
*Kehidupan dan kematian,
pada dasarnya mereka berdampingan satu sama lainnya.
Tidak akan ada kematian, tanpa adanya kehidupan.
Dan tidak ada kehidupan, yang nantinya tidak menemukan kematiannya.
Semua bergulir, bergantian berdampingan dalam sisi dunia ini. Semua hanya menunggu waktunya masing-masing*.
Beberapa hari tidak ada hujan. Namun saat keberangkatan ke makam, tiba-tiba gerimis datang. Mungkin langit ikut menangis dengan kepergian Bibi Ami. Beliau orang baik, beliau sangat di hormati oleh para tetangga, bahkan beberapa orang lainnya. Beliau juga istri dan ibu yang baik. Karena itulah, saat kepergiannya tidak hanya penduduk bumi yang merasakan kehilangannya, namun juga para pendukung langit juga.
Iringan pelayat ikut mengantarkan kepergian terakhir Bibi Ami. Mereka semua menundukkan wajahnya, sebagian tubuh ada yang basah akan air hujan. Sebagian lagi kering tertutup oleh payung yang bi bawaannya.
Sesampai di makam. Paman Sam, hafiz dan Hanan yang melakukan proses pemakaman terakhir bibi Ami. Mereka yang turun langsung ke dalam liang lahat. Membopong Bibi Ami dan meletakkan ke pembaringan terakhirnya.
Paman Sam mengumandangkan Azan dan Iqomah terakhirnya. Di tengah-tengah melakukan terdengar Isak tangis yang tidak bisa beliau bendung lagi. Membuat suasana semakin haru pilu.
Setelah usai. Mereka naik lagi dan pelan-pelan mulai melempari makam itu dengan tanah yang berbentuk bulat-bulat. Hingga papan yang menutup tubuh Bibi Ami tertutup sempurna. Baru setelah itu para penggali kuburan menguburnya lagi, hingga membentuk gubuk tanah merah.
Pada akhirnya, kita sadar bahwa kita hidup untuk mati. Bahwa kita semua tidak akan kekal abadi. Akan ada waktu giliran kita yang berada di dalam liang lahat itu. Sendiri, dan pelan-pelan di tinggal pergi oleh mereka yang menyayangi.
Saat itu tiba, amal ibadah yang menjadi teman. Perbuatan baik yang akan menjadi penerang. Dan ibadah yang akan melapangkan kesempitan.
''Ayo kita pulang. Kamu belum istirahat dari kemarin." Ajak Hanan pada Zahwa.
Wajah ayu Zahwa sama sekali tidak bercahaya . Sembab dan tak bernyawa. Baru saja dia kembali menemukan sosok seorang ibu lagi, namun harus menerima kepergiannya lagi.
Dia merasakan Dejavu dari saat pertama kakinya melangkah ke pemakaman tadi. Ingatan tentang kematian orang tuanya kembali terbayang-bayang. Seperti sedang terpampang jelas di depannya . Mereka semua meninggalkan dirinya, tanpa lebih dulu menunggu dirinya memberikan kebahagiaan untuk mereka.
Banyak hal yang dia inginkan ceritakan .Banyak hal yang dia ingin tanyakan. Banyak hal pula , yang ingin dia bagikan. Antara kebahagiaan dan juga kesedihan. Namun, semua itu kini hanya angan-angan. Mereka sudah pergi untuk selamanya, tidak akan kembali lagi. Kecuali, diri kitalah yang nanti menyusulnya.
''Aku _''
Tiba-tiba Zahwa pingsan. Hanan langsung panik, beberapa orang membantu menolongnya. Mereka membawanya ke salah satu rumah penduduk desa yang dekat dengan pemakaman.
''Tolong ambilkan mobilku!'' Ujar Hanan pada hafiz.
__ADS_1
Hafiz dengan tanggap bergegas berlari menuju rumahnya. Karena jarak antara rumah dan pemakaman tidak jauh, mereka tidak ada yang menggunakan mobil saat mengantar jenazah tadi. Namun, akan memakan waktu juga jika harus membawa Zahwa ke rumah. Apalagi saat ini sedang hujan.
''Zahwa? Bangun sayang.'' Hanan cemas. Dia berulang kali memanggil nama istrinya. Namun sama sekali tidak ada perubahan. Zahwa tetap pingsan.
Seorang ibu memberikan minta kayu putih untuk di oleskan di telapak tangan dan kaki. Hanan juga mendekatkan minyak kayu putih itu ke dekat hidup Zahwa, berharap dia akan terbangun. Namun sia-sia, Zahwa belum siuman juga.Membuat Hanan semakin khawatir.
''Mobilnya sudah datang.'' Seru salah seorang dari mereka. Hanan melihat ke luar rumah. Hafiz datang membawa mobilnya. Dengan segera Hanan menggendong istrinya dan memasuk ke dalam mobil.
Hafiz kembali melajukan mobilnya lagi Menerobos rintikan hujan yang tak kunjung berhenti.
Hanan menelpon very. Untung lah, dia masih ada di kebumen. Hanan menyuruhnya untuk langsung pergi ke rumah sakit.
''Bagaimana keadaannya?" tanya Hanan.
''Aku akan memeriksa.Tenang!''
Very juga baru sampai saat Hanan datang. Di sana juga banyak dokter lainya.
''Cepat! Dia belum siuman sama sekali!'' Kata Hanan khawatir.
''Bagaimana keadaannya?'' Tanya Hanan lagi
''Dia hanya Kecepek an. Tidak apa-apa, syukurlah ada berita baik juga untukmu. Zahwa hamil.'' Jawab Very.
''Alhamdulillah!''
''Kau biasa saja mendengar istri mu hamil?''
''Aku sudah tahu. Sebenarnya harusnya kemarin kami langsung memeriksakan kandungannya. Tapi karena bibi meninggal. Yah, kita tunda dulu."
''Lain kali sesibuk apapun, jika harus memeriksakan kandungan Zahwa tetap utamakan dia dulu.'' Ujar Very
''Ok. Tapi kenapa dia belum siuman juga?''
''Sebentar lagi. Tadi sudah aku suntikan obat."
''Keadaan anak kami bagaimana?''
__ADS_1
''Sampai saat ini seha Usia kandungannya sudah 5 Minggu. Super juga dia, semestinya saat usia kandungan pertama, dan bulan pertama wanita akan banyak mengeluh. Ini, itu dan lain sebagainya. Tapi, kelihatannya Zahwa berbeda. Tapi buka berarti kami harus teledor menjaganya. Ingat , ini masih bulan awal-awal kehamilannya. Jangan sampai dia capek lagi, stres dan beraktivitas berat dulu. Karena masih sangat rentan. Pola makannya pun mulai di jaga, hindari makanan terlalu manis. Perbanyak buah dan susu.'' Terang Very panjang lebar.
''Baiklah. Terimakasih. Oh, iya satu lagi Jika untuk kembali ke Jakarta. Apa keadaannya sekarang akan baik-baik saja.''
''Usahakan jangan sekarang. Besok atau lusa.''
''Ok."
Very memberikan beberapa resep obat dan vitamin untuk Zahwa. Itu harus dia minum setiap hari selama satu bulan. Dan untuk vitamin dan dua obat lainya.Harus di usahakan setiap hari di minum selama dia dalam masa kehamilan.
''Thanks You."
''It's ok. Nanti kalau ada apa-apa mending langsung ke hotel gua deh. Gak enek gua meriksa pasien gua di rumah sakit ini. Kayak di sini gak ada dokter lain aja. Bukan apa-apa, takutnya ada yang tersinggung. Ini rumah sakit, otomatis ada dokternya. Siapapun itu, tapi Lo manggil gua ke sini. Cuma meriksa Zahwa yang sedang pingsan aja, itu kesannya kayak gimana gitu. Gua sendiri yang gak enak sama orang-orang di rumah sakit. Meskipun, memang ada beberapa kenalan gua.
Tapi tetap aja, di sini bukan tempat dinas gua. Mestinya gua ada di rumah sakit sebelah, lagi nemenin Adek tingkat gua PPL." Kata Very setengah berbisik.
''Kenapa gak bilang sejak awal?!"
''Hah! Sama aja nih kayak istrinya. Kolot, di salahin, malah nyalahin balik.'' Kesal very.
''Ok ok. Terimakasih.''
Beberapa saat kemudian Zahwa siuman. Dia sedikit pusing, dan memanggil suaminya untuk membantu bangun dari tempat tidurnya.
Hanan menjelaskan kronologi kenapa dirinya Sampai di sini, karena Zahwa tidak mengingat apapun. Dia juga menjelaskan apa saja yang harus di lakukan sekarang saat kehamilan pertamanya.
''Aku akan baik-baik saja. Lebih baik kita pulang, pekerjaan di rumah bibi pasti banyak. Wardah pasti bingung sendirian.'' Ujar Zahwa. Dia ingin segera bangkit saja dari tidurnya.
''Kita pulang. Tapi kamu di sana istirahat. Kalau gak, lebih baik kamu di sini saja.'' Kata Hanan.
''Hah. Mana bisa seperti itu, aku baik - baik saja.''
''Gak ada bantahan. Pilih di sini atau di rumah tapi dengan syarat seperti tadi.'' Tawar Hanan.
Zahwa menghela nafas. Dia tidak boleh egosi sekarang. Suaminya semakin overprotektif setelah mengetahui jika dirinya hamil.
''Baiklah. Kita pulang.'' Balas Zahwa akhirnya menyerah.
__ADS_1