
Pagi sekali setelah acara semalam. Hanan menemui seorang di depan gerbang rumahnya. Dia sedang membawa high heels Zahwa yang semalam hilang.
"Terima kasih," kata Hanan.
"Sama - sama mas, tapi kenapa mas menyuruh saya mengambil sepatu itu. Orang nya pasti mencari. Saya takut kalau ada yang mengetahuinya di kira saya yang mencuri nanti." Kata orang itu. Heran dengan permintaan Hanan.
"Tidak akan. Yang punya sepatu ini istri saya. Kemarin kakinya lecet karena memakai high heels ini. Aku pikir akan lebih baik jika dia tidak menggunakan nya lagi," terang Hanan.
"Oalah...Iya iya... Syukurlah kalau begitu," Ujar orang itu dengan senyum.
"Jangan bilang siapa-siapa ya pak tentang high heels ini. Jika ada orang tanya, bilang saja di temukan di halaman masjid."
"Siap. Saya permisi dulu," kata orang itu seraya pergi.
Hanan masuk setelah orang itu pergi. Membawa high heels itu bersamanya.
"Loh itu bukanya high heels non Zahwa?'' Ujar bik asih melihat Hanan membawa high heels itu di tangannya.
"Di antar seseorang tadi, di temukan di halaman masjid," kata Hanan.
Hanya alasan itu yang bisa dia berikan. Toh memang sebenarnya high heels itu tidak hilang. Apalagi di curi orang, jika memang begitu itu adalah Hanan sendiri. Yang menyuruh orang untuk mengambilnya dan mengembalikan esok paginya.
"Oalah, iya mas. Kasihan kemarin non Zahwa kesakitan pakai high itu." Tambah bik asih.
"Oh iya bik, kenapa kemarin bik asih terlihat sering bersama wanita itu dari pada Zahwa? Padahal kemarin Zahwa sedang kesulitan." Tanya Hanan. Dia juga memperhatikan bik asih yang seakan cuek kepada Zahwa setelah ada elena di rumahnya.
"Bukan begitu, Mas. Saya juga kasihan. Tapi kata mbak elena suruh biarin saja," Jawab bik asih
"Kenapa dia berani sekali berkata begitu ? Dan bik asih menurutinya begitu saja," Hanan berkata dengan nada tinggi. Kecewa akan perubahan bik asih kepada Zahwa.
"Bukan begitu, Maa. Mbak elena bilang jika mbak Zahwa ingin belajar memakai high heels itu untuk mas Hanan jadi saya biarin saja. Lagi pula kata mbak elena , karena high heels itu mas Hanan dan non Zahwa terlihat mesra jadinya, " Terang bik asih dengan sedikit malu.
Hanan diam. Kenapa orang asing begitu mementingkan hubungannya dengan Zahwa? Seandainya mereka tahu cerita sebenarnya, mungkin tidak akan melakukan itu semua.
Tanpa berbicara lagi, Hanan kembali menaiki tangga dan pergi ke kamarnya.
Zahwa tampak merapikan diri di depan cermin.
"Kamu mau pergi?" Tanya Hanan. Tidak biasanya Zahwa sudah rapi sepagi ini.
"Aku akan bertemu dengan kakak sepupuku, " Jawab Zahwa. Dia berbalik menatap Hanan matanya tertuju pada apa yang ada di tangan suaminya itu.
"Itu high heels? Kok bisa ada bersamamu?" tanya Zahwa
__ADS_1
"Ada seseorang yang mengantar ini tadi . Katanya ini di temukan di halaman masjid," jawab Hanan
Dia meletakkan high heels itu pada kotak lagi dan meletakkannya di atas lemari.
"Aneh. Padahal kemarin kita sudah mencari nya bersama-sama tapi tidak ketemu, " Ujar Zahwa
"Kamu sering bertemu dengan kakak sepupu mu itu. Ada urusan?" Tanya Hanan mengalihkan pembicaraan .
"Tidak. Hanya ingin bertemu,' Jawab Zahwa. Dia memilih tas di lemarinya.
"Oh," Hanan tidak lagi mengeluarkan suara . Setelah membawa kemeja yang akan dia pakai, dia masuk ke dalam kamar mandi.
*Cling
*Mas Surya*
[Bisakah kita bertemu di luar rumah . Aku ingin membicarakan sesuatu]
Isi chat dari Surya. Zahwa seperti sedang menduga-duga apa yang akan di bicarakan Surya nantinya. Memikirkan lagi apakah dia mau bertemu dengan Surya nantinya? Apalagi di luar rumah.
"Aku akan lembur hari ini. Berhubung kamu akan menemui kakak sepupu mu. Kamu ajak dia untuk berbelanja, sebagai gantinya yang kemarin," Kata Hanan setelah dia keluar dari kamar mandi. Zahwa tersentak sedikit karena hanan keluar tiba-tiba.
"Apa sedang banyak kerjaan?" Tanya Zahwa
Dia terlihat sedang merapikan rambutnya. Membenahi kancing kemejanya dan merapikannya.
"Oh, aku menjadi teringat kembali jika kamu akan ke London." Kata Zahwa. Dia mengambilkan jas yang sudah ia siapkan dari tadi dan membantu Hanan memakainya. Keduanya terlihat sedang saling tatap di cermin.
"Sudahlah. Kita sarapan," kata Hanan. Suasana hati Zahwa sedang senang. Dia tidak ingin membuatnya memikirkan sesuatu yang akan membuatnya sedih lagi.
Tanpa bersuara mereka keluar dari kamar. Zahwa sedikit memberi jarak dia sedang mengirim pesan singkat untuk Surya.
[Baiklah. Kirim alamat dimana kita akan bertemu nanti.]
Zahwa memasukkan lagi ponselnya dan langsung menyusul Hanan yang sudah sampai di meja makan.
Bik asih sedang menghidangkan beberapa makan di bantu oleh Elena. Setelah semua hidangan di keluarkan mereka makan bersama.
"Selamat pagi," Sapa Surya. Dia terlambat tidak seperti biasanya.
"Pagi, Mas Surya," balas Elena.
Sepertinya hanya dia yang menjawab sapaannya. Hanan dan Zahwa sedang asyik menyantap sarapannya.
__ADS_1
Saat sedang ingin mengambil makanan. Surya mengecek ponselnya. Setelah itu dia melihat ke arah Zahwa, mungkin dia baru saja mendapatkan chat balasan dari dirinya.
"Mau saya bantu ambilkan, Mas?" Tawar Elena. Dia sudah akan mengambil piring Surya dan mengisi nya dengan nasi.
"Tidak usah. Saya ambil sendiri saja," tolak Surya. Dia menahan tangan Elena untuk mengambil piringnya dan mengambil sendiri sarapannya.
Setelah sarapan semua bersiap pergi ke kantor .
"Kamu membawa mobil sendiri, kan?" Tanya Hanan sebelum dia masuk dalam mobil.
"Iya. Aku akan berangkat setelah ini," Jawab Zahwa.
"Jangan di tinggal lagi mobilnya seperti kemarin," pesan Hanan dia sedikit was- was, teringat terakhir kali Zahwa meninggalkan mobilnya begitu saja di resto dan pergi entah kemana.
"Iya," Balas Zahwa.
Setelah itu mobil sudah melaju meninggalkan pekarangan rumah. Zahwa ingin kembali ke dalam rumah, tapi melihat Surya sudah berada di belakangnya.
"Kamu meminta izin pada Hanan?" Tanya Surya
"Aku mengatakan akan menemui kak Bella," jawab Zahwa
"Apa kamu ingin menemui Bella sungguhan atau hanya alasan?"
"Aku memang akan menemui kak Bella , dia sedang ada di rumah paman , eh maksudku di rumah orangtuanya," Jelas Zahwa.
"Kalau begitu kita berangkat bersama saja. Kita bisa sekalian bicara saat di jalan," tawar Surya.
"Tidak. Aku bilang akan membawa mobil sendiri. Aku takut mas Hanan akan curiga kalau kita berangkat bersama," tolak Zahwa.
"Ketakutan mu itu malah membuat Hanan curiga. Satu mobil dengan kakak iparnya itu hal lumrah Zahwa , apalagi kita memang satu arah," Ujar Surya.
"Kalau begitu aku akan memilih mas Hanan untuk mengantarkan aku." Balas Zahwa
Tanpa menunggu, Zahwa mengambil tas yang tadinya di letakkan di meja ruang tamu. Mengambil kunci mobil dan berjalan melewati Surya yang masih menatapnya.
Dia menuju garasi, mengeluarkan mobilnya. Beberapa detik kemudian mobil itu sudah membawa pergi pengemudi, hilang dari pandangan Surya.
Surya juga terlihat mulai memanasi mobilnya , setelah di rasa cukup dia juga siap meninggalkan pekarangan rumahnya.
[Kita akan bertemu di jam makan siang. Katakan saja kamu ada di mana saat itu aku akan kesana]
Surya mengirim chat kepada Zahwa. Penting baginya untuk segera berbicara empat mata dengannya. Banyak hal yang harus di luruskan. Belum lagi tentang kenyataan bahwa yang seharusnya menikahi Zahwa adalah dirinya.
__ADS_1
Entah Zahwa akan menerimanya atau tidak? Jika dia masih mempunyai cinta untuk dirinya, mungkin dia akan senang. Tetapi jika tidak, entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia juga belum bisa memastikan.