedikit!" Teriak Hanan
Beberapa saat kemudian Zahwa keluar. Dengan sudah mengenakan baju lengkap dan krudung di kepalanya dia silakan di bahunya.
Zahwa melihat dua sajadah yang sudah di gelar. Dan mukenah yang sudah ada di atas kasurnya. Itu tandanya hanan sedang menunggu nya untuk berjamaah.
Tanpa berbicara atau membalas kemarahan Hanan, Zahwa langsung menggunakan mukenanya.
Keduanya mulai berjama'ah. Terlihat khusuk saat seperti itu. Seperti tidak ada perbedaan di antara mereka.
Setelah mereka berjama'ah. Hanan terlihat melepaskan baju Kokonya dan terlihat kaos putih juga melekat di tubuhnya.
Seperti nya dia hanya memakai baju Koko saat mau sholat dan menjelang petang.
Zahwa meletakkan mukenah di dalam almari tadi.
"Terima kasih, sudah mengambil mobilku," kata Zahwa setelah mereka sudah terlihat duduk bersantai bersama .
"Iya sama- sama," balas Hanan. Dia sedang membaca buka yang entah sejak kemarin masih belum selesai dia baca.
Zahwa memicingkan mata, memperhatikan apa yang di baca oleh Zahwa .
Penasaran dengan isi buku tersebut, karena melihat suaminya terlihat fokus dengan buku itu.
"Apa!" Seru hanan. Melihat Zahwa sampai merunduk untuk melihat judul buku yang di bacanya.
"Aku hanya ingin tahu judulnya," balas Zahwa
"Buat apa? Kamu tidak akan faham buku yang aku baca," Kata Hanan dan masih terlihat membaca buku tersebut.
"Mana bisa kamu bilang seperti itu. Kalau aku saja belum tahu isinya, mungkin saja aku juga suka," komentar Zahwa .
"Gak! Buku ini aku tinggal kamar seharian saja sepertinya tidak ada yang menyentuh," balas Hanan.
Zahwa mengigit bibir bawahnya. Dalam hatinya membenarkan apa yang Hanan katakan.
Tanpa membalas sanggahan Hanan. Zahwa terlihat melengos dan beranjak berdiri. Dia juga harus melakukan sesuatu.
Tok tok tok
Pintu kamar di ketuk.Zahwa beranjak membukanya.
Bik asih di depan pintu tersebut, Zahwa melirik sedikit. Ingin tahu siapa yang datang.
"Ada apa bik?" tanya Zahwa
"Ada tamu, Non. Mencari mas Surya," jawab bik Asih.
__ADS_1
"Loh, kok gak langsung nyampein ke mas Surya?'' tanya Zahwa .
"Mas Surya sedang tidak di rumah," jawab bik asih.
Zahwa tertegun dan langsung melihat ke arah Hanan. Suaminya mengangkat bahunya, menandakan bahwa dia juga tidak tahu soal Surya.
''Siapa bik tamunya?" tanya Hanan. Dia melepas kacamatanya yang sedari tadi dia gunakan untuk membaca, meletakkan di atas meja berserta buku yang dia baca tadi.
"Sepertinya teman-teman mas Surya," jawab bik asih.
Zahwa terlihat tegang mendengar jawaban bik asih .
"Teman mas Surya? Jangan - jangan teman sewaktu di kampus dulu," batin Zahwa.
"Aku akan menemui mereka," ujar Hanan
Bik asih mengangguk dan segera pergi.
"Kau ikut aku. Temani menemui mereka," Kata Hanan, seolah perintah yang tidak bisa di bantah.
"Aku capek, Mas. Boleh aku istirahat," kata Zahwa. Mencari alasan dia memperlihatkan wajah masam.
"Kamu sudah tidur dari tadi, gak baik juga kalau tidur setelah magrib," ujar Hanan. Dia seperti tahu kalau Zahwa hanya berpura - pura.
Zahwa cemberut, tidak bisa beralasan dan membantah suaminya itu.
Dia merapikan bajun dan kerudungnya, dengan masih cemberut mengikuti hanan turun.
Zahwa merasa gugup, jika benar itu adalah teman Surya saat di kampus dulu. Pasti mereka juga mengenal dirinya.
Akankan hubungan dengan Surya dulu akan terbongkar di hadapan Hanan. Zahwa berjalan dengan tatapan kosong.
"Assalamualaikum..." salam Hanan. Membuat kesadaran Zahwa kembali.
Zahwa lebih gugup lagi ketika dia tahu bahwa orang-orang yang di hadapannya tidaklah asing.
Mereka semua kakak angkat saat di kampusnya dulu. Cukup akrab dengan dirinya sebab semua adalah tamannya Surya. Wajar saja jika Zahwa mengenal teman-teman kekasihnya dulu.
"Zahwa! Kau di sini?" tanya Mujib salah satu teman akrab Surya. Dia yang paling tahu soal hubungannya dengan Surya.
Zahwa meringis, dengan menyembunyikan kegugupan dalam dirinya. Dia bersikap normal dan menyalami mereka .
"Kalian mengenal Zahwa?" tanya Hanan.
Dia tidak menyangka jika teman kakaknya langsung mengenali Zahwa. Itu artinya hubungan Zahwa dan Surya cukup di kenal oleh banyak orang.
Hanan berpura-pura terkejut dengan kejadian itu.
Hal itu semakin membuat Zahwa semakin gugup.
"Iya. Sia adik tingkat kami dan juga _" belum sempat Mujib meneruskan bicara
"Kami sudah kenal dan cukup akrab,'' sahut Zahwa.
Zahwa menatap ke arah Mujib, dengan isyarat untuk tidak melanjutkan omongannya.
Mujib mengerti dan diam. Walaupun dia belum faham dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Oh iya? Kamu tidak cerita kalau kamu adik kelas dari mas Surya," kata Hanan dengan sedikit menekan.
Zahwa hanya tersenyum garing seraya menatap matanya. Seakan berbicara," Nanti aku jelaskan,"
Mujib masih belum mengerti apa yang sedang terjadi. Kenapa Zahwa ada di rumah Surya dan bukan bersama Surya tetapi dengan Hanan
Sepengetahuan dirinya Zahwa tidak mengenal hanan. Tetapi saat ini yang ia lihat malah sebaliknya. Zahwa malah seakan tidak mengenal Surya. Dia bahkan menyembunyikan kebenaranya.
"Aku akan mengambil minuman, kalian silahkan ngobrol," kata Zahwa. Dia oamit undur diri ke arah dapur.
Sepeninggalan Zahwa. Hanan terlihat akrab berbincang dengan teman - teman kakaknya itu.
"Kalau boleh tahu, Zahwa kenapa ada di sini?" tanya salah satu dari mereka.
Zahwa seketika berhenti bergerak. Nampan dengan isian minuman jus di atasnya berusaha dia pegang erat. Beban yang biasanya tidak seberapa, terasa berat setelah mendengar pertanyaan yang baru saja dia dengar.
"Ceritanya panjang. Tapi sekarang dia tinggal disini. jika kalian ingin bertemu dengan dirinya juga. Silahkan main saja ke sini," kata Hanan.
Tetapi itu tidak menjelaskan semuanya. Malah membingungkan menurut mereka. Terlihat dari wajah mereka yang saling pandang satu sama lain.
"Silahkan minum,"
__ADS_1
Zahwa datang dengan membawa sedikit keberanian dan berharap semuanya baik-baik saja.