Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 16


__ADS_3

****


Jalanan malam semakin ramai , hiruk pikuk orang bersilih ganti.


Terlihat Hanan sedang duduk di tepian jalan bersama seorang teman lelaki. Di depan mereka ada orang jualan bubur ayam.


" Terimakasih nan. Udah mau datang dan dengerin curhatanku " kata temannya itu.


" Ok . Gak papa , tapi gara-gara kamu terburu-buru ngajak ketemu tadi .Aku lupa bawa ponsel . " Balas Hanan.


" Biasa aja lah. Lagian ini belum terlalu malam , kayak udah punya bini aja kamu. Takut pulang telat " canda temannya nya itu . Dengan menepuk punggung Hanan. Hanan tersenyum menerima candaan dari temannya itu. Sedikit meringis.


" Memang kalau aku punya istri gak bisa pulang malam ? " Tanya Hanan , pertanyaan yang konyol juga.


" Iya lah. Kakak kual itu baru sebulan dia nikah. Tapi udah kayak burung ketangkap majikan nya aja ."  Jawab temannya itu.


" Apa hubungannya ? " Tanya Hanan lagi. Seperti dia menemukan topik yang sedikit menarik.


Alfin, nama temannya itu. Termasuk teman dekatnya . Tapi dia juga belum mengetahui soal pernikahannya dengan Zahwa.


" Setiap dia pulang terlambat istri nya akan berkali-kali menelponnya. Apalagi pergi tanpa pamit . Walah pasti sampai rumah bertengkar " Terang Alfin


Pada dasarnya semua istri itu memang posesif.


" Sampai begitu ? Rumit juga ya menghadapi istri "  ujar Hanan sekalian.


" Mangkanya sekarang setiap pulang telat  atau tidak sengaja pergi tanpa pamit kakak ku selalu membelikan sesuatu untuk istri. Dengan begitu kemarahannya akan sedikit mereda " Cerita Alfin .


Hanan terlihat manggut-manggut. Dia teringat bahwa tadi dirinya keluar tanpa mengabari siapapun , dan ponselnya tertinggal dirumah.


Dan juga Zahwa. Dalam benaknya apa mungkin Zahwa juga sedang khawatir tentang dirinya. Tetapi jika di fikirkan lagi , tadi dia sedang marah. Mungkin malah senang jika dirinya tidak ada.


Hanan merasa tidak enak dan pamit pulang dahulunya.


" Mang bungkusin bubur ayam 2 porsi " kata Hanan . Sebelum dia beranjak pergi


" Buat siapa ? Bukan kamu tinggal sendiri ?" Tanya Alfin curiga.


" Oh . Kak Surya sudah pulang , lagian mungkin dia belum makan malam " jawab Hanan. Tentu saja dia berbohong .


Setelah pesanan banyak bubur itu sudah datang Hanan berpamitan sekali lagi dengan Alfin.


Beberapa detik kemudian dia sudah menancap gas motor yang di kendaraan i nya . Menyusuri jalanan malam yang ramai. Terlebih ini malam Sabtu.


Sesampainya di rumah dia tidak mendapati siapapun , mungkin sudah tidur. Dia beranjak ke dapur mengambil 2 piring dan meletakkan nya bubur ayam tadi di atasnya.


Membawanya beranjak menuju kamar. Sesampainya di depan kamar dia mendengar isakan seseorang menangis. Dia mengira itu Zahwa. Tapi mengapa ? Dia belum tahu jawabannya.


Hanan segera ingin masuk tapi tiba-tiba di cegah oleh Surya.


" Zahwa dari tadi khawatir dengan mu . Bagaimana bisa kamu keluar tanpa mengabari siapapun. Di telpon pun juga tidak bisa . Jangan marahi dia lagi , cepatlah masuk " kata Surya . Tanpa ingin mendengarkan penjelasan Hanan dia langsung beranjak pergi .


Hanan teringat cerita Alfin tadi. Dan itu sekarang terjadi kepada dirinya.


Tanpa berfikir lagi dia langsung masuk kamar .


" Eh , "


Berfikir bahwa Zahwa akan menangis terisak dengan wajah tertunduk atau sedang bersedih karena dia tidak kunjung pulang dan sempat tidak memberi kabar. Tetapi ternyata tidak , Zahwa memang menangis tetapi di depannya ada laptop yang sedang memutar film India.


" Kau ? " Kata Hanan dengan sedikit geram ,karena ternyata yang di fikirkan malah bertolak belakang dengan kenyataan nya.


" Kau pulang ? Kirain sedang bersama istri-istri mu yang lain " kata Zahwa . Setelah sadar Hanan sudah berada di kamar nya. Dia bahkan tidak melihat Hanan ,hanya sedikit meliriknya dan kembali fokus dengan laptopnya.


" Kau menonton film sampai menangis?" Tanya Hanan . Percuma saja dengan ke khawatiran nya tadi.


" Film ini bagus , dan bisa membuat aku terharu . Setiap orang pasti menangis jika menontonnya " jawab Zahwa .


" Begitu kah ? " Kata Hanan .


Dia mencoba ikut bergabung menonton film tersebut. Duduk bersila di sebelah Zahwa.

__ADS_1


Di layar itu sedang menceritakan kedua bersaudara dengan ibu berbeda sedang bertengkar . Beradu argumen dan saling menyalahkan.


" Mana yang mengharukan . Ini dari tadi bertengkar. Apa kau bisa menangis melihat orang bertengkar ? " Tanya Hanan , dia masih sedang melihat film tersebut juga. Mencari adegan yang dirasa bisa membuat seseorang menangis.


Zahwa gelagapan. Dan matanya tertuju dengan dua tumpuk piring dengan bungkusan kantong plastik hitam.


" Apa yang kau bawa ? " Tanya Zahwa mengalihkan pembicaraan.


" Oh , bubur ayam . Kukira aku belum makan jadi aku membelinya untuk makan malam " jawab Hanan bohong.


Dirasa tidak mungkin dia mengatakan kalau itu untuk Zahwa.


Zahwa mengangkat nya dan melihat isi kantong plastik tersebut. 2 porsi bubur ayam .


" Kau membelikan untuk ku juga ? " Tanya Zahwa penuh harap .


" Siapa bilang. Satunya untuk kakak , tapi tadi saat aku mau memberikan nya dia sudah terlihat tidur pulas. Jadi aku membawa nya. " Jawab hanan


Zahwa cemberut. Dia kesal karena tadi dia menangisi lelaki di samping nya itu. Untung saja saat dia akan menaiki tangga tadi Zahwa melihatnya. Sebenarnya dia ingin memastikan lagi apa dia sudah pulang. Untuk menghindari pertanyaan dan menyembunyikan ke khawatiran nya  Zahwa langsung menyalakan laptopnya dan memutar film yang sebenarnya dia juga tidak tahu alur ceritanya. Dan berpura-pura menangisi film tersebut.


Hanan melihat raut wajah Zahwa yang terlihat kesal dan kecewa.


" Bagian kakak untuk mu saja  " kata Hanan. Dia mengambil bungkusan satu porsinya untuk dirinya dan membiarkan bungkusan satunya di hadapan Zahwa.


Hanan beranjak dari tempat tidurnya menuju sofa kamar mereka.


" Tidak aku sudah kenyang . " Sewot Zahwa .


" Ok . Aku akan memakannya untuk diriku sendiri. " Kata Hanan , semakin membuat nya menyesal.


Sebenarnya gara-gara mengkhawatirkan Hanan , Zahwa juga belum sempat makan malam. Padahal malam ini Surya membuat kan tumis kangkung kesukaannya.


Tetapi penyesalan itu muncul , setelah mendapati suaminya yang ternyata tidak memperdulikan nya.


Hanan mulai memakan bubur ayam tersebut dia terlihat menikmati nya. Sesekali Zahwa menelan ludah , menahan keinginannya untuk ikut makan .


Dia memegang perutnya , dia juga sangat lapar.


Hanan tersenyum simpel , dan sedikit menggelengkan kepala.


*****


Siang itu di resto langganan Bella . Dia sedang menunggu Zahwa datang. Tadi malam Zahwa menelpon dan mengajaknya untuk bertemu jika memang dia tidak ada kesibukan. Dan Bella menyetujui, lagipula mumpung dia sedang di rumah orang tuanya dan Jauhar , anaknya sedang ingin menghabiskan hari Minggu nya dengan kakek nenek nya.


" Mbak Bella kan ? " Tanya seorang lelaki muda yang tiba-tiba datang dan duduk di kursi depannya.


" Iya , siapa ya ? " Tanya balik Bella . Dia sepertinya tidak mengenal lelaki muda tersebut.


" Ah. Saya cuma pengemar novel mbak . Boleh saya duduk disini ?"


Bella agak ragu tapi akhirnya mengiyakan . Tidak enak juga kalau dia menolak nya.


" Enak y mbak kalo punya istri seperti sampean ? " Kata lelaki itu kepada bella pada tiba-tiba.


Bella memancing matanya.


" Kenapa Lo mas , saya malah kasihan sama suami ku . Karena dapat suami seperti saya. " Ujar bella menyeringai .


" Mbak nggak cantik saja , tapi juga moderen . Selain bisa mengurus rumah tangga mbak bisa bekerja , dapat penghasilan meskipun di rumah. Jualan online , selain itu juga bisa menulis di web internet dan lain sebagainya. Dan plusnya , itu cukup di kerjakan di rumah saja. Gak perlu keluar rumah, bahkan bisa di kerjakan di mana pun " Terang lelaki itu . Pandangan agak mengusik kenyamanan Bella. Dia sepertinya kagum , tapi sepertinya bella tidak menyukainya 


" Mboten lah mas , sampean cuma tahu luar nya saja. Tapi kalau beneran punya istri seperti saya , aku fikir cuma suami saya yang sanggup " Sanggah bella


" Mosok ngoten to mbak , bukane beruntung nggeh ,soale mbak nya itu mandiri. Saya dengar mbak nya juga gak terlalu mengekang atau meminta neko-neko sama suami mbak. Kalau pun pengen sesuatu , mbak suka beli sendiri. " Ujar lelaki itu. Seperti dugaan , dia mengamati kepribadian bella. Sepertinya bella  sebenarnya risih dengan orang yang terlalu ingin tahu kehidupan ku . Meskipun orang ini berfikir baik tentangnya.


" Wanita seperti kados ngoten niku malah celak neroko mas, " lontar bella kebiasaan berbahas jawa. Dia memaksakan tersenyum.


" Kok ngoten ? " Dia tertegun dengan perkataan bella dan semakin penasaran.


" Mase pun gadah istri ? " Tanya Bella.


Wajah nya di palingkan seketika setelah mendengar pertanyaan tersebut.

__ADS_1


" Sudah mbak , tapi dia beda jauh dari kamu . Dia kuper , hidupnya cuman di dapur ,bersih-bersih rumah dan mengurus anak "


Bella tertegun , ingin rasanya marah mendengar lelaki yang menganggap perempuannya seperti itu. Tetapi dia diam .


" Setiap pagi dia masak , beres- beres rumah dan menyiapkan keperluan ku dan anak ku untuk berangkat sekolah dan bekerja.  Setelah beres dia gak ngapa-ngapain paling cuma di dapur ,entah ngapain . Atau ngobrol dengan tetangga yang entah apa yang di obrolan kan. Palingan gosip. " Tambahnya ,


" Memang mas nya tahu kegiatan apa saja yang dia lakukan setelah masnya berangkat kerja? " Tanya bella . Dia Fikir mungkin lelaki itu tidak pernah menanyakan kegiatan apa yang ingin atau sedang di kerjakan istrinya.


" Paling ya nonton tv , atau seperti yang tadi aku bilang. Utik di dapur entah apa yang di buat. Kadang pulang dari kerja di menyiapkan sesuatu entah makan atau camilan yang dia buat seharian di dapur. Membosankan bukan , tidak ada kreatif lain atau kegiatan lainya yang lebih manfaat " Jawabnya seolah-olah itu adalah kesalahan.


Bella mendengar merasa geram . Ingin sekali dia tonjok lelaki didepannya itu. Tapi dia mencoba menahan nya. Tidak etis jika dia menonjok nya . Apalagi orang yang baru saja dia kenal. Belum lagi di pembaca novel nya yang bisa di katakan setia.


" Wah , kalau aku jadi suaminya , aku malah bangga mas . " Kata Zahwa ngawur . Gak mungkin juga kan dia perempuan.


Dia melihat ku , aku meringis.


" Lucu sekali ," katanya.


Bella terdiam .


" Kamu membuat ku merasa bersyukur ," kata nya kemudian . Dia terlihat bangga , seperti merasa buruannya sudah tertangkap.


" Setiap pagi aku memasak, menyiapkan makanan dan kemudian mengantar sekolah anak ku . Aku bangun selalu jam 5 pagi. Itu termasuk sudah cukup siang bagi keluarga suami ku . Terlebih aku tinggal dengan mertua.  Mereka pasti berfikir kalau aku pemalas. Tapi , aku biasa dia anggap begitu. Tidak masalah . "


" Suami ku , setiap hari walau tau dia juga mempunyai pekerjaan dia selalu membantu ku menyiapkan semuanya. Entah saat memasak dia mencuci . Atau kadang saat aku masih di dapur , dia menyuapi anak kami , sarapan dengan seadanya. Agar nanti saat berangkat sekolah tidak kesiangan. Pekerjaan ibu rumahtangga tidak lah mudah . Semua di tuntut harus selesai tiap harinya. Tapi tidak dengan ku. "


" Terkadang aku mengantar anak ku sekolah dengan keadaan belum di sapu , atau cucian di mesin cuci yang belum aku keringkan dan aku harus menunggu anak ku sekolah . Pukul 10 aku baru sampai rumah lagi. Dan ku lihat semua sudah bersih , cuci juga. Suami ku yang menyelesaikan nya. "


" Pulang dari sekolah , karena aku penulis waktu itu aku gunakan untuk menulis . Dan saat menulis aku tidak suka ada mengganggu. Karena bisa menghancurkan imajinasi ku. Dan akan sulit lagi jika tidak mendapatkan nya lagi. Saat itu anak ku terkadang main dengan temannya yang juga sebaya. Dia sebenarnya sudah besar , tapi ngalemnya sama orang tua sampai saat ini masih ada. "


" Kamu tahu , saat anak ku tidak bisa bermain atau sedang malas bermain dengan temannya. Suami ku yang mengajak bermain. Entah mengajak dia ikut bekerja. Ya pekerjaannya memang ada  dirumah , kadang kala memang keluar. tetapi tidak sering. "


" Dia tidak pernah mengekang ku , terlebih memaksa ku . Seseorang pernah mengatakan pada nya , kalau dia terlalu membebaskan aku . Suamiku tidak bisa mengendalikan aku . Saat itu aku bertanya kepada nya apa jawaban " gak apa-apa. Yang penting dia bahagia " . Saat itu aku hanya diam dan tidak mengatakan apapun. Karena aku terlalu emosi mendengar perkataan orang terhadap ku . Seakan aku ini barang dan sesuatu yang harus di gunakan dan di manfaatkan "


" Malam nya yang aku kerjakan . Aku mengurus orderan , sepertinya aku benar-benar tidak pernah mengurus keluarga ku. Karena saat orang lain di sekitar ku yang mengatakan aku pemalas dan sak penak e Dewe aku tidak masalah. Karena memang seperti itu adanya "


" Setiap malam , suami ku berangkat pondok , dia mendapat jadwal mengajar di sana. Mungkin jam setengah sepuluh baru pulang dari pondoknya. Setiap malam , bukanya menyambut dengan senyum atau menyiapkan makanan aku malah rebahan sibuk dengan menyelesaikan orderan . Terkadang dia membawa makanan atau Snack kesukaan ku , dengan masih menyelesaikan pekerjaan ku dia menyuapi ku.   Kalau pun dia tidak membawa sesuatu , dia akan menanyakan aku ingin apa ? Atau mungkin langsung berinisiatif memaksakan mie instan . "


" Aku orang yang suka melupakan makan . Karena itulah aku terlihat kurus . Banyak orang dari keluarga ku mencandai nya menganggap dia tidak becus merawat ku. Saat itu aku juga ikut menjelekkan nya. Dia hanya tertawa. Tetapi saat ini aku tahu . Walaupun saat itu terlihat bercanda , dia tetap berusaha membuat ku tidak lupa makan dan membelikan apapun yang ingin aku makan. "


" Bahkan , keperluan dapur dia yang membelikan . Dulu memang aku , tapi setelah anak kami sekolah aku hampir tidak sempat belanja, dan terkadang memasak seadanya.  Mungkin dia bosan. Tapi tidak ingin merepotkan aku, akhirnya dia yang belanja keperluan dapur dan aku memasak apa yang dia belanjakan."


" Sekarang , jika mas ada di posisi suami saya.  Bisakah melakukan yang seperti dia ? " Tanya Bella setelah itu.


Lelaki didepannya terkejut dengan pertanyaan Bella. Sudah pasti dia sama sekali tidak pernah melakukan apa yang suami Bella lakukan.


" Mungkin jika istri ku seperti mbak . Aku bisa" Kata lelaki itu. Bella terlihat geram , tapi dia harus menahannya.


" Baiklah , aku harus pergi. Senang bertemu dengan mu. Dan salam untuk istri mu. Semoga aku bisa seperti nya . " Kata Bella akhirnya . Bersama lelaki itu seakan membuatnya nya menyesal.


" Eh..kok terburu-buru ? " Tanya nya. Ikut berdiri sesat melihat Bella mulai ingin pergi.


"Aku kesini sebenarnya ingin bertemu sepupu ku. Baiklah selamat tinggal " pamit Bella. Dia berdoa semoga tidak lagi bertemu lelaki macam dia lagi.


" Oh. Baiklah ."


Tanpa berfikir lagi Bella beranjak pergi. Dia mengeluarkan ponsel nya dari tas dan mengetik pesan untuk Zahwa.


" Aku harus meminta Zahwa untuk mengganti pertemuan kita " katanya.


Sesampainya di parkiran ternyata dia bertemu dengan Zahwa . Dia sudah datang. Bella dengan cepat menggandengnya menjauh dari resto itu.


" Eh ada apa ? " Tanya Zahwa binggung .


" Udah ayo cepat ikut aku " jawab Bella dia langsung menyuruh Zahwa masuk dalam mobilnya.


" Mobil ku bagaimana ? " Tanya Zahwa. Dia sendiri tadi pergi dengan mobilnya sendiri.


" Nanti kita ambil. Sekarang biar di sini dulu " kata Bella. Zahwa pasrah , kakak sepupunya itu juga terlihat kesal .


Mobil melaju dengan cepat , keluar dari pekarangan resto.

__ADS_1


__ADS_2