Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 54


__ADS_3

"Kata pak satpam. Mas Surya tidak masuk?'' Apa dia baik-baik saja?" Tanya Zahwa.


Aldian sudah ikut nimbrung makan. Hanan berhenti makan mendengar pertanyaan tentang Surya. Dia serasa tidak selera lagi, membuat perutnya kenyang seketika. Zahwa melihat perubah mimik Hanan. Dia sadar jika suaminya itu tidak lagi berselera.


"Aku tidak tahu. Dia sudah besar. Tidak perlu di khawatirkan seperti itu," Sewot Hanan. Hanan beranjak dari tempatnya dan ingin kembali bekerja.


Zahwa ingin menyanggah tapi melihat ada orang lain juga di ruang itu membuatnya mengurungkan niatnya.


"Keluarlah dulu. Aku ingin berdua dengan istriku." Perintah Hanan. Aldian yang masih enak makan memelas karena sayang dengan makanannya.


"Bawa saja. Tidak apa-apa," Kata Zahwa. Mengerti sekali keinginan Aldian. Sekretaris yang di banggakan oleh suaminya itu sebenarnya rakus juga. Akan tetapi, dia cukup bisa di percaya.


Setelah Aldian keluar Hanan menghampiri Zahwa


Zahwa yang masih duduk di sofa di tariknya ke dalam pelukannya dengan kasar. Membuat Zahwa terkejut, tangan Hanan sudah melingkar di tubuhnya. Membuat nya terkunci tidak bisa memberontak.


"Lepaskan. Jika sekretaris mu itu datang lagi bagaimana," Ujar Zahwa. Dia berusaha meronta tapi sia-sia.


"Bisakah kamu lembut. Sedikit saja. Aku hanya ingin memelukmu," Bisik Hanan. Dia tidak melepaskan pandangannya dari Zahwa.


"Tidak! Kamu sendiri yang bilang aku ini kasar. Sekarang lepaskan!" Zahwa masih tetap ingin melepaskannya. Dia meronta-ronta.


"Jika kamu terus meronta. Kamu tidak akan tahu akibatnya!" Seru Hanan. Ia semakin gemas dengan tingkah Zahwa.


Tiba-tiba Hanan mendekatkan bibirnya ke leher Zahwa. Membuat wanita itu bergidik geli.


"Kamu gila! Ini kantor. Jika dia yang melihat bagaimana?!"


Zahwa menghindari wajah Hanan. Dia terus berusaha menjauhkan suaminya dari tubuhnya.


"Tidak akan. Jika kamu bisa diam dan tidak bruntal." Kata Hanan


Dia mencoba sekali lagi. Kali ini Zahwa pasrah. Dia menerima Hanan mencium lehernya.


Desiran hebat mulai mereka rasakan. Gigitan kecil di leher Zahwa membuat keduanya merasakan gairah yang belum pernah mereka rasakan.


Tok tok tok


Suara pintu di ketuk. Zahwa segera melepaskan pelukan Hanan. Hanan kesal Lagi-lagi ada yang menggangu mereka. Zahwa tertawa geli. Melihat mimik wajah suaminya itu. Dengan segera dia merapikan jasnya dan kembali di kursi kerjanya.


"Masuk, " Perintah Hanan keras. Pintu di buka. Pegawai laki-laki itu membawa beberapa berkas di tangannya Dengan ragu dia masuk ke ruang itu. Sedikit melirik Zahwa. Zahwa salah tingkah dan sedikit merapikan baju dan hijabnya. Mungkinkah pegawai itu sempat melihat kejadian tadi?

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya Hanan. Dia ingin pegawai itu cepat menyelesaikan urusannya dan pergi.


"Ada berkas yang harus di tandatangani, Pak. " Kata pegawai itu seraya memberikan beberapa berkas pada Hanan. Tanpa membaca lagi, Hanan langsung menandatangani berkas tersebut dan menyerahkan kepada pegawai itu lagi.


"Cepat pergi!" Usir Hanan ketus. Dengan rasa sopan pegawai tersebut mengundurkan diri dan keluar dari ruangan tersebut.


"Jangan terlalu kasar dengan pegawai. Mereka bekerja untuk mu juga." Kritik Zahwa. Dia sudah akan pergi. Mengambil tasnya. Jika terlalu lama entah apa yang akan terjadi nantinya.


"Kamu mau kemana?" Tanya Hanan menatap tidak suka.


"Pulanglah. Aku sudah mengantarkan sarapan mu," Jawab Zahwa.


Dia menghampiri Hanan, mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Hanan menerima uluran tangan Zahwa dan membiarkan dia mencium punggung tangannya. Saat akan melepaskan tangan Zahwa masih di tahannya.


"Aku harus pergi. Jika tidak kamu tidak akan fokus bekerja." Ujar Zahwa


"Kamu hanya alasan. Kamu pasti akan pulang dan mencari Mas Surya." Balas Hanan. Dia seperti anak kecil yang baru saja di bohongi.


"Tidak. Aku pulang ke rumah ku." Kata Zahwa.


Memang itulah yang Zahwa mau lakukan mencari Surya. Pasti dia sedang galau sekarang. Tapi, suaminya lebih peka dari dugaannya. Tanpa berbicara, dia sudah mengetahui apa yang akan Zahwa lakukan.


"Aku bukan anak kecil Zahwa . Pergilah ! Jika itu mau mu . '' Hanan melepas tangan Zahwa dengan sedikit melempar nya . Zahwa tahu , dia masih marah dengan kejadian kemarin.


Cup! Ciuman pipi pertama mendarat.


Hanan tertegun dan melihat Zahwa. Dia sedang tersenyum manis menggoda.


"Aku tidak akan lari lagi. Percayalah..." Kata Zahwa manis.


Sebelum Hanan tersadar dari rasa terkejutnya. Zahwa mencari kesempatan untuk pergi dari ruangan itu, meninggalkan Hanan yang masih memegang pipi nya yang baru saja di cium oleh istrinya.


Zahwa keluar ruangan dengan senyum mengembang. Dia sendiri tidak percaya bisa mencium Hanan begitu saja. Mengingat nya saja membuatnya geli.


"Zahwa!" Sapa seseorang. Membubarkan lamunan Zahwa menengok ke arah suara yang memanggilnya.


Hanif dan Zahra, mereka selalu bersama. Berjalan cepat ke arahnya


"Hai, kalian di sini?" Tanya Zahwa.


"Iya. Bagaimana? Kamu sudah berbaikan dengan Hanan?" Tanya Hanif.Dia sangat peduli dengan hubungan Hanan dan Zahwa.

__ADS_1


"Iya begitulah," Jawab Zahwa dengan seulas senyum.


"Alhamdulillah... Aku ikut senang jika begitu." Ujar Hanif. Zahra yang di sampingnya juga terlihat ikut bahagia.


"Kalian ingin bertemu Mas Hanan?" Tanya Zahwa.


"Tidak. Kami ingin ketemu Mas Surya. Tapi kata pegawainya Dia tidak masuk kerja." Jawab Zahra kali ini.


"Oh. Kalau soal itu. Aku baru saja ingin mencarinya." Ujar Zahwa.


"Baguslah. Kalo begitu, jika Mas Surya punya waktu luang. Kabari aku ya... Sedang ada perlu," balas Hanif


Zahwa mengangguk mengerti.


"Kalau boleh tahu. Kalian pacaran?" Tanya Zahwa. d


Dia menunjuk Hanif dan Zahra berganti.


"Haha. Tidak-tidak.... Kita dalam satu pekerjaan. Lagi pula dia sudah menjadi tanggung jawab ku. Sejak dulu." Jawab Hanif.


"Eh, aku belum mengerti?!" Kata Zahwa. Dia bingung.


"Aku dan Mas Hanif sering bersama. Karena kita teman sejak kecil dan lagi masih saudara." Jelas Zahra.


"Masya Alloh....Maaf saya tidak tahu," Lontar Zahwa.


"Tidak apa-apa. Kamu bukan yang pertama menganggap nya seperti itu." Kata Hanif.


"Syukurlah," lontar Zahwa.


"Baiklah. Kami akan menemui Mas Surya lain waktu. Kami duluan," Kata Zahra .


"Ok. Hati-hati..." Pesan Zahwa .


Mereka berpisah saat di Parkiran. Zahwa kembali melajukan mobilnya menyusuri jalan padat penduduk. Tujuan Zahwa tidak lah rumahnya, melainkan rumah Suaminya. Dia tidak tega, jika meninggalkan sendiri.


Setelah beberapa menit dalam perjalanan. Mobil itu sudah memasuki Halaman rumah suaminya. Dengan sigap dia langsung masuk ke dalam rumah.


"Mas Surya," Panggil Zahwa. Dia langsung menuju kamar Surya. Sesampai di sana kamar itu ternyata kosong.


"Mbak Zahwa. Apa yang kamu lakukan?" Tanya Elena. Entah dari mana dia sudah ikut masuk ke dalam kamar Surya.

__ADS_1


"Tidak ada. Aku hanya mencari mas Surya? Kamu tahu dia ada dimana?" Tanya Balik Zahwa.


"Untuk apa Mbak Zahwa mencari mas Surya lagi? Bukankah Mbak sudah memilih Mas Hanan. Apa mbak ingin dua-duanya." Celoteh Elena. Zahwa tidak percaya dengan omongan Elena. Tidak menyangka bahwa dia bisa berfikir seperti itu sebelumnya.


__ADS_2