
Kenapa begitu menyakitkan. Padahal tau bahwa ini hanya sebuah candaanm Kenapa begitu menyiksa, padahal tahu ini hanyalah sementara. Tak rela, meskipun hanya sedetik melihat dia bersama orang yang juga mencintai nyam
Zahwa menarik nafas diam-dia. Dia merapikan kemeja suaminya, dengan senyum terpaksa dan menahan sesak di dada. Hanan melihat sendu wajah istrinya. Dia tidak tahan melihat kepura-puraan di wajah istrinya itu.
''Kita bisa mencari cara lain sayang," Kata itu terlontar. Masih berusaha membujuk, mungkin istrinya akan mengubah rencana.
''Semakin lama kita menunda, semakin sakit rasanya. Pergilah.'' Ujar Zahwa. Dia sudah selesai merapikan kemeja Suaminya. Dia menatap sayang pada Hanan. Berusaha meyakinkan bahwa dia akan baik-baik saja.
''Aku melakukan ini hanya untuk mu. Kabari aku setelah kamu selesai mengambil bukti itu. Aku akan langsung menemui mu.'' Balas Hanan. Kakinya berat beranjak. Tak tega melihat istrinya menahan sesak seperti itu.
''Aku percaya pada mu. Pergilah... Aku akan ke rumah bersama Zahra.'' Kata Zahwa dengan senyum palsu.
Hanan akhirnya pergi. Dia tidak ingin menoleh lagi bukan karena dia ingin. Tapi tak ingin semakin membuat Zahwa merasakan sakitnya.
''Temani Zahwa. Lekas ke rumah dan ambil semua bukti.'' Kata Hanan pada Zahra yang masih berada di luar rumah.
''Ok.'' Balas Zahra.
Setelah itu Hanan sudah hilang bersama mobilnya. Zahra masuk ke dalam rumah. Di lihat Zahwa sedang terduduk di sofa dengan menutup wajahnya. Ada suara tangis yang masih berusaha dia tahannya.
''Kamu baik-baik saja?'' Tanya Zahra dengan menyentuh pundak Zahwa.
''Mana ada istri yang baik-baik saja. Ketika suami pergi dengan wanita lain.'' Jawab Zahwa.
''Kenapa tidak memikirkan cara lain jika tahu begitu ? Melepaskan seseorang yang kita suka saja begitu menyakitkan. Dan kamu malah melepaskan suami mu sendiri.''
''Anggap saja aku sedang terkena karma. Mungkin aku pernah membuat orang yang mencintai ku untuk ikhlas pergi dan membiarkan aku dengan orang yang sekarang menjadi suami ku. Atau mungkin, aku sudah merebut seseorang yang sudah lama di idamkan oleh orang lain.''
''Kamu sedang membicarakan aku dengan Mas Surya? Menurut ku kamu tidak bersalah dalam hal ini . Semuanya takdir, kita tidak bisa memilih bagaimana takdir kita. Tapi kita bisa menjaga apa yang seharusnya di takdirkan untuk kita. Aku harap ini untuk terakhir kalinya kamu melakukan hal ini."
"Terima kasih Zahra. Kamu baik,kamu bahkan tetap baik dengan ku meskipun aku telah merebut Mas Hanan dari mu."
'' Mas Hanan tidak pernah menjadi milik ku . Sebelumnya dan sampai sekarang. Dia milikmu, dan akan seperti itu.''
__ADS_1
Zahwa terharu dengan penuturan Zahra. Dia begitu dewasa dalam menyikapi keluh hati. Zahra memeluk Zahwa, sekedar memberikan dia kekuatan.
''Sarapan dulu. Kita akan pergi ke rumah setelah mendapat kabar dari mas Hanan.'' Kata Zahwa.
Zahra mengangguk. Sebersit dia teringat kepada Surya. Hari ini dia pergi menjenguk tanpa membawa bekal apapun. Memikirkan makanan apa yang akan di berikan para sipir penjara kepada Surya dan membayangkan jika makan tersebut tidak akan membuat Surya kenyang. Menjadikan dia malas untuk menyantap makanan yang di siapkan Zahwa.
***
Mobil berhenti di halaman rumah. Hanan masuk ke dalam rumah. Setelah lama dalam mobil dan menata hati. Akhirnya di tekad untuk melakukan apa yang di inginkan istrinya.
''Mas Hanan!'' Seru Elena girang. Dia baru saja makan dengan ibunya. Hanan masih menunjukkan wajah masam.
''Aku ingin bicara dengan mu. Berdua saja.'' Kata Hanan.
''Kenapa harus berdua. Jika itu menyangkut anak ku aku juga berhak tahu. Bicarakan saja di sini.'' Sahut Ibu Elena.
''Aku ingin berbicara dengan Elena. Tapi jika harus membicarakan di depan anda. Maaf, lebih baik tidak usah.'' Kata Hanan. Dia tidak ingin ibunya mengetahui maksud kedatangannya.
''Tapi _'' Bantah Ibu Elena. Tapi Elena memberikan isyarat untuk dia mengerti keinginannya. Ibu Elena terlihat kesal dengan Elena. Dan memandang kesal kepada Hanan. Sedang Hanan dia acuh, dia tetap dengan pendiriannya.
''Jangan mudah tergoda. Hati-hati." Pesan Ibu Elena . sebelum dia meninggal mereka berdua.
Setelah itu Hanan mengajak Elena ke taman belakang. Elena dengan senang mengikuti dirinya.
''Apa syarat mu untuk kebebasan kakak ku?'' Tanya Hanan . Setelah mereka sudah berada di tepian kolam renang .
''Masih sama. Aku ingin Mas menikahi ku. Dan aku akan membebaskan Mas Surya.'' Jawab Elena.
Hanan menghela nafas panjang. Menyimpan amarah dalam-dalam.
''Apa jaminannya jika aku menikahi mu kamu akan membebaskan kakakku?''
''Aku tidak mempunyai apapun untuk aku jadikan jaminan. Tapi , jika mas mau menikahi ku.Aku akan menjamin apapun itu untuk keinginan mu,"
__ADS_1
"Kamu tahu aku mencintai istri ku. Kamu tahu kisah antar aku Zahwa dan kakak ku. Tapi kenapa masih saja ingin aku menikahi mu? Aku bahkan tidak mau melepaskan istri ku untuk kakak ku."
''Aaat aku menjadi istri nanti kau pasti akan mencintai ku mas. Aku percaya itu. Aku yakin kamu akan melupakan mbak Zahwa. Cinta kalian belumlah kuat. Apalagi Mbak Zahwa. Dia bahkan ingin kebebasan Mas Surya daripada hidup bersama mu.''
"Apa maksudmu?"
"Mbak Zahwa pasti ingin kamu kesini kan? membujuk ku untuk membebaskan Mas Surya. Dia bahkan tidak memikirkan perasaan mu."
Hanan diam. Membiarkan Elena menerka-nerka tentang apa yang terjadi.
''Lupakan mbak zahwa. Hiduplah dengan ku. Aku akan mencintaimu. Dan tidak akan mengkhianati mu . Jadilah ayah untuk anak yang sedang aku kandung mas,'' Lanjut Elena. Dia mendekati Hanan menarik tangannya dan meletakkan telapak tangannya di perut Elena. Hanan terkejut, dan reflek menariknya.
''Apa yang kau lakukan. Aku masih suami orang." Kata Hanan .
"Berarti mas mau menikahi ku?"
Hanan menghela nafas. Dadanya sesak seketika . Tidak terbayangkan olehnya. Jika hal ini terjadi pada dirinya. Bagaimana bisa melakukan hal ini. Sedangkan hati dan Fikiran hanya tertuju pada istrinya.
''Aku belum bisa memutuskan apapun. Mungkin jika kita bisa menghabiskan waktu sedikit. Aku bisa lebih tahu bagaimana dirimu.'' Kata Hanan. Setelah sekian detik dia terdiam dan menyiapkan mental.
''Kamu serius?'' Kata Elena berbinar.
''Aku tidak mengulangi perkataan ku. Dan akan berubah pikiran jika menunggu lama. Bersiaplah kita kencan hari ini.'' Kata Hanan.
''Aku tidak percaya. Tapi, baiklah. Tunggu sebentar..." Seru Elena. Dia girang dan langsung menuju ke dalam rumah.
Hanan menghela nafas dalam-dalam. Dia mengusap wajahnya yang masam dan tegang. Dia merasa gila melakukan hal ini.
Beberapa saat ada pesan masuk ke dalam ponselnya. Orang suruhannya berhasil membuat Ibu Elena keluar dari rumah juga. Di lihatnya Ibu Elena lebih Agresif daripada anaknya. Beberapa detik kemudian Hanan melihat ibu itu keluar dari kamar tamu dengan dandan sexy. Terdengar juga dia berpesan untuk hati-hati kepada Elena. Mereka sama-sama berbahagia. Mungkin merasa bahwa apa yang sedang mereka incar sudah tertangkap dan berhasil mengurungnya.
Hanan mengirim satu pesan kepada Zahwa.
Setengah jam lagi. Pergilah ke rumah. Dan ambil Semua bukti.
__ADS_1