Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 59


__ADS_3

"Tidak apa-apa Mbak Zahwa. Itu hal yang biasa." Kata Elena, dia tahu Zahwa sedang menahan malu.


"Aku tidak tahu jika dia menggunakan obat itu." Balas Zahwa.


"Hahaha.Aku biasa melihat orang memakai obat seperti itu. Untuk merangsang dirinya sendiri, terkadang juga untuk memaksa seseorang agar mau melakukan hubungan intim." Terang Elena.


"Memaksa? Apa bisa seperti itu?" Kali ini Zahwa pemasaran dengan penjelasan Elena.


"Bisa Mbak. Madam nur selalu memberikan obat seperti itu kepada wanita baru di lokalisasi kami. Tanpa sepengetahuan mereka dengan begitu dia akan tetap melakukan hubungan intim tersebut, walaupun awalnya dia tidak mau." Cerita Elena.


"Jadi maksudnya, seseorang bisa saja terpaksa melakukan hubungan intim tersebut. Tapi karena efek obat itu , dia tetap bisa melakukannya." Kata Zahwa, dia menjelaskan penangkapan dari perkataan Elena.


"Iya begitulah. Bahkan seseorang yang di perkosa bisa saja menikmatinya. Jika sebelumnya dia meminum obat itu." Jelas lagi Elena.


Zahwa diam. Hatinya kembali gundah. Dia berharap ,apa yang di lakukan Hanan kemarin malam bukan karena terpaksa. Tapi memang keinginannya.


"Mbak? Kenapa bengong?" Tanyakan Elena membuyarkan lamunan Zahwa.


"Tidak. Jadi bagaimana rencana mu setelah ini?" Tanya Zahwa mengalihkan pembicaraan. Dia harus fokus pada Elena sekarang.


"Aku akan hidup bersama ibu ku. Dan mencari pekerjaan. Aku tidak mungkin kan jika harus merepotkan Mas Surya terus. Walaupun sebenarnya, Mas Surya juga tidak keberatan. Tapi aku harus tahu diri. Aku bukan siapa-siapa." Jawab Elena. Dia terlihat sedih.


"Kamu akan kerja apa? maksud ku, mungkin aku bisa membantu mu mencari pekerjaan yang cocok. " Tanya Zahwa. Dia terlihat prihatin dengan kondisi Elena.


"Saya suka desain kak sebenarnya. Aku sering desain baju." Jawab Elena girang.


"Desain. Kita sama, tapi aku tidak terlalu berminat. Hanya bisa itu pun karena aku kuliah di jurusan Desain." Kata Zahwa.


"Wah sayang sekali. Jika aku jadi Mbak , pasti aku akan mengembangkan ilmu ku." Balas Zahwa.


Zahwa terlihat tersenyum mendengarkan Elena. Elena selalu terlihat lebih baik dari dirinya, walaupun dia tidak seberuntung dirinya. Membuat Zahwa berkecil hati meskipun dia memiliki semua nya .


Bik Asih datang membawa minuman. Setelah itu mereka berbincang cukup lama.


"Aku izin ke kamar mandi kak. Boleh?" Tanya Elena tiba-tiba.


"Oh silahkan. Kamar mandi ada di ujung. Belok kiri. Di samping Dapur. " Jawab Zahwa.

__ADS_1


Elena mengerti. Di langsung beranjak dari tempat nya dan menuju kamar mandi.


"Non. Setelah ini saya tinggal di sini, ya.." Pinta Bik Asih.


"Kenapa Bik? Bik Asih di rumah bersama Mas Surya saja. Dia tidak akan merasa sendiri jika ada Bik Asih. Lagipula, aku dan Mas Hanan hanya sementara waktu tinggal di sini." Terang Zahwa. Bik Asih sungkan jika harus meninggalkan Zahwa sendiri dan mengurus rumah sendiri.


"Baik kalau begitu," Balas Bik Asih. Dia tidak bisa membantah keinginan Zahwa.


Beberapa saat kemudian, Elena datang dan kembali duduk di tempatnya.


"Bik, kita pulang? Pasti Mas Surya juga sebentar lagi pulang." Kata Elena.


"Apa kalian tidak bilang jika akan kemari?" Tanya Zahwa.


"Saya sudah mengabari lewat telpon tadi. Tapi, dia bilang setelah pulang kerja. Kami langsung pergi ke kontrakan." Jawab Elena.


Tidak terasa waktu mereka sudah habis. Zahwa merasa sedih, walaupun kadang dia juga merasa jengkel dengan Elena. Mereka berjabat tangan dan berpelukan seperti saudara yang akan terpisahkan. Bik Asih kembali menangis melihat mereka berdua.


"Mainlah ke sini jika kamu senggang." Pesan Zahwa.


Elena mengiyakan dengan mengangguk kepala


"Iya, nanti saya sampaikan." Balas Zahwa.


"Eh, kalian pulang naik apa?" Tanya Zahwa. Dia tersadar bahwa mereka tidak membawa mobil ataupun motor.


"Taxi. Aku sudah memesan Taxi online sebentar lagi sampai." Jawab Elena cepat.


Beberapa saat kemudian ada suara mobil dari luar. Mereka mengira itu adalah Taxi pesanan Elena. Mereka berpamitan sekali lagi dan Zahwa mengantar mereka ke luar.


Saat di luar tidak di sangka. Bukan Taxi yang datang. Tapi mobil jip dengan tiga orang preman dan juga satu wanita dengan dandanan menor.


"Mbak, Bik Ayo cepat masuk ke dalam rumah!'' Seru Elena. Dia terlihat panik.


Tanpa bicara mereka masuk kedalam rumah . Elena mengunci pintu utama. Ketegangan ada di antara mereka.


"Siapa mereka? " Tanya Zahwa. Bingung. Panik.

__ADS_1


"Elena! Cepat keluar! Kamu tidak akan lolos dari Madam Nor! " Teriak Wanita itu


"Dia madam Nor?" Tanya Zahwa pada Elena. Dia sudah ketakutan.


"Iya, mbak." Jawab Elena.


Zahwa dan Bik Asih berpandangan. Mereka ikut panik.


"Bik, cepat telpon Mas Hanan!'' Seru Zahwa.


Bik Asih dengan gopoh mengiyakan dan segera berlari menuju ke tempat lain untuk menelpon Hanan.


Preman - preman itu memaksa masuk dalam rumah. Wanita dengan postur tinggi besar , menyebut dirinya madam nor seakan tidak memiliki ampun.


Elena terlihat takut , tapi Zahwa mencoba melindunginya. Dia berada di depan nya dan mengisyaratkan elena untuk terus di belakangnya.


Zahwa sebenarnya dia juga takut, tapi melihat jam di tangannya membuat nya yakin. Bahwa sebentar lagi Hanan dan Surya akan segera datang. Berharap pintu itu bisa sedikit menahan preman-preman itu. Mereka sudah berusaha mendobraknya .


"Non saya sudah menelepon mas Hanan , dia sudah perjalanan ke sini, " kata bik asih. Dia membawa sedikit harapan.


Sekarang tinggal bagaimana waktu berpihak kepada mereka atau tidak. Zahwa melihat sekitar dia mencari sesuatu untuk bisa di jadikan senjata untuk melawannya.


"Bik ambil pisau dari dapur. Cepat!" Seru Zahwa tidak ada lagi yang bisa di pikirkan selain itu saat ini. Semua terasa buntu saat terdesak seperti ini.


"Tapi, non?" Bik asih ragu menuruti perintah Zahwa .


"Sudah, Bik. Ambil saja. Tidak akan terjadi apa-apa," kata Zahwa. Sedikit membentak.


Bik asih dengan penuh prihatin akhirnya pergi ke dapur. Mengambil pisau dan kembali di mana Zahwa dan elena berada. Dengan ragu bik asih memberikan pisau itu kepada Zahwa.


Tepat saat itu pintu rumah sudah berhasil di dobrak oleh preman-preman itu.


"Jangan mendekat. Atau kau akan akibatnya?!" Ancam Zahwa. Doa menjulurkan pisau ke hadapan preman-preman itu. Zahwa berjalan mundur menghindari langkah preman-preman itu yang masih tak gentar maju mendekati dirinya dan elena. Bik asih ada di paling belakang dia sama terpojoknya .


"Nona...Jangan main pisau. Jika tergores sedikit saja akan sakit." Kata salah satu preman itu mereka tidak merasa takut sama sekali dengan ancaman Zahwa.


"Suami mu akan datang sebentar lagi. Jika kau pergi , kau akan mati di pukul olehnya," ancam Zahwa. Dia masih mencoba menakuti dan mengulur waktu. Berharap Hanan segera datang.

__ADS_1


Preman itu tidak gentar sama sekali mungkin Zahwa sudah seperti mainan untuk dirinya. Yang bisa dengan mudah di musnahkan.


__ADS_2