
"Kau ibarat laut yang terlihat datar, tapi entah sedalam apa hatimu menyimpan semua rasa, rahasia, atau sebuah kenangan. Aku adalah daratan yang memiliki hutan yang lebat, sehingga banyak orang enggan untuk masuk lebih dalam. Tapi aku punya danau indah, yang mana airnya akan mengalir ke laut untuk sebuah pertemuan."
Zahra menemukan sebuah coretan pada kertas lusuh yang tertiup angin dan mulai berpasir.
Dia sedang duduk lesehan diantara pepohonan pantai. Menunggu Surya yang masih memesan beberapa makan untuk mereka.
Pantai masih terlihat lengang. Pengunjung belum banyak terlihat, mungkin karena saat itu bukan hari libur dan juga masih pagi hari.
Zahra fokus dengan kertas di tangannya. Kata-kata yang indah. Perumpamaan yang selaras. Dia menengok ke kanan dan ke kiri , mungkin saja dia menemukan seseorang yang telah kehilangan kertas tersebut. Tapi, seluas mata memandang dia hanya menemukan beberapa orang. Yang di rasa tak mungkin menulis bait-bait tersebut.
Tidak mungkin tulisan itu dari seorang pelayan tua dengan baju basah, membawa jaring-jaringnya. Tidak juga penjaga pantai,yang sedari tadi hanya mondar-mandir ke tepian dan mengobrol pada beberapa pengunjung yang baru saja datang. Wajahnya, seram. Dari wajahnya saja, sudah tidak memungkinkan. Jika dari salah satu pengunjung , tidak mungkin juga. Kertas ini sudah sedikit Kumal. Dari garis penanya, ini sudah di tulis cukup lama.
''Ada apa sayang?" tanya Surya.
''Hah!'' Zahra bengong, mendengar panggilan baru untuk dirinya.
''Apa itu?'' Tanya Surya lagi.
''Ini, entahlah. Aku menemukan tergeletak begitu saja di sini.'' Jawab Zahra.
Surya merebut kertas itu dari tangan Zahra . Mulai membacanya.
'' Punya siapa?'' Tanya Surya.
Zahra mengangkat bahunya. Tanda tidak tahu. Dia juga sudah bilang, dia menemukan kertas itu tergeletak begitu saja.
''Mboten ngertos Mas. Tapi sepertinya yang menulis kertas ini sedang jatuh cinta.'' Jawab Zahra.
''Tau dari mana? Yang aku tangkap malah sebaliknya, dia sedang galau.''
''Yah. Taulah Mas. Sudah jelas-jelas kan, dia sedang mengibaratkan seseorang seperti lauta Lautan yang dalam, yang tidak bisa ia ketahui dasarnya. Sama seperti saat kita mengagumi seseorang, kita hanya bisa melihatnya saja tanpa tau bagaimana perasaannya.'' Terang Zahra.
__ADS_1
Pantas saja, karena Zahra pernah merasakan hal itu. Rasa yang dia pendam selalu. Takut untuk ia ungkapkan, takut dia gemingkan walau untuk dirinya sendiri. Ah, menyiksa itu sudah pasti. Rasanya ingin mati saja , dan kemudian pergi dari dunia ini. Agar sesak akan rindu dan sendu menghilang lenyap dari candu cinta yang selalu mendayu-dayu.
''Oh iya, '' Surya menatap tidak yakin akan maksud itu.
''Mas mana tau hal - hal seperti itu, bukan genrenya kamu mas _ mas.'' Ejek Zahra.
''La terus genrenya aku apa?"
''Genrenya mas ya, soal teknik grafika, Desain, sekarang nambah kitab dan pendidikan dan BLA BLA.'' Jawab Zahra, dengan tangan menghitung dia tidak hentinya menyebutkan semua ke unggulan suaminya.
''Tambah satu lagi. Ini yang paling utama." Tambah Surya.
Zahra memicingkan mata, sepertinya dia tidak melewatkan satupun ke ahlian suaminya.
''Keahlian ku, genre kesukaan ku baru-baru ini. Menyentuh mu dan mencintaimu." Bisik Surya.
Mata Zahra terbelalak. Dia menggigit bibir bawahnya, melirik ke kanan dan ke kiri berharap tidak ada seorangpun yang mendengar ucapan suaminya.
He'em he'em
Suara deheman serak serak basah membuat ke duanya mengambil jarak cepat. Mengatur posisi, dan juga lagak sedang menikmati hembusan angin dan juga pemandangan pantai.
''Gua ganggu kalian ya,''
Hanif membawa dua kelapa muda yang sudah di buka bagian ujungnya. Lengkap dengan sedotan dan hiasan jeruk nipis di bagian tengahnya.
''Gak kok. Gabung aja." Balas Zahra
''Beneran?'' Hanif meyakinkan.
Zahra mengangguk dengan senyum di paksakan. Kenapa saudara laki-lakinya itu tidak bisa peka dengan keadaannya sekarang. Ingin menghujatnya tapi dia tidak enak dengan suaminya.Dia sama sekali tidak tergantung dengan kedatangan Hanif.
__ADS_1
''Ok. Aku akan bergabung dengan kalian.'' Ucap Hanif dan langsung duduk di antara mereka. Meletakkan ke dua kelapa muda di depannya.
''Untuk kalian, dari Abah noh." Kata Hanif, sambil menunjuk ke arah kedai pinggir pantai.
Kyai Jauhari tersenyum ke arah mereka. Tidak biasanya, beliau mau ikut ke pantai. Tapi kali ini kenapa beliau sudah duduk tenang dengan senyum sumringah seperti itu. Memantau anak dan menantunya pula.
''Alloh Karim...'' Kata Zahra pelan.
Hal ini pernah terjadi, tapi bukan seperti ini kondisinya. Saat itu ada seseorang yang meminta Zahra dia dari golongan komlomerat di kotanya. Pemuda itu meminta izin untuk bisa berbicara dengan Zahra dan Kyai Jauhari mengizinkan.
Selang beberapa waktu Zahra di minta menemui dirinya di sebuah taman. Dia dia jemput oleh bodyguard suruhan. Zahra di perlakukan bak seorang ratu. Awalnya semua berjalan lancar, tapi saat pertemuan itu benar terjadi. Ternyata, Kyai Jauhari juga berada di taman tersebut.Sontak membuat pemuda itu tidak lagi leluasa untuk berbicara.
Karena hal itulah, pemuda itu membatalkan pinangannya. Dia mengira bahwa Zahwa masih saja seperti boneka bagi Abahnya. Yang setiap apapun harus seperti yang Kyai Jauhari inginkan.
''Sekarang beda, jangan berpikir buruk dulu sama Abah mu.'' Bisik Hanif. Dia mengetahui jika Zahra dongkol dengan orang sekitarnya.
''Beliau hanya ingin melihat kamu bahagia. Katanya tadi pengen ndelok zahra Karo Surya. Wes ayem durung .(Ingin lihat Zahra sama Surya . Sudah tenang apa belum ).'' Tambah Hanif
''Wajar. Taunya kamu kan gak mau di nikah sama Surya. Takutnya, kamu ngejalanin pernikahan ini kepaksa. Pikirnya, kamu hanya nyenengin beliau saja.'' Timpal Hanif lagi.
Zahra menghela nafas. Dia tidak boleh menyalahkan Abahnya. Beliau sedang ingin melihat kebahagiaan anaknya. Itu hal wajar. Sebagai anak dia juga tidak boleh menganggap dia penghalang kebahagiaannya. Justru beliau pembuka kebahagiaannya.
Kata orang Jawa, orang tua adalah wangsit untuk meraih kebahagiaan, keberhasilan dalam hidup anaknya. Dan itu terbukti, sedikit banyak seseorang sukses berkat doa orang tua berkata kepeduliannya kepada orangtuanya.
Orang tua juga satu-satunya orang di dunia ini yang akan selalu memastikan kebahagiaan kita. Yang akan selalu mengorbankan semuanya miliknya untuk sekedar membuat putra putrinya tersenyum.
''Aku ajak Abah ke sini juga ya. Biar rame...'' Ujar Surya.
Mereka yang sudah pernah kehilangan orang tuanya. Pasti tidak ingin lagi menyia-nyiakan kesempatan untuk tidak berbakti pada orang tuanya. Begitupun Surya, baginya kyai Jauhari tidak hanya sekedar mertuanya, tapi juga orang tuanya dan juga gurunya.
Surya bangkit dari duduknya dia berjalan kearah Kyai Jauhari. Berbicara sebentar dan kemudian kembali ke tempat itu bersama-sama.
__ADS_1
Terharu, Zahra bersyukur. Dia tidak hanya mendapatkan orang yang di cintai saja. Tapi juga mencintai Abahnya. Menyesal, sempat terbesit di benaknya menganggap Abahnya mengganggu. Namun, ternyata belahan dirinya yang lain dengan sayangnya merangkulnya bersamanya.