
Hoek Hoek Hoek.
Pagi-pagi sekali Hanan sudah diributkan akan perutnya yang terasa sangat mual. Dia memuntahkan semua yang ada dalam perutnya. Hingga membuat dirinya ngos-ngosan. Karena rasa mualnya tidak kunjung reda.
''Kamu masuk angin yang?'' Tanya Zahwa. Dia khawatir karena suaminya tiba-tiba muntah-muntah tanpa sebab.
''Tidak. Badan ku terasa sehat, tapi kenapa rasanya mual sekali.'' Keluh Hanan. Dia berjalan sempoyongan, membuat Zahwa harus membopongnya sampai di tepian ranjang.
''Akan aku buatkan teh hangat untukmu, kamu berbaringlah dulu.'' Kata Zahwa, dengan membantu membaringkan suaminya di atas ranjang. Dan menutupinya dengan selimut.
Baru setelah itu Zahwa pergi ke dapur.Dia langsung memanasi air untuk membuat teh.
''Ada apa non?Kok gelisah begitu?'' Tanya Bibi Asih yang tiba-tiba datang membawa hasil belanjaannya.
''Mas Hanan muntah-muntah bi. Masuk angin kali," Jawab Zahwa.
Dia menuangkan teh pada secangkir kopi, memberinya gula satu sendok setengah gula kemudian di aduk.
Zahwa juga membuatkan dua lapis roti tawar dengan selai kacang dan coklat untuk suaminya. Meletakkan teh dan roti tersebut dia atas nampan dan membawanya ke kamar.
''Heboh banget. Ada apa?" Tanya Surya, dia baru saja datang dengan menenteng koran di tangannya. Baru saja ingin duduk di meja makan perhatiannya tertuju pada Zahwa yang sibuk membawa nampan menuju kamarnya.
''Katanya Mas Hanan mual-mual mas,'' Jawab Bik Asih. Zahwa sudah ngeloyor tanpa menjawab pertanyaan Surya.
''Apa dia masuk angin? Atau mungkin kecapekan." Pertanyaan demi pertanyaan hinggap di benak Surya.
Wajar jika Hanan sakit. Dia pasti juga kecapekan. Beberapa hari mereka tidak istirahat secara teratur. Harus menunggu bibi di rumah sakit. Bolak balik hotel dan rumah. Dan belum lagi jika ada keperluan mendadak lainya.
''Aku akan telpon very. Takutnya tipesnya kambuh." Kata Surya mulai mengeluarkan ponselnya dan menghubungi very.
Tut Tut Tut.
Panggilan di putus. Very tidak menjawab panggilannya.
''Mungkin dia sedang ada pasien.'' Duga Surya.
''Kirim pesan saja mas. Takutnya , nanti ada apa-apa.'' Tambah Bik Asih, dia mulai ikut cemas juga.
Surya menyetujui usul Bik Asin. Surya mulai mengetik pesan untuk very. Jika tidak ada very, setidaknya akan ada dokter yang akan memeriksanya.
***Very**
Hanan sakit. Jika kau tidak sibuk datanglah kerumah segera. Kalau tidak bisa, tolong Carikan teman dokter mu untuk datang di sini* .
send
Surya sudah mengirimkan pesan WhatsApp . Beberapa detik kemudian pesan balasan dari very muncul.
__ADS_1
Rumah mana? jelaskan? kalian masih di kebumen atau sudah kembali ke Jakarta. Kirim alamatnya, aku akan minta teman ku untuk pergi ke sana. Aku sibuk . Jangan ganggu dulu .
''Kenapa dia? Marah-marah gak jelas.'' Ujar Surya setelah mendapatkan balasan dari Very.
''Bik, buatkan sup dan juga bubur untuk mas Hanan!'' Teriak Zahwa dari lantai dua. Sontak membuat Surya mendongak ke atas melihatnya. Tapi Zahwa sudah tidak terlihat lagi, hanya punggungnya yang terlihat masuk ke dalam kamar lagi.
''Apa separah itu?" tanya Surya cemas. Dia bergegas naik ke tangga menuju kamar adiknya tersebut.
Sedang Bik Asih yang mendapatkan perintah dari Zahwa segera menyiapkan sup dan juga bubur pesanannya. Bik Asih ikut tegang melihat ke khawatiran mereka semua.
''Apa Hanan sakit parah?'' Tanya Surya setiba di kamar mereka. Mereka berdua sedang ada di kamar mandi.
''Dia mual-mual terus. Lihat, keringat dingin bercucuran. Tapi tidak ada yang keluar dari mulutnya.'' Jawab Zahwa. Dia memijat - minat pundak suaminya yang masih membungkuk di westafel kamar mandi.
''Kau sudah memberikan minyak kayu putih kepadanya?" Tanya Surya
''Aku baru saja ingin memberikan minyak kayu putih. Tapi belum sempat, karena mas Hanan langsung lari ke kamar mandi setelah meminum teh hangat. Aku pun panik dan ikut ke sini.'' Jawab Zahwa terlatah - latah.
''Apa perut mu sakit? Tipes mu kambuh?'' Tanya Surya pada Hanan.
Hanan membalasnya dengan menggelengkan kepalanya. Tangannya melambai tanda tidak.
''Mungkin dia kecapekan dan masuk angin.'' Ujar Surya.
''Mungkin saja. Tapi mas Hanan hanya mual, dia bilang dia tidak pusing ataupun merasa tidak enak badan.'' Balas Zahwa.
''Apa sudah mendingan?'' Tanya Surya.
''Sudah."
Surya menarik tangan Hanan, memapahnya keluar kamar mandi dan membaringkan dia di tempat tidur.
''Aku ingin makan asam-asam. Apa di rumah ada mangga muda?'' Tanya Hanan.
Surya dan Zahwa saling bertatapan. Tidak mengerti dengan apa yang terjadi kepada Hanan. Baru saja dia mual-mual, dan sekarang tiba-tiba dia ingin mangga muda.
''Jangan makan yang asam-asam. Kau sedang sakit , lambung mu tidak akan kuat.'' Larang Surya.
''Tapi aku ingin. Tolong Carikan mangga muda, aku beneran ingin memakannya.'' Ujar Hanan. Dia seperti anak kecil yang keinginan harus di turuti.
''Aku ambilkan buah lain, tapi tidak mangga muda." Kata Surya.
''Tidak, aku ingin mangga muda. Titik, jika kalian tidak ingin mencarikan aku yang akan cari sendiri.'' Tandas Hanan berusaha bangkit dari tempat tidurnya. Entah mengapa, dia ingin sekali makan mangga muda. Bayangan akan kelezatan, dan keasaman mangga muda memenuhi pikirannya. Rasanya, air liurnya ingin keluar saja.
''Apa dia kemarin terbentur sesuatu?'' Tanya Surya, heran melihat perubahan yang di alami Hanan.
''Tidak. Tadi malam dia masih baik-baik saja. Subuh tadi , dia mulai seperti ini.'' Jawab Zahwa.
__ADS_1
Mereka semua tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Hanan. Setiap kali makanan atau minuman dia mulai makan, pasti semua akan ia muntahkan.
''Aku sudah menghubungi very. Tapi dia tidak bisa ke sini. Mungkin dokter lain yang akan kemari.'' Ujar Surya . Dia berharap dokter suruhan very segera datang dan segera memeriksa adiknya itu.
''Non ini sup dan buburnya. Masih hangat,'' Bik Asih datang membawa sup yang masih mengepul. Aroma khas sup itu tercium sangat nikmat. Membuat seseorang segera ingin memakannya.
''Aku tidak mau sup itu. Itu sangat menyengat.'' Kata Hanan. Semakin membuat khawatir orang-orang yang menunggunya.
Saat dia sakit, dia akan meminta makan dengan sup dan bubur saja. Tapi kali in, dia menolak makan itu. Sebenarnya, apa yang terjadi pada dirinya?
Suara bel rumah berbunyi. Bik Asih segera turun, dan membuka pintu utama. Seorang dokter wanita di depannya. Dia dokter yang sama yang memeriksa kehamilan elena dulu.
''Aku disuruh dokter very ke sini? Apa ada yang sakit?'' tanya dokter tersebut.
''Iya dok. Silahkan masuk. Kita langsung ke kamar atas saja.'' Jawab Bik Asih mempersilahkan. Dia mengajak dokter itu ke kamar Zahwa.
''Selamat pagi.'' Salam Dokter itu sebelum dia masuk kamar.
''Pagi dok.'' Balas Surya.
Zahwa mengingat dokter wanita itu juga. Dia semakin bingung lagi, kenapa dokter itu yang datang ke sini. Bukankah, dia bagian kehamilan?
''Maaf dok, tapi suami saya yang sakit. Dia mual-mual sejak subuh tadi. Apa mungkin penyakitnya kambuh?'' Tanya Zahwa. Dia tidak ingin menyinggung dokter tersebut. Namun, mungkin akan salah jika dokter itu yang memeriksa suaminya.
''Aku akan periksa suami mbak dulu. Tidak apa-apa, ini hal wajar kok.'' Katanya. Semakin tidak mengerti dengan apa yang di katakan dokter tersebut.
Zahwa berpindah tempat untuk memberikan ruang untuk dokter wanita itu memeriksa suaminya. Kali ini, dia hanya berharap jika dokter itu bisa mengetahui penyakit suaminya.
Dia menekan-nekan bagian perut atas suaminya. Mengecek nadinya, dan juga tensinya.
''Bagaimana dok? apa dia perlu di rawat?'' tanya Surya.
''Tidak perlu. Dia baik-baik saja. Secara medis asam lambungnya naik, karena itulah dia muntah-muntah. Bisa di katakan juga sebagai couvade syndrom. Hal ini biasa terjadi saat awal-awal kehamilan istri.'' Jawab dokter itu.
Tidak ada yang bergeming. Tanda ketidak mengerti akan apa yang di maksud dokter tersebut.
''couvade syndrom ini membuat suami, atau mungkin teman dekat istri mengalami mual, kram dan gejala-gejala kehamilan lainya. Biasanya, sindrom itu bersifat sementara. Dan akan menghilang setelah bayi lahir." Jelas Dokter tersebut.
''Jadi maksud dokter , mas Hanan nyidam ?'' Kata Bik Asih menyimpulkan.
''Bisa di katanya seperti itu bik.'' Balas Dokter itu dengan tersenyum.
''Kamu ngidam mas? Hamil berapa bulan?" tanya Zahwa, sambil menahan tawa.
Hanan langsung pucat pasi saat istrinya berkata hal tersebut. Di susul beberapa gelak tawa lainya .
''Bisa di bilang semakin kuat ikatan batin suami ke sang istri, maka gejala yang ia alami juga lebih intens. Jadi jika terjadi, rasa mual, muntah, kaki bengkak tiba-tiba, sakit di bawah perut dan bawah tidak usah khawatir , itu hal biasa. Itu sebagian gejala Covade syndrome. Aku akan memberikan beberapa resep untuk meredakan gejala itu." Tambah dokter cantik itu. Dia sedang menulis beberapa resep di kertas.
__ADS_1
''Hah. Aku baru tahu, ada hal seperti itu di dunia ini.'' Ujar Surya. Dia masih belum percaya dengan apa yang di jelaskan dokter. Itu seperti hal yang tahayul, tapi bahkan kedokteran saja bisa memiliki istilah sendiri dalam menamai gejala itu.