Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 33


__ADS_3

***


"Mbak Elena terlihat cantik dengan gamis itu," komentar bik asih. Dia melihat elena  sedang di depan cermin lemarim


Elena mengenakan gamis hitam Dengan model canda dan ikat pinggang kain yang membentuk pita di sampingnya . Berpadu dengan pasmina coklat susu serasi dengan kulit nya yang putih.


"Terima kasih bik, ini juga berkat bibi yang mau membantu saya untuk mengenakan hijab," kata elena. Dia tidak menyangka bahwa yang ada di depan cermin itu adalah dirinya.


"Ayo, sudah ditunggu.." ajak bik asih .


Elena mengangguk menyetujui. Mereka keluar dari kamar tamu tersebut. Di lihat Hanan dan Surya sudah berada di ruang tamu mungkin mereka sedang menunggu dirinya.


"Aku sudah siap. Ayo kita berangkat!" Ajak elena ketika sampai di ruang tamu.


"Kita tunggu Zahwa dulu," kata Surya


Dalam hatinya dia ingin segera melihat Zahwa memakai gamis yang ia berikan. Tidak bisa di bayangkan bagaimana Zahwa akan terlihat cantik saat mengenakan nya nanti .


"Aku akan menyusul ke kamar. Kalian duluan saja," kata Hanan.


"Tidak. Aku akan menunggunya. Maksud ku kami akan menunggu nya juga. Kita akan berangkat bersama-sama nanti,"


Baru saja hanan ingin menyusulnya. Zahwa sudah berada di tengah tangga. Dia berjalan pelan karena mengunakan high heels yang di berikan oleh Hanan tadi. Sebenarnya dia tidak terbiasa menggunakan high heels, biasanya hanya pakai slip on . Itu pun tidak ada yang hak nya tinggi.


"Lama sekali, " kata Hanan menyusul Zahwa. Dia membantu Zahwa menuruni tangga.


"Mau bagaimana lagi, kamu membeli kan high heels setinggi ini." Bantah Zahwa.


"Jika kesulitan kenapa kamu memakainya, aku hanya ingin kamu memakai gamis yang aku belikan .Itu pun jika kamu suka." protes hanan.


"Aku sudah memakai gamis yang kamu berikan, aku pikir akan bagus lagi jika aku memakai high heels ini juga," kata Zahwa. Lagi-lagi hanan tidak mengindahkan usahanya untuk terlihat baik di hadapannya.


"Tapi aku tidak memaksanya. Lagian kita mau ke masjid bukan ke kondangan," ujar Hanan


Mereka sudah menuruni tangga. Segera menyusul Surya dengan yang lainya.


"Ayo kita berangkat," seru Hanan.


Mata Zahwa dan Surya bertemu. Keduanya seperti mengisyaratkan sesuatu. Tapi entah apa itu.


Di depan gerbang rumah, mereka bertemu dengan beberapa tetangga yang juga akan pergi ke masjid. Mereka berbincang-bincang, jarang sekali ada waktu untuk saling bercanda dengan tetangga.


"Kamu istrinya Hanan?" Tanya seorang ibu yang berjalan bersama mereka.


"Eh, bukan Bu. Saya Elena," jawab Elena.


Karena Zahwa ada di belakang dan elena yang berjalan duluan dengan bik asih. Tidak salah, jika orang menganggap nya begitu.


"Apa pacarnya Surya?" tanya ibu itu lagi.


"Bukan - bukan. Dia tamu kami," jawab Surya. Dia yang berjalan di depan mereka berbalik karena merasa namanya di sebut.


"Oh, saya kira pacar kamu." Ejek ibu itu


Elena dan Surya hanya menanggapi dengan senyuman.


"Berarti istri Hanan yang ada di belakang itu," tanya ibu itu lagi menunjuk Zahwa yang sedang sulit berjalan mengenakan high heels. Hanan terlihat berjalan agak jauh di belakang Zahwa.


"Iya namanya Zahwa." Jawab Surya. Dia melihat Zahwa sedang kesulitan berjalan dan berkali-kali akan jatuh.


"Cantik. Tapi kenapa ke masjid saja pakai high heels," Komentar ibu itu


"Mungkin Hanan yang menyuruhnyam Setahu saya dia tidak pernah mengunakan high heels seperti itu," Bela Surya


Dia kasihan melihat Zahwa tapi dia juga tidak berdaya untuk sekedar menolong atau mengatakan jangan memakai high heels itu.


"Kita pulang saja dan ganti dengan sepatu biasa saja Zahwa," ujar Hanan sengaja dia berjalan di belakang Zahwa. Was was agar saat Zahwa terjatuh dia bisa menangkapnya.


"Aku sedang berusaha. Diamlah!"


Hanan terlihat kesal sendiri melihat Zahwa tersiksa. Tidak ada maksud membuat nya memakai high heels seperti itu. Dia juga tidak tahu, jika Zahwa sama sekali tidak pernah memakai high heels.


"Ku kira semua wanita menyukai high heels . Karena itu aku membelinya untukmu. Tapi malah membuat mu tersiksa seperti itu," kata Hanan


"Aku tidak tersiksa. Tenanglah! Lagi pula aku memang harus belajar memakai nya bukan? Untuk menyamai tinggi badanmu,"  kata Zahwa


Itu semakin membuat Hanan merasa bersalah. Dia berjalan menyeimbangi langkah Zahwa, memegangi tangan satunya agar dia bisa berjalan dengan baik.

__ADS_1


Hanan membantu Zahwa berjalan sampai mereka tiba di masjid. Tidak jarang orang memandang mereka dengan banyak omongan.


"Lihat, kamu belum tua. Tapi sudah membuat ku menuntun jalanmu," Ujar Hananketika mereka sampai ke masjid


Hanan membantu Zahwa melepas high heels nya.


"Ke masjid kok pakai high heels? Seperti mau ke kondangan saja," ujar salah satu ibu yang melewati mereka.


Zahwa tidak menggubrisnya. Dia fokus ke kakinya yang sedikit sakit.


"Jangan dengar kan omongan orang-orang itu? Masuk lah." Ujar Hanan


"Iya, aku mengerti." balas Zahwa


"Bik tolong Zahwa," kata Hanan pada bik asih yang sedari tadi bersama elena.


Dengan gopoh bik asih menghampiri mereka. Membantu Zahwa berdiri dan mengajaknya ke dalam masjid. Elena mengikuti mereka dari belakang.


"Zahwa terlihat kesakitan saat memakai high heels itu. Jangan paksa dia untuk memakainya," kata Surya setelah melihat Zahwa dan lainnya masuk ke dalam masjid.


"Aku tahu," balas Hanan. Dia kesal dengan kakaknya.


Dia tahu kalau kakaknya mencintai Zahwa tapi tidak sekali pun berbuat apa-apa. Dan lagi hanya menyalahkan dirinya setiap kali melihat Zahwa terluka.


Akhirnya mereka berdua juga masuk ke dalam masjid juga. Acara akan segera di mulai . Sebelum itu terdengar musik Hadroh dan sholawat di lantunkan untuk pembukanya.


Acara di mulai pukul 20.30 lumayan larut malam. Di mulai dari seorang melantunkan ayat suci Al Quran dan beberapa sambutan. Hingga inti acara nya adalah pengajian dari seorang kyai yang memang di undang khusus untuk acara tersebut.


Terlihat kyai yang sudah sepuh itu dituntun oleh seseorang untuk duduk di mimbar yang sudah di sediakan. Dia memberikan salam dan jama'ah menjawab serempak.


"Nama saya Jauhari Ahmad. Orang memanggil saya kyai Jauhari. Saya tidak tahu kenapa orang memanggil seperti itu lawong saya juga sama seperti kalian. Sama- sama masih suka menimba ilmu. Apa saya sudah terlihat sepuh?" Kata beliau membuka ceramahnya.


Beliau mengajak berinteraksi dengan para jama'ah agar mereka bisa sama-sama saling bertukar pikiran. 


"Saya itu masih muda, umurnya saja yang sudah tua " lanjut kyai Jauhari dengan sedikit tertawa. Membuat para jama'ah ikut tertawa juga.


"Hari ini saya gak akan ceramah. Gak apa-apa jika nanti tidak dapat bisyaroh karena melenceng dari tugas saya," Ujar beliau.


Para jama'ah yang tadinya merasa bosan dan mengantuk terlihat bugar lagi karena jenaka an kyai Jauhari.


Kelahirannya disambut sangat gembira oleh Rasulullah karena dia lahir pada saat tahun ke lima sebelum diangkat menjadi Rasul.


Fatimah mendapat julukan Az-Zahra karena dia tidak pernah haid dan pada saat melahirkan nifas hanya sebentar. Dia juga dijuluki sebagai pemimpin para wanita-wanita penduduk surga. "


"Jadi untuk para perempuan, menjadi Fatimah Az-Zahra sebagai tauladan itu penting. Ada salah satu kisah teladan dari Siti Fatimah, yakni tentang kalung yang dia miliki. Kala itu, Rasulullah tengah duduk di masjid bersama dengan sahabatnya."


"Ada seorang Musafir datang ke pada Rasulullah . Dia meminta makanan dan beberapa bekal untuk dirinya pulang ke rumah. Saat itu Rasulullah tidak mempunyai apapun yang bisa di berikan kepada musafir tersebut. Kemudian beliau menyuruh musafir itu datang ke rumah Putri nya Fatimah Az-Zahra. Untuk meminta apa yang di butuhkannya. Rasulullah mengatakan,"


Pergi lah ke tempat yang dicintai Allah dan Rasulnya. Dia lebih mengutamakan Allah daripada dirinya sendiri, itu lah Fatimah, putriku.""


"Setiap anak memang sebuah kebanggaan untuk orang tuanya, tidak salah jika Rasulullah berkata demikian. Tetapi sayang ketika musafir itu sampai di rumah Fatimah, dia juga tidak mendapatkan apa - apa. Fatimah tidak mempunyai apapun untuk bisa di jadikan bekal oleh musafir tersebut."


"Musafir terlihat kecewa dan itu membuat Fatimah tersentuh hatinya. Akhirnya dia teringat pada sebuah kalung yang di berikan suaminya Ali bin Abi Thalib sebagai hadiah pernikahan mereka. Dengan tanpa ragu dia memberikan kalung tersebut untuk musafir itu. Begitu bahagia nya musafir itu hingga tidak bisa berkata apa-apa."


"Sekarang jika ibu-ibu disini di posisi Fatimah . Apa mau memberikan kalung dengan senang hati seperti itu? " Tanya kyai tersebut pada para jama'ah wanita.


Terdengar dengan lantang ada yang mengatakan iya dan tidak.


"Sing ngomong Iyo aku tak dadi musafir Saiki . Omah ku adoh lo (Yang bilang iya, saya akan menjadi musafir sekarang. Rumah ku jauh Lo)" kata kyai itu. Membuat gelak tawa dari para jama'ah.


"Akhirnya musafir itu kembali lagi pada Rasulullah . Dan mengatakan bahwa Fatimah, putrinya telah memberikan kalung itu sebagai bekalnya. Salah satu sahabat Rasulullah bernama Ammar bersedia membeli nya dengan harga sangat mahal. Sehingga bisa membuat musafir itu membeli makan , baju dan bekalnya untuk dirinya. Esoknya sahabat Ammar meminta budaknya untuk memberikan kalung tersebut kepada Rasulullah sebagai hadiah. Beserta mengatakan kepada beliau bahwa budak yang membawa kalung tersebut juga sudah menjadi budak beliau."


"Saat itu juga Rasulullah menceritakan itu semua kepada Fatimah. Begitu bahagia nya Fatimah mendengar kabar tersebut. Karena tidak menyangka bahwa kalung tersebut bisa bermanfaat bagi banyak orang. Tidak hanya sebagai bekal , atau membeli makan seorang musafir tapi juga bisa membebaskan seorang budak. Karena setelah itu, Fatimah membebaskan budak yang membawa kalung nya itu."


"Subhanallah , ke ikhkasan Fatimah Az-Zahra memberikan banyak manfaat bagi banyak orang. Banyak pelajaran yang bisa di petik. Tentang keikhlasan dan juga memberi tanpa pamrih , meskipun itu adalah hal yang paling berharga sekali pun,"


Kyai Jauhari menceritakan banyak kisah tentang Fatimah Az-Zahra kepada para jama'ah. Hingga bisa di pilah dan di pilih mana yang seharusnya mereka jadikan tauladan. Karena setiap orang berbeda, dan mungkin salah satu kisah itu bisa menjadi contoh dalam menghadapi permasalahan hidup yang di jalani oleh masing-masing orang.


Acara selesai jam 23. 00 hampir tengah malam . Semua jama'ah berbaur pulang bersama-sama . Termasuk Zahwa ,elena dan bik asih . Terlihat Hanan dan Surya sudah menunggu mereka di halaman masjid.


Banyaknya jama'ah yang datang membuat mereka harus mengantri untuk mengambil dan mengenakan sandal atau sepatu. Zahwa memilih untuk menunggu hingga jama'ah mulai sepi.


"Ada apa? " Tanya Surya ketika melihat Zahwa terlihat bingung mencari sesuatu.


"Sepertinya high heels ku tidak ada. Dari tadi aku mencarinya, tapi tidak menemukannya," Jawab Zahwa.


Surya ikut mencari para jama'ah sudah banyak yang pulang. Tetapi high heels itu tidak di temukan dan juga tidak ada sandal atau sepatu yang bisa di kira tertukar.

__ADS_1


"Biarkan saja, kamu bisa pulang tanpa alas kaki . Untung hanya di masjid," kata Hanan. Dia juga tadinya ikut mencari.


"Kamu pakai sandal ku saja, biar aku yang nyeker " kata Surya. Dia melepaskan sandalnya dan menaruhnya di depan Zahwa.


"Tidak usah, aku bisa jalan tanpa alas kaki." Tolak Zahwa. Dia sudah keluar dari masjid tanpa alas kaki.


"Jangan keras kepala. Pakai saja, kaki mu akan tambah sakit nanti," kata Surya memaksa.


"Aku tidak apa-apa. Kakiku juga baik-baik saja," bantah Zahwa.


Hanan menunggu Surya dan Zahwa berdebat . Dia duduk di emperan masjid seperti orang sedang asyik menonton film.


"Sudah selesai debatnya? Bisa kita pulang sekarang?" Tanya Hanan ketika mereka sudah sama-sama diam. Keduanya menoleh ke arah Hanan.


"Kamu Mas, pakai saja sandal mu. Biarkan wanita ini pulang tanpa alas kaki. Itu kemauannya dan tidak perlu memaksanya," Kata Hanan menengahi.


"Dan Zahwa! Kamu sendiri yang memilih pulang tanpa alas kaki. Jadi terima resikonya!" Seru hanan kepada Zahwa.


Zahwa dan Surya bertatapan. Tanpa bicara lagi mereka menuruti apa yang di katakan Hanan. Surya terlihat kesal dan berjalan duluan , di susul elena dan bik asih.


"Ayo!" ajak Hanan.


Zahwa mengikuti suaminya. Berjalan berdampingan. Sebenarnya kakinya sakit, gara-gara memakai high heels tadi dan sekarang dia harus jalan tanpa alas kaki.


"Pakai sandal ku," kata Hanan. Dia melihat kaki Zahwa sedikit lecet dan melepas sandalnya.


"Tidak usah. Kenapa kamu dan kakak mu begitu keras kepala ingin aku menggunakan sandal kalian. Aku bilang aku baik-baik saja, " kata Zahwa menolak.


"Ya sudah... Terserah," kata Hanan. Dia memakai sandalnya lagi.


Tiba-tiba Hanan berjongkok di depan Zahwa. Zahwa kaget melihatnya.


"Naik. Tidak ada lagi penolakan," kata Hanan memaksa.


"Tidak mau. Malu jika di lihat orang. Lagipula aku memakai gamis," tolak Zahwa.


"Sudah lah ayo! Jalanan sudah sepi. Tinggal kita berdua, " tambah Hanan.


Zahwa melihat sekitar, tidak ada siapapun. Semua orang sudah sampai rumah masih-masing. Masjid juga sudah jauh dari mereka. Dengan ragu Zahwa akhirnya naik ke punggung Hanan.


"Kau berat juga," kata Hanan. Dia mulai mengangkat Zahwa.


"Aku akan turun jika kamu mengolok ku lagi," ancam Zahwa.


"Masih saja keras kepala." Kata Hanan. Dia mempererat pegangannya, membuat Zahwa tidak bisa turun dari punggungnya.


Sebenarnya malu, karena saat itu dia memakai gamis dan cukup lebar. Jika ada orang yang melihat nya pasti mereka akan mengolok-oloknya.


"Terima kasih atas baju dan high heels-nya. Tapi sayang, belum ada satu hari high heels nya sudah hilang." Kata Zahwa menyayangkannya.


"Apa kamu tidur saat kyai Jauhari ceramah?" Tanya Hanan. Mereka sudah sampai rumah. Zahwa meminta turun dari punggungnya dan hanan menurutinya. Keduanya berjalan menaiki tangga menuju kamar mereka.


"Tidak. Aku mendengarnya," jawab Zahwa. Kali ini dia duduk di sofa kamar. Dia mulai memijat kakinya.


"Lalu kenapa masih saja menyayangkan barang yang hilang atau di ambil orang," kata Hanan.


Zahwa terdiam dan mengingat kembali ceramah kyai Jauhari tadi. Kemudian melihat Hanan yang sudah mengeluarkan baju gantinya dari lemari.


"Tapi itu pemberianmu. Seperti halnya Fatimah yang sebenarnya sayang terhadap kalung itu. Aku pun juga sama," Terang Zahwa


Hanan terlihat mencari sesuatu dari lacinya . Sebuah obat oles dia berjalan ke arah Zahwa . Tanpa bicara dia langsung mengangkat kaki Zahwa yang sakit dan mengolesinya dengan obat yang dia bawa.


"Apa kamu menganggap aku ini Ali? Sehingga kamu begitu sayang dengan high heels itu? Kenapa kamu tidak berfikir aku ini Ammar. Yang hanya beruntung mendapatkan kalung itu dan kemudian bisa mengembalikan kepada pemilik aslinya," kata Hanan . Dia meletakkan kaki Zahwa dengan pelan setelah mengoles kan obat tersebut pada kakinya.


"Eh, kenapa kamu berfikir begitu?" Tanya Zahwa bingung.


"Tidak apa-apa. Kamu terlalu memikirkan kisah Ali dan Fatimah. Padahal sampai kapanpun kita tidak bisa seperti mereka. Kita hanya bisa menjadikan mereka tauladan. Itu saja," Jawab Hanan


"Kenapa? " Tanya Zahwa lagi. Dia tidak mengerti apa yang sedang di pikiran suaminya itu.


"Karena kita Hanan dan Zahwa. Bukan Ali dan Fatimah. Apa itu sudah jelas," Jawab Hanan


Zahwa terdiam, dia menatap Hanan lekat . Suaminya mengatakan yang membuat hatinya berdetak kencang, tapi Hanan seakan biasa saja dan melanjutkan kegiatannya yang sedang ingin Menganti pakaiannya.


"Kenapa kamu menatapku. Apa kamu ingin melihat ku berganti baju? Tutup mata aku malas ke kamar mandi, " seru Hanan.


"Iih dasar, " umpat Zahwa. Dia langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Hingga Hanan selesai memakai baju gantinya.

__ADS_1


__ADS_2