Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 98


__ADS_3

Beberapa hari di kebumen Zahwa tetap melakukan hal yang sama. Datang di pagi hari dan setelah malam dia di jemput oleh Hanan. Terkadang dia pun pulang sendirian ke hotel, untuk mewanti-wanti agar Bibinya tidak curiga.


Sikap Bibi Amin masih dingin, namun dia tetap bersikukuh untuk mendapatkan hati bibi suaminya itu. Meskipun sering kali di cuekin tapi, setidaknya bibi Ami tidak pernah mendiamkan dirinya. Meskipun kata-katanya menyakitkan dan kadang menjengkelkan tapi Zahwa senang. Itu pertanda bahwa dirinya di anggap ada di sana.


Seperti waktu dari saat Wardah sengaja telat datang. Zahwa dengan telatennya memandikan Bibi Ami dia juga membuatnya sup hangat untuk beliau. Awalnya Bibi Ami menolak dan ingin menunggu Wardah namun di pasrah di urus Zahwa setelah Hafiz datang dan mengabarkan kalau Wardah mampir dulu ke pasar. Dan mengatakan akan telat datang.


''Terima kasih..." Kata Bibi Ami setelah Zahwa menyuapi dirinya.


Seperti ketiban berkah Zahwa langsung sumringah. Dia tidak bisa mengungkapkan rasa bahagianya saat Bibi Ami mengatakan hal tersebut.


Jika bukan karena dia ada di depan Bibinya pasti dia akan jingkrak-jingkrak bahagia. Ingin rasanya dia langsung menemui suaminya dan menceritakan itu semua.


''Kamu bahagia sekali, padahal itu cuma ucapan terimakasih." Ucap Surya di layar laptop.


Iya, mereka berdua sedang terhubung dengan Surya. Kakak iparnya itu baru saja menghubungi setelah berbulan-bulan tak ada kabar.


''Kirain tadi dia kerasukan. Datang senyum-senyum gak jelas, setelah itu jingkrak-jingkrak pula.'' Ujar Hanan.


''Hello, kalian para lelaki tidak pernah tahu bagaimana menghadapi keluarga pasangan kalian. Itu ujian terberat dalam fase kehidupan tau." Timpal Zahwa.


''Apa beratnya? biasa saja," Kata Hanan. Wajar dia sama sekali tidak pernah bertemu dengan keluarga Zahwa. Surya pun, masih belum pernah pengalaman menghadapi orang tua dari pasangan.


''Ya wajar kamu dulu yang permisi dulu nikahin aku,'' Seru Zahwa.


''Mau permisi gimana, lawong langsung di todong nikahin kamu. Aku bisa apa?" Balas Hanan tak kalah sengitnya.


Pertengkaran kecil pun terjadi. Mereka lupa bahwa masih terhubung dengan Surya.


''Kalian ini, masih saja suka bertengkar. Gak menghargai aku di sini.'' Kata Surya melerai.


''Maaf kak, dia nih mulai." Kata Zahwa menyalahkan.


Hanan tanpa menjawab langsung menumpuknya dengan bantal.


''Udah jangan dengerin dia. Kakak di sana apa kabar? Udah dapat calon belum?'' Tanya Hanan fokus di depan layar laptop. Di belakang Zahwa dengan kesal memukuli punggungnya.

__ADS_1


''Kamu itu, yang pertama di tanyai calon. Memangnya aku di sini buat cari calon apa.'' Balas Surya.


''Lah iya, kan menyelam sambil minum air.'' Ujar Hanan.


''Hahaha, di sini gadisnya cantik-cantik nan . Bingung aku, sama kyai Jauhari aku di suruh pilih - pilih sendiri.'' Kata Surya bergurau.


''Masak, kak? Wah, bisa di coba nih.'' ujar Hanan.


''Apa yang di coba?!'' Seru Zahwa panas sambil melototi suaminya.


''Di coba ikut milihin buat Kak Surya,'' jawab Hanan.


''Hahahaha. Zahwa Zahwa ya jangan kasar-kasar to sama suami. Gak boleh kayak gitu. Yang lembut sedikit.'' Nasihat Surya. Antara geli dan kasihan melihat Hanan di bentak Zahwa.


''Lembut aku, kak! Tapi kalau macam-macam ya hilang lembutnya.'' Ujar Zahwa sewot.


Mereka bergurau cukup lama. Mengingat Surya cukup sulit untuk menghubungi adik-adiknya. Surya banyak bercerita tentang kegiatan di pesantren.


Banyak pelajaran yang Surya dapat di sana. Tentang ilmu kehidupan, ilmu agama yang paling utama adalah ilmu hati. Sering Surya dia panggil kyai Jauhar untuk ngobrol. Beliau bercerita tentang tokoh-tokoh Islam seperti para kyai, habaib, tak terkecuali juga para nabi yang jarang di ketahui oleh orang awam. Juga para pengarang kitab - kitab kuning.


''Mungkin karena ingin kamu menjadi menantunya.'' Kata Zahwa.


Sunyi. Detak jam yang tetap meninggalkan jejaknya.


Zahwa melihat ke arah Hanan, kemudian kakak iparnya lagi. Apa dia salah berbicara?


''Itulah yang aku ingin sampaikan.'' Kata Surya. Dia menghela nafas panjang. Inti dari semua perbincangan mereka baru saja di mulai. Sepertinya Hanan sudah sedikit tahu tentang hal ini .Dia membuang muka dan kemudian mengambil bantal untuk di dekapnya sendiri.


''Ada apa?" Tanya Zahwa penasaran.


''Beberapa hari yang lalu. Abah kyai memanggil ku dia bercerita tentang seorang gadis. Dia cantik, pintar, Sholehah. Namun hingga saat ini tidak ada yang berani meminangnya. Orang tuanya sudah mencarikan pemuda yang baik, namun ternyata sampai saat ini tidak ada berjodoh. Usinya sudah cukup umur dan jika tidak segera menikah orang tuanya takut jika gadis itu akan lebih lama melajang.'' Jawab Surya


''Lantas bagaimana? Siapa gadis itu,'' Tanya Zahwa . Dia merasa iba mendengar cerita Surya.


''Aku tidak di beritahu oleh beliau siapa gadis tersebut. Abah yai bilang dia juga santri pondok sini. Dia juga kesayangan Abah yai." Jawab Surya.

__ADS_1


''Kasihan. Orang tuanya pasti gelisah.'' Ucap Zahwa. Dia sudah terbawa oleh cerita tersebut.


''Intinya, kak Surya mau di ta'aruf dengan perempuan tadi. Tapi, masalahnya Abah yai tidak mengizinkan Kak Surya untuk mengenalnya langsung. Dia akan mengenal perempuan tadi dari cerita Abah yai saja. Tanpa bertemu, tanpa berbicara dengan si perempuan tadi." Tengah Hanan. Dia paling tidak suka dengan hal yang bertele-tele.


''Hah! Apa boleh seperti itu?'' tanya Zahwa kaget.


'' Ya boleh. Walaupun sebenarnya Kak Surya berhak melihat perempuan tersebut. Tapi ya semua tergantung Kak Surya lagi. Mau jalanya seperti itu apa Ndak?'' Ujar Hanan.


Kini mata tertuju pada Surya. Dia sendiri bingung dengan pilihan tersebut. Bukan tentang siapa yang akan dia kenal nantinya, tapi tentang dirinya apakah benar-benar sudah siap atau belum.


Apalagi dalam ta'aruf jika memang sudah cocok lebih baik langsung di lanjutkan ke jenjang pernikahan.Sedangkan untuk memahami seseorang itu butuh waktu yang panjang . Ini bukan hal yang muda, tapi pun juga tidak mustahil. Nyatanya sekarang di hadapannya ada sepasang suami istri yang sebelumnya tidak mengenal satu sama lain. Tetapi mereka bisa menerima satu sama lain, dan saling melengkapi.


''Umur mu sudah banyak Lo kak.'' Celetuk Hanan. Membuat ketegangan di antara mereka mencair.


''Maksud mu Kakak mu sudah tua gitu!'' Ujar Zahwa.


''Aku gak bilang gitu, kamu yang bilang. Tu Kak, di bilangin tua kamu.'' Adu Hanan.


''Nggak, kamu yang bilang. Nyalahin aku.'' Sewot Hanan.


''Udah, jangan mulai bertengkar lagi. Kalian ini, aku sedang cari pertimbangan malah llihat kalian bertengkar." Lerai Surya. Kesal, tidak habis pikir dengan kedua pasutri di depannya itu.


''Lah iya mas. Dari pada mikir lama-lama mending jalani, kalau jodoh ya bakalan nikah. Kalau gak ya paling gak nikah. Udah selesa, itung-itung cari barokah Abah Yai. Nurut sama Beliau.'' Kata Hanan nyerocos.


''Tapi kan Kak Surya ya butuh tahu orangnya . Nanti kalau ada buruknya gimana? Nanti setelah nikah nyesel?'' Cegah Zahwa. Dia antisipasi dengan segala hal yang kemungkinan terjad.


''Gak usah denger dia kak. Pokoknya percaya sama Alloh, sama doa kak. Pastinya Alloh bakalan ngasih istri sesuai doa-doa mas juga, jika gak pasti Alloh kasih yang terbaik buat kamu Mas. Semangat buat doanya. Lagian aku dulu nikah ya gak tau gimana wanitanya. Cerewet dan ngeseliinya gimana juga kayak apa gak tahu, rada nyesel, sih. Tapi akhirnya aku terima juga.'' Seru Hanan.


Zahwa cemberut karena tidak di biarkan mengeluarkan pendapatnya. Apalagi Hanan berbicara seenak jidatnya. Ingin rasanya Zahwa meraup wajahnya tapi di tahannya. Jika dia lakukan,itu akan membuktikan bahwa apa yang di katakan suaminya itu benar.


''Ya udahlah kak. Aku dukung apapun yang baik menurut mu, ikuti saja kata hati mu. Insyaallah di beri jalan yang baik.'' Ujar Zahwa akhirnya.


Akhirnya Surya memutuskan untuk mengikuti apa kata Kyai Jauhari. Dia berniat untuk mencari ridho dari beliau. Lagipula , setelah orang tuanya meninggal beliau sudah dia anggap menjadi pengganti orang tua.


Bukankah ridho Alloh ada pada ridho orang tua. Dan keberkahan seorang anak, tergantung dari doa orang tua.

__ADS_1


__ADS_2