
Badrun datang tepat waktu. Mereka sampai di pondok sesaat setelah para jama'ah baru saja melaksanakan sholat magrib.
Beberapa tamu undangan, dan juga alumni mulai berdatangan. Sebagian dari mereka memang sengaja datang lebih awal. Biasanya, para alumni yang datang dari luar kota, bahkan luar Jawa.
Kabar pernikahan Zahra membuat mereka berbondong-bondong ingin ikut khurmat dalam pernikahan Ning nya tersebut. Apalagi, sosok calon pendamping Zahra masih menjadi misteri saat itu.
Baru pada hari H para alumni dan undangan mengetahuinya. Jika Surya yang di pilih kyai Jauhari yang akan mendampingi putrinya.
Gonjang-ganjing pro dan kontra mulai terdengar. Sosok Surya yang di anggap bukan seorang Gus, membuat sebagian alumni kecewa. Namun, tidak banyak dari mereka yang sangat menyetujui pernikahan tersebut. Karena meskipun Surya bukalah Gus, dia memiliki kwalitas yang setara di kalangan para Gus.
Dia masih beberapa bulan mempelajari kitab-kitab kuning. Tapi dia bisa dengan cepat menguasai kitab-kitab tersebut. Dia juga sangat luwes, wirai terlebih para santri sangat terbantu akan kedatangan Surya di pondok tersebut.
Dia memudahkan metode-metode pembelajaran santri. Sedikit meringankan, namun juga memberikan ketegasan dalam aturan-aturan dalam pesantren.
Tidak hanya pelajaran tentang agama. Surya juga mengajarkan hal lainnya. Dia membawa para santri untuk juga memikirkan keterampilan, mengembangkan bakat mereka. Jadi, tak melulu tentang agama, tapi juga kemampuan bermasyarakat juga mulai diterapkan.
''Zahra!'' Seru Zahwa.
Dia berlari kecil, baru saja dia mendengar jika Zahra sudah datang. Dia yang tadinya sedang berbincang dengan sanak keluarga Zahra. langsung menjemput calon kakak iparnya tersebut.
Mereka langsung berpelukan haru. Tidak menyangka, jika sebentar lagi mereka akan resmi menjadi adik dan kakak.
''Lama sekali, aku sampai cemas memikirkanmu." Ujar Zahwa.
''Hah. Maaf, tapi aku sudah datangkan.'' Balas Zahra dengan senyum lebar.
''Kakak atau Mbak?'' Goda Zahwa.
Zahra tersipu malu. Seseorang datang dan mengatakan jika Zahra harus cepat ke dalam. Perias sudah menunggu dirinya dari tadi.
Para tamu dan Beberapa santri melihat kedatangan Zahra dan langsung menyalaminy. Meminta barokah padanya.
Kyai Jauhari baru saja turun dari Masjid. Dia senang bukan kepalang, ketika melihat putrinya sudah sampai di rumah.
Tidak menunggu lama Zahra langsung sungkem pada abahnya . Memeluk beliau, menumpahkan kerinduan yang mendalam.
Semua orang yang ada disekitar mereka, ikut terharu melihat Abah dan putrinya menumpahkan kerinduan mereka. Tak lain, tak bukan Surya juga sedang berdiri memperhatikan mereka.
Zahra menyadari hal itu. Keduanya sempat saling bertukar pandang. Namun kemudian, saling memalingkan. Sedetik saja mata mereka bertemu, membuat hati mereka berdebar tak karuan.
Terdengar seluit dari salah satu santri saat mata Zahra dan Surya bertemu. Sontak membuat para santri menyorakinya.
''Kamu datang cepat karena perintah Abah atau karena ada alasan lain?''
''Abah_''
__ADS_1
Zahra tersipu.
''Ayo. Kita ke Dhalem.Perias mu sudah menunggu."
Zahra mengangguk. Kyai mengandeng putrinya kedalam rumah. Di sana para saudara, sudah menunggu dirinya.
''Aku ingin bicara banyak sama kamu. Tapi sepertinya tidak bisa. Bersiaplah." Ujar Zahwa dia berbisik dengan Zahra, sebelum dia meminta undur diri.
Acara Ijab Qobul di undur setelah sholat Isya'. Karena banyaknya tamu undangan , bahkan membeludak tidak seperti tahun-tahun lalu.
Zahwa sempat kebingungan saat mencari suaminya. Beberapa saat yang lalu, Hanan meminta Zahwa untuk menemui dirinya. Tapi, kesibukan Zahwa yang ikut membantu persiapan pernikahan membuatnya hampir lupa dengan permintaan suaminya.
Saat melewati kerumunan para santri putri, Zahwa tersadar jika mereka sedang bergosip. Mereka sedang meributkan seorang pria yang sedang bersandar pada gerbang pembatas pondok putri.
Dia bagai pangeran yang baru saja turun dari singgasana. Namun, pangeran tersebut tidaklah memakai baju khas bangsawan. Dia hanya mengenakan jas berwana biru laut dengan paduan Hem putih bersih.
''Ya Alloh guanteng. Masya Alloh, perfec.'' Komentar santri putri tersebut.
''Aku kira tadi dia Lo calon pengantinnya." Balas tenan di depannya.
''Iya, pakai jas Daleman Hem putih. Sarung senada. Ya Alloh, boleh gak aku mimpi punya suami seperti dia."
''Hus, jangan gitu aku juga pingin."
''Tapi sepertinya dia sedang menunggu seseorang"
Zahwa penasaran dengan sosok tersebut dan ingin mengetahui sosok laki-laki yang menjadi perbincangan mereka. Dia menyibak beberapa santri putri untuk bisa melihat sosok itu.
Dan begitu tercengangnya saat dia mengetahui siapa yang di maksud oleh mereka.
''Mas Hanan,'' Serunya lirih.
Dia geleng-geleng kepala. Suaminya bertengkar tanpa dosa. Bersandar di gerbang dan memainkan jemarinya.Tidak sadarkan jika banyak mata yang memandangnya.
Hanan merasakan kehadiran Zahwa. Dia sontak tersenyum ke arahnya. Tanpa peduli, banyak santri juga di sekitar Zahwa yang sedang menatapnya . Namun, matanya sepertinya tertuju pada istrinya seorang.
Dengan canggung Zahwa berjalan menghampiri. Membuat desas desus lagi dia antara para santri.
''Ada apa? Kenapa kamu gak nemenin kak Surya," Zahwa menarik tangan suaminya, ke arah belakang gerbang. Menghindari dari tatapan para santri dan alumni.
''Hah. Seharian kami sudah bekerja. Apa salahnya jika aku memanggilmu.''
Zahwa menelan ludah. Entah kenapa, mungkin efek syndrom pada dirinya. Kini suaminya begitu ingin di manja. Dia tidak ingin jauh-jauh dari dirinya.
''Aku tidak apa-apa. Beneran. Sebentar lagi acara di mulai lebih baik kamu bersama para undangan lainnya, atau kamu dekat-dekat sama kakakmu. Dia pasti mencari mu,"Ujar Zahwa.
__ADS_1
Hanan mendengus kesal. Dia sudah lama menunggu kedatangan Zahwa. Tapi saat bertemu malah di suruh pergi.
''Sebentar saja. Setelah Ijab qobul kita ketemu lagi. Aku akan mengekor di belakangmu," bujuk Zahwa.
''Benar?''
''Suer !''
Zahwa menunjukkan dua jari telunjuk dan tengahnya. Hanan memelas.
''Jangan capek-capek kamu. Ingat, kamu sedang hamil. Mentang-mentang aku yang nyidam dan kamu sehat-sehat aja. Tapi tetaplah di jaga, jangan mundar-mandir. Jangan angkat barang yang berat-berat. Diam, duduk aja.'' Pesan Hana
Hanan hanya ingin memastikan jika Zahwa baik-baik saja. Dia mengenal istrinya, dia akan melakukan apa saja demi kebahagian orang lain. Berkorban saja dia dia lakukan dengan mudah apalagi soal menyiapkan pernikahan kakaknya.
Dia akan dengan senang hati terjun langsung menyiapkan semua keperluan. Sebisa mungkin bisa menghendle semuanya.
''Iya, aku habis ini istirahat. Kamu gak usah khawatir.'' Balas Zahwa, dia mencubit pipi suaminya gemas. Suaminya itu memang so sweet sekali.
Tidak salah jika banyak yang menggandrungi dirinya. Melihat sosoknya saja banyak mata terpana, apalagi di tambah mengetahui kepribadiannya. Pasti akan lebih terpesona.
''Ngomong, malam ini istriku cantik sekali. Jika bukan karena di kawasan pondok aku akan langsung bawa kamu ke kamar. Rasanya tidak rela jika banyak orang yang memandangmu."
Hana mendekati Zahwa. Namun buru-buru Zahwa menepisnya. Di sana, tidak hanya mereka saja. Banyak orang yang lalu lalang di sekitar mereka.
Memang benar malam hari ini dia tampil cantik. Dengan balutan gamis brokat biru laut kombinasi kain Ruby dengan desain susun dan juga belt senada mengikat pinggangnya. Membuat dia seperti sedang menari-nari saat berjalan saja.
''Memangnya hanya kamu saja yang seperti itu. Kamu tidak sadar kah?ketika kamu berdiri tadi banyak pasang mata yang sedang memandangi mu. Mereka terpesona melihatmu, mengagumi mu, bahkan berdoa menginginkan pasangan seperti mu.'' Balas Zahwa. Dia merajuk.
Sedikit rasa cemburu memburu hatinya. Mengingat akan perbincangan beberapa santri yang tidak sengaja dia dengar.
''Biarkan saja mereka kecewa. Karena hanya ada satu Hanan di dunia dan itu milik Zahwa saja."
Hah! Zahwa tersipu malu dan haru biru. Sudah lama suaminya tidak mengatakan gombalan seperti itu.
Suara adzan membuyarkan pandangan mereka. Sebentar lagi jama'ah sholat Isya' akan di mulai, dan setelah itu acara Ijab qobul.
''Sudah, sana pergi. Sebentar lagi pasti langsung Iqomah. Jama'ah sana!'' Usir Zahwa, sedikit mendorong suaminya.
''Hah. Masih kangen, cium.'' Manja Hanan memelas.
''Emmuah..."
Zahwa memberikan cium jauh pada suaminya. Kemudian kembali masuk ke dalam kawasan santri putri. Membuat Hanan tidak bisa mengejar nya karena memang tidak di perbolehkan laki-laki memasuki kawasan tersebut.
****
__ADS_1
Mohon bersabar, besok yakin deh. Surya dan Zahra menikah. Semoga ada waktu melanjutkan. 🙏😅
Jangan lupa Vote kakak ku sayang 😁