Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 88


__ADS_3

''Yang, ada apa? Kenapa kamu marah?'' Tanya Hanan. Mereka sudah berada di perjalanan pulang.


''Laki-laki memang gak peka! Bisanya nyakitin cewek. Gak tau apa cewek itu kalau udah jatuh cinta susah move on-nya!" Jawab Zahwa dengan nada kesal.


''Lah, Yang kamu maksud itu siapa? Kak Surya?'' tanya Hanan memastikan.


Istrinya uring-uringan tak karuan tanpa tahu penyebabnya.


''Iya iyalah! Siapa lagi. Zahra kurang apa coba? Cantik, perhatian, pendidikan juga tinggi, anak kyai, Paket komplit dia mah! Perempuan Sholehah. Gak habis pikir aku tu sama Kakakmu!" Jawab Zahwa. Dia semakin emosi. Mengingat Zahra yang begitu sedih saat mengetahui kenyataan bahwa Surya tidak memiliki rasa yang sama.


''Haduh...Ini nih, perempuan selalu memikirkan perasaan. Emang bawaannya baperan. Segala sesuatu di lihat dari perasaan. Emang dasar bucin !'' Ucap Hanan setelah mengerti arah permasalahannya.


''Kamu kok malah bela kakakmu sih? Dia salah Lo! dia udah nyia-nyiain perempuan sebaik Zahra. Kalau pun belum cinta! Bisa kan mencoba memulai mencintai. Kita dulu juga bisa." Bantah Zahwa geram.


Hanan hanya geleng-geleng kepala. Tidak habis pikir dengan wanita. Teman mereka yang terluka, tapi seakan dia yang merasakannya. Menganggap semua harus selalu benar dan lainya salah.


''Kenapa diam! Benar, kan aku?!" Sergah Zahwa membenarkan.


''Terserah kamulah!'' balas Hanan.


Mendengar jawaban Hanan yang acuh membuat Zahwa bertambah kesal dan bicara tanpa henti.


Sesampai di rumah Zahwa melampiaskan kekesalannya pada Hanan. Dia menyuruh Hanan untuk tidur luar.


''Loh Yang? Apa salahku?'' tanya Hanan bingung. Dia menerima bantal dan selimut yang di berikan Zahwa dengan kasar.


''Pikir sendiri!'' Seru Zahwa seraya menutup pintu kamar.


''Apes,'' Keluh Hanan pasrah sambil menepuk jidatnya.


Akhirnya dia mengikuti apa kata istrinya. Dia turun ke lantai bawah dengan membawa bantal dan selimut.


''Loh, Nan kamu kok tidur di sini?'' Tanya Surya yang baru saja datang.


''Ngambek. Tau ah!'' Jawab Hanan kesal. Dia menata bantal pada sofa begitupun selimutnya.


''Haha...Emang kamu salah apa?'' Tanya Surya geli melihat adiknya.

__ADS_1


''Salahmu. Aku yang kena imbasnya.'' Jawab Hanan.


''Kok aku?'' Tanya Surya bingung.


''Iya. Gara-gara kamu gak Nerima cintanya Zahra. Jadi dia kesal, aku dah yang kena imbasnya.'' Jawab Hanan.


''Heh...kok bisa?'' Surya bingung.


''Tau ah! Tanya aja sendiri. Aku mau tidur. Capek!'' Jawab Hanan acuh. Dia mulai berbaring dan menutupi tubuhnya dengan selimut seluruhnya.


''Ya deh. Nanti aku jelasin.'' Kata Surya. Dia tidak enak dengan adiknya. Gara-gara dia, Hanan harus di usir oleh istrinya dari kamar.


Hanan tidak menjawab. Sepertinya ganti dia yang ngambek sama Surya.


''Kamu gak tidur di kamar lain gitu , dari pada di sini." Ujar Surya ketika dia sudah ada di pertengahan tangga. Mengingat bahwa banyak kamar kosong di rumah mereka.


Hanan langsung membuka selimutnya. Dia baru tersadar juga. Kenapa dia tidak memilih salah satu kamar kosong di rumahnya. Dengan kesal dia bangkit dari tidurnya, kemudian naik tangga dan menuju salah satu kamar yang tidak jauh dari kamarnya.


Melihat tingkah adiknya itu Surya hanya geleng-geleng. Setelah di rasa Hanan masuk ke dalam kamar. Surya menuju kamar Zahwa. Dia harus meluruskan semuanya.


Tok tok tok


''Ada apa Mas? Sudahlah! Kamu tidur di luar dulu. Jangan ganggu aku!" teriak Zahwa dari dalam. Mungkin dia mengira bahwa Hanan yang berbeda di depan pintunya.


''Zahwa...Aku Surya. Bukan Hanan.'' Kata Surya.


Tidak ada jawaban. Tapi beberapa waktu setelahnya pintu di buka.


''Ada apa? Nyesel udah nolak Zahra." Kata Zahwa ketus. Dia bersendekap dada. Wajahnya menantang Surya.


Melihat Zahwa yang emosi membuat Surya sedikit menciut. Dalam hatinya berkata,pantas adiknya menerima saja saat di suruh tidur di luar.Wanita saat marah terlihat lebih mengerikan. Sukses membuat orang di depannya ketakutan.


''Bisa aku jelaskan?" tanya Surya hati-hati.


Zahwa tidak menjawab dia memalingkan muka acuh, tapi tetep di tempat. Itu berarti dia mau mendengarkan.


''Pertama. Bagaimana aku di katakan menolak Zahra. Sedang kami berdua saja belum pernah saling menyatakan. Aku tadi bertemu dia di masjid , tempat biasa kami bertemu. Aku menanyakan perihal perasaannya. Tapi dia menjawab bahwa dia tidak merasakan apa yang kamu katakan. Bahkan aku malu, karena terlebih dahulu mengatakan aku menganggap dia sebagai guru, teman, adik dan tidak lebih dari itu.'' Terang Surya.

__ADS_1


''Nah, itu masalahnya. Sebelum dia menyatakan perasaan saja. Kamu sudah menolaknya. Mana ada yang berani mengatakan perasaan sukanya setelah mendengarkan pengakuan seperti itu." Bantah Zahwa.


''Zahwa. Ini bukan hal kecil. Ini hal besar. Aku sudah tidak ingin main - main dengan hubungan. Sekarang jika saja aku menyatakan perasaan yang aku sendiri belum yakini! Apa itu akan membuat semua baik-baik saja? Hah! Apa Zahra akan bahagia?'' Ujar Surya meyakinkan .


''Tapi kamu bisa belajar mencintainya. Dia perempuan baik, Mas.Kamu menyesal melepaskannya.'' Kata Zahwa.


''Yah... Diaa perempuan baik. Karena itulah aku tidak ingin menerimanya dengan setengah - setengah. Jika saja kami nanti di takdirkan untuk bersama. Pasti kita akan sama - sama Zahwa.'' Kata Surya menjelaskan dan sedikit menekan.


''Apa yang di takdirkan untuk kita tidak akan berpindah pada makhluk lainnya. Begitupun sekeras apapun kita berusaha. Jika itu buka takdir kita, kita tidak akan mendapatkannya." Tambah Surya membuat Zahwa terdiam.


''Tapi dia sakit, Mas? Kasihan dia." Ujar Zahwa.


Bayangan air mata yang di sembunyikan Zahra beberapa waktu lalu mengusiknya kembali.


''Akan lebih sakit lagi. Jika nantinya kita tidak di takdirkan bersama. Sekali lagi, dia akan merasakan hal yang sama. Dahulu bersama Hanan dan kemudian aku.'' Bantah Surya.


''Ini bukan film Zahwa. Yang ketikan perempuan itu tidak mendapatkan orang yang di cintanya. Dia bisa berpaling kepada saudaranya. Ini juga bukan permainan bola. Yang bisa kita oper begitu saja.'' Tambah Surya.


''Baiklah... Jika itu menurut mu benar. Aku yang salah. Karena tidak memikirkan hal itu. Mungkin kamu butuh waktu.'' Kata Zahwa kemudian.


Hatinya kalut. Antara Zahra dan kakak iparnya. Mereka berdua sama berartinya bagi dirinya. Di sisi lain, dia sangat senang dengan Zahra jika nantinya bersama Surya. Tapi kenyataannya, Surya masih terlihat trauma dengan masa lalunya yang bukan lagi itu karena dirinya.


''Aku harap kamu mengerti. Dan jangan lampiaskan kemarahan mu kepada Hanan. Apalagi itu rasa marah mu karena aku.'' Pesan Surya sebelum dia beranjak pergi.


Zahwa mengangguk. Dia sudah mulai luluh.


Klik!


Pintu kamar sebelah terbuka. Wajah Hanan dengan polosnya keluar dari dalamnya.


''Sudah? Apa boleh aku tidur di kamar?" Tanya Hanan tanpa dosa.


Mengetahui jika suaminya ternyata menguping pembicaraan membuat Zahwa gemas.


''Nggak! Gak malam ini!'' bentak Zahwa kemudian menutup kamarnya kembali.


Hanan menghempaskan nafasnya. Pasrah. Kemudian masuk kembali ke kamarnya. Surya yang masih mematung, kemudian ikut pergi ke kamarnya.

__ADS_1


***


__ADS_2