Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 131


__ADS_3

Beberapa hari Zahwa di depannya obname. Setelah tiga hari, barulah dia di perbolehkan pulang. Lusa , Zahra juga harus kembali ke UCL.


''Sayang banget, padahal baru saja kita kumpul." Ujar Zahwa.


Dia sudah mengganti pakaiannya. Beberapa barang sudah siap mereka bawa pulang. Menunggu, para lelaki datang, kemudian pulang.


"Hmm...Jangan gitu, aku sedih. Belum lagi, kalau nanti harus pisah sama Mas Surya.'' Balas Zahra. Dia membantu, Zahwa membawakan salah satu tasnya.


"Iya, juga. Kalian harus pisah, padahal baru aja nikah. Nyesek, ya pastinya. Aku aja kalau sehari gak ketemu Mas Hanan saja, rasanya ngap-ngapan, kok. Apalagi, kamu, yang harus berbulan-bulan gak ketemu.''


Zahra sudah menahan dirinya, untuk tidak bersedih. Tapi, seperti tidak bisa lagi membendung kesedihannya. Dulu, dia bisa pergi dengan langkah tenang, meskipun tahu jika dia akan jauh dengan orang yang dia cintai. Tapi, kali ini berbeda, dia seakan merelakan belahan jiwanya yang akan tetap tinggal.


Melihat kakak iparnya itu menunduk sedih Zahwa langsung memeluknya. Memberikan kekuatan, dan juga ketabahan. Takdir,kita memang berbeda, pun dengan jalan ceritanya.


''Sudah, jangan sedih. Nanti, suami kita ke Ge-er an lagi." Zahwa menenangkan.


"Terlambat, kami sudah dengar." Sahut Hanan.


Dia bersama Surya sudah berdiri, dia ambang pintu seraya menghampiri mereka. Zahwa melepaskan pelukan Zahra.


Surya dengan cekatan, mengambil barang bawaan Zahra, untuk ganti membawanya. Sedang, Hanan langsung meluncurkan ciuman di kening Zahwa.


''Sehat, selalu jagoan ayah." Kemudian, Hanan membungkuk, mengelus perut Zahwa, berbicara dengan janin di dalam perut istrinya.


Very datang menghadap. Dia membawa beberapa obat-obatan yang harus di minum rutin oleh Zahwa. Dia juga, memberikan nasihat kesehatan tentang makanan, dan aktivitas yang harus di lakukan dan tidak boleh di lakukan oleh Zahwa.


"Baiklah, kalian bisa pulang. Kalau bisa secepatnya, dah." Ucap Very pada ke dua pasang di depannya.

__ADS_1


"Baru kali ini, ada dokter yang ngusir pasiennya." sindir Hanan, dengan tatapan sengit.


"Hahaha, sudah kebijakan saja. Untuk memberikan kesehatan untuk pasien, dan beberapa orang di sini. Karena, kalian ada di sini, semua suster mengabaikan pekerjaannya. Mereka berebut, meminta tugas di komplek ini." Terang Very.


"Kenapa, lagi? jangan-jangan Mas Hanan, tebar pesona lagi dengan para suster itu?" tebak Zahwa, mulai menatap curiga pada suaminya.


"Sumpah, dah. Selama di sini, aku juga sama kamu terus. Masih, aja curiga." balas Hanan, mencoba mematahkan kecurigaan istrinya.


"Bukan, Hanan saja. Tapi, kalian semua. Sukses, dah jadi trending topik di rumah sakit ini, gara-gara sikap kalian yang tidak segan memperhatikan ke Uwu -an kalian di depan publik. Nggak, nyadar apa, di sini pekerjaannya banyak jomblonya." Terang Very.


Mendengar itu , mereka berempat hanya bisa bertukar pandang. Merasa tidak melakukan apapun, dan menganggap apa yang mereka lakukan itu adalah hal wajar-wajar saja.


Setelah itu, tanpa menunda banyak waktu mereka berempat pamit pulang. Berjalan beriringan, melewati koridor rumah sakit, dengan saling bergandengan dengan masing-masing pasangan.


Setibanya, di ruang persalinan dan ruang anak. Langkah mereka terhenti seketika. Saat melihat seseorang yang berdiri tepat di depan mereka. Sontak, mereka terkejut dengan kedatangan orang tersebut, mata mereka terbelalak.


Ya, orang itu Elena. Perempuan yang pernah hadir di rumah mereka, dan berusaha merusak kehidupan mereka. Perempuan itu, sedang mengunakan pakaian pasien, duduk di kursi roda dengan seorang bayi dalam dekapannya. Di belakangnya, ada seorang suster yang menuntut kursi rodanya.


"Mbak Zahwa, Mbak Zahra ? Bolehkah, aku berbicara pada kalian?"


"Ada apa lagi Elena? Jika ingin bicara, di sini saja. Tidak usah meminta Zahwa dan Zahra, kami tidak akan mengizinkan mereka dekat-dekat lagi dengan mu!" Hanan, menghadang ke depan terlebih dahulu. Seketika, muncul amarahnya. Mengingat, bagaimana bejatnya dirinya dengan keluarganya dahulu, apalagi tentang dirinya yang ingin menyakiti Zahwa.


"Suster, tolong tinggalkan aku, aku ingin bicara dengan mereka."


Mendengar hal itu, suster yang menjaganya pergi, setelah sebelumnya permisi.


Sejenak, tidak ada berbicara. Mereka menunggu Stella berbicara. Wanita itu sedang menitikkan air mata, sambil menatap bayi di depannya. Mungkin saja, itu adalah anak yang dulu di kandungannya. Anak yang sama, yang pernah dia gunakan untuk merebut posisi Zahwa, dan bahkan memfitnah Surya.

__ADS_1


"Aku terkena kanker serviks. Stadium akhir, syukur. Aku masih bisa melahirkan putra ku, dia baru lahir setelah operasi sesar dua Minggu yang lalu." Kata Elena. Dia masih sedang memandang bayinya itu. Sedang mereka yang di depannya, tidak hentinya mengucap istighfar. Tidak menyangka, bahwa hidupnya kali ini sangatlah menyedihkan.


"Aku tidak tahu, kapan Alloh mengambil nyawa ku. Tapi, sebelum itu aku berdoa, semoga sebelum aku meninggal. Putra ku, bisa ku serahkan pada seseorang yang bisa mendidiknya dengan cara yang benar. " Lanjut Elena. Dia mulai, menatap satu persatu orang di depannya.


"Setelah itu, aku mendengar bahwa ada pasangan suami istri yang saling mencintai di komplek ini. Mereka saling menjaga, dan juga menguatkan. Bahkan tidak segan-segan, memamerkan kemesraan. Aku ingin mengetahuinya. Mungkin saja, aku bisa meminta tolong pada mereka. Dan, ternyata pasangan itu adalah kalian. Entah, mungkin ini lah jawaban dari doa-doa ku." Tambah Elena, dari matanya, terpancar harapan yang membara.


"Apa maksudmu, Elena?"


"Aku mohon, dengan sepenuh hati yang mengiba, jadikanlah putra ku sebagai anak kalian. Rawatlah, dia!"


Bagai petir di siang bolong, semua terkejut dengan perkataan Elena.


"Aku yakin, kalian akan menjadikan putra ku manusia yang baik. Seperti kalian, yang tidak mengenal rasa dendam dan hal-hal keji lainya. Aku mohon...jadikan putra ku, sebagai anak kalian." Mohon Elena dia menyodorkan bayi itu, pada mereka berempat.


Bayi itu tiba-tiba menangis. Entah, karena sang ibu yang tiba-tiba tidak lagi mendekapnya, atau karena ikut memohon pada ke empat orang di hadapannya.


"Umur ku tidak panjang lagi, jika aku di berikan kesembuhan, pun. Aku berjanji, tidak akan menganggu kehidupan kalian. Asalkan, putra ku bisa hidup dengan tenang, dengan benar. Bahkan sekalipun, dia tidak mengetahui siapa ibunya sebenarnya." Kata Elena lagi, meyakinkan. Karena tidak ada seorangpun yang segera menerima bayi tersebut.


Zahra dan Zahwa berlahan maju mendekat, menatap bayi tersebut yang sedang menangis. Melewati Hanan yang tadinya berdiri paling depan.


Keduanya, bersama-sama menerima bayi tersebut. Memandangnya, dan kemudian Zahwa memeluknya. Mencium bayi tersebut bertubi-tubi.


"Kami akan menjaga putra mu. Dan setelah ini, pegang janji mu, untuk tidak lagi menganggu kehidupan kami lagi." Ujar Zahra.


Elena menunduk, menangis tersedu-sedu. Kemudian, seorang suster membawanya pergi dari hadapan mereka.


Hanan dan Surya menghampiri bayi dalam gendongan Zahwa. Seakan tidak percaya, bahwa kali ini ada seorang anak di antara mereka.

__ADS_1


"Ayo kita pulang..." Ajak Hanan. Kemudian, mereka melanjutkan perjalanannya. Pulang kerumah, dan memikirkan masalah ini bersama-sama. Ke Padang, sendirian itupun sudah dua Minggu lamanya.


__ADS_2