Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 107


__ADS_3

Surya baru saja sampai di Sukabumi saat petang. Rumah sedang ramai dengan pembaca Yasin dan tahlil.


Kemarin, sehabis Dzuhur Surya mendapatkan telpon dari Hanan. Mengabarkan jika Bibi Ami meninggal dunia. Mendengar hal itu, Surya langsung bergegas meminta izin Kyai Jauhari untuk pulang beberapa hari. Alhamdulillah kyai Jauhari mengizinkan dirinya untuk pulang. Meminta Badrun, untuk mengantar dia ke bandara. Bahkan, jika di perlukan Badrun bisa ikut dengannya. Namun, Surya menolak. Tak enak hati jika harus meminta Badrun untuk ikut dengannya.


Wal hasil, Badrun hanya mengantar dia sampai ke bandara.


''Jane saya mau Lo kang sampean ajak ke Jakarta. Seneng malah, belum pernah saya ke sana. Hehehe.'' Kata Badrun setelah sampai di bandara.


'' Kapan-kapan ya kang pas liburan pondok. Gak enak sama Abah yai." Balas Surya dengan senyum.


''Sip sip kang. Temen Yo (Beneran ya)! '' Seru Badrun.


''Insya Alloh.''


''Tenang ae kang. Sok aku gak nyusahno kok.(Tenang saja. Aku tidak menyusahkan kok)'' Ujar Badrun.


''Haha. Ya wes kang. Aku pamit dulu.'' Pamit Surya.


''Iya kang. Ati - ati. Salam buat keluarga di sana.''


''Insya Alloh. Assalamualaikum,''


''Waaikumsalam,''


Setelah menemui kerabat dan tetangga dia ikut serta dalam pembacaan Yasin dan tahlil tersebut. Perasaan gelisah, sesaat menyadari bahwa sedari tadi dia tidak menemukan Hanan dan Zahwa. Dia pun, lupa menanyakan hal tersebut saat menemui kerabat lainya.


Hingga pembacaan tahlil dan Yasin selesai Surya tidak menemukan adik dan adik iparnya itu. Barulah, setelah semua tamu pulang dia bertanya pada Wardah.


Dia mengenal Wardah. Gadis kecil yang dulu sering dia jahili bersama Hanan sudah tumbuh dewasa. Saat pertama bertemu tadi, cukup membuat Surya tertegun. Sempat tidak mengenal dia juga.


''Hanan dan Zahwa, mereka di mana? Dari tadi aku belum melihatnya.'' Tanya Surya.


''Di rumah sakit _" Belum juga selesai bicara, Surya sudah memotongnya.


''Hah. Siapa yang sakit?'' Seru Surya kaget. Tidak ada yang memberitahu apapun soal ini.


''Mbak Zahwa. Saat di pemakaman tadi dia pingsan. Dan langsung di bawa ke rumah sakit.'' Balas Wardah.


''Sakit apa dia ? kenapa sampai bisa pingsan. Terus, sekarang mereka di rumah sakit mana? Aku mau ke sana.'' Kata Surya khawatir. Pikirannya kacau mendengar kabar adik iparnya itu sakit. Bukan apa-apa, dia sudah menganggap Zahwa sebagai adiknya sendiri. Keluarganya sendiri.


''Sabar mas. Tadi kang Hafiz sudah ngasih kabar, jika mbak Zahwa baik-baik saja. Sebentar lagi pulang." Zahwa mencoba menenangkan. Wardah bisa melihat ke khawatiran di wajah Surya.


'' Aku akan menelpon mereka!''


Tanpa menunggu lagi Surya langsung menelpon Hanan. Namun panggilan tersebut di abaikan. Hana tidak menjawab telepon dari Surya. Beberapa kali Surya mencoba lagi, tapi tetap saja nihil.


Baru saja tersambung, dan terdengar suara mobil dari luar.


''Mereka sudah datang.'' Seru Wardah.


Surya beranjak ke luar menjemput mereka. Di luar Zahwa di bantu Hanan keluar dari mobil. Terlihat mereka sedang bersitegang.

__ADS_1


''Aku bisa jalan sendiri. Malu, banyak orang.'' Kata Zahwa menolak saat Hanan ingin menggendongnya.


''Jangan membantah, nurut aja kenapa?'' Kata Hanan keras.


Namun Zahwa tetap ingin berjalan sendiri. Hanan akhirnya mengalah dan memapahnya.


''Mas Surya?'' Zahwa sumringah ketika melihat kakak iparnya sudah datang.


''Mas Surya.'' Hanan mengikuti kata-kata Zahwa dengan kesal. Dia tidak suka dengan senyum Zahwa yang sumringah saat melihat kakaknya menyambutnya.


''Kamu gak papa Zahwa?'' tanya Surya cemas.


''Tidak apa-apa. Hanya sedikit lelah saja.'' Jawab Surya.


''Minggir. Kami mau lewat." Hanan meradang.


Tetap saja ada kegusaran saat melihat mantan kekasih itu berjumpa lagi


''Iya, iya...Sabar.'' Balas Surya mengalah. Dia memberikan jalan Zahwa dan Hanan untuk pergi terlebih dahulu. Dia mengikuti mereka dari belakang.


Zahwa di persilahkan istirahat di kamar tamu. Malam ini, mereka akan menginap di rumah tersebut. Paman Sam tidak akan setuju jika dia mereka langsung pergi setelah bibi meninggal.


''Kapan Kak Surya datang?" Tanya Zahwa.


''Sehabis magrib tadi. Aku sampai di Jakarta tadi pagi.'' Jawab Surya.


Saat mereka sedang berbincang, Hanan menyiapkan obat yang harus di minum Zahwa. Dia menuangkan air, dan juga memberikan beberapa obat kepada Zahwa.


''Ini sebagai vitamin. Very yang memberikan ini semua.'' Jawab Hanan.


''Kalau hanya kecapekan, itu terlalu banyak nan.'' koreksi Surya. Dia merasa janggal melihat obat-obatan Zahwa.


''Ini vitamin. Zahwa hamil dia harus minum vitamin ini selama masa kehamilannya." Kata Hanan tegas.


''Alhamdulillah, akhirnya kamu hamil juga." Sesaat surya langsung ingin memeluk Zahwa. Tapi, Hanan mencegahnya.


''Mau ngapain?!'' Tanya Hanan yang langsung berdiri di depan Surya. Memperlihatkan wajah angkernya.


''Memberikan selamat. Itu saja.'' Ucap Surya


''Dia adik ku Lo.'' Tambah Surya


''Gak! Ngucapinnya ke aku aja. Aku ayahnya.'' Kata Hanan sambil menyodorkan tangannya.


Surya berkacak pinggang. Kedewasaannya hilang seketika, pasangannya bertemu sang mantan. Walaupun, itu adalah kakaknya sendiri.


''Ok. Selamat atas kehamilan istrinya. Semoga kelak keponakanku menjadi keturunan yang Sholeh dan Sholehah. Sayang pada orang tuanya, terutama pada pamannya. haha...'' Ucap Surya. Dia memeluk adiknya itu.


''Lihatlah,, dia akan menjadi ayah. Tapi kelakuannya masih seperti anak kecil.'' Ujar Zahwa


''Tidak apa-apa. Itu tandanya dia sangat mencintai mu , adik ku sayang mau jadi ayah.'' gemas Surya. Ingin rasanya mencubit ke dua pipi Hanan sama seperti waktu kecil dulu. Tapi, tidak dia lakukan. Dia hanya memukul pundak adiknya itu berkali-kali.

__ADS_1


Tidak terasa waktu cepat berlalu. Seperti baru kemarin mereka bermain bersama, menangis bersama, pun bertengkar bersama. Namun, salah satu dari mereka akan menjadi sosok seorang ayah. Hah, waktu semakin menuakan mereka. Banyak tanggung jawab yang kini ada di masing-masing pundak mereka.


Andaikan orang tua mereka masih ada, pasti mereka akan bahagia. Namun sayang, sebelum itu terjadi mereka sudah pergi terlebih dahulu


Jikalau masih di sini. Entah, kisah seperti apa yang terjadi saat ini.


''Aku juga ingin mengabarkan. Besok hari Kamis aku ijab Qobul di kediaman kyai Jauhari.'' Kata Surya.


''Serius?! '' Hanan dan Zahwa hampir bersamaan.


''Iya. Aku kesini untuk menjemput kalian juga untuk ikut ke sana. Ijab Qobulnya akan di selenggarakan sebelum acara haul di pesantren. Itu rencana Abah yai. Dan aku sudah menyetujuinya."


''Tapi kak, bukankah ini terlalu cepat? Apa kamu sudah pernah melihat perempuannya?'' Tanya Zahwa cemas. Dia tidak ingin jika kakak iparnya itu salah dalam memilih keputusan. Apalagi ini menyangkut seumur hidup. Bukan menjelekkan pasangannya yang akan dia nikahin sekarang, tapi lebih takut jika nanti ada kesalahpahaman lagi. Terlebih , perkenalan yang terlalu cepat ini.


''Aku belum mengetahuinya. Tapi aku yakin, Abah yai tidak mungkin mengecewakan santrinya. Apalagi beliau sudah menganggap ku seorang putra. Aku saja sampai malu, kerena beliau sangat memperhatikan ku.'' Jelas Surya.


Hanan dan Zahwa saling bertukar pandang.Saling memberikan isyarat untuk ikut berbahagia akan kabar tersebut. Jika Surya sudah mantap akan pilihannya, maka tidak ada alasan lagi untuk mereka menghalangi.


''Insya Alloh baik untuk kita semua.'' Kata Hanan. Dia balik memeluk kakaknya, memberikan semangat serta kekuatan batin.


Zahwa senang melihat kedua kakak beradik. Dia berdoa dalam hatinya semoga semua akan selalu baik-baik saja. Entah sekarang ataupun selamanya.


''Doa kalian adalah yang paling utama . Terimakasih, sudah mendukungku.'' Kata Surya.


''Sama-sama. Lagipula, dengan kamu menikah aku merasa aman sekarang.'' ujar Hanan.


Sontak Membuat Surya dan Zahwa tertawa. Ternyata laki - laki yang akan menjadi ayah ini sedang mengakui kecemburuannya.


''Jadi selama ini kamu masih terancam akan keberadaanku?'' Ledek Surya.


''Gak lah. Dari pada kamu, aku lebih dari segalanya.'' Balas Hanan.


Semalam mereka mengobrol bertiga. Menceritakan tentang banyak hal. Mengenang masa kecil mereka dan apa yang nanti akan mereka lakukan setelah ini.


''Kalian berbicara sampai lupa jika kita sedang di rumah Paman. Jangan keras-keras, kasihan orang lainnya mungkin sudah tidur.'' Kata Zahwa.


''Lupa. Baiklah, aku juga akan istirahat. Besok kita akan berpamitan pada paman.'' Ujar Surya. Dia bangkit dari duduknya seraya berjalan keluar kamar.


Hanan dan Zahwa menyetujuinya. Mereka juga harus memikirkan beberapa persiapan pernikahan di rumah. Setidaknya penyambutan untuk calon kakak ipar mereka.


''Yang, bukankah Hanif mengatakan jika dia akan kembali ke Indonesia saat acara haul itu juga? Jangan-jangan Zahwa juga ikut bersamanya.'' Zahwa teringat akan telpon Hanif beberaparapa waktu yang lalu.


''Dia sama sekali tidak menyebut nama Zahra sama sekali. Mungkin saja dia sendirian.'' Jawab Hanan.


''Tapi, jika Zahra ikut pulang. Bukankah itu akan menyakitkan. Dia akan melihat orang yang dia cintai menikah, itupun di rumah dia sendiri.'' Kata Zahwa cemas.


''Sudahlah. Jangan mikir yang macam-macam. Itu belum tentu terjadi. Sekarang tidur, istirahat.''


''Tapi yang _''


''Stt... Bobok. Selamat malam Dede. Semoga mimpi indah.'' Ucap Hanan sambil mengelus-elus perut Zahwa.

__ADS_1


Zahwa tidak membantah lagi. Kemudian dia ikut tidur. Kecemasannya dia coba kubur dalam-dalam.


__ADS_2