
Pesawat berangkat sekitar pukul tiga siang. Namun, Zahwa dan Hanan begitupun Surya masih ada di rumah. Karena banyaknya persiapan yang harus di urus membuat mereka telat untuk berangkat ke bandara.
''Ini sudah pukul 13. 50 Jika tidak segera ke Bandara kita akan telat, aku tidak mau jika harus perjalanan darat. Rasa mual ku bisa sangat menganggu.'' Ujar Hanan. Dia sudah mulai menutup kopernya.
Zahwa masih sibuk dengan beberapa pakaian yang ingin dia bawa. Kemarin mereka sibuk dengan banyak hantaran. Surya sudah meminta seseorang untuk memesannya di sana saja, tapi Zahwa menolak. Dia tidak ingin jika hantaran itu langsung di pesan begitu saja, tidak ada perjuangan katanya.
''Aku yang akan memilih semua barang hantaran tersebut. Dan akan aku hias sendirian juga.'' Kata Zahwa tegas waktu itu.
Kedua kakak adik itu membantah awalnya, namun tetap saja. Mereka kalah akan keras kepala Zahwa.
''Ini untuk pernikahan, satu kali dalam seumur hidup. Jadi harus di pilihkan yang terbaik, gak boleh ada kesalahan sekecil apapun.'' Ujar Zahwa.
Setelah mereka membeli cincin. Mereka langsung membeli beberapa barang hantaran. Zahwa membeli banyak barang, mulai dari atas kepala sampai kaki, dia juga yang pilihkan.
Walau sebenarnya ragu, di sendiri tidak tahu bagaimana kakak iparnya nanti. Tapi tidak mungkin juga seperti apa yang di bayangkan oleh dirinya dan suaminya. Gendut dan bermata bulat. Kyai Jauhari pasti memilihkan wanita yang sempurna untuk kakak iparnya.
Dia juga pasti memiliki pribadi yang baik, dia juga bisa melengkapi Surya. Dan bisa sejalan dengan Surya.
''Ini gara-gara kemarin kita terlalu sibuk dengan hantaran. Jadi kita bangun kesiangan." Kata Hanan
Dia membantu Zahwa memasukkan barang-batangnya ke dalam koper. Entah mengapa wanita selalu kebingungan menentukan pilihan untuk baju yang akan dia kenakan. Begitu juga barang-barang yang akan di bawanya.
''Kopernya sudah tidak cukup. Bawa seperlunya saja." Hanan sudah menumpuk-numpuk baju itu, hingga bisa muat semua.
''Tapi make up ku belum aku bawa. Aku akan mengurangi barang bawaan ku ini.'' Kata Zahwa, dia ingin mengeluarkan barang yang sudah di tata Hanan dan ingin memilah lagi.
''Sudah ah, mekeup kamu taruh di koper ku saja." Bantah Hanan. Dia mengambil kotak Mike up Zahwa dan memasukannya ke dalam kopernya.
''Hah! Baiklah. Ayo, kita sudah telat.'' Zahwa membawa kopernya keluar kamar. Hanan juga, mereka menuju lantai bawah.
Surya sudah menunggu mereka. Dia hanya membawa tas kecil di tangannya.
''Kak? Koper mu mana?'' Tanya Hanan.
''Jangan bilang kalau kakak belum siap-siap?!" Sahut Zahwa.
''Sudah. Aku sudah menunggu kalian. Lama sekali, aku gak bawa apa-apa lah. Barang ku semua juga udah aku bawa ke sana. Tadi pagi semua hantaran juga udah aku kirim, aku suruh orang untuk mengantarnya langsung ke pondok.'' Terang Surya.
''Kenapa gak bilang, tau gini barang kami juga sekalian.'' Kata Zahwa.
__ADS_1
''Kalian aja baru nyiapin semua barusan.'' Bantah Surya.
''Ayo ah, jangan berdebat. Kita berangkat, Bik Asih mana?" tanya Hanan.
''Di sini mas.'' Jawab Bik Asih
Bik Asih sudah siap juga dengan barang-barang nya. Mereka ingin Bik Asih ikut bersama mereka, beliau sudah seperti keluarga mereka sendiri.
''Ok. Ayo,'' Seru Hanan.
Mereka berangkat dengan satu mobil. Waktunya begitu mepet, membuat Hanan harus mengebut, menerobos jalanan yang ramai.
Sesampainya di Bandara mereka harus antri untuk chak - in. Untunglah, mereka datang tepat waktu. Lima menit saja terlambat, mereka harus menunggu penerbangan berikutnya, itupun akan sangat lama.
Mereka leading tepat waktu. Juanda menjadi pendaratan pertama mereka.
''Aku benar-benar mual. Hoek ...''
Baru saja sampai Hanan sudah mual-mual lagi. Dia langsung menuju toilet untuk mengeluarkan isi isi perut nya.
Surya mengikutinya. Adiknya itu bener-benar sedang mengalami couvade syndrom. Sedikit saja perubahan suasana di sekitarnya akan membuatnya kembali merasakan mual.
Zahwa menunggu barang-barang mereka. Bik Asih, dia seperti pengawal setia Zahwa, berdiri di belakangnya terus. Di sela - sela itu Zahwa memesan teh hangat untuk suaminya.
''Bik mau teh atau kopi?'' Tanya Zahwa menawarkan. Dia membawa beberapa gelas kopi dan teh di atas nampan.
''Teh saja Non.'' Jawab Bik Asih. Dia mengambil satu gelas teh hangat untuk dirinya.
''Ini kopi untuk mu kak." Tawar Zahwa. Dia juga memberikan satu gelas kopi untuk Surya. Surya menerimanya lalu meneguknya.
Mereka semua duduk di ruang tunggu. Trevel yang menjemput mereka datang terlambat, mengharuskan mereka harus menunggu.
''Kita cari makan di sekitar sini. Bau disini sangat menggangu ku." Kata Hanan. Sedari tadi dia menahan bau dari AC bandar tersebut.
''Di sekitar sini ada cafe, aku akan menghubungi trevel nya untuk menjemput kita di sana saja.'' Ujar Surya.
Dari pada Hanan dan Zahwa, Surya sudah sedikit lebih mengenal daerah sekitar bandara
Bagaimana tidak, dia akan sering ke tempat ini untuk pulang dan kembali.
__ADS_1
Mereka semua keluar dari Juanda setelah mendapatkan barang-barang mereka. Dan benar di sekitar Juanda ada beberapa cafe yang bisa mereka buat untuk menunggu dan mengisi perut kosong mereka. Terutama Hanan, dia yang paling lapar dia antara mereka semua, isi perutnya terkuras habis karena rasa mual-mualnya.
Surya memilih satu cafe yang di rasa cocok. Dan langsung masuk, memesan beberapa makan dan minuman.
Memilih tempat lesehan untuk mereka. Hanan langsung merebahkan tubuhnya di pangkuan Zahwa. Dia merasa lemas, Zahwa dengan segera memijat kepala suaminya. Dia tahu, tidak hanya mual. Suaminya juga pasti menahan pening di kepalanya.
Bik Asih meminta izin mencari toilet di cafe tersebut, dia baru pertama kali naik pesat. Dan entah mengapa , perutnya tiba-tiba mulas. Zahwa mengizinkan dan dia meminta pelayanan cafe tersebut mengantarkannya ke toilet.
Surya bertanya, apa yang mereka pesan. Zahwa memesan gurame lalap dan Hanan memilih menu yang sama. Keduanya juga memilih Jus Jambu untuk minumnya.
''Bik Asih, nanti tanyakan juga. Dia ingin makan apa? Dia juga pasti lapar.'' kata Zahwa.
''Baiklah tuan dan Nyonya. Pesanan akan segera datang." Kata Surya meniru gaya waiters.
Zahwa tersenyum melihatnya. Selera humor kakaknya itu lumayan juga.
Sambil menunggu pesanan datang. Zahwa masih telaten memijat kepala suaminya. Mengelus-elus ubun-ubuunya sesaat setelah hanan menahan tangannya untuk berhenti memijatm
''Sudah cukup, nanti kamu capek. Biarkan aku istirahat sebentar saja di sini.'' Kata Hanan, dia memejamkan matanya di pangkuan istrinya. Menetralisir tubuhnya yang begitu di rasa lemas.
Zahwa berhenti memijat, dia hanya mengelus-elus lembut kening dan rambut suaminya. Matanya menyusuri seisi cafe tersebut.
Cukup luas dan juga nyaman. Ada beberapa tempat pilihan di dalam cafe itu. Meja dengan empat kursi, cukup untuk semeja dengan keluarga. Meja dengan dua kuris, tepat untuk para pasangan. Dan satu kursi dengan meja yang pangan, dengan kaca yang menyediakan pandangan luar bandara.
Pandangan terhenti pada Surya yang sedang berbicara dengan seseorang. Mereka terlihat akrab , tapi Zahwa belum pernah melihatnya. Seorang lelaki dengan Hem kontak-kotak merah, dan juga sarung bercorak warna senada.
Mereka berjalan ke arah Zahwa dan Hanan berada .
''Kenalkan, dia Badrun. Santrinya Abah yai juga.'' Kaya Surya memperkenalkan sosok laki-laki tersebut.
Zahwa tersenyum dan sedikit menunduk. Telapak tangannya ia satukan sebagai ganti salamannya.
''Zahwa,'' Balas Zahwa.
''Ini adik ku dan juga adik iparku. Mereka akan ikut aku ke pondok nanti.'' Ujar Surya menjelaskan.
Badrun melihat Hanan masih tertidur di pangkuan istrinya. Dia menelan ludah, jarang sekali melihat pasangan bermesraan di depannya.
''Dia ke sini mau menjemput Zahra, katanya dia juga pulang.'' Kata Surya.
__ADS_1
''Apa Zahra pulang juga!'' Seru Zahwa terkejut. Apa yang di pikirkan terjadi juga. Bagaimana ini? Apa yang nanti dia lakukan, dia tahu Zahra menyukai Surya. Tapi dia membiarkan Surya menikah dengan orang lain. Itupun langsung di depannya, di rumahnya. Kegelisahan hatinya semakin terlihat jelas di wajahnya.
Hanan yang baru saja memejamkan mata. Akhirnya bangun, karena terkejut mendengar suara istrinya. Rasa pening di kepalanya, kembali ia rasakan.