Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 101


__ADS_3

Pondok Assidiqiyah.


Terdengar lantunan bacaan alquran bersahut sahutan,para santri terlihat sedang antri berjajar untuk mengaji ,dan di paling ujung terlihat ustadz menyimak satu per satu sorogan para santri. Tak terkecuali Surya, dia dengan khidmad menyimak santrinya.


Tiba-tiba , seorang santri berjalan dengan lutut dengan menunduk menghadap kepadanya.


''Ngapunten ustadz, di utus Abah yai teng ndalem." Kata santri tersebut sopan.


''Baiklah. Aku akan ke sana." Balas Surya.


Dia segera memberikan instruksi pada murid-murid untuk saling semak-semak an terlebih dahulu.


Setelah itu dia bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari serambi masjid. Sebelum ke ndalem dia mencari seseorang untuk menggantikan dirinya untuk menyemak murid-murid yang belum mengaji.


''Kang tolong, kamu simak ya. Aku di utus Abah yai teng ndalem." Kata Surya.


''Nggeh kang.''


Surya segera menunju ndalem. Tidak tau ada apa Abah yai memanggilnya. Mungkin terkait kegiatan Haul yang akan di laksanakan 2 Minggu lagi.


''Assalamualaikum...'' Salam Surya di depan ndalem.


Kyai Jauhari yang melihat Hanan langsung menyuruhnya untuk masuk. Sepertinya memang Surya sedang di tunggu.


''Waalaikumsalam Le... Masuk.'' Ujar Abah yai.


Dengan menunduk dan juga kaki berlutut Surya menghadap Kyai Jauhari.


''Aku ingin tahu kegiatan apa aja yang akan di laksanakan waktu Haul besok.'' Dawuh Kyai Jauhari.


''Nggeh. Pagi-pagi sehabis subuh khataman Al Qur'an. Bin Nadzor maupun Bil Ghoib. Setelah habis Dhuhur sekitar jam setengah 3 santri - santri ziarah Maqom teng makbarroh di sana juga akan di bacakan Doa Khotmil Quran yai.'' Terang Surya.


''Hmmm... Kayak tahun-tahun kemarin. Tapi bedanya di tukar ya le. Tahun winggi nak maqome isuk, lak sak iki sore. Arek-arek gak kepanasan ko le ?'' Bimbang Yai Jauhari.


''Insya Alloh mboten. Sampun nyuwun persetujuan sangkeng lare-lare.'' Jawab Surya.


''Abah kui remen kaleh Quran. Alhamdulillah, lek khataman besok di makbarroh. Tambah remen aku." Ujar Yai Jauhari.


''Nggeh, bah...''


Selain berbagai agenda acara. Kyai Jauhari menanyakan siapa saja yang akan mengisi acara inti pada malamnya.


Surya menyebutkan semua sesuai keputusan bersama para pengurus pondok dan juga panitia acara tersebut.

__ADS_1


''Maaf, bah. Untuk Mauidhotul Husna dereng saget memutuskan.'' Ujar Surya.


''Aku mau mengundang Gus Hakim. Beliau putra dari gurunya Abah. Sak Niki beliau ne purun terjun langsung Nang dunia dakwah. Aku wes sering mireng ne dawuh-dawuhe. Alhamdulillah nyeneng ne lek dawuh-dawuh. Besok tak Jak sowan Nang ndaleme le.'' Kata Kyai Jauhari.


''Nggeh bah.'' Balas Surya takdzim.


Beberapa sesaat kemudian ada telpon dari ponsel kyai Jauhari. Beliau langsung tersenyum bahagia setelah melihat siapa yang meneleponnya.


''Assalamualaikum..." Salam Kyai Jauhari. Audio load speaker di nyalakan. Dan Surya bisa mendengar jawaban dari seseorang di balik telpon tersebut.


''Waalaikumsalam bah. Gimana kabarnya? Zahra kangen.'' Seru Zahra. Dari suaranya terlihat gembira.


''Alhamdulillah sehat nduk. Kamu gimana di sana? sehat?'' Tanya Kyai Jauhari.


''Alhamdulillah sehat bah. Pengen pulang Zahra , kangen Abah.'' Jawab Zahra. Dia terdengar manja.


Surya masih berada di depan kyai Jauhari. Mau tidak mau dia ikut menyimak apa saja yang sedang Abah dan anaknya itu bertukar kabar dan juga bercanda.


Tidak menyangka. Zahra yang selama ini di depannya berbeda saat ada di hadapan Abahnya . Dia sangat manja, sesekali dia merengek seperti anak kecil.


Surya sampai harus menahan tawa karena mendengar percakapan mereka.


''Kamu itu Lo nduk, kok ya aneh-aneh mintanya . Opo Yo iso ngirim soto nak Kono. ckckck ...'' Ujar Yai Jauhari. Beliau geleng-geleng kepala mendengar permintaan putrinya tersebut.


''Hahahaha. Iya iya...Ya wes nduk, bar iki tak kirimi soto.'' Ujar Yai Jauhari menyetujui usul Surya .


''Abah kaleh sinten to? kok perasaan Zahra pernah kenal suantene?'' Tanya Zahra pemasaran. Dia mendengar suara Surya, namun masih ragu mengatakan.


''Calon mu, nduk. Purun to, tak nikah no nak kene. '' Jawab Abah.


Deg.


Tidak ada jawaban dari Zahra.


''Waduh, bah. Ampun ngonten... '' Sahut Surya.


''Tu bah, mireng ne. Kang e mawon mboten purun kaleh Zahra. Hahahaha...'' Balas Zahra. Dia sendiri tidak tahu siapa laki-laki yang sedang bersama Abahnya.


''Lek purun. Tak nikah no tenan Lo ya.'' Ujar Yai Jauhari.


Zahra hanya terkekeh.


''Lah arep golek koyok piye neh. Abah wes sepuh, wes pengen nyusul umi mu. wes kangen umi mu. Tapi Abah yo emoh ninggal sliramu dewean. Abah pengen tetep ndelok sliramu nikah. Dadi wali nikah mu. Kui tok. Abah ben tenang.'' Tutur Kyai Jauhari.

__ADS_1


Sesaat suasana menjadi sunyi. Hening, senyap namun terasa hangat. Tidak ada suara yang sahutan dari Zahra.


''Nikah kui ibadah. Ibadah kui Nang gone Gusti Alloh. Masalah pasangan, mosok Iyo wong tuwo arep milih ne anak e jodoh sing elek. Kabeh wong tuwo mesti setiti milih no, gak sembrono...'' Lanjut Kyai Jauhari.


''Abah mu biyen kui nikah Karo umi mu ya gak gowo cinta. Ijab Qobul ya durung cinta. Tapi ndilalah bar manten anyaran Abah rasane gak pengen ninggalne umi mu. Roso tresno ne enek Dewe. Di Paringin Dewe leleh Gusti Alloh , padahal winggi e drong cinta blass. Kok ISO? Yo Kabeh kui teko Gusti Alloh. Nikah kui gak usah nunggu cinta . Yo lek pas cinta ne kebales, utowo sing cinta kui jodoh mu. Lek ora? gak nikah ngunu? padahal nikah kui nyempurnak ne agomo. Ibadah paling suwi , akeh ganjarane tur nikmate.'' Tambah Kyai Jauhari.


Surya yang mendengar petuah Kyai Jauhari ikut terpukul. Padahal dia tahu, jika nasihat tersebut di tujukan kepada Zahra. Bukan dirinya.


Namun apa yang di katakan Kyai Jauhari adalah nasihat untuk dirinya juga. Selama ini dia takut untuk menjalin hubungan dengan orang lain lagi. Dia takut, jika nanti dia tidak bisa mencintai pasangannya, dan itu hanya akan menyakiti pasangannya.


''Zahra nderek bah. Sampun pasrah kaleh Abah. Insyaallah nggeh sampun Ikhlas.'' Lontar Zahra setelah beberapa detik kemudian.


''Percoyo Karo dongo mu. Percaya lek Gusti Allo kui mesti Maringi OPO sing mok butuh ne . Alhamdulillah, lek pas Karo anggen-angene." Ujar kyai Jauhari.


''Nggeh bah." Balas Zahra. Suaranya sedikit parau. Mungkin dia menahan tangis. Namun, di tetap meneguhkan hatinya.


Beberapa saat kemudian Zahra meminta izin untuk menutup telponnya. Dia izin untuk sholat subuh.


''Loh nduk, Iki jik bar Isya' kok wes arep sholat subuh?'' Tanya Kyai Jauhari.


Surya ingin ikut mengatakan bahwa ada perbedaan waktu antara Indonesia dan Inggris. Tapi Kyai Jauhari mengisyaratkan untuk diam. Ternyata beliau hanya sedang ingin bercanda dengan putrinya.


''Nggeh bah, Kulo cepetne.'' Jawab Zahra Asal. Sontak membuat suasana kembali ceria lagi.


''Yo ngunu kui Lo anak ku.Mugo-mogo ISO mimbing sing apik.'' Kata Kyai Jauhari setelah telpon terputus.


''Nggeh. Amin...'' Jawab Surya langsung.


''Terus piye? Soal lek siap ijaban pas haul besok Bae Yo.'' Kata Kyai Jauhari.


Wajah Surya langsung terangkat. Terkejut dengan pertanyaan Kyai - nya. Dia masih belum mengetahui siapa wanita yang akan di nikahi nya sama sekali. Dia hanya mengenalnya lewat cerita-cerita dari Kyai Jauhari. Meskipun begitu, kyai Jauhari tidak pernah menyembunyikan kekurangan wanita tersebut. Beliau tahu , jika dirinya berhak tau akan hal itu juga. Tapi hingga saat ini dia belum pernah mengatakan siapa nama wanita tersebut.


''Bocah e ya kadang ngunu kui. Manja, tapi Insya Alloh kayak ibu ne. Lembut, tur manut." Kyai Jauhari mengingatkan lagi akan kekurangan dari wanita tersebut.


''Surya nderek Bah. Kalau menurut Abah itu baik, Insya Alloh Surya terima.'' Kata Surya .


Entah kenapa. Saat mengatakan hal itu dia sama sekali tidak ragu ada kemantapan dalam dirinya. Karena mungkin baru saja dia mendengar wejangan dari Kyai Jauhari juga tentang memilih jodoh.


Diapun juga sudah memasarkan semua kepada Alloh.


''Alhamdulillah, lek iso Hanan Karo Zahwa di hubungi. Ben ISO hadir pas ijab qobul dadi saksi mu.'' Pesan Kyai Jauhari.


''Nggeh, baah...''

__ADS_1


__ADS_2