
flashback
Baru saja Hanif berpamitan. Seseorang mengetuk pintu kamar lagi. Zahwa sudah selesai mandi, masih dengan rambut di gulung ke atas. Dia baru-buru memakai hijabnya.
Hanan sedang bermain ponselnya. Akhirnya Zahwa yang membuka pintu. Di depan berdiri Bik Asih dengan mendekap beberapa amplop. Zahwa mengerutkan dahinya, tanda ingin tahu.
"Non, Saya boleh masuk."
''Iya Bik. Silahkan, tapi ngomong-ngomong apa yang bibi bawa?" Tanya Zahra. Seraya memberikan jalan untuk Bik Asih. Hanan masih sibuk dengan ponselnya.
Bik Asih melihat majikan laki-lakinya. Dan kemudian berganti kepada Zahwa. Sebenarnya dia tidak enak ngomongnya Tapi, akan berdosa jika tidak menyampaikannya.
''Ini buat Mas Hanan.'' Kata Bik Asih.
Hanan yang tadi fokus dengan ponselnya. Sedikit melirik ke arah Bik Asih.
''Apa ini Bik?'' Tanya Zahwa
''Nganu Non. Jangan marah ya... Ini surat dari mbak-mbak santri buat Mas Hanan.''
Zahwa melongo. Hanan langsung mendongakan kepala. Bukan melihat surat itu. Tetapi kepada istrinya, yang langsung merebut semau surat itu.
Hanan menelan ludah, dia kini duduk tegak. Tiba-tiba dia merasakan aura yang mencekam. Zahwa mulai membuka satu persatu surat itu dan mulai membacanya.
Wajahnya memanas, matanya terbelalak lebar. Bola matanya, intens membaca satu persatu kalimat dalam tulisan itu. Tidak sedikit pun ia ingin melewatkan satu kata saja.
Dada Hanan sudah mulai kembang kempis. Itu buka surat pertama yang dia terima. Sebelumnya, ada seseorang juga yang memberikan surat lewat anak kecil yang entah siapa. Di juga tidak mengenalinya.
Setelah menerima surat itu. Tanpa ingin mengetahui siapa yang mengirimkannya Hanan langsung membakar surat itu. Sadis bukan, jika sang penulis mengetahui hal itu pasti dia akan sakit hati. Bahkan, bisa saja menangis sejadi-jadinya. Tapi, kembali lagi. Kenyataannya bahwa Hanan harus menjaga hati seorang. Yang tidak lain adalah Zahwa, istrinya.
Sudah berkali-kali dia harus mengalami hal tersebut . Dan, Hanan tidak ingin terus terjadi.
Zahwa mungkin akan marah dan cemburu itu wajar. Tapi, dia tipikal wanita yang tidak akan ambil pusing. Tetapi saja, sedikit-dikitnya api yang menyala itu harus cepat di padamkan. Sebelum api itu menjadi besar dan membakar banyak hal.
''Ini mbak - mbak berani sekali. Apa gak ada hukuman untuk santri yang mengirim surat seperti ini." Lantang Zahwa. Api sudah mulai berkobar
Sisa surat yang belum di baca masih setengah. Tapi Zahwa sudah menahan emosinya. Menambah ketar-ketir Hanan.
''Bik, kenapa cari api?'' Bisik Hanan. Dia menyalahkan Bik Asih.
''Amanah, mas. Saya takut di tagih sama mbak-mbak santri nanti.''
Sebenarnya Bik Asih juga menyesal. Tapi, mau bagaimana lagi?
__ADS_1
'Ini dengarkan! Aku bacakan!'' Kata Zahwa lantang. Matanya melotot ke arah Hanan.
''Mati aku,'' celetuk Hanan mati kutu .
Zahwa menarik nafas dalam - dalam dan mulai membaca.
**Assalamualaikum,
Dengan saksi sang bulan pada malam hari ini. Dengan desiran malam yang menyayat hati. Dengan dendangan gendang memuja sang Pujaan Nabi Muhammad aku memberikan diri untuk menulis surat ini.
Aku , yang terpana saat tangan mu mulai menyentuhku, saat itulah kau menduduki hatiku. Bertahan bak raja. Menguasai, pun melukai.
Tak tahu apakah tuan juga merasakan apa yang aku rasakan. Tapi aku benar-benar jatuh hati. Mungkin banyak wanita yang memuja tuan. Aku adalah salah satu serpihan itu.
Namun, demi Alloh yang memberikan rasa cinta ini. Aku memberanikan diri untuk mengatakan hal ini. Demi Alloh, aku mulai mencintai tuan*
...
''Stop!'' Seru Hanan. Dia memegangi perutnya.
''Gak usah alasan. Pura - pura sakit segala.'' Bentak Zahwa. Hanan semakin ciut. Wajahnya memelas.
''Sakit sayang. Beneran,'' Tawar Hanan. Tapi Zahwa mengacuhkan.
''Aku gak tau apa-apa yang. Beneran!''
Amarah zahwa terpancar di wajahnya. Dadanya kembang kempis menahan gejolak hatinya.
"Kamu itu mau punya anak mas. Kok masih cari perhatian sama santri putri."
"Ya Alloh, yang... Masak kamu gak percaya sama aku. Aku benar-benar gak tau. Jangankan cari perhatian, ngelirik wanita lain aja aku gak bisa kok.''
hanan berusaha meredam emosi istrinya itu.
"La ini nyatanya ada surat yang bilang kamu megang dia."
"Mana aku tahu? Palingan dia yang mengada - ada."
"Mengada-ada gimana? Mana ada santri bohong. Pasti kamu caper!"
Bingung. Harus menjelaskan bagaimana? Dia bahkan tidak tau siapa yang menulis surat itu dan dengan percaya dirinya menulis jika hanan pernah menyentuhnya.
"Saya permisi dulu Mas, Non."
__ADS_1
Bik Asih izin undur diri. Tidak enak, jika melihat pertengkaran majikanya.
"Bentar bik. Ini bawa semua suratnya. Buang semua!" Hanan mengambil semua surat itu dan menyerahkan pada Bik Asih.
Terhenyak. Namun, bik asih mengiyakan dan langsung membawa semua surat tersebut. Lalu segera berlalu.
"Itu bukan satu lo mas. Ada banyak! Masak semua anak pondok bisa suka sama kamu semua!"
"Udah lah, jangan bahas itu sayang. Aku benar gak tau. Kamu jagan marah-marah. Kasihan dedek ya , nanti takut."
"Udah ah mas. Males aku, capek. Terserah kamu!''
Kata terserah semakin membuat hanan terhantam batu besar. Tidak pernah istrinya itu semenyerah itu.
Hanan bangkit dari tempatnya. Mendekati istrinya, menempelkan ke dua kening mereka. Menyatukan hidung.
Zahwa masih masam. Dia tidak sudi melihat suaminya.
"Jalan yuk. Kalo ini kamu mau ke mana saja, aku turutin deh."
Zahwa diam. Dia mendorong tubuh hanan menjauh dari dirinya. Hanan tidak menyerah.
"Ayo dong, jangan seperti ini. Kamu boleh minta apapun. Kamu juga bisa ngelakuin apapun."
Hanan merayu. Mendekati istrinya lagi, mengelus-elus punggungnya.
''Apapun?'' Tanya Zahwa menantang
''Apapun,'' jawab Hanan tegas.
Zahwa bangkit. Hanan ikut bangkit. Setelah itu Zahwa meminta segera jama'ah ashar. Masih dengan kebingungan, Hanan menuruti begitu saja.
Meminta keluar jalan-jalan di ayo kan saja. Asal melihat Zahwa tenang dan bahagia. Mungkin hari ini dia lagi apes saja.
Siang, sudah dapat semprongan karena menolak ajakan keluarga Dhalem ke Trenggalek. Baru saja reda, masalah datang lagi.
Kini Hanan sedang menjalani hukuman dari istrinya. Hukuman yang sebenarnya, juga tidak ia ketahui kesalahannya.
Masih dengan tangan penuh belanjaan. Hanan setia mengekor di belakang istrinya. Orang - orang melihatnya. Bukanya menghina, tapi malah memuji. Mengatakan bahwa dia suami setia dan malah membuly Zahwa kerena tega dengan suaminya.
Rasanya ingin Hanan langsung membungkam mulut mereka. Tapi, dia hanya bisa mendengus kesal saja.
Bukan karena rasa lelahnya, tetapi rasa jengkel dan marah karena orang mencomo'oh Zahwa.
__ADS_1
Dia menjaga sekuat tenaga. Tapi, dengan mudahnya orang mengatakan hal jelek kepadanya.