Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
episode 15


__ADS_3

Zahwa masih berselimutkan bad cover . Menutup rapat-rapat tubuhnya , menyisakan wajahnya . Mata nya melotot  kepada Hanan.


" Kau ,cepat keluar . Aku mau ganti baju !" Bentak Zahwa .


" Lagi-lagi berani kau mengusir ku dari kamar ku sendiri. " Bantah Hanan


" Apa kau tidak lihat , aku sedang seperti apa " kata Zahwa , dia terlihat marah . Karena lelaki di depannya sama sekali tidak peduli dengan keadaan nya. Bahkan seperti biasa saja .


" Aku tahu, lagipula kenapa ? , Aku juga tidak tertarik dengan mu " Ujar Hanan.


Perkataan itu membuat Zahwa semakin geram.


Hanan mengambil pakaian dan handuk baru di dalam lemari . Tanpa melihat Zahwa lagi dia masuk ke dalam kamar mandi.


Baru setelah itu zahwa bisa bebas memakai bajunya. Dia terlihat tergesa-gesa karena takut sewaktu-waktu Hanan keluar dari kamar mandi.


Kamar nya sedikit berantakan. Barang belanjaan nya masih belum sempat dia bereskan. Sebenarnya dia hanya membeli beberapa barang untuk keperluan sehari-hari nya saja. Dan tagihan belanja pun juga sudah di bayar nya. 


Kartu ATM yang di berikan Hanan waktu itu sebenarnya lebih dari cukup untuk membeli keperluan apapun yang di inginkan nya.


Tetapi , melihat hanan sama sekali tidak merasa bersalah dengan menurunkan dirinya di jalanan membuat dia ingin memberikan pelajaran kepada suaminya itu.


" Aku harus cepat membereskan ini semua , kalau tidak dia akan marah-marah lagi " kata Zahwa kesal .


Setelah semua beres dia bergegas turun .  Makan malam belum di masak , dan entah bik asih sudah memasak apa belum.


Sesampainya di dapur Zahwa melihat Surya . Dia duduk di meja makan , memakai celemek . Tangannya dengan hati-hati mengiris bawang .


" Apa yang kamu lakukan kak ? Sini biar aku saja " kata Zahwa setelah tiba.


" Tidak apa-apa. Aku biasa melakukan nya. Hanya saja , belum terbiasa dengan dengan bawang Indonesia. Sangat pedas ternyata " kata Surya , terlihat dari matanya . Irisan bawang itu membuat matanya berair.


" Memang nya berbeda bawang sini dengan bawang sana? " Tanya Zahwa ingin tahu. Dia duduk berhadapan denga Surya. Tangan satunya menahan dagunya.


" Sebenarnya sama saja , hanya ukurannya dan seperti yang aku bilang.  Bawang Indonesia sangat pedas " jawab Surya dengan masih mengiris bawang tersebut.


Zahwa melihat cara mengirisnya.  Lumayan lihai dan seperti sudah terbiasa.


" Non hari ini mas Surya yang katanya ingin memasak " kata bik asih. Entah sejak kapan dia ada di dapur.


" Eh , beneran ? " Tanya Zahwa meyakinkan.


" Aku sudah lama ingin memasak tumis kangkung. Dan tadi kebetulan aku lihat ada kangkung di dapur. " Jawab Surya .


" Tumis kangkung , masakan favorit ku. Dulu di kampus aku sering pesan masakan itu pada mbok arah . Tukang masak asrama untuk membuatkan khusus untuk ku " seru Zahwa . Dia terlihat bersemangat.


" Aku tahu " kata Surya dengan senyum . Entah mengapa membuat senyum di wajah Zahwa bisa membuat hatinya terasa ringan.


" Tapi apa kau bisa memasaknya ? " Tanya Zahwa curiga. Seakan menantang juga


" Aku sudah belajar pada ahlinya , dan beberapa kali memasaknya. Dan sampai saat ini aku belum pernah gagal dalam memasak tumis kangkung " Bangga Surya .


" Kamu belajar memasak ? " Zahwa tidak percaya . Dia baru mengetahui itu.


" Iya , ku Fikir nanti aku akan memasak tumis kangkung itu untuk seseorang "  katanya.


Zahwa terdiam seketika .


Hanan belajar memasak untuk Zahwa , itu sudah pasti.  Itu bukanlah hal besar , melihat kamar saja sudah dia desain sesuai selera Zahwa . Beberapa hal juga sebenarnya juga sudah di siap kan. Hanya untuk Zahwa , tapi sepertinya takdir berkata lain.


" Bik , tolong buatkan kopi . Antar ke ruang tengah " kata Hanan. Dia baru saja turun dari tangga. Zahwa melihat nya tetapi Hanan tidak.


" Iya mas " Kata bik asih.


Zahwa berdiri , berjalan ke dapur. Dia mengambil satu gelas dan alasnya.


" Hanan tidak terlalu suka dengan kopi manis . Jadi gulanya sedikit saja " kata Surya , setelah melihat Zahwa berinsiatif membuat kan kopi untuk Hanan .


" Oh , terima kasih " kata Zahwa.


Dia mulai membuat kan kopi untuk suaminya tersebut. Setelah jadi dia mengatakan nya ke ruang tengah.


Hanan terlihat sedang mengerjakan sesuatu di laptop nya.


" Jangan terlalu keras bekerja. Lagi pula otak perlu beristirahat " Kata Zahwa setelah meletakkan kopi di depannya.


" Mau bagaimana lagi? Aku harus menghidupi seseorang . " Balas Hanan seakan menyindir Zahwa.


" Aku tadi hanya bercanda. Belanjaan ku sudah aku bayar. " Ujar Zahwa akhirnya jujur.


Hanan meliriknya dan tersenyum tipis.

__ADS_1


" Memang hanya diri mu yang aku hidupi ? " Tanya Zahwa seakan memberi pernyataan .


" Maksud mu ? Apa kamu punya istri lain ? " Tanya Zahwa penasaran. Tubuh nya tiba-tiba bergetar.


Hanan berhenti sejenak . Dan melihat Zahwa , wajahnya memerah entah karena ingin menangis atau marah.


" Mau bagaimana lagi . Banyak istri yang menjadi tanggung jawab ku " kata Hanan.


Zahwa tidak berkata lagi. Hatinya benar-benar terasa sakit mendengar pernyataan suaminya itu. Tanpa menunggu lagi dia pergi dengan tergesa.


Surya melihat Zahwa menaiki tangga dengan terlihat marah. Dia langsung melepaskan bergegas melepas celemek nya dan langsung menemui Hanan .


" Ada apa dengan Zahwa ? Dia terlihat marah ? " Tanya Surya.


" Tidak apa-apa. Dia memang suka begitu. " Jawab Hanan santai


Surya geram melihat Hanan seakan tidak peduli.


" Hanan ! Aku serius , kau apakan Zahwa sampai terlihat marah seperti itu ? " Tanya Surya dia terbawa emosi juga .


Hanan menghela nafas. Kenapa seakan Zahwa begitu penting untuk kakaknya itu.


" Aku bilang tidak ada apa-apa. Dan kau kak ? Kenapa kau begitu peduli dengan Zahwa . Sikap mu seakan kau takut aku menyakiti nya "


Hanan semakin curiga dengan kakaknya. Dari saat pertama datang dan bertemu Zahwa. Seakan dia sudah pernah mengenal nya dan begitu peduli. Sekecil apapun tentang Zahwa , dia selalu menanyakan nya.


Dan kejadian pagi tadi. Dia harus menurunkan Zahwa di tengah jalan hanya karena kakak nya yang menginginkan nya . Dengan alasan ingin lebih mengenalnya.


Surya tercekat mendengar pertanyaan Hanan. Dia terlalu terbawa emosi. Ke khawatiran tentang  Zahwa masih terlihat nyata.


" Dia amanah terakhir orang tua kita . Jadi kita harus menjaganya. Jangan sampai menyakiti nya. " Alasan Surya.


" Kita ? " Tanya Hanan menekan.


" Sepertinya hanya aku . Zahwa hanya di amanah saja kepada ku. Jadi tolong , jangan lagi terlalu ikut campur dengan urusan ku dan Zahwa . " Kata Hanan


" Tapi dia sudah menjadi anggota keluarga kita . Sudah sepantas nya aku juga ikut campur dengan masalah ini "


" Dia memang keluarga kita , dan ingat dia istri ku. Dan hanya aku yang boleh melakukan  apapun untuk dirinya. Entah itu menyenangkan atau menyedihkan " ujar Hanan . Dia terlihat emosi . Seakan semua tentang Zahwa selalu salah di mata kakaknya.


" Tapi ,, "


Dammm


Surya memukul tembok di sampingnya untuk melampiaskan amarahnya .


Dia benar-benar merasa tidak berguna. Beberapa menit lalu dia bisa mengubah suasana hati Zahwa . Dan bisa membuatnya tersenyum dan bahkan bersemangat . Tapi adiknya malah sebaliknya.


Jika begini terus , keinginan untuk terus melindungi Zahwa semakin besar. Dia tidak bisa kalau harus melepaskan begitu saja.


Hanya dia yang bisa membuat nya bahagia , tidak ada orang lain lagi. Termasuk Hanan, meskipun dia suaminya.


Surya memutuskan untuk kembali ke dapur. Menyelesaikan masakan yang sempat tertinggal.


Sedang Zahwa di kamar dia melempar tubuhnya ke kasur . Tengkurap dan menutup wajahnya di balik bantal.


Dia begitu ingin marah. Tapi dia sendiri tidak tahu kenapa dia begitu marah.


Azan magrib berkumandang. Azam beranjak dari tempat tidurnya , dan pergi untuk wudhu. Menggunakan mukena dan kembali duduk di tepi ranjang.


Biasanya dia jama'ah dengan Hanan . Untuk pertama kalinya Hanan marah dengan dia , entah itu memang marah atau sikapnya memang seperti itu.


Tetapi , hari-hari yang lalu dia pun juga bersikap dingin. Berbicara seadanya dan seperlunya. Tidak ada yang istimewa.


Atau mungkin karena belum terbiasa. Umur pernikahan masih dini , belum lagi pernikahan mereka yang secara tiba-tiba . Memperkenalkan diri saja tidak sempat, apalagi mengerti satu sama lainya.


Zahwa masih menunggu , Hanan tidak kunjung datang.


Dia memeriksa ke bawah , tetapi tidak ada orang. Mungkin Surya sholat di masjid dan bik asih , sedang sholat di kamarnya .


" Apa mungkin dia masih marah , dan pergi sholat ke masjid ? " Fikir zahwa .


Akhirnya dia sholat sendiri. Setelah sholat nya selesai dia turun ke bawah.


Tidak ada Hanan. Hanya Surya yang sedang membaca Al Qur'an di ruang tengah.


Lantunan ayat yang di baca Surya membuat Zahwa ingin lebih mendekati . Dia berdiri di balik tirai kayu anyaman yang membatasi antara ruang tengah dan ruang lainya.


Surya terlihat khusuk , suaranya pun terdengar merdu.


Salah satu hal yang di sukai Zahwa dari Surya adalah cara membaca Al Qur'an nya. Dia begitu merdu melantunkan ayat-ayat suci tersebut . Selain itu ke istiqomahnya dalam membaca.

__ADS_1


" Mas Surya pintar membaca Al Qur'an ya non " kata bik asih mengagetkan. Zahwa gelagapan karena ketahuan mengintip kakak iparnya itu.


" Bik asih . Sejak kapan kamu di sini ?" Tanya Zahwa .


" Dari tadi , non Zahwa terlalu terpana dengan bacaan Al Quran mas Surya jadi tidak sadar kalau ada saya." Jawab bik asih. Zahwa salah tingkah , dia beranjak pergi. Malu jika ketahuan kalau dia sedang mengintip Surya.


" Bik , kamu tahu mas Hanan di mana ? " Tanya Zahwa. Dia teringat dengan suami.  Lagi pula jika benar dia pergi ke masjid pasti sudah kembali.


" Tidak tahu , biasanyakan bersama non di kamar " jawab Zahwa.


" Tidak bik, aku tadi memang menunggu nya. Tapi mas Hanan tidak datang. Aku kira dia jama'ah di masjid " terang Zahwa. Dia mulai khawatir.


" Ada apa Zahwa? " Tanya Surya . Dia sepertinya mendengar percakapan Zahwa dan bik asih


" Kakak tahu dimana mas Hanan ? " Tanya Zahwa. Wajahnya terlihat khawatir.


Surya tidak langsung menjawab dia menatap Zahwa . Baru saja tadi dia melihat Zahwa marah dengan Hanan. Tapi sekarang sudah kembali menanyakan dan terlihat khawatir dengan suaminya itu .


" Apa kamu sudah menelepon nya?  Mungkin dia keluar sebentar ." Kata Surya dia berusaha menenangkan.


" Belum . " Balas Zahwa.


" Baiklah aku akan mengambil ponsel ku dan segera menghubungi dia. Tunggu sebentar ," pinta Surya. Dia mengambil ponsel di kamarnya.


Setelah kembali dia mulai menghubungi nomor Hanan. Zahwa menatap Surya penuh harap.


Entah mengapa itu membuat hati Surya sakit. Wanita yang di cintai nya terlihat khawatir dengan pria lain.


" Tidak ada jawaban. Tapi panggil ini masuk " kata Surya setelah beberapa saat dia menghubungi nomor Hanan.


" Tolong coba lagi " pinta Zahwa .


Surya semakin merasa sakit melihat ke khawatiran Zahwa terhadap Hanan. Tetapi yang bisa dia lakukan sekarang hanya menuruti apa kata Zahwa. Lagi pula Hanan adalah adiknya .


" Tidak di angkat , mungkin dia marah kepada ku " kata Surya.


" Marah ? Kenapa ? Apa kalian bertengkar ? " Hardik Zahwa.


" Sebenarnya tadi aku sempat berbicara dengan dia . Melihat mu marah dan terlihat kesal aku menemui nya dan  mengatakan kalau dia tidak boleh menyakiti mu " terang Surya.


Dia menceritakan semua kejadian sore tadi. Mulai dari dia meminta Hanan untuk tidak menyakiti Zahwa hingga Hanan yang marah karena menurut nya  Surya terlalu mengurusi rumah tangga nya.


" Aku hanya berusaha memberikan pengertian agar tidak menyakiti mu. " Terang Surya akhirnya.


" Tapi apa yang di katakan mas Hanan memang benar. Kamu tidak mempunyai hak untuk mencampuri urusan kita " kata Zahwa.


Hati Surya seketika hancur mendengar itu. Dia membela dirinya , meminta agar tidak ada yang menyakiti. Berusaha melindungi nya dari sifat keras nya suaminya.


Tetapi yang dia dapatkan malah kekecewaan seperti itu.


" Aku akan menghubungi mas Hanan sendiri " kata Zahwa . Dia kembali ke lantai atas dan memasuki kamarnya.


Surya hanya menatap nya. Hanya bisa berdiri dan melihat nya semakin menjauh.


" Sudah sejauh mana kamu meninggalkan aku Zahwa ? " Batin Surya.


Dia semakin merasa Zahwa yang mencintainya sudah tidak ada. Hanya tinggal dia yang memiliki cinta tersebut. Lagi-lagi hanya dia yang harus berusaha seorang diri.


" Bik hari malam ini aku tidak makan. Jika nanti Hanan pulang , bilang kepada nya untuk mengajak Zahwa makan. "  Pesan Surya.


Dia berjalan kembali ke atas , memasuki kamarnya.


Seseorang tidak tahu kapan cinta itu akan datang , tetapi mereka pun juga tidak akan tahu kapan cinta itu akan hilang dan terganti.


Sekali lagi . Surya membuka kotak biru itu . Membaca nya dan tersenyum mengingat semua kenangan dia dan Zahwa.


Menyesal , kenapa dulu hanya dia yang berjanji. Dan bukan Zahwa juga. Jika keduanya berjanji , setidaknya Zahwa mungkin masih mencintainya. Walaupun itu karena terikat oleh janji.


Hari ini dia berkata kalau dia akan menjadi kakak iparnya . Tetapi belum genap satu hari dia sudah mengingkari nya.


" Sebenarnya ada apa? Kenapa papa dan mama  nya bisa meminta Hanan untuk menikahi Zahwa. Sedangkan Hanan dan Zahwa sama sekali bertemu."


Pertanyaan itu muncul lagi. Dia merasa ada keganjilan di pernikahan Hanan dan Zahwa .


" Hanya pak Ruslan yang mungkin bisa menjawab nya " kata Surya.


Pak Ruslan , pengacara keluarganya.


" Aku harus menemui pak Ruslan besok. Jika saat ini , aku tidak tega meninggalkan Zahwa sendiri " kata Surya.


Belum berapa menit . Dia sudah kembali memikirkan tentang Zahwa lagi.

__ADS_1


__ADS_2