
''Kaang?'' Panggil Badrun.
Santri Dhalem kyai Jauhari. Dia biasa menjadi sopir keluarga ndalem.
''Ada apa?" tanya Surya. Dia tergopoh-gopoh, dia sudah membawa sepeda ontel untuk pergi.
''Ini." Badrun memberikannya kunci mobil kepada Surya.
''Loh, gimana maksudnya?" tanya Surya bingung.
"Sampean di utus damel mobil mawon lek bade medal pondok kaleh Abah yai (Kamu di suruh pakai mobil kalau keluar pondok sama Abah yai). "Kata Badrun
"Loh kang, gak enak sama santri lainya. Aku pakai sepedah ini saja. Gak papa kok. udah ya kang, aku keburu ini." Ujar Surya. Dan segera menaiki sepeda ontelnya keluar pondok.
"Waduh, piye iki aku matur abah yai.( Waduh , gimana ini aku bilang ke abah yai)." Kata badrun bingung dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Dengan ragu-ragu badrun sowan ke abah yai. Kyai jauhari sedang menyirami bunga di depan dhalem. Badrun masih berdiri tertunduk, menunggu.
"Piye drun? Surya gelem?( Gimana drun? Surya mau?) tanya Yai Juuhari.
"Mboten bah. Kang surya tetep ndamel sepedah ontel. (Tidak bah. Kang surya tetap pakai sepedah onthel )." Jawab Badrun.
"Oalah. Ngesak no.Bocah kui padahal nak jakarta kuno dadi derektur lo,"
Badrun sontak membua mulutnya lebar-lebar
Sangking terkejutnya.
"Hust ... Di tutup tutuk e kui. Kok iso melonggo koyok ngunu to drun ( Di tutup mulutnya. Kok bisa menganga seperti itu drun )." Kata kyai jauhari sambil tersenyum melihat keterkejutan badrun.
"Nyuwun sewu bah. ( Maaf bah )" Badrun menunduk malu.
"Gak popo.( Tidak apa-apa )"
"Nyuwun sewu lo bah. Kang surya niku tiange kok saget teng mriki. Maksud kulo, kan tiang e pun mapan. Kok purun mondok maleh teng mriki?'' Tanya badrun.
Selain santri dhalem, badrun termasuk santri yang dekat dengan keluarga ndalem. Kyai jauhari sudah menganggap badrun seperti putranya sendiri.
"Aku sing jaluk tulung surya mondok nak kene. Alhamdulillah, bocah e gelem. Nyawang surya koyok nyawang aku pas enom biyen drun."
"Nggeh ba Kang surya niku sopan sanget tiang e. Santri-santri sami remen kaleh tiang e. Nggeh mboten gumede . (Ya bah. Kang Surya itu sopan sekali. Santri-santri suka sama orangnya. Ya gak sombong)."
"Alhamdulillah.Mugo - mugo aku gak salah pilih,"
"Mboten bah. Kang surya niku sip tenan."
"Opo sih drun?"
"Nggeh niku, kang surya sip. Sip mawon. ( Ya itu . kang Surya. Sip, gitu saja)"
__ADS_1
Badrun bingung sendiri dengan arah pembicarannya.
"Hahaha. Sampean Iki drun kok lucu men,"
Badrun langsung menenggelamkan wajahnya. Dia merasa malu sendiri.
''Ya wes ngunu ae. ( Ya sudah gitu saja)"' Kyai Jauhari beranjak dari tempatnya.
''Nggeh, bah.''
Badrun undur diri. Setelah kyai tersebut menjauh dari dirinya.
''Oh Iyo drun. Surya omongono, ko lek wes mantuk Ojo lali Melu sowan nak ndaleme Gus Hakim. (Oh iya drun. Bilangin ke Surya. Nanti setelah dia pulang. Jangan lupa, ikut sowan ke rumahnya Gus Hakim)'' Pesan Kyai Jauhari.
''Nggeh bah."
Badrun yang tadinya sudah beranjak pergi. langsung menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Yai Jauhari. Menundukkan badannya dan menganggukkan kepala.
***
22 . 34
''Yang?!" Panggil Hanan. Dia membangunkan Zahwa yang tertidur saat menunggu Bibi Ami.
Melihat istrinya yang terlelap Hanan tidak tega membangunkannya. Dengan sergap dia mengangkat Zahwa dari tempat duduknya
Tadinya dia tertidur, dengan tangan menyila bersandar pada tempat tidur pasien.
''Iya. Kasihan Zahwa seharian gak istirahat.'' Ujar Paman Sam.
Dengan segera Paman Sam membantu membukakan pintu kamar. Baru setelah itu Hanan yang membopong Zahwa keluar.
Saat akan keluar mereka berpapasan dengan Hafiz dan Wardah. Lagi-lagi Wardah tercengang dengan apa yang ada di depannya.
''Aku pulang dulu . Besok kesini lagi.'' Kata Hanan pamit.
''Oh iya mas. Silahkan. Terimakasih.'' Balas Hafiz sambil membuka jalan.
''Boleh minta tolong, ikut aku ke parkiran. Bantu aku membuka pintu mobil.'' Kata Hanan pada hafiz
''Oh... Ok mas. Ayo!''
Mereka menuju parkiran.Saat itu koridor rumah sakit sangat sepi. Saat malam seperti ini, rumah sakit akan terlihat menyeramkan. Tapi tak jarang, dari mereka yang masih setia menunggu keluarga ataupun kerabat di sana.
Saat mereka melewati koridor, hampir semua melihat Hanan yang menggendong Zahwa. Mereka mengira jika wanita tersebut sakit.Tapi ternyata hanya tertidur saja.
Sempat suster yang berjaga bertanya dan menawarkan bantuan. Tapi, Hanan tolak karena memang istrinya sedang tertidur saja.
Barulah setelah itu , di belakang mereka para suster itu samar-samar memuji tindakan Hananm Dan berdoa semoga kelak mereka juga mempunyai suami seperti Hanan.
__ADS_1
Sampai di parkiran. Hafiz membuka pintu mobil. Dengan hati-hati Hanan meletakkan Zahwa di kursi belakang. Menidurkan di sana. Zahwa sangat pulas. Hingga tidak terbangun sama sekali.
''Hati-hati mas.'' pesan Hafiz.
''Ok. Terimakasih.'' Jawab Hanan.
Hafiz menunggu sampai mobil Hanan pergi dari parkiran tersebut. Kemudian, dia pergi lagi ke ruangan ibunya.
Belum sempat dia sampai di sana. Dia melihat sosok Wardah duduk sendiri di depan ruangan ibunya. Wajahnya sayu, menunduk ke bawah.
''Kamu gak takut. Malam - malam di sini?'' Tanya hafiz tiba-tiba.
''Kamu? Mereka sudah pulang?'' Tanya balik Wardah. Dia tidak sadar akan kehadiran Hafiz
''Sudah. Mereka baik sekali ya. Pasangan yang saling menjaga.'' Jawab Hafiz.
''Iya."
''Aku tadi tanya? Apa kamu gak takut , sendiri di sini. Ayo masuk , di sini dingin Lo." Ajak Hafiz.
''Panas, kang.''
''Masak sih, aku aja pakai jaket masih kedinginan."
Wardah melihat Hafiz dengan mata berkaca-kaca. Bibirnya merah ada guratan kesedihan di sana. Sontak membuat hafiz tercengang.
''Kamu nangis?"
''Udah aku tahan mas, tapi tetap saja sakit.'' Ujar Wardah dengan menumpahkan air matanya.
Dengan hati-hati.Hafiz meraih kepala Wardah dan menyandarkan di pundaknya.
''Keluarin aja semua. Gak papa. Maaf, aku gak peka.'' Ujar Hafiz.
Wardah menangis sejadi-jadinya, sampai suara tangisnya harus ia sembunyikan di dekapan hafiz.
''Apa aku salah kang masih mencintai mas Hanan. Dia cinta pertama ku, dia seperti hidupku. Dan sekarang aku merasa kehilangan itu semua. Lebih menyakitkan lagi, aku harus menyaksikan dirinya dengan istrinya.''
''Kamu gak salah. Cinta gak salah, tapi akan salah jika kamu memaksakan cinta mu untuk dirimu sendiri. Sedangkan kamu tahu, jika orang yang kamu cintai bukanlah takdirmu."
''Tapi kenapa sesulit itu.''
''Tapi bukan berarti kamu gak sanggup untuk menghadapinya. Anggap saja ini adalah ujian hidup, saat kamu sanggup menghadapinya dan lulus nantinya. Kamu akan mendapatkan hasil yang indah nantinya."
''Misalnya?''
''Kamu menemukan seseorang yang mencintai. Dan bahkan selalu mendoakan dirimu, itupun tanpa kamu ketahui."
''Aku melakukan hal itu kepada Mas Hanan. Tapi, dia bukan untuk ku.''
__ADS_1
''Apa kamu menyesal kerena telah mendoakan dirinya?''
Wardah diam. Dia tidak mempunyai jawaban atas pertanyaan tersebut. Hatinya hancur, hanya itu yang dia rasakan sekarang.