Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 128


__ADS_3

"Ada apa?" tanya Hanan


Dia melihat Zahwa termenung di balkon teras lantai dua. Dia masih memakai piyama tidurnya, matanya menatap pepohonan yang tumbuh di depan rumah.


''Tiba-tiba, aku teringat orang tuaku Mas.'' Jawab Zahwa.


Hanan langsung tegang. Kemudian faham. Membuang nafasnya berlahan. Dia melangkah maju, mengimbangi posisi Zahwa yang masih memegangi pagar pembatas balkon. Ikut melihat dedaunan yang tertiup angin. Menikmati angin yang menerpa wajah mereka.


Sayup-sayup terdengar riuh beberapa orang di lantai bawah. Mereka adalah keluarga Zahra. Malam tadi, mereka sampai di Jakarta. Dan menginap di rumah.


Zahra terlihat bahagia, begitupun Surya. Ini kali pertamanya, keluarga istrinya datang bersama-sama. Terakhir kali kyai Jauhari saat beliau selesai mengisi tausiyah di Masjid kompleks rumah mereka. Dan kali ini, rumah ini sudah menjadi milik putrinya juga. Rasanya sangat berbeda, waktu telah mengubah keadaannya.


Zahwa bukan tidak suka, dia sungguh sangat senang saat keluarga Zahra di rumah. Hanya saja, tiba-tiba dia merasa iri dengan Zahra. Saat semua keluarganya berkumpul untuk dirinya , sedang dirinya hanya sendirian di hari pernikahannya.


''Kau sudah menghubungi sepupu Bella? Dia datangkan?'' Tanya Hanan.


Yang dia tahu tentang keluarga Zahwa hanya Bella saja. Dia saudara dari pihak ayahnya. Dan ibunya ternyata juga anak tunggal dan pastinya dia tidak memiliki kerabat lagi.


''Aku sudah mencoba menghubungi dia. Tapi sama sekali tidak ada jawaban. Kemarin pun aku pergi ke rumahnya, tapi kata asisten rumah tangganya Bella tidak di rumah. Dan paman dan bibi masih sibuk bekerja di luar negeri. Entahlah, aku tidak tahu. Yang terpenting aku sudah mengirim mereka undangan dan kabar acara ini" Terang Zahwa.


Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Menahan air matanya agar tidak keluar, dan menyembunyikan sesak di dadanya.


Zahwa tiba-tiba khawatir dengan sepupu itu. Bagaimana kabarnya dia sekarang? sudah selesai kah permasalahannya dengan keluarga suaminya. Menyesal karena dia kurang perhatian dengan Bella. Padahal dia selalu ada untuk dirinya di saat susah sekalipun.


Teringat saat awal dia menikah. Dia lah yang selalu menyemangati dirinya untuk terus mengahadapi peliknya permasalahannya. Dia juga yang selalu memberikan nasihat kepada dan saran untuk hubungannya dengan suaminya. Hingga akhirnya, hubungan itu tetap bertahan sampai sekarang. Sepupunya itulah yang menjadi akarnya.


Namun, dengan semua masalah dan kesibukan akhir-akhir ini dia lupa untuk menanyakan kabarnya lagi. Dan kini, dia menghilangkan entah kemana.


Hanan iba melihat istrinya. Dengan pelan dia mengusap-usap ubun-ubun istrinya. Zahwa membuka tangannya, memperlihatkan wajahnya yang sudah basah akan air mata.


Melihat itu Hanan tetap tenang ,malah tersenyum . Tangannya masih saja mengusap ubun-ubun Zahwa. Sontak membuat Zahwa heran, kedua alisnya bertautan. Tidak tahu, apa yang sedang Hanan pikirkan.


''Katanya, mengusap ubun-ubun dan rambut anak yatim itu pahala.' Ucap Hanan.


Zahwa cemberut. Wajahnya panas. Bisa-bisanya suaminya itu bercanda. Bukanya menghibur , malah, malah meledek.


Hanan meraih tangan Zahwa. Dia letakkan di atas rambut Hanan. Dan membuatnya mengusap-usap rambutnya itu.


''Impas bukan. Sama-sama mendapatkan pahala. Kita sama-sama yatim piatu sekarang.''

__ADS_1


Deg.


Sekian detik Zahwa mematung. Menatap matanya mencari sesuatu di balik manik matanya. Suaminya tersenyum , namun dia baru tersadar. Jika bukan hanya dirinya yang sekarang sedang merindukan orang tuanya.


Zahwa langsung memeluk suaminya. Menenggelamkan tangisnya di dada bidang suamiku. Hanan memeluknya dengan erat. Sama-sama saling menguatkan.


''Menangislah, rindu itu memang berat. Tapi, ingatlah jika aku tetap ada di sampingmu, selalu, selamanya. Sampai maut memisahkan kita. Kau tidak sendirian. Ada aku, untuk mu.'' Bisik Hanan. Tangannya mengelus punggung Zahwa. Berkali-kali juga dia mengecup ubun-ubun istrinya.


"Ayo! Kita sholat Dhuha. Kita doakan kedua orang tua kita, meminta restu untuk beribu kali." Kata Hanan.


''Tapi sholat Dhuha untuk_


Belum selesai Zahwa melanjutkan bicaranya. Hanan memotongnya. Dia hanya ingin bilang, jika Dhuha untuk mereka yang menginginkan kelancaran Rizqi.


''Alloh tidak memberi batasan waktu untuk hambanya meminta dan memohon. DIA selalu ada untuk kita.''


Zahwa mengangguk, seraya mengikuti langkah suaminya ke dalam rumah lagi. Tanpa mereka sadari, Kyai Jauhari sudah duduk menanti mereka di koridor ruangan lantai dua. Hanan dan Zahwa tercekat, setelah mengetahui kehadiran Kyai Jauhari.


''Abah ?''


Kyai Jauhari bangkit dari kursinya. Berjalan menghampiri keduanya. Dengan senyum yang penuh welas asih , beliau memberikan sesuatu pada Zahwa. Sebuah kalung giok. Zahwa terpana melihatnya.


''Tapi, kenapa Abah memberikan pada ku? Ini milik Zahra." Balas Zahwa .


Kyai Jauhari tersenyum.


''Kamu sama Zahra sama saja nak. Kalian berdua sama-sama putriku." Tutur Kyai Jauhari.


Zahwa seakan menemukan sosok orang tuanya lagi. Baru saja dia merindukannya, kini seseorang di depannya seakan menjelma menjadi orang tua kandungnya. Yang memberikan kasih sayang yang lama hilang dari dirinya.


''Abah juga yakin. Zahra tidak akan keberatan dengan ini . Dia juga menyayangi mu, sama seperti saudaranya sendiri.'' Tambah Kyai Jauhari.


"Terimakasih Abah.'' Ucap Zahwa


Hanya kata itu yang bisa dia ucapakan sekarang. Entah bagaimana dia bisa menggambarkan perasaan haru dan bahagia ini. Dia benar-benar rindu dengan sosok orang tua di kehidupannya. Dan Alloh, mengirim Kyai Jauhari untuk dirinya.


Usai mereka bercakap-cakap. Hanan mengajak Zahwa ke kamar untuk melakukan sholat Dhuha, seperti yang ia niatkan tadi.


Setelah itu mereka sudah di sibukkan dengan banyak hal. Perias sudah datang dan langsung mendandani ke dua pengantin tersebut.

__ADS_1


Pengantin pria pun sama. Namun tidak memerlukan waktu yang lama untuk mereka selesai bersiap-siap.


Hanan dan Surya sudah siap menjemput pengantin mereka. Mereka berdua tampak gagah dengan setelah baju pengantin berwarna putih keemasan yang di padukan dengan pantofel hitam.


Sembari menunggu pengantin mereka selesai di rias. Para pengantin pria menemui kerabat dan beberapa tamu yang datang langsung ke rumah.


Sanak keluarga mereka berdua terlihat sedang merayu mereka berdua. Dan mengatakan hal penyesalan , karena ternyata baru mengetahui jika Hanan terlebih dulu sudah menikah. Dan itu hampir satu tahun lamanya.


Paman Sam terlihat hadiri juga di sana. Beliau bersama Hafiz. Sesaat mata Hanan berkeliaran seperti sedang mencari seseorang.


''Paman. Wardah di mana?" Tanya Hanan.


Wardah sudah seperti adiknya sendiri. Melihat perjuangannya merawat Bibi nya dulu, rasanya tidak lengkap jika dia tidak ada di acara tersebut.


''Aku sudah menyampaikan salam mu pada dia. Aku juga sudah memberitahu soal acara pernikahan mu. Tapi dia mendadak mengutarakan ingin ke rumah saudaranya di Padang. Sudah dua Minggu dia di sana. Dan sama sekali belum mendapatkan kabarnya.'' Jawab Hafiz, ada kekecewaan di raut wajahnya.


''Oh. Sayang sekali. Tapi dia baik-baik saja kan?'' Tanya Hanan.


''Semoga saja.'' Jawab Hafiz. Dia sendiri tidak tahu akan kabar Wardah sekarang. Karenanya hanya bisa berdoa lewat perkataannya.


Beberapa detik kemudian, terdengar riuh dari arah ruang tengah. Mereka sedang mengumandangkan ketakjuban pada sosok dua wanita yang baru saja turun dari tangga.


Mereka bak bidadari yang baru saja turun dari surga. Perias tersebut berhasil membuat semua pangling kepada mereka.


''Wah wah .. Ini pengantin prianya bisa-bisa juga lupa mana pasangannya." Ujar salah satu tamu. Membuat gelak tawa di antara mereka.


Surya dan Hanan bertukar pandang setelah mendapati komentar tersebut. Hanan menatap tajam pada Surya dan kakaknya malah tersenyum jahil pada adiknya.


Zahwa dan Zahra sengaja tidak berbicara. Mereka ingin tahu, suaminya bisa mengenali sosoknya atau tidak.


Tiba-tiba Surya maju duluan, dan berhadapan pada salah satu pengantin wanita. Dia mengulurkan tangannya, sontak membuat kaget kedua pengantin tersebut.


Semua mata sedang menatapnya. Beberapa orang ber ''Oh'' entah apa yang mereka tunjukkan. Tapi Surya langsung saja menggandeng salah satu dari mereka.


''Itu benar pasangan Surya?'' Tanya salah satu dari tamu yang belum mengetahui sosok Zahwa ataupun Zahra.


''Entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi, kenapa banyak orang yang terlihat terkejut?'' Tanya balik tamu di depannya itu. Penasaran dengan mimik wajah sebagai orang di sana.


''Jangan-jangan beneran tertukar?" Lontar salah satu dari mereka lagi.

__ADS_1


Membuat tanda tanya besar di benak mereka. Semua orang tegang dengan dugaan mereka sendiri.


__ADS_2