Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 115


__ADS_3

Hanan terbakar cemburu tidak menentu. Dia menyuruh Kakaknya itu pergi bersama Badrun. Sedang dia akan berangkat menggunakan travel yang sudah di pesan.


''Aku yang harusnya bertanya. Kenapa kau tiba-tiba marah tanpa sebab?'' Ujar Surya. Adiknya itu selalu saja begitu, marah-marah tanpa sebab. Atau mungkin karena kondisinya yang sedang tidak stabil, jadi dia semakin emosional.


''Aku juga tidak faham, apa sesakit itu sampai marah-marah begitu?'' Giliran Zahwa yang bertanya. Dia juga mengira kalau suaminya seperti itu karena dia sedang mengalami couvade syndrom.


''Kau masuk saja. Jangan banyak bicara!"Ujar Hanan seraya meminta Zahra untuk masuk ke dalam mobil Alphard yang sudah menunggu mereka.


''Bik, kamu duluan.'' Ujar Zahwa. Dia menyuruh Bik Asih masuk terlebih dahulu.


Surya dan Badrun mereka pergi terlebih dahulu. Meninggalkan Juanda. Dari belakang, mobil Alphard yang di tumpangi Hanan mulai mengikuti mereka.


''Nyuwun Sewu Lo kang. Tadi itu, adikmu kang?" Tanya Badrun.


''Iya kang. Gak mirip ta kang?" Jawab Surya dengan mringis.


''Sama sih kang, cuman adik nya lebih putih saja. Hehehem Mboten ngece Lo kang. Tapi jenengan lebih manis.'' Kata Badrun. Dia menjelaskan agar Surya tidak salah faham dengan omongannya.


''Hahaha... Dari kecil banyak yang bilang begitu, aku gak kaget.''


''Oh... Yang Estri tadi istrinya ya kang?"


''Iya.Kenapa?"


''Mboten kang. Cantik, manis pula. Hehehe, khilaf sampekan mata saya.''


''Hehehe. Zahwa, dia itu mantan ku Lo kang.''


"Hah! Mosok to kang?! Kok saget? Terus sekarang pripun?"


Badrun terheran-heran dengan penuturan Surya.


''Iya gak gimana-gimana. Dulu malah , pas mereka nikah, kami belum putus Lo kang. Lucu, kan? Lucu opo mengenaskan, ya?''


''Kok saget kang? Pripun cerita ne?'' Tanya Badrun dia penasaran dengan kisah mereka.


Akhirnya Surya menceritakan dari awal perkenalannya dengan Zahwa. Tentang janji - janji dalam kertas, kotak biru yang menjadi wadahnya. Dan juga ke salah fahaman orang tua mereka.


Kisah awal pernikahan Hanan dan Zahwa. Keinginannya untuk merebut Zahwa lagi dan pada akhirnya dia di tolak oleh Zahwa karena Zahwa tetap memilih adiknya yang sudah menjadi suaminya.


Badrun mendengarnya dengan seksama. Ada perasaan iba, terharu dan sedih. Ternyata, di balik kehidupan yang terlihat mapan dan mewah ada cerita yang sangat memilukan.


''Terus sekarang bagaimana kang? Kamu masih sayang sama neng Zahwa?'' Tanya Badrun penasaran.


''Hahaha iya sayang to drun.'' Jawab Surya santai.

__ADS_1


''Hah! Masih sayang?''


''Sayang sebagai adik. Dia sudah seperti adik bagi ku, lagipula aku bersyukur kok drun. Adik ku Hanan ternyata berjodoh dengan Zahwa. Wanita, yang memang sudah aku kenal sebelumnya, sudah aku tahu kepribadiannya. Sempat, orang tua ku khawatir karena dia itu cuek. Sama sekali tidak pernah memperkenalkan teman wanitanya, dia juga seperti tidak tertarik dengan wanita. Hanya Zahra, teman wanita yang pernah dia kenalkan dengan kepada keluarga kami. Dan Alhamdulillah , persahabatan itu terjalin sampai hari ini.'' Terang Surya . Dia mengingat momen-momen saat Hanan masih belum menikah.


''Wah, jalan cerita hidup tidak ada yang bisa menebak ya kang.'' Ujar Badrun.


Surya tersenyum. Semakin ke sini dia semakin mengerti, jika manusia hidup dengan beragam kebetulan. Tidak ada yang menduga, apa yang akan terjadi di masa depan.


''Kita tidak tahu kang, kapan dan bagaimana waktu akan mengejutkan hidup kita.'' balas Surya dengan tersenyum.


''Hehehehe. Nggeh kang.''


Mobil mereka baru saja melewati perbatasan Surabaya - Mojokerto.


''Kamu pernah ketemu dengan Gus Hakim kang?''


Tiba-tiba Surya penasaran dengan sosok Gus Hakim.


''Pernah kang. Beliau sangat santun, ngalim, masih muda. Tapi wawasan tentang kitab-kitab kuning gak kalah sama kyai-kyai sepuh lainya. Beliau di hormati oleh banyak priyayi. Masya Alloh, beliau juga guanteng.''


''Oh...Gitu. Pantas Abah yai milih beliau.''


Surya menggut-manggut. Apa yang dia bayangkan ternyata memang benar. Sosok Gus Hakim sangat di Gandrung oleh para priyayi ternyata.


"Tidak. Penasaran saja,''


''Gus Hakim itu juga teman Ning Zahra. Mereka pernah satu pondok saat kecil dulu. Tapi setelah itu, mereka pisah - pisah. Nggak pernah ketemu lagi, sampai sekarang."


''Wah. Cinta masa kecil,'' Ujar Surya.


''Cinta opo kang?" Tanya Badrun bingung.


''Gus Hakim sama Zahra.'' Jawab Surya.


''Hahaha. Gak ada yang seperti itu kang, eh. ngapunten kang, kelepasan ngakak.''


"Ning Zahra mboten Nate pacaran kaleh Gus Hakim. Namung, Nate satu pondok. Niku nggeh taseh alit .(Ning Zahra gak pernah pacaran dengan Gus Hakim. Hanya pernah satu pondok. Itupun mereka masih kecil).'' tambah Badrun.


Surya tersenyum. Teman masa kecil dan kemudian menjadi jodoh saat dewasa. Sama-sama terpisah untuk saling memantaskan diri . Kemudian di pertemukan dengan di waktu yang tepat . Sinopsis hidup yang cukup indah.


''Kenapa kang, Kamu cemburu?'' Tanya Badrun menggoda.


''Ha! Cemburu lah? Kenapa harus cemburu.'' Jawab Surya bingung .


''Halah, bilang saja. Wajar itu kang.'' lontar Badrun lagi dengan menyenggol lengan Surya .

__ADS_1


''Hahaha... Aku benar gak mengerti drun.'' Surya geleng-geleng dengan senyum simpul.


Masih setengah perjalanan. Dan Badrun dengan nyamannya menceritakan masa-masa kecil Zahra tanpa Surya pinta. Dia memang tidak mengetahui peres bagaimana, tapi itu sudah menjadi cerita turun-temurun dari kang - kang santri dan juga mbak-mbak santri.


Neng dan Gus akan menjadi idola para santrinya. Begitupun dengan Zahra. Tidak jarang dari mereka yang ingin bersanding dengan merek


Badrun bercerita saat Zahra berumur enam tahun, dia suka lari-lari di halaman, mengambil sandal - sandal dari halaman masjid membawanya sampai pada halaman ndalem. Menjajarkan di depan teras ndalem, menyusunnya dengan acak. Tanpa mengetahui pasangan itu benar atau tidak.


Zahra kecil, juga senang bermain sepeda. Dia akan seharian penuh saat sedang bersepeda. Beberapa kali terjatuh, tapi kemudian bangkit lagi. Menangis sebentar, kemudian ingin bermain lagi.


Setiap sore, dia akan meminta kang - kang mengantarnya berkeliling desa menggunakan becak. Kadang pula, mengajak teman-teman sebayanya main petak umpet.


Pernah saat main petak. Terjadi kekisruhan karena Zahra tidak di temukan. Teman-temannya mencari, tapi tidak berhasil menemukannya. Lama, membuat mereka akhirnya lapor ke Abah yai dan ibu nyai.


Semua ikut mencari, memanggil nama Zahra. Tapi tidak ada sahutan sama sekali. Semua penjuru pondok sudah di cari. Namun tidak ketemu, hingga tinggal bangunan kamar baru tersebut.


Abah yai memintanya untuk mencari ke sanam Tapi tidak ada, kang santri tersebut tidak menemukannya.


Hingga larut malam, Zahra belum di temukan. Semua bingung, sampai Abah yai ingin melapor pada polisi. Tapi, sesaat setelah itu ada mbak-mbak santri yang ketakutan. Karena mendengar tangisan dari kamar yang tak berpenghuni. Mereka mengira jika itu hantu. Tapi setelah di selediki , ternyata itu adalah suara tangisan Zahra yang terduduk lesu dan kumal.


''Ning Zahra ketiduran saat bersembunyi di lemari kamar tersebut.''


''Hahaha. Dia lucu sekali, pasti dia kelaparan saat itu."


''Hehehehe, mungkin kang.''


Perbincangan panjang lebar membuat waktu yang lama menjadi singkat. Mereka sudah memasuki halaman pondok pesantren. Diikuti mobil Alphard di belakang mereka.


''Wah kang. Sepertinya Abah yai sangat menyayangi mu. Sampai di sambut seperti ini." kata Badrun.


Baru saja mereka turun dari mobil dan terkejut dengan para santri yang menyambut kedatangan mereka .


Sholawat badar berderu mengguncang dada. Seolah mereka sedang menyambut pemujaan.


''Ini terlalu wah untuk kita.'' Bisik Zahwa pada suaminya .


'' Hal wajar, mereka sedang menyambut calon menantu kiyai mereka."


''Menantu?Mana? Siapa?'' tanya Zahwa dengan celingukan.


''Jangan berisik dulu. Bersikaplah tenang. Kita sedang di perhatikan." Jawab Hanan setengah berbisik.


Zahwa menurut. Memangnya benar, banyak mata yang sedang memandangnya.


Di depan Kyai Jauhari sudah menghampiri Surya. Dengan ta'dzim Surya mengecup tangan Abah yai Jauhari. Kemudian mereka di persilahkan masuk dengan iringan sholawat badar.

__ADS_1


__ADS_2