
Zahwa terlihat tegang. Ini mungkin bukan pertama kalinya dia berdekatan dengan Hanan tapi entah kali ini dia seakan tidak bisa menolak saat Hanan mulai mendekatkan wajahnya. Jantung berdetak kencang, jemarinya meremas bad cover yang menutupi sebagian tubuhnya.
Nafas mereka semakin beradu. Tangan Hanan mulai menyibakkan hijab Zahwa yang menutupi sebagian wajahnya. Itu saja sudah membuat Zahwa panas dingin. Dengan berlahan, tangan Hanan mengangkat dagu Zahwa. Zahwa tidak melawan saat Hanan mulai menyentuh dagunya tatapan mereka tidak berpaling. Hanan semakin mendekatkan wajah nya pada Zahwa, membuat perempuan itu refleks menutup matanya. Berharap, semua akan baik-baik sajam
"Kau memakai jarum untuk mengikat hijabmu?'' Tanya Hanan dia bangkit dari posisi miring nya dan langsung duduk menghadap Zahwa. Dia mencopot jarum pentul yang mengikat hijab Zahwa. Zahwa membuka matanya bingung. Hijabnya sebagai sudah terbuka dan memperlihatkan leher jenjangnya yang putih. Dengan cepat dia mengikat ke dua sisi hijabnya ke belakang leher.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Zahwa. Dia melihat Hanan malah fokus dengan jarum pentul miliknya.
"Kau memakai jarum seperti ini untuk mengikat hijab, apa tidak berbahaya," Jawab Hanan dia mengamati jarum pentul itu seperti pertama kali melihatnya.
"Itu memang di gunakan untuk mengikat hijab," Kata Zahwa, dia kesal karena merasa tadi Hanan akan melakukan sesuatu kepada dirinya. Tapi ternyata, dia hanya ingin dan mungkin penasaran dengan jam pentul itu. Payah sekali bukan.
"Sudah lah,tidak hanya aku saja yang memakai itu. Semua wanita hampir semua mengunakan itu untuk mengikat hijabnya," Kesal Zahwa dia mengambil jam pentul itu dari tangan Hanan dan akan mengunakan nya lagi.
"Eh, jangan. Itu berbahaya, nanti bisa melukaimu. Kau tidak usah memakai barang seperti ini lagi," protes Hanan dia merebut kembali jam pentul itu dan langsung membuangnya ke tempat sampah yang ada di samping laci meja tempat tidurnya.
"Itu tidak apa-apa dan gak berbahaya. Kau yang terlalu lebay," kata Zahwa kesal. Hanan over dalam hal kecil seperti itu.
"Aku bilang tidak ya tidak.Dilarang membantah suami. Dosa!" Ujar Hanan
Zahwa melengos dan kembali berbaring menyingkuri Hanan. Dengan perasaan dongkol dia tidak ingin mendengarkan Hanan lagi.
"Apa kamu marah dengan hal sepele ini? Aku melakukannya juga karena tidak mau kamu terluka," kata Hanan
"Tidak, sudahlah aku mau tidur. Jika kau tidak keberatan. Tidurnya di kamar lain. Aku ingin sendiri," kata Zahwa dengan masih menyingkuri Hanan.
"Hanya karena jarum pentul kamu ingin aku tidur di luar Zahwa. Kejam sekali istri ku ini!" kata Hanan dia mengambil bantal dan selimut dari lemari dan berjalan ke luar kamar.
"Cepat keluar!" Seru Zahwa.
Hanan dengan cepat keluar kamar dan menutupnya. Di luar kamar Hanan malah cekikikan, dia meletakkan tangannya di dadanya. Merasakan detak jantungnya dan kemudian tersenyum.
"Syukurlah, jantungku sudah kembali normal," kata nya . Dengan gembira dia berjalan ke arah kamar lain dari rumah itu.
Dia menuju kamar yang sudah menjadi tempat peralatan melukis Zahwa. Mungkin ini kamar satu-satunya yang bisa membuat dia merasa tidak jauh dari Zahwa.
Aku tidak mungkin melakukan hal itu Zahwa. Aku tidak ingin memasak kan apapun terhadap mu. Aku bahkan harus sekuat tenaga agar tidak jatuh cinta kepadamu.
Hanan mengingat kejadian beberapa saat lalu. Tidak hanya Zahwa yang merasakan ketegangan itu Hanan pun juga merasakannya. Desiran di hatinya seakan tidak bisa menahan nya untuk mendekatkan wajahnya pada zahwa saat itu. Bahkan saat Zahwa sudah memejamkan matanya, tidak hentinya dia menatap paras cantik di depannya itu. Ingin sekali dia menyentuhnya. Hingga akhirnya dia harus menjauh dan mencari alasan untuk tidak menyinggung Zahwa.
Hanan terlihat tersenyum geli mengingat hal itu . Menggelengkan kepala mengira bahwa dia benar-benar sudah sudah gila.
"Sudahlah Hanan. Kau akan gila jika mengingat hal itu, sekarang telpon Alfin," kata hanan dia mencari ponselnya dan menepuk jidatnya karena dia lupa membawanya. Ponselnya tertinggal di kamarnya. Hanan keluar dari kamar itu dan menuju kamarnya lagi, dia harap Zahwa sudah benar - benar tidur. Jadi dia tidak terganggu lagi.
Sesampai di dalam kamar, di lihat nya Zahwa sudah tertidur dia langsung mencari ponselnya. Menemukan di sisi ranjang yang biasa dia tidurim Dengan berjalan mengendap-endap berharap tidak membuat suara agar tidak membangunkan Zahwam Dengan cepat dia mengambil ponselnyam
Zahwa sudah terlihat tidur pulas. Tanpa sadar Hanan sudah berjongkok di depan wajah Zahwam Dia masih dalam posisi miring. Saat tidur seperti itu , dia terlihat lembut. Tidak akan menyangka jika dia itu sangat kasar dan suka marah-marah.
"Selamat malam, semoga mimpi indah..." kata Hanan tanpa sadar dia mengusap kepala Zahwa lembut. Kemudian keluar dari kamar dengan senyum merekah.
Setelah Hanan mendengar suara pintu tertutup . Zahwa membuka matanya dia merasakan desiran dalam hatinya dan senyum dalam bibirnya merekah indah. Jantung berdetak, tidak sekeras tadi. Hanya seperti ada yang menusuk dan terasa nyaman. Entahlah bagaimana perasaan yang tak beraturan itu hadir begitu saja.
"Selamat malam, semoga mimpi indah juga," kata Zahwa lalu mulai memejamkan matanya.Berharap doa suaminya menjadi kenyataan.
***
Pagi sekali Hanan sudah ingin pergi ke kantor dia terlihat buru-buru dan hanya memakan roti selai satu lembar.
"Kenapa terburu-buru?" Tanya Zahwa, dia membawa kan tas kerja Hanan. Mengikuti langkah kaki suaminya menuju teras depan.
"Ada kerjaan mendadak. Aldian mengirim WhatsApp untuk segera ke kantor," jawab Hanan dia sudah ingin masuk ke dalam mobil. Meminta tasnya yang masih di bawa oleh Zahwa.
"Aku tidak suka dengan sekretarismu itu," kata Zahwa.
"Kenapa? Dia sudah bekerja bersama ku selama 3 tahun ini. Dan pekerjaannya baik dan tidak pernah salah. Lagipula dia teman ku," kata Hanan membela Aldian
"Terus saja bela," sewot Zahwa
"Apa karena dia mengatakan hal buruk terhadap mu kemarin? Wajar lah, dia belum tahu kalau kamu istriku," kata Hanan agar Zahwa tidak salah faham.
__ADS_1
"Hah! ya sudah lah..." ujar Zahwa
Dia pasrah suaminya itu akan tetap membela Aldian nantinya.
"Jika kamu tidak suka Aldian menjadi sekretaris ku , mungkin aku bisa mengganti posisinya. Aku bisa memilih salah satu pegawai ku untuk menggantikan dirinya. Tapi, masalah nya untuk menjadi sekretaris aku membutuhkan orang yang cekatan dan telaten. Tidak ada pegawai laki-laki yang seperti itu selain Aldian." Kata Hanan
"Sepertinya Aldian masih bisa di pertahankan . Kamu tidak perlu mengganti posisi nya hanya karena aku tidak menyukainya," kata Zahwa cepat .
"Oh, begitu kah? Aku kira karena kamu tidak ingin aku mengganti dia dengan sekretaris wanita, " goda Hanan.
"Tidak. Aku tidak berfikir begitu. Sudah ! kamu bilang ada urusan kan. Cepat berangkat," kata Zahwa. Dia memberikan tas kerja itu kepada Hanan. Hanan tersenyum jahil.
"Cium tangan dulu dong," Pinta Hanan dengan mengulurkan tangan. Zahwa menerima dan mencium punggung tangan suaminya.
"Udah kayak pengantin baru kan?" Kata Hanan jahil
"Iya iya , sok romantis. Padahal pura-pura," balas Zahwa. Hanan tertawa tanpa sadar Zahwa ikut tertawa.
"Bye, assalamualaikum..." salam Hanan dia sudah menyalakan mesin mobilnya .
"Waalaikumsalam... " balas Zahwa dengan melambaikan tangannya.
Mobil Hanan melaju, meninggalkan pekarangan rumah dan Zahwa yang masih berdiri sampai mobil itu tidak terlihat oleh matanya.
"Tuan, kamu meninggalkan jas mu," kata elena
Surya sudah ingin berangkat ke kantor juga. Elena berjalan tergesa-gesa menyusul Surya yang sudah ada di dekat Zahwa.
"Sepertinya kalian sudah mulai akrab?" kata Surya .
"Bukankah itu bagus. Lagipula itu yang seharusnya bukan?" balas Zahwa
"Iya,baguslah. Aku senang jika melihatmu bahagia," kata Surya lagi.
"Begitu pun dengan ku. Sepertinya ada seseorang yang juga sudah peduli dan siap melayani mu kapan pun kamu mau," sindir Zahwa. Elena sudah sampai di antara mereka dan Zahwa pergi meninggalkan mereka berdua.
"Terima kasih," ucap surya dia menerima jas yang sudah di bawakan oleh elena.
"Jangan memanggilku tuan lagi. Panggil saja Surya," kata Surya
"Tidak enak kalau hanya memanggil Surya saja Boleh aku memanggil mas Surya," pinta elena
"Silahkan," balas Surya dengan senyum
"Baiklah mas Surya,"
"Ok. Aku akan berangkat kerja. Nanti aku akan menyuruh orang untuk mengantarkan beberapa pakai untuk mu. Kemarin aku sudah memesannya dan hari ini akan di antarkan," pesan Surya
"Kenapa repot? Aku sudah mendapatkan pakaian kemarin" kata elena tidak di pungkiri dia sangat senang akan mendapatkan baju lagi.
"Tidak, apa-apa. Ya sudah aku berangkat dulu," kata Surya.
Dia masuk dalam mobil dan kemudian menyalakan klakson satu kali untuk berpamitan sekali lagi kepada elena dan juga Zahwa yang masih terlihat duduk di ruang tamu. Dengan senyum nanar Zahwa mengangguk kan kepala pada Surya. Sudah jelas sebenarnya Surya menatap Zahwa. Tapi elena mengganggap nya lain.
Mobil melaju meninggalkan rumah tersebut dan kedua perempuan itu.
"Mbak Zahwa masih di sini?" Tanya elena, sedikit terkejut melihat Zahwa masih duduk di ruang tamu.
"Iya elena, apa kamu ada pekerjaan. Mungkin kita bisa ngobrol bersama," kata Zahwa
"Maaf mbak, tapi sepertinya saya harus membantu bik asih di belakang." Kata elena
"Oh, baiklah tidak apa-apa..." balas Zahwa
Elena permisi pergi. Zahwa pun kembali ke lantai atas. Menuju kamar dimana lukisannya berada.
Sesampai di sana dia melihat tempat tidurnya sedikit berantakan.
"Mungkin mas Hanan kemarin tidur di sini," kata Zahwa dia mulai merapikan nya lagi.
__ADS_1
Setelah selesai Merapikan tempat tidur itu. Dia membuka gorden besar kamar tersebut memperhatikan balkon luar yang indah. Dan juga langit yang terlihat membentang luas.
Dengan hati-hati Zahwa mengangkat easel nya dan meletakkan nya di balkon kamar tersebut . Setelah dirasa pas dia mengambil satu kanvas berukuran besar, ia letakkan kanvas tersebut di atas easel. Beberapa kuas dan cat warna juga sudah tertata rapi di satu meja dekat kanvas tersebut.
Setelah dirasa sempurna Zahwa mulai melukis, mengoles kanvas putih itu dengan Warna- warni cat airnya.
Dia terlihat menikmatinya dan bahagia. Sudah lama dia tidak merasa perasaan sebahagia hari ini. Entah karena dia bisa bebas melukis atau sesuatu yang lain
Dari atas balkon Zahwa bisa merasakan angin sepoi-sepoi. Masih bisa di bilang pagi tapi dia sudah bisa menikmatinya.
Mata nya terusik saat melihat ada seseorang datang melewati gerbang rumahnya. Siapa ? Dia juga belum tahu. Zahwa meletakkan kuas nya dan mulai penasaran dengan siapa yang datang. Seorang pemuda dengan membawa papar bag berukuran besar. Dari atas Zahwa bisa melihat isi papar bag tersebut . Beberapa pasang baju atau semacamnya.
Pemuda itu mengucapkan salam, sesaat setelah itu ada bik asih yang datang menyambutnya.
"Ada apa ya mas?" Tanya Bik asih. Suara mereka cukup bisa di dengar dari balkon lantai dua.
"Ada titipan untuk nona elena," Kata pemuda itu
Mendengar itu Zahwa sedikit kecewa. Dia teringat Surya sebelum berangkat kerja tadi, mengatakan bahwa dia menyuruh orang untuk membeli kan beberapa pakai untuk elena. Berarti itu orang suruhan Surya.
''Oh... Terima kasih mas," ucap bik asih. Elena yang merasa namanya di sebut pemuda itu sudah berdiri di samping bik asih. Dia tersenyum bahagia saat menerima papar bag ukuran besar itu.
"Kenapa aku merasa mas Surya begitu memanjakan dirinya? Apa dia mulai tertarik dengan elena?" Batin Zahwa
Prasangka itu membuat dirinya tidak lagi semangat. Dia kembali duduk di depan lukisannya dan mulai melukis kembali.
Cling
*Mas hanan*
[Pak Hasan, imam masjid kompleks rumah kita memberikan kabar bahwa hari ini ada pengajian untuk memperingati hari lahir sayyidatuna Fatimah Az-Zahra. Jadi kita tidak bisa ke mall lagi]
Apa kamu tidak apa-apa?
Isi chat singkat dari Hanan. Zahwa tersenyum, Hanan mungkin berfikir bahwa Zahwa akan marah lagi karena mereka gagal lagi ke mall.
Tidak apa-apa. Kamu pasti berfikir aku akan marah kan?
Balas Zahwa dan mengirim pesan tersebut .
Cling
*Mas Hanan*
[Iya, aku tidak salah kan jika memikirkan itu. Karena memang kamu bisa marah kapanpun yang kamu mau. (emoticon menjulurkan lidah)]
Chat balasan dari Hanan lagi. Zahwa cemberut, di chat saja suaminya itu masih saja suka mengejeknya.
Cling
[Pasti kamu sedang cemberut , memonyongkan bibirmu. Menahan marah mu karena isi chat ku tadi.]
[Jangan suka marah. Agar tidak cepat tua. Belum juga aku jatuh cinta kepada mu. Tapi kamu sudah akan tua saja (emoticon menjulurkan lidah)]
Sebelum Zahwa mengirim balasan chat Hanan sudah menambah chat lagi. Isi chat itu seakan tahu apa yang sedang di lakukan zahwa. Membuat zahwa yang tadinya ingin marah kembali mengatur emosinya. Membuktikan bahwa dirinya tidak sedang marah.
[Aku tidak marah. Jangan sok tahu]
Balas Zahwa.
*Mas Hanan*
[Baiklah , aku mengirim sesuatu untuk mu. Mungkin sebentar lagi teman ku akan datang mengantarnya]
Zahwa terlihat bahagia membaca chat tersebut. Tidak sabar menunggu teman suaminya datang dan memberikan sesuatu itu untuk dirinya.
Tidak lama kemudian, seseorang dengan mengendarai motor masuk kedalam pekarangan rumahnya. Seorang laki-laki, Zahwa melihat dari atas balkon. Laki-laki itu mengamati sekitar dan melihat kertas kecil di tangannya. Mungkin dia mengecek alamat yang di tuju sudah benar atau belum.
"Apa mungkin dia teman mas Hanan?" Batin Zahwa.
__ADS_1
Tanpa menunggu lagi Zahwa berlari keluar kamar, menuruni tangga dan lekas menemui laki-laki tersebut. Tidak sabar dengan sesuatu yang akan di berikan oleh Hanan untuk dirinya.