Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 58


__ADS_3

***


"Silahkan," kata penjual mie ayam itu. Dia meletakkan dua porsi untuk Zahwa dan Hanan.


"Kelihatannya enak." Komentar Zahwa setelah melihat mie ayam di depannya. Dia tergiur dengan aromanya.


"Mie ayam ini paling enak. Kamu bisa ketagihan dengan sekali coba," Timpal Hanan.


Hanan sudah mulai mencampuri Mie ayam tersebut dengan Saos dan kecap, termasuk juga sambalnya. Zahwa melakukan hal yang sama.


Zahwa kira suaminya itu akan mengajak untuk pergi ke Mall atau tempat indah lainya. Tapi tidak di duga, dia mengajaknya makan di pinggiran jalan seperti ini. Satu hal lagi yang baru dia ketahui tentang Suaminya itu, bahwa dia sebenarnya sangat sederhana dan tidak pemilih.


Keduanya menikmati mie ayam tersebut. Zahwa yang pertama kali makan langsung ketagihan. Dia begitu lahap.


"Pak nambah satu porsi lagi." Pinta Zahwa. Membuat Hanan tersedak karena kaget.


"Kenapa? Aku masih lapar." Kata Zahwa sebelum Hanan protes.


"Wah... Apa mbak nya sedang hamil. Biasanya kalo wanita sedang hamil memang makannya dua kali lipat dari biasanya. Istri saya begitu dulu," Komentar penjual mie ayam tersebut.


Zahwa dan Hanan berpandangan. Sepertinya baru kemarin mereka melakukan hubungan suami istri apa mungkin secepat itu bisa hamil? Pertanyaan yang mengembangkan di benak mereka berdua.


"Kamu hamil?" Tanya Hanan curiga dengan berbisik


"Tidak! Mana mungkin?!" Jawab Zahwa cepat dia sendiri sebenarnya juga agak canggung sekarang.


"Syukurlah. Aku juga tidak ingin kamu hamil dulu," Kata Hanan lega. Dia melanjutkan makan.


"Apa maksud mu syukurlah? Apa kamu tidak ingin punya anak ?" Tanya Zahwa dia protes.


"Jangan terlalu keras bicaranya," pinta Hanan.


"Jawab pertanyaanku?" Desak Zahwa sambil melotot ke arah suaminya.


"Aku masih melakukan itu satu kali. Jika kamu hamil secepat itu aku tidak akan bisa melakukannya lagi secara leluasa." Jawab Hanan. Dia mengatakan dengan enteng tanpa melihat Zahwa.


Zahwa melongo. Tidak menyangka bahwa suaminya sangat mesum seperti itu.


"Silahkan," Kata Penjual mie ayam. Dia memberikan satu porsi lagi untuk Zahwa.


"Terima kasih." Ucap Zahwa.


Zahwa melampiaskan kekesalannya pada mie ayam tersebut.


Tiba-tiba ponsel Zahwa berbunyi.


Hanan mengangkat tanpa meminta persetujuan Zahwa.


"Assalamualaikum, siapa?" Tanya Hanan. Nomer itu tidak di kenal.

__ADS_1


"Mas Hanan. Aku Elena," Jawab Elena senang di seberang telpon.


Zahwa mencari tahu siapa yang menelepon nya dengan mengisyaratkan meminta ponsel kepada Hanan.


"Elena?! " Kata Hanan. Dia menyerahkan ponsel Zahwa. Terlihat jika dia tidak suka Elena menelpon Zahwa.


"Elena. Ada apa?" Tanya Zahwa.


"Saya ada di rumah Mbak sekarang. Tapi tidak ada orang." Jawab Zahwa.


"Eh kok mendadak. Aku dan Mas Hanan sedang di luar. "


"Mbak bisa pulang. Soalnya aku mau berpamitan karena Mas Surya sudah menemukan tempat baru untukku. Aku ingin berpamitan." Ujar Elena.


"Oh... Aku akan pulang sekarang." Kata Zahwa.


" Terima kasih Mbak . Saya tunggu kalau begitu . "


"Ok. Assalamualaikum...."


Balasan salam Elena menjadi pembicara terakhir mereka. Zahwa memasukan ponsel nya ke dalam tas.


"Kita pulang saja. Elena ada di rumah." Kata Zahwa.


"Kenapa lagi dengan dia? Aku sudah bilang. Aku tidak suka kamu dekat-dekat dengan dia.'' Ujar Hanan. Mendengar nama Elena membuyarkan mood nya hari ini.


"Dia mau berpamitan. Aku akan pulang," Kata Zahwa. Menandakan bahwa dia tidak mau di bantah.


"Kenapa? Dia mau pamitan. Setidaknya temui dia sebentar saja." Rajuk Zahwa.


"Pak berapa semuanya?" Tanya Hanan. Dia tidak mengindahkan rayuan Zahwa.


Setelah selesai membayar semuanya. Hanan mengantar Zahwa pulang.


"Beri aku alasan? Kenapa kamu tidak menyukai Elena?" Tanya Zahwa.


"Seperti aku menyukaimu. Apa aku perlu mengatakan alasannya juga padamu." Jawab Hanan berputar.


"Itu tidak menjawab pertanyaanku." Ujar Zahwa.


"Tidak perlu alasannya untuk menyukai ataupun membenci. Karena itu semua dari hati." Kata Hanan menjelaskan.


"Berarti kamu menyukai ku dari hati?" tanya Zahwa menggoda.


"Iya. Bisa di bilang seperti itu. Andai bisa mengubah nya aku tidak akan mau menyukai wanita bodoh seperti mu." Jawab Hanan dengan entengnya .


"Aku bodoh?! Hahaha. Kau lebih bodoh. Karena sudah tahu aku bodoh tapi kamu tetap menyukai ku." Balas Zahwa.


Hanan selalu saja mengatakan dirinya bodoh. Itu adalah hal yang menyedihkan. Mungkin jika orang lain yang mengatakan tidak masalah tapi ini suaminya sendiri.

__ADS_1


Hanan tidak membalas. Jika tidak mereka pasti akan bertengkar di sepanjang perjalanan.


"Aku tidak akan menemui wanita itu. Setelah sampai aku akan langsung ke kantor." Kata Hanan. Mereka sudah hampir sampai di rumah Zahwa.


"Tidak ganti pakaian?" Tanya Zahwa.


"Aku bos. Aku bebas memakai apapun ke kantor ku sendiri." Jawab Hanan sombong.


"Iya- iya Bos." Kata Zahwa dengan meledek.


Mobil berhenti di depan rumah. Zahwa turun seperti Hanan bilang dia tidak turun atau sekedar menemui Elena atau Bik Asih walau sebentar.


"Aku pergi dulu. Jika ada apa-apa langsung hubungi aku. Jangan terlalu dekat dengan wanita itu." Pesan Hanan sebelum dia pergi. Zahwa sudah akan turun dari mobil


"Iya...Assalamualaikum." Balas Zahwa. Dia mencium punggung tangan Hanan.


" Waaikumsalam. Cium!" Seru Hanan manja sambil menyodorkan pipinya ke arah Zahwa.


Mengetahui hal itu Zahwa melengos. Dengan perasaan masih kesal dia menuruti kemauan Hanan. Jika tidak, dia akan tetap memaksanya. Zahwa mencium pipi Hanan.


Elena dan bik Asih keluar dari halaman. Mereka mengetahui jika Zahwa dan Hanan sudah datang.


"Bye," Zahwa turun dari mobil ketika melihat mereka. Hanan langsung melajukan mobilnya setelah Zahwa benar turun dan berbaur dengan Elena dan Bik Asih .


"Loh, Mas Hanan mau kemana?" Tanya Elena


"Kerja," Jawab Zahwa dengan senyum. Dia tidak mungkin bilang kalau Hanan tidak ingin bertemu dengan dirinya.


"Wah! Sayang sekali. Apa mbak Zahwa tidak bilang jika aku akan berpamitan?" Tanya Elena kecewa.


"Sudah. Tapi tadi dia buru-buru. Jadi maaf ya," Jawab Zahwa. Dia tidak enak dengan Elena .


"Ayo kita masuk ke dalam." Ajak Bik Asih. Dia sudah membuka sedikit gerbang rumah mempersilahkan Zahwa dan Elena masuk .


Sesampai di dalam rumah. Mereka mulai mengobrol lagi. Bik Asih tanpa di suruh sudah ke dapur untuk membuat kan minum mereka berdua .


"Jadi, apa kamu sudah melihat tempatnya Elena?" Tanya Zahwa.


"Belum. Kata Mas Surya nanti sekalian pindah." Jawab Elena.


"Semoga kamu betah." Doa Zahwa.


"Non. Ini apa, ya?" Bik Asih berlari kecil membawa bungkusan kecil di tangannya. Zahwa dan Elena berpindah fokus pada beliau.


"Saya mau buat teh. Tapi bingung. Ini teh apa bukan?" Kata Bik Asih.Dia memperlihatkan bungkus kecil itu kepada Zahwa dan Elena.Zahwa dia juga tidak mengetahui apa sebenarnya bungkusan tersebut.


"Itu obat perangsang. Aku sering menemukan itu pada dapur rumah ku dulu." Sahut Elena.


Sontak membuat wajah Zahwa merah padam. Jadi karena itulah Hanan kemarin berani memulai hubungan mereka.

__ADS_1


Bik Asih tersenyum malu. Dia memikirkan bahwa Zahwa dan Hanan sudah mengunakan obat itu untuk mereka.


"Maaf, Non.Bibi tidak tahu. Saya akan kembalikan obat ini ke tempat semula." Ujar Bik Asih seraya undur diri. Dia kembali lagi ke dapur.


__ADS_2