Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 84


__ADS_3

''Zahra.' Panggil Surya.


Ketika semua sudah selesai makan dan tinggal Zahra yang masih di dapur membantu Bik Asih merapikan.


''Mas Surya, ada apa?" ' Tanya Zahra.


''Bisa kita bicara sebentar. Sebelum kamu pulang. '' Pinta Surya.


''Ada apa mas? Apa ada sesuatu yang penting?'' Tanya Zahra, ada raut pemasaran dan juga ketakutan. Melihat raut wajah Surya yang sepertinya tegang.


''Ikut aja. Ayo!'' Ajak Surya.


Tanpa menjawab lagi, Zahra mengikuti langkah kaki Surya. Mereka menuju paviliun yang berada di samping rumah.


''Ada apa Mas?'' Tanya Zahra.


''Sebenarnya aku hanya ingin berterima kasih. Besok kamu sudah berangkat ke UCL dan entah, setelah itu kita bisa bertemu lagi atau tidak. Kalaupun bertemu lagi pasti akan menunggu bertahun-tahun.'' Jawab Surya.


''Oh. Berterima kasih untuk apa?'' Tanya Zahra


''Kamu sudah banyak membantu ku, sudah mau mengajari ku tentang ilmu-ilmu pesantren juga. Sudah sabar dengan semua keluh kesah ku meluangkan waktu juga untuk sekedar menjawab semua pertanyaan yang mungkin bagi mu itu mudah. Heheheh.'' Jawab Surya .


''Oh. Tidak perlu berterima kasih Mas. Sudah kewajiban juga saling membantu, apalagi itu sebenarnya untuk keperluan keluarga Zahra juga. Semestinya aku yang harus berterima kasih. Karena Mas Surya sudah mau dan Sudi meluangkan waktu Mas untuk ikut mengembangkan pesantren Abah. Orang lain belum tentu mau, apalagi kami tidak bisa memberikan apapun nantinya. Padaha, Jika Mas mau. Mas bisa menolak, dan memilih mengurus perusahaan yang juga di amanah kan kepada Mas. Aku dan keluargaku yang harus berterima kasih,'' Kata Zahra malu.


Setelah kasus Elena. Tidak terasa jika keduanya saling berbagi banyak. Selama ini mereka bersama-sama meluangkan waktu untuk saling bertukar ilmu . Zahra dengan pembahasan kitab pesantrennya dan Surya terkadang membuat Zahra dalam urusan kuliahnya.


''Ada sesuatu untuk mu,'' Kata Surya.


''Apa?'' Tanya Zahra sedikit terkejut. Surya meminta Zahra untuk menunggu dia sebentar. Beberapa detik kemudian Surya membawa kotak sebuah kotak di tangannya dan memberikan kepada Zahra.


''Apa ini mas?'' Tanya Zahra penasaran.


''Buka saja,'' Jawab Surya dengan senyum.


Zahra sedikit ragu , tapi rasa penasarannya memberanikan diri untuk segera membuka kotak tersebut.


''Subhanallah, Mas ini!'' Zahra terkejut dengan isi kotak tersebut. Matanya berbinar seketika berkaca-kaca.

__ADS_1


''Mohon di terima. Semoga bermanfaat, '' Kata Surya. Lega karena Zahra menyukai apa yang dia berikan.


''Tapi ini?'' Zahra tidak bisa berkata-kata hadiah itu sebuah Al Qur'an keluaran dari Tarim dari Negri para Wali.


''Aku sengaja membelinya untukmu. Yah walaupun bukan aku sendiri. Aku meminta teman ku yang kebetulan ada di sana untuk mengirimkan Al Qur'an itu untuk ku.'' Terang Surya.


''Tapi ini pasti mahal,'' Kata Zahra.


''Tidak seberharga kamu. Hehehehe,'' Goda Surya.


''Apa sih,'' Zahra tersipu malu.


''Pokoknya semoga itu bermanfaat untuk mu," Kata Surya dengan senyum arti.


''Insya Alloh. Terimakasih ya Mas.'' Kata Zahra.


Setelah sekian detik tanpa kata dan entah tidak ada yang memulai berbicara dan hanya pandang - pandangan.


'' Zahra!'' Suara Hanif dari arah dalam. Berkali-kali memanggil.


''Mas, ke dalam dulu. Mas Hanif manggil,'' Ujar Zahra mengajak pergi.


'' Lah ini mereka . '' Kata Zahwa setelah melihat Zahra dan Surya datang.


''Ya udah kami pulang. Terimakasih atas jamuanya.'' Kata Hanif.


''Kami yang terima kasih, udah mau ke sini. Padahal besok kalian udah pergi UCL.'' Kata Hanan sambil memeluk Hanif, sahabatnya itu.


''Sukses Bro!'' Kata Hanan lagi.


''Siap. Jangan lupa kabarin kalau aku bakalan jadi paman.'' Goda Hanif dengan menepuk-nepuk pundak Hanan.


Setelah berpamitan Zahra dan Hanif pulang.


****


Malam hari.

__ADS_1


Ketika Zahwa dan Hanan sedang asyik bergurau, mereka menemukan Surya sedang duduk sendiri dengan kitab di tangannya. Anehnya, dia tidak sedang mempelajarinya. Hanya sedang membawa dan memandang kitab tersebut.


''Kak Surya, sana gih...'' Ujar Zahwa. Dia tidak tega melihat mantan pacar, sekaligus kakak iparnya seperti itu.


''Kok aku. Nanti kalau aku salah bicara gimana?'' Tanya Hanan . Dia sendiri ragu akan kemampuan untuk mengetahui isi perasaan kakaknya itu.


''Ya masak aku sih Mas. Ntar kalau aku, kamu yang cemburu." Celetuk Zahwa. Mereka eyel-eyelan.


''Kamu ajalah. Filling ku, Mas Surya belum peka sama perasaannya kepada Zahra." Kata Hanan menebak.


''Kayaknya. Tapi sama aku dulu dia gentel kok. Langsung ngutarain perasaannya, gak ragu-ragu gitu. Malah dia uucchh pokoknya, wanita gak bakal nolak kalau sama Kak Surya itu. Kharisma itu Lo, Masya Alloh. Saat diam aja dia udah jadi pusat perhatian , apalagi saat dia ngomong. Wah, temen-temen ku terpesona sama dia. Udah ganteng , pinter, Sholeh _"


''STOP!" Bentak Hanan geram. Zahwa seketika diam dan menggigit bibir bawahnya. Kelepasan ngomong sangking mengenangnya.


''Maaf, kelepasan." Kata Zahwa memelas.


Hanan ingin marah tapi masih di tahanannya. Meskipun tahu bahwa Zahwa sudah menjadi miliknya sepenuhnya tapi tetap saja tidak bisa mengubah bahwa kakaknya itu adalah mantan pacar istrinya.


''Berarti artinya, Kak Surya belum move on dari kamu. Kalau benar begit, kita balik lagi ke rumah kamu!'' Ujar Hanan dengan masih marah.


''Yah, baru aja pulang yang. Masak udah balik lagi. Jangan negatif thinking dulu lah, kamu terbawa cemburu. Kakak mu lagi galau, kamu malah mikirin dirimu sendiri.'' Balas Zahwa.


''Tuh kan, kamu juga masih aja bela dia!''


''Aduh, emang salah terus kalau udah bahas kayak gini aku.'' Ujar Zahwa males. Berkali-kali hal seperti ini terjadi dan berkali-kali juga Zahwa yang harus mengalah. Karena ini hal paling sensitif untuk suaminya.


''Kalian kenapa? bertengkar lagi?'' Tanya Surya. Tanpa sadar dia sudah ada diantara mereka.


"Ah ! Gak, kita hanya sedang bicara." Jawab Hanan. Malu juga kan jika dia ketahuan masih suka cemburu dengan kakaknya.


''Udah kak biarin. Sini deh, aku kasih lihat sesuatu." Ajak Zahwa seketika. Hanan melotot karena melihat istrinya tambah mengajak kakaknya, bukanya meredam amarahnya.


''Apa?" tanya Surya penasaran.


''Ayo, ikut aku. Kamu di sini aja mas, awas ikut!'' Ancam Zahwa. Dia lebih melotot ke arah Hanan untuk tidak melawan. Surya tidak mengerti dengan isyarat ke dua pasangan tersebut, tapi dia tetap mengikuti kemana Zahwa pergi. Sedang Hanan pasrah, dan hanya duduk dengan kesal di ruang tengah.


Zahwa mengajak Surya ke arah kamar Zahwa dia meminta Surya untuk menunggu dia sebentar . Selang beberapa saat Zahwa kembali dengan membawa sebuah kotak. Membuat Surya tercengang. Dan tambah tidak mengerti apa yang Zahwa inginkan dan lakukan dengan kotak tersebut.

__ADS_1


Iya, kotak biru milik mereka.Kotak yang berisi janji mereka, kotak yang menjadi saksi akan kisah dan cinta mereka yang lalu.


__ADS_2