
"Jangan ngawur! Sudah, pergi sana!" usir Hanan
"Hah! Terserah, lah. Awas nyesel!" Seru Hanif seraya pergi membawa lembaran formulir itu.
"Satu lagi! Saat ini kamu sedang melarikan diri. Jika tidak, kenapa kau pagi-pagi sekali sudah berada disini," Kata Hanif di pergi dan kembali untuk hanya mengatakan itu. Lalu pergi lagi.
Hanan hanya geleng-geleng, sama sekali tidak mengerti apa yang di lakukan sahabat nya itu.
Sebelum itu terjadi, aku pasti sudah pergi.
Hanan memasukan semua barang ke dalam tas, dia sudah terlalu lama di kedai kopi tersebut. Sudah waktunya berangkat kerja.
Mobil mulai membawanya ke jalanan yang mulai ramai. Menuju kantor yang mulai ramai oleh pegawainya.
"Selamat pagi, Pak," sapa satpam penjaga pintu utama.
"Pagi," balas Hanan dengan senyum.
Hanan menyapa beberapa pegawai lainya. Begitupun pegawai lainya seakan tidak sungkan untuk menyapa dirinya.
"Hai bro! Tumben agak pagi," tanya Aldian sekretaris pribadinya dan juga temannya.
"Apa hari ini ada jadwal survei ke luar kantor? " Tanya Hanan. Dia sepertinya tidak menanggapi pertanyaan Aldian. Dia sudah biasa dengan sindiran seperti itu.
"Ada. Tapi mungkin siangan di daerah Pandean, " jawab Aldian. Dia menyerahkan beberapa kertas kepada Hanan.
"Ok, baiklah,"
Keduanya masuk ke dalam ruangan. Hanan mengambil kotak di atas meja sofa di dalam ruangan nya itu.
"Dari siapa lagi ini?" Kata Hanan seakan dia sudah terbiasa dengan barang - barang asih di dalam ruangan itu.
"Biasa, mungkin anak- anak magang." Kata Aldian. Dia ikut penasaran dengan kotak itu.
Hanan membuka kotak tersebut, di dalam nya ada beberapa roti sobek dan minuman dingin.
[Untuk sarapan]
Tulisan didalam kotak tersebut. Hanan menyeringai. Seperti hal yang sudah biasa dia temui.
"Tuh kan? Apa aku bilang. Kalau kamu gak mau , buat aku saja," kata Aldian. Dia mengambil kotak itu langsung dan membuka salah satu roti sobeknya dan memakannya.
"Aku sudah sering bilang aku tidak suka ada orang yang melakukan hal seperti itu, " Kata Hanan dia tidak peduli dengan kotak tersebut dan berjalan ke meja kerjanya.
"Kenapa gak kamu coba temui salah satu dari mereka, mungkin ada yang bisa di jadikan calon istri," kata Aldian. Dia begitu menikmati roti sobek itu juga.
"Bagus juga ide mu," kata Hanan menangapi candaan Aldian.
"Begitu, dong! Kamu tinggal memilih calon istri yang cocok untuk mu," kata Aldian antusias. Mengganggap perkataan Hanan serius.
"Siapa yang mencari calon istri?'' tanya Zahwa. Dia sudah berada di ambang pintu ruang kantor Hanan. Hanan kaget, begitupun Aldian. Dia belum pernah bertemu dengan Zahwa.
"Kau? Kenapa kau disini?" Tanya Aldian
Hanan menepuk jidatnya. Apalagi yang akan terjadi hari ini?
"Apa kau pegawai magang yang memberikan kue ini. Kue nya enak, lain kali belikan juga untuk ku," Kata Aldian.
Zahwa melihat roti sobek di tangan Aldian. Dia menatap nya tajam.
"Kenapa kau disini?" Tanya Hanan dia berjalan menghampiri.
"Kau pergi tanpa sarapan. Aku begitu khawatir. Tetapi ternyata banyak orang yang sangat peduli dengan mu," kata Zahwa.
Hanan menghela nafas panjang, membuang muka. Akan ada masalah lagi kali ini.
"Lain kali aku tidak akan ke seni lagi. Satu lagi, seperti istri satu tidak cukup untuk mu," kata Zahwa. Dia menyerahkan satu kotak tas besar. Hanan melihatnya dia bisa mengira bahwa itu berisi makanan.
"Kau siapa? Kenapa begitu berani dengan bos mu . Aku bisa langsung memperhatikan mu dari kerja magang mu," kata Aldian. Dia mengancam Zahwa. Zahwa menatap tidak senang dengan Aldianm
"Aldian... Kau keluar lah! Aku ingin bicara dengan perempuan ini," kata Hanan. Aldian bengong. Hanan tidak pernah bersikap seperti itu kepadanya .
__ADS_1
Aldian menatap tidak suka dengan Zahwa.
"Aku memang menyuruh mu memilih salah satu orang dari wanita-wanita itu untuk menjadi istri mu , tapi aku tidak setuju jika kamu memilih dia . Dia memang cantik, tapi dia galak," kata Aldian sebelum dia keluar.
"Baiklah. Sekarang keluar lah, " Kata Hanan menenangkan.
Aldian keluar dengan membawa roti sobek lagi dari kotak itu. Beberapa minum lainya juga iya bawa. Dia mengira itu di bawa oleh wanita di depan nya itu, tapi dia tidak sungkan untuk menghabiskan nya. Dasar aneh.
"Kamu bersama kak Surya kesini?" Tanya Hanan santai. Dia mengisyaratkan Zahwa untuk duduk di sofa.
"Sudah lah! Aku sudah mengerti kenapa kau berangkat pagi dan pergi tanpa sarapan. Ternyata ada orang lain yang suka memberikan sarapan untuk mu," kata Zahwa. Dia mulai kesal lagi.
Hanan tidak tahu, kenapa juga permasalahan roti sobek saja bisa membuat nya kesal. Lagi pula jika ada orang lain memperhatikan dirinya, bukanlah tidak ada artinya apa-apa untuk dirinya.
"Aku menemui teman ku tadi pagi, dia hanya bisa bertemu saat pagi saja. Karena itulah pagi-pagi aku harus pergi, " jelas Hanan.
"Ok! Itu juga bukan urusan ku. Aku kesini hanya mengantar ini untuk mu. Tapi kau sudah sarapan dengan roti sobek itu, jadi aku akan memberi nya untuk kak Surya. Dia lebih membutuhkannya," Kata Zahwa. Dia mengambil lagi kotak tas berisi makanan itu.
Hanan hanya melihat nya dan diam tanpa membantah.
Baru saja Zahwa ingin keluar, dia mendengar suara yang mengusiknya.
Zahwa melihat ke arah Hanan. Suara perut Hanan. Tapi Hanan mencoba untuk bersikap biasa dan seakan dia tidak mendengar kan suara perutnya sendiri.
"Kamu lapar?" Tanya Zahwa
"Sudahlah! Jika datang hanya untuk mengomel , kau pulang saja," Jawab hanan.
Zahwa kembali duduk di sisi Hanan. Membuka tas kotak itu dan mengeluarkan macam-macam makanan di dalamnya. Zahwa mengambil kan satu porsi untuk dan menyerahkan kepada Hanan.
"Makan dan cepat habiskan!" Seru Zahwa cepat
Hanan tidak menjawab. Tidak peduli juga dengan Zahwa yang masih kesal. Dia menyantap makanannya tanpa bicara. Rasa lapar juga merasukinya, secara dari tadi malam perutnya tidak terisi apapun. Kecuali kopi dan air mineral.
Zahwa melihat kotak roti sobek lagi. Di sana masih ada satu roti sandwich Sari roti. Dia mengambil nya , dan memakannya. Hanan hanya meliriknya dan tidak bisa berkata apa-apa.
"Kau sudah menghabiskan rotinya dan aku mengambil yang terakhir. Di larang protes!"
Hanan masih menyelesaikan makanannya , setelah itu dia ingin mengambil minuman yang tersisa di kotak roti tadi. Tapi Zahwa menghentikannya.
"Aku sama sekali tidak memakan roti tadi, kau sendiri yang melihatnya bukan. Sekretaris ku memakannya dan mengambil lagi saat dia akan keluar tadi . Dan sekarang kau memakan satu-satunya roti yang tersisa," Kata hanan. Dia sama sekali tidak habis pikir dengan orang-orang di sekitarnya hari ini. Seakan mengatur semua yang harus dia lakukan.
"Aku sudah makan. Kamu cepat pulanglah. Aku banyak kerjaan, " kata Hanan lagi.
Zahwa melengos mendengar pengusiran dirinya .
"Kau tidak suka aku disini ? Oh iya aku lupa, ada banyak karyawan magang yang akan siap melayani mu . Aku akan pergi sekarang. Kau bisa memilih salah satu dari mereka untuk kau jadikan istri " ketus Zahwa.
"Iya iya... Terserah apa yang kau katakan. Sekarang cepat pulang, bukanlah kau ingin melukis lagi." Kata Hanan. Dia risih harus berhadapan dengan Zahwa saat kesal seperti itu. Seakan apa yang di lakukan terlihat salah, padahal dia sama sekali tidak berbuat apa-apa.
Telpon berdering. Hanan menuju meja kerjanya untuk mengangkat telpon tersebut. Tidak, dia memencet tombol loads speaker.
"Selamat pagi tuan. Siang ini apa yang harus saya pesan untuk makan siang? " Tanya suara dari telpon itu.
Zahwa melotot , karena yang terdengar adalah suara cewek .
"Pagi sekali sudah ada yang menanyakan menu makan siang," cibir Zahwa. Hanan melihat istrinya itu, dan geleng-geleng kepala. Sama sekali tidak mengerti apa maksudnya .
"Saya akan makan siang di luar. Jadi tidak perlu memesan apapun, " kata Hanan setelah itu.
"Tentu saja, bos akan menemui pegawai magang di luar kantor. Makan siang bersama," celoteh Zahwa lagi.
"Aku ada tugas di luar kantor. Mereview pembangunan di daerah Pandean. Apa kau mau ikut? Agar kau juga tahu aku bekerja atau bertemu dengan wanita lain, " tutur Hanan.
Zahwa masih terlihat tidak percaya.
"Aku tidak tahu. Kenapa kau uring-uringan tidak jelas kepada ku. Tapi aku mohon mengerti ini kantor. Jadi jangan membuat keributan," kata Hanan
Akan tidak etis, jika dia bertengkar dengan Zahwa dan di dengar oleh banyak karyawannya . Apalagi ini pertama kali nya dia ke kantornya.
Zahwa semakin marah, tanpa bicara dia membereskan kotak-kotak makan yang di bawanya. Memasukkan lagi kedalam tas kotak tersebut. Dengan bergegas dia membawa dan menghampiri Hanan, mengulurkan tangannya mencium punggung tangan Hanan dengan cepatnya.
__ADS_1
"Assalamualaikum, bye! " salam Zahwa dengan kesal kemudian dia keluar ruangan.
" Waalaikumsalam... Hati-hati di jalan," balas Hanan. Dia geleng-geleng melihat tingkah Zahwa yang seperti anak kecil.
"Jangan bersikap begitu, aku bisa salah sangka nantinya. Menganggap kau sedang cemburu kepada ku," batin Hanan
Hanan mengintip kepergian Zahwa. Dia mengintip dari tirai ruangnya . Dia masih terlihat dari pandangannya.
Zahwa sedang berbicara dengan seorang wanita . Hanan tidak mengetahui siapa wanita itu. Tapi dilihat dari pakaiannya dia pegawai magang.
Hanan khawatir dan bergegas keluar. Takut jika Zahwa akan berulah lagi.
"Untuk apa kamu ingin meminta no ku? Apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya Zahwa pada wanita di depannya .
"Aku melihat nona masuk bersama pak Surya dan tadi nona juga memasuki ruangan pak Hanan . Saya pikir nona pasti saudari dari mereka" Kata wanita itu. Dia terlihat sopan
"Lantas? " Zahwa masih belum mengerti arah pembicaraan wanita itu .
"Sebenarnya saya yang sering memberikan roti dan minuman kepada pak Hanan secara diam-diam. Dan sebenarnya saya menyukai pak Hanan sejak pertama magang di sini, " Jelas wanita di depannya itu.
Hanan yang ikut mendengarkan pembicaraan terlihat gelisah. Wanita itu mencari ancamannya sendiri. Zahwa akan semakin marah nanti .
Dari raut wajahnya saja sudah di lihat . Dia menahan amarah. Senyum paksa.
"Oh, mbaknya yang mengirim roti-roti itu. Boleh saya kasih saran mbak. Sebaiknya tidak perlu lagi mbak mengirimi roti m, makan atau lainnya untuk pak Hanan lagi," Kata Zahwa
Hanan ingin cepat mengehentikan Zahwa. Tapi dia masih bingung harus berbuat apa.
Wanita di depannya terlihat terkejut dan kecewa.
"Kenapa?" Tanya wanita itu.
"Sebenarnya pak Hanan sama sekali tidak memakan roti-roti itu. Sekretarisnya yang memakannya. Dari pada itu kasih kamu, jika harus terus membelikannya tetapi dia sama sekali tidak memakannya," jawab zahwa.
Hanan menepuk jidatnya. Bagaimana bisa Zahwa terus terang seperti itu. Wanita itu akan kecewa dan sakit hati akhirnya.
"Begitu kah?" Wanita itu masih belum sepenuhnya percaya.
"Tapi bolehkah saya meminta nomer nona . Mungkin roti yang saya berikan tidak di sukai oleh pak Hanan. Jadi saya kan menanyakan lebih banyak lagi tentang pak Hanan kepada nona . Nona saudara nya kan?" Sepertinya wanita itu tidak gencar sedikit pun.
Zahwa menahan geram. Masih bisa di tahanannya.
"Apa karyawan di sini tidak tahu , bahwa pak Hanan sudah mempunyai istri? " Tanya Zahwa dengan sedikit menekan.
Wanita di depannya terlihat shock .
"Pak Hanan mempunyai istri? Tidak pernah ada kabar seperti itu. Apa nona mengada-ada," kali ini wanita itu yang terlihat marah .
"Untuk apa aku mengada-ada. Lagipula istri pak Hanan itu sangat kejam dan menyeramkan. Jika kau ketahuan menggodanya dia akan tidak segan-segan untuk menghukum mu " kata Zahwa dengan tegas . Membuat wanita itu tidak menemukan kebohongan di dalamnya.
"Hahahahahahaha! " Hanan yang dari tadi menguping tidak bisa menahan tawanya.
Zahwa dan wanita itu menoleh ke arah suara tawa itu.
"Kamu?! " kata Zahwa
"Pak Hanan," kata wanita itu bersamaan dengan Zahwa. Dia terlihat menunduk kepalanya. Sadar bahwa apa yang di bicarakan terdengar oleh bosnya itu.
"Benar apa yang dia katakan. Kau tidak perlu mengirimi ku macam-macam lagi. Bukan karena aku tidak menyukainya, tapi aku takut membuatmu menghadapi kesulitan kedepannya nanti. Istri ku sangat kejam dan menyeramkan," kata Hanan pada wanita itu. Dia harus meluruskan agar tidak salah faham.
Zahwa mendengus kesal dan begitu saja pergi meninggalkan mereka berdua.
Hanan tidak mencegahnya. Dia pergi lebih cepat akan lebih baik. Jika tidak akan banyak masalah nantinya.
Tidak akan baik jika ada orang yang mengetahui bahwa Zahwa adalah istrinya sekarang. Karena nanti saat pernikahan itu berakhir dia akan berganti menjadi istri Surya . Hanan tidak akan membiarkan Zahwa di cela apalagi di cemooh banyak orang nantinya.
"Maafkan atas kelancangan saya, Pak. Saya tidak akan mengulanginya lagi," kata wanita itu dia terlihat malu. Wajahnya merah merona.
"Tidak apa-apa. Aku doa kan semoga kamu segera menemukan laki-laki yang pantas untuk mu," kata Hanan.
Dengan sedikit terpaksa. Wanita itu tersenyum. Dia tahu hari ini secara tidak langsung bos nya itu telah menolak cintanya.
__ADS_1
Sebelum itu, Hanan meminta karyawati magang tersebut untuk tidak membicarakan tentang pembicaraan mereka tadi. Termasuk tentang istri.
Hanan memang menyimpan statusnya yang saat itu sudah menikah. Bukan karena tidak ingin mengakui. Sebab dia pun tidak tahu bagaimana kedepannya pernikahan. Terlebih bagaimana keputusan Zahwa dan Surya nantinya. Seperti awal tadi, tidak baik jika orang mengetahui jika dia menikahi seorang wanita yang ternyata kekasih kakaknya.