
Persiapan resepsi pernikahan sudah di buat sedemikian rupa. Aldian memberikan tambahan konsep yang luar biasa di gedung dan juga acara nantinya . Dia mati-matian meluangkan waktunya untuk menjadikan resepsi itu sempurna.
''Tidak apa yang terpenting setelah resepsi ini selesai aku liburan.'' Ujarnya untuk menyemangati dirinya sendiri.
Hanan tidak pernah meragukan kemampuan sekretaris itu. Selain bertanggung jawab dia mempunyai kinerja yang cukup cekatan.
Pernah sekali, Hanan menawarkan untuk membuat cabang perusahaan dan akan di pimpin oleh Aldian sendiri. Tapi dengan kejenakaannya dia mengatakan.'' Aku jadi pemimpin perusahaan yang akan aku terima semua karyawan perempuan bos bukanya maju malah remuk itu.''
Hanan tertawa mendengarnya. Dia tahu Aldian suka main perempuan. Tapi sebenarnya dia tidak pernah berani untuk menyakiti hati mereka. Hanya menggoda dan menyuguhkan pertemanan. Jika dirasa sang perempuan memiliki rasa dengan cepat dia akan menjelaskan kedekatan mereka.
Banyak orang yang mengira bahwa dirinya Playboy. Tapi, tak sedikit juga wanita yang tetap ingin bersanding dengannya. Dia selalu memamerkan pesonanya, tapi tidak pernah mengakui kepemilikan harta dan jabatannya.
''Persiapan sudah hampir 80 %. Tinggal di bagian gaun dan rias saja.'' Ucap Aldian.
Gedung Perta indah menjadi jujugan pilihan mereka untuk melaksanakan resepsi. Seluruh gedung sudah di sulap sangat menakjubkan.
''Kak, dia Aldian. Sekertaris Mas Hanan. Kami menyerahkan urusan pernikahan pada dia,''
Zahwa memperkenalkan Aldian pada Zahra. Aldian mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, namun Zahra membalas dengan mengatupkan ke dua tangannya.
''Zahra. Kita pernah ketemu di kantor saat aku sedang mencari Mas Surya.'' Kata Zahra
''Hehehe. Aku juga pernah melihatmu,:' Balas Aldian.
Tidak ingin memperjelas kejadiannya. Karena Aldian sudah cukup tahu siapa Zahra. Dia satu-satunya wanita yang pernah dekat dengan Hanan. Sebenarnya, mereka satu Almamater. Tapi Aldian dua tahun di bawah mereka dan wanita seperti Zahra tidak akan mengenalinya meskipun saat itu dia di Gandrung oleh para mahasiswa pada masanya dan kakak angkatnya.
''Sebaiknya kalian pergi ke WO untuk memastikan gaun mana yang kalian pakai.'' Saran Aldian.
''Ok baiklah. Masalah gedung dan lainnya aku serahkan padamu.'' Kata Zahwa.
Zahra tidak banyak bicara. Dia mengingat apa kata adik iparnya itu. Para lelaki, hari ini mereka pergi ke kantor. Menengok kantor dan juga memberikan undangan kepada para karyawan. Bertemu beberapa staf dan memeriksa pekerjaan lainya.
__ADS_1
Sampai di depan galery WO. Keduanya langsung di sambut oleh baik. Memberikan desain rancangan mereka, dan meminta mereka memilih dan mengoreksi jika ada kesalahan.
''Perutku mulai buncit. Apa tidak apa memakai gaun ini?"
Zahwa melihat satu gaun berwarna gold denahn aksesoris renda di dada. Pernak - pernik menjuntai di bagian lengan. Namun, ukurannya terlalu kecil untuk badannya yang mulai mengembang.
''Coba saja dulu. Mungkin masih muat asal nyaman juga.'' Sahut Zahra .
Dia sedang mencoba gaun yang berwarna senada.Namun berbeda desain. Gaun itu lebih elegan ketimbang yang di bawa Zahwa.Cocok untuk Zahra yang berkarakter manis dan manja.
''Wow! Cantik sekali.'' Komentar Zahwa setelah melihat gaun itu sempurna di pakai oleh Zahra.
''Aku bimbang harus memilih ini atau gaun itu.'' Ujar Zahra.
Seorang asisten desainer memberikan gaun lagi dengan warna sama. Yang pasti tidak kalah mewahnya. Hanya saja, itu akan sangat terlihat glamor karena di setiap dadanya sampai pinggang ada manik mutiara yang menyilaukan mata.
''Aku suka melihat mu pakai ini.'' Usul Zahwa. Dia kurang suka dengan gaun satunya itu.
Setelah beriibut dan menimbang-nimbang akhirnya mereka selesai fithing bajunya. Lima jam mereka di sana dan itu hanya untuk memilih tiga gaun.
Wanita selalu lupa waktu jika sudah menyangkut fashion dan make up.
''Kita harus pulang. Pasti para pria itu akan mengintrogasi kita jika pulang sebelum makan malam. Apalagi Mas Hanan. Dia overprotektif sekarang.'' Ujar Zahwa.
Zahra menyetujuinya. Mereka juga harus beristirahat yang cukup untuk menyiapkan hati esok.
Sampai rumah hidangan malam sudah di siapkan.Para suami sudah duduk di meja makan. Segera saja, Zahwa langsung mencium tangan suaminya dan menebar senyum manis sebelum dia mencerocoli banyak pertanyaan.
Zahra melakukan hal yang sama. Tapi, dia tidak perlu takut karena Surya tidak akan marah.
''Nggak capek seharian keluar?" tanya Surya.
__ADS_1
''Hehehe... Bahagia malah.'' Jawab Zahra
''Ya udah. Ganti baju dulu, lalu gabung makan.'' Kata Surya.
Zahra mengangguk kemudian ke kamar. Selang beberapa menit dia sudah kembali dengan gamis twill dengan pasmina yang menutupi kepalanya.
Selagi Surya menunggu Zahra, Hanan dan Zahwa terlebih dulu makan. Karena Zahwa sudah tidak bisa menahan laparnya. Dalam sehari dia bisa makan sampai lima kali. Mungkin itu efek dari kehamilannya. Dan itu juga membuat badannya mulai terlihat gemuk.
Selepas selesai makan. Hanan dan Zahwa pamit ke kamar mereka. Meninggalkan Surya dan Zahra yang baru saja mau makan.
''Apa kamu suka dengan konsep pernikahan besok?'' Tanya Surya di sela-sela makan.
''Bagus Mas. Aku suka,'' Jawab Zahra.
Dia memang tidak turun langsung menyiapkan pernikahan ini. Tapi dia tidak kecewa dengan hasil kerja Aldian dalam menyiapkan pernikahan mereka.
''Mas boleh aku bicara?'' Tanya Zahra
''Tanyakan saja.'' Surya tetap melahap makanannya. Matanya tidak lepas dari istrinya yang berbeda di depannya itu.
''Emm...Aku senang kita ngadain resepsi di sini juga. Tapi, nanti apa keluargamu. Saat tahu,jika setelah itu aku harus kembali ke UCL lagi. Untuk melanjutkan kuliahku."
''Tidak ada yang akan berkomentar apapun soal itu. Kamu tenang saja.''
Zahra diam. Sekelumit pikiran negatif menyapa dirinya. Bagaimana tidak, dirinya baru saja mengambil S3 dan tidak mungkin untuk mengakhirinya begitu saja. Itu adalah cita-citanya, dan kuliah di UCL tidak semudah yang di bayangkan. Banyak jalan terjal yang harus dia lewati sebelumnya.
Namun, saat ini dia sudah menjadi istri seseorang. Dan kewajibannya adalah berada di sisi suaminya. Melayani dan mendampingi dirinya. Terlebih, pasti keluarga akan segera ingin mendapatkan kabar kehamilannya.
''Jangan memikirkan hal yang tidak perlu. Kita sudah menikah bukan. Apapun cita-cita mu itu sudah menjadi tanggung jawabku. Bukankah menikah untuk tumbuh bersama-sama?'' Lanjut Surya.
Manik mata Zahra berkaca-kaca. Dia melankolis sekali. Mendengar ucapan sumianya membuat dia ingin terus mengucapkan syukur kepada Alloh dan Abahnya. Yang telah memberikan suami seperti Surya.
__ADS_1
Satu hal yang harus di syukuri oleh Zahra. Dia mendapat pasangan hidup yang tidak ingin membunuh angannya. Bahkan ikut memupuk tanaman yang saat ini ia tumbuhkan.