
"Kenapa bik asih berfikir begitu?" Tanya Zahwa balik.
"Karena tidak mas Surya saja yang memperhatikan tapi non Zahwa juga,'' jawab bik asih.
"Tidak, Bik. Bik asih salah sangka," elak Zahwa. Dia begitu salah tingkah.
''Oh, begitu ya, Non," balas bik asih sebenarnya beliau tahu kalau Zahwa sedang berbohong. Untuk saat ini, sepertinya Zahwa belum siap menceritakan semuanya.
Klik
Pintu terbuka dengan wajah masih terlihat mengantuk dan mata sipit hanan berdiri di ambang pintu.
"Ternyata benar kau disini," kata Hanan. Dia masuk kamar.
Bik asih yang tadi ada di atas tempat tidur langsung turun dan berpindah tempat tanpa di suruh oleh siapapun.
"Ada apa?" tanya Zahwa bingung
Dengan tubuh lunglai kerena menahan kantuk Hanan berjalan ke arah tempat tidur.
Bik asih memberikan isyarat mata kepada Zahwa, dia akan keluar sebentar dan ia menyetujuinya dengan mengangukkan kepala.
Hanan langsung merebahkan tubuhnya dan langsung tengkurap tertidur lagi.
"Eh, dia datang hanya untuk tidur?" Kata Zahwa pelan.
Zahwa menghampiri suaminya memeriksa bahwa dia benar tidur atau masih terjaga .
"Kau mengigau?" Tanya Zahwa curiga.
Setelah melihat suaminya sudah memejamkan matanya lagi.
Tidak ada jawaban , mungkin Hanan sudah tidak sadarkan diri. Zahwa ingin beranjak tapi tiba-tiba tangannya di cegah oleh Hanan.
"Jangan menangis lagi," kata Hanan. Zahwa terkejut dia mengurungkan niatnya untuk beranjak. Melihat lagi suaminya dan sedikit meyakinkan dirinya bahwa apa yang baru saja ia dengar tidak lah salah.
Hanan masih memegang pergelangan tangannya dengan erat tetapi dia terlihat tidur dengan pulas.
"Apa dia mengigau lagi?" tanya Zahwa lirih
Zahwa menghela nafas, dia melihat ke arah kanvas dengan lukisan yang masih jauh dari kata sempurna. Hanya coretan yang belum di ketahui akan terlihat seperti apa.
Dengan pelan Zahwa melepaskan pergelangan tangannya dari cengkraman Hanan. Dia terlihat kesulitan, Hanan memegang nya begitu erat.
"Tidur saja masih saja sekuat ini," celetuk Zahwa.
Seperti nya akan sia-sia saja. Jika harus membangunkannya Zahwa juga tidak tega. Dia akhirnya memutuskan untuk duduk bersandar di samping Hanan , matanya masih belum mengantuk. Tapi dia tidak dapat melakukan apapun karena ini
Zahwa pasrah. Apa lagi yang bisa dia lakukan. Dia ikut berbaring. Kali ini Zahwa tidak lagi bisa tidur dengan menyingkuri Hanan. Untuk pertama kali, dia tidur menghadap wajah Hanan secara langsung.
Entah dari mana datangnya, Zahwa seperti mendengar gendang di tabuh begitu kerasm Dia memastikan bahwa tidak ada apapun atau keramaian lainya. Tetapi kenapa hanya dia yang bisa mendengarkan .
Dia menutup mata dan menarik nafas dalam-dalam , mungkin hanya salah dengar. Saat membuka matanya lagi suara itu begitu terdengar lebih keras bertepatan saat dirinya memandang wajah Hanan .
Kenapa jantung ku berdetak lebih kencang sekarang?
Zahwa kembali berusaha membangun kan kesadarannya. Tetapi dia gagal. Dia sebenarnya benar-benar dalam keadaan sadar.
Ini untuk pertama kalinya, Zahwa menatap wajah Hanan dengan lekat. Selama ini dia tidak pernah mempunyai keberanian untuk benar menatap lelaki di depannya itu. Lebih lagi, mungkin Zahwa tidak tertarik . Karena mereka sering bertemu dalam keadaan tidak menyenangkan . Bahkan sulit sekali untuk berbincang secara baik-baik.
Wajah putih Hanan, bulu mata yang lentik . Dan poni rambut yang terlihat berantakan. Dia terlihat saat imut, dan tidak menyeramkan.
"Eh, kenapa aku tersenyum?" batin Zahwa setelah tanpa sadar bibir merahnya merekah.
Zahwa memukul pelapisnya. Berkata pada dirinya untuk kembali tersadar.
"Aku akan tidur saja," kata Zahwa lirih.
Dia mulai memejamkan matanya. Memaksakan kantuknya untuk cepat datang dan bergegas membawa dirinya ke dunia bawah sadarnya. Tidak begitu sulit ternyata, baru beberapa menit Zahwa sudah tertidur pulas.
Kedua tangan mereka masih saling bertautan. Ini malam pertama mereka dengan posisi yang berbeda.
Jam menunjukkan pukul 03,00. Hanan tiba-tiba terbangun dari tidurnya, dia sudah terbiasa atau karena kemarin malam dia terlalu cepat tidur .
__ADS_1
Tersadar dari kantuknya, mata nya terbuka untuk pertama kali melihat wajah Zahwa. Dia tertidur pulas masih dengan memakai kerudungnya. Mungkin sudah menjadi kebiasaannya atau karena dia belum terbiasa dengan kehadiran Hanan di sekitarnya.
Tangannya nyeri , dia melihat tangannya. Ternyata selama dia tidur tangan itu menggenggam tangan Zahwa. Di berlahan melepaskannya, dia yang menggenggamnya saja se nyeri ini apa lagi Zahwa.
Hanan sedikit menggerakkan tubuhnya dan bersandar pada tepian ranjang.
"Aku mencarinya dan tanpa sadar tidur di sini," kata Hanan. Mengingat apa yang terjadi tadi malam.
Hanan menatap Zahwa yang sedang tertidur , tangannya tanpa sadar mengelus kepala istri itu. Dan dengan paksa dia jauh kan lagi , entah apa yang membuatnya begitu.
"Sampai kapan kau seperti ini," kata Hanan.
Perkataan itu untuk apa sebenarnya, tapi wajah Hanan terlihat nanar. Seakan menunjukkan kesedihan yang mendalam.
Iya. Hanan mengetahui semuanya. Tentang Zahwa dan kakaknya dia mengetahui nya setelah beberapa hari mereka menikah.
Dia mengingat proses pernikahan mereka.
Flash back
Rumah sakit di mana orang tuanya dan orang tua Zahwa di rawat menjadi tempat pernikahan hanan dan Zahwa. Mereka menikah di salah satu ruangan rumah sakit yang ada ke empat orang tua mereka.
Saat itu hanya papa Hanan yang masih sadar , dan ketiga orang tuanya sudah koma. Zahwa terlihat menangis di sisi kedua orang tuanya .
"Hanan. Apa kau mengenal perempuan itu? " Tanya pak Rosyid
Setelah ijab qobul Pak Ruslan menemui dirinya , bertanya seakan ada yang salah dengan pernikahan itu.
"Tidak, Pak. Aku baru saja bertemu setelah kejadian ini," jawab Hanan saat itu. Dia sedikit lelah karena harus mengurus orang tuanya di rumah sakit. Sekaligus pekerjaan di kantor. Bahkan di saat dia mau menikah dia sama sekali tidak mempunyai waktu untuk membahas pernikahannya dengan orang tuanya.
"Kau yakin? Tanya pak Rosyid. Saat itu belum ada yang faham siapa Zahwa sebenarnya.
"Ada apa pak? Apa ada yang bapak tahu tentang wanita itu," tanya balik Hanan. Mengerti kecurigaan pak Rosyid.
"Sebelumnya papa mu mengatakan bahwa kau dan dia sudah saling mencintai dan sudah berjanji untuk menikahinya," jawab pak Rosyid
Pak Rosyid menceritakan percakapan nya dengan papa Hanan saat sebelum mereka menikah. Tentang pertemuan beliau dengan orang tua Zahwa , dan permintaan beliau untuk menerima zahwa sebagai menantu beliau. Penolakan mereka yang mengganggap orang tua zahwa hanya mengada-ada. Samapi ada waktu orang tua Hanan menemukan kotak biru. Yang berisi janji dan beberapa nama Zahwa terukir di dalamnya.
"Jadi Hanan, Apa mereka berbohong? Aku sama sekali tidak mengerti. Papamu juga langsung menikah kan dirimu begitu saja," kata pak Rosyid. Dia terlihat cemas menurutnya Zahwa dan keluarga nya berbohong. Mencari kesempatan untuk bisa masuk ke keluarganya.
"Apa kau akan menjalani pernikahan ini setelah ini?" Tanya pak Rosyid
"Pak tolong rahasia masalah ini kepada siapapun," kata Hanan.
"Baiklah. Lagi pula sepertinya kamu langsung jatuh cinta juga dengan istri mu itu. Walaupun aku juga tidak faham dengan semua ini. Tapi aku doakan semoga kalian langgeng dia terlihat seperti wanita baik dan juga cantik," kata pak Rosyid
Hanan tak menjawab. Hanya tersenyum menanggapinya. Pak Rosyid tidak tahu, pernikahan yang baru saja terjadi itu sudah menemukan jurang kehancurannya.
Saat itu Hanan belum sadar jika yang di maksud kotak biru adalah kotak yang di titipkan oleh kakaknya untuk ia simpan sementara. Pikirannya kalut, jadi dia tidak berpikir sejauh itu. Apalagi teringat barang yang memang bukan miliknya.
Hari-hari pertama dengan Zahwa begitu suram bagaimana tidak. Kematian kedua orang tuanya dan orang tua Zahwa seakan mengisyaratkan bahwa pernikahan itu tidak seharusnya terjadi.
Hanan berusaha menahan diri untuk tidak menceritakan semuanya, termasuk kepada kakaknya yang saat itu masih di Cairo. Hanya mendapatkan kabar bahwa Hanan menikah dan itu permintaan terakhir orangtuanya.
***
"Aku akan menunggu kalian mengakuinya. Setelah itu terserah! Aku akan dengan ringan hati menyerahkan dirimu kepada Mas Surya,"
"Aku berharap. Semoga aku tidak jatuh cinta kepada mu. Karena akan itu akan sulit. Entah itu aku, kamu dan Mas Surya,"
Hanan tersadar dari lamunannya. Dia beranjak dari kamar itu meninggal Zahwa yang masih tertidur. Kembali ke kamarnya tidak lagi tidur. Waktu subuh mungkin sebentar lagi, tapi dia tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan untuk mengadu kepada TuhanNya.
Pagi sekali tanpa bertemu dengan siapapun Hanan sudah pergi membawa keperluan kantornya. Hanya memberikan pesan singkat bahwa dia sudah pergi ke kantor. Itu hanya sebuah alasan.
Pagi itu dia sudah berada di sebuah kedai kopi , menikmati secangkir kopi hitam. Di depannya ada laptop yang sudah menjadi mainan untuk tangannya.
" Sory, telat bro!" Kata laki-laki di hadapan Hanan yang datang tiba-tiba.
Tapi sepertinya Hanan tidak mempersoalkan keterlambatan nya itu. Terlihat dia santai dan tersenyum menanggapinya.
"Kirain gak datang.Aku telpon gak kamu angkat," kata Hanan
"Ponsel ku ketinggalan di rumah yang penting aku dapat yang kamu mau," kata lelaki itu
__ADS_1
Hanif, nama laki-laki tersebut. Teman semasa kuliah nya dulu, tidak hanya teman dia sudah seperti sahabat bahkan saudara bagi hanan. Susah senang selalu mereka lalui bersama. Hanif mengeluarkan lembaran map dari dalam tas ranselnya dan menyerahkan pada Hanan.
"Apa kau yakin dengan keputusan mu? Sudah izin pada kak Surya?" tanya Hanif, dilihatnya sahabat nya itu antusia sekali melihat isi map itu.
"Aku yakin, soal kak Surya tanpa izinnya pun aku akan tetap berangkat," Jawab Hanan, tanpa melihat orang di depannya dan mulai membaca kertas di hadapannya.
"Dan Zahwa? "
Pertanyaan Hanif sedikit membuat hanan terdiam, dan memandangnya.
"Jangan menyebut namanya. Kau tau semuanya,"
Hanif terdiam, dia tidak ingin merusak suasana hati sahabatnya itu. Dia mengetahui segalanya, tapi dia juga tidak ingin membuat sahabat nya itu tertekan.
"Kau sudah menulis formulir nya?" tanya hanan.
"Sudah. Tinggal kamu," Jawab hanif.
Hanan mulai menulis di atas kertas formulir yang ada di depannya. Mata nya sedikit memicing ketika dia dapati satu kertas yang menarik perhatiannya. Diambilnya dan di bacanya.
" Zahra? Dia juga ikut?" tanya hanan. Hanif sedikit terkejut mendengar pertanyaan sahabatnya itu.
"Iya. Ku kira kau sudah tau,"
"Aku hanya mendengar kabar nya saja, ku kira itu hanya gosip saja, "
"Ku harap ini tidak menjadi masalah bagi mu, kau tau aku tidak bisa memilih di antara kalian. Ku harap kau mengerti,"
"Aku tahu. "
Hanan menyerah kan lembaran formulir itu kepada Hanif kembali. Dengan seksama Hanif menelitinya lagi.
"Kau yakin dengan semua ini?" Tanya Hanif. Dia seakan tidak se yakin sahabat nya itu.
"Kenapa? Aku sudah memutuskan sejak lama kan , kak Surya sudah pulang. Kini giliran ku yang meneruskan studi ku," jawab Hanan santai .
"Aku sama sekali tidak mengerti. Kamu sudah sukses, bahkan mewarisi perusahaan orang tuamu. Tapi kenapa masih ingin melanjutkan S3, " komentar Hanan.
"Kau juga sama. Kenapa kau ingin melanjutkan S3, " tanya balik Hanan.
"Aku malas jika bukan karena orang tua ku yang meminta. " Jawab Hanif malas
"Aku juga begitu. Orang tua ku yang meminta. Mereka ingin aku melanjutkan kuliah ku setelah kak Surya pulang," lanjut Hanan .
"Tapi saat ini kamu sudah menikah,"
"Apa kau lupa. Cepat atau lambat aku dan Zahwa akan bercerai. Tinggal menunggu mereka mengaku dan semua akan kembali ke posisi semula, ''
"Aku tahu, tapi apa kau benar tidak ingin bersama zahwa. Dia terlihat baik,"
"Bodoh! Apa kau pikir aku akan merebut kekasih kakak ku sendiri," kata Hanan dengan sedikit tertawa.
"Tapi dia istrimu sekarang, dan lagi jika kau tidak menyukai nya kenapa masih saja ingin bersamanya. Cepat selesai kan semua. Sebelum kau benar-benar jatuh cinta,"
"Apa yang kau pikirkan? Aku tidak akan jatuh cinta dengan Zahwa. Tenang lah," kata Hanan.
"Sebelumnya kau juga mengatakan jika kau tidak menyukai Zahra. Tapi setelah itu kau menyukai nya juga,"
"Aku hanya menyukainya. Bukan mencintainya dan sekarang rasa suka itu malah tidak ada,"
"Iya,karena sekarang kau mulai menyukai Zahwa"
Hanan terdiam , kenapa dengan temannya itu. Seakan memburu sesuatu yang belum juga dia tahu akan keberadaannya .
"Lama-lama kau seperti perempuan. Banyak bicara," kata Hanan. Memandang remeh Hanif.
"Aku berkata benar," Kata Hanif. Dia seyakin itu mengatakannya.
Hanan geleng-geleng kepala. Tidak lagi ingin menangapi perkataan Hanif yang di anggap nya omong kosong saja.
"Aku harap sebelum kau memutuskan ini. Pikirkan lagi. Kau punya waktu delapan bulan." Tambah Hanif. Dia tidak gencar.
"Sebelum delapan bulan itu. Aku sudah bercerai dengan Zahwa. Kemudian kakak ku akan melamarnya, menikahinya dan hidup bahagia," Bantah Hanan
__ADS_1
" Dan kau melarikan diri! Beralasan untuk melanjutkan S3 mu. Berharap di sana kau menemukan wanita yang cocok dan kembali ke Indonesia sudah dengan setatus calon atau bahkan suami orang. Agar bisa membuktikan bahwa dirimu juga sudah melanjutkan hidup," Ucap Hanan seakan membaca pikiran Hanan.
Lagi-lagi hanan di buat bungkam oleh sahabat nya itu. Entah menganggap nya benar atau hanya omong kosong saja.